Young Mother

Young Mother
Awal Pengobatan


__ADS_3

Setalah beberapa waktu telah berlalu dari kejadian saat Ciara ingin memberi pelajaran ke Tiara tapi ia urungkan, kini Ciara dan Devano juga Al sudah bersiap ingin pergi ke seorang psikologi yang telah membuat janji dengan Devano beberapa hari yang lalu.


"Siniin Kiyanya kalau kalian udah mau berangkat," ucap Olive yang lagi-lagi membantu mereka mengurus Kiya yang akan ia tinggal. Karena tak memungkinkan jika mereka harus membawa Kiya ketempat itu dan alhasil dengan berat hati ia harus menitipkan bayi mungil itu ke para kerabat yang awalnya hanya tiga gadis seperti biasa kini menjadi beberapa orang yang juga ikut datang ke rumah Devano bahkan pasangan suami-istri yang sempat malam pertamanya diganggu oleh Ciara, Devano dan Al, mereka juga ikut berkumpul dirumah itu. Maklum lah hari weekend dan kebetulan juga mereka tengah senggang.


Ciara yang awalnya masih menggendong tubuh Kiya pun langsung memindahkan tubuh Kiya ke gendongan Olive.


"Aku nitip bentar ya," ucap Ciara sembari mengelus pipi Kiya.


"Iya, gak usah khawatir. Kiya pasti akan aman dalam penjagaan kita," tutur Olive.


Ciara menganggukkan kepalanya sembari menghela nafas.


Al yang belum tau dirinya akan pergi kemana dengan orang tuanya pun kini membuka suara setelah Mamanya selesai berbicara.


"Mama," panggil Al yang membuat Ciara menundukkan kepalanya.


"Iya sayang ada apa hmmm?" tanyanya.


"Kita mau kemana? kenapa baby Kiya gak ikut kita pergi?" Ciara terdiam sesaat, memikirkan alasan yang tepat untuk ia berikan ke Al.


"Kita akan bertemu dengan temannya Mama. Baby Kiya kan masih bayi jadi gak baik buat kesehatan baby Kiya kalau selalu kita ajak keluar rumah. Nanti bisa sakit. Emang Al mau lihat baby Kiya sakit?" Al segera menggelengkan kepalanya.


"Nah kalau gak mau baby Kiya sakit jadi kita dengan terpaksa harus ninggalin baby Al di ruang sama para aunty dan uncle yang akan jagain baby Kiya. Al gak perlu khawatir, kita pergi hanya bentar kok," sambung Ciara saat melihat raut wajah Al yang seakan-akan tak rela berjauhan dengan adiknya itu.


"Tapi kalau baby Kiya nangis nyariin kita gimana?" tanya Al dengan tatapan sendu.


Ciara tersenyum kemudian tangannya mengelus kepala Al.

__ADS_1


"Nanti kalau baby Kiya nangis nyariin kita. Aunty Olive akan hubungi kita lewat video call. Jadi kita tetap bisa melihat baby Kiya begitu juga dengan baby Kiya yang bisa melihat kita nantinya," ujar Ciara.


"Tapi Ma."


"Tak apa sayang. Baby Kiya akan baik-baik saja." Bukan Ciara yang bersuara melainkan Devano.


Al menolehkan kepalanya kearah Papanya kemudian ia menghela nafas.


"Ya sudah kita berangkat sekarang aja ya," tutur Devano yang mendapat anggukan dari Al.


Kini Ciara menggandeng tangan Al menjauhi Olive yang tengah menggendong tubuh Kiya sembari memainkan tangan mungil anak itu seperti sedang see good bye ke Al. Al membalas lambaian tangan dari Kiya tadi sebelum dirinya menghilang dari balik pintu utama rumah tersebut.


Dan kini mobil yang dijalankan oleh Devano perlahan menjauh dari rumah tersebut menuju kesuatu tempat.


"Jangan cemberut gitu sayang. Kita pergi hanya sebentar aja," ucap Devano saat melihat raut wajah Al yang tak enak dipandang melalui spion diatasnya.


Al tak menganggapi ucapan dari Devano, ia memilih diam dan melihat-lihat pemandangan diluar kaca mobil itu. Devano yang di kacangi oleh anaknya sendiri pun hanya bisa menghela nafas sedangkan Ciara, ia terkekeh kecil.


"Ini dimana?" tanya Al sembari menatap gedung yang hampir menyerupai rumah sakit itu.


"Memangnya teman Mama sakit?" tanya Al lagi.


Ciara tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"Teman Mama tidak sakit sayang. Tapi teman Mama itu bisa dibilang dokter. Dan Al pernah bilang bukan kalau cita-cita Al saat Al sudah besar nanti akan menjadi dokter, biar bisa menolong orang-orang yang sakit?" Al menganggukkan kepalanya.


"Nah, Mama bawa Al kesini itu biar Al bisa belajar bagaimana menyembuhkan orang sakit dari teman Mama itu. Al mau kan belajar mulai dari sekarang?" tanya Ciara dan dengan antusias lagi-lagi Al menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya udah kita masuk yuk." Al dengan tersenyum, menggandeng tangan kedua orangtuanya dan mengikuti setiap arah jalan keduanya yang menuju kesuatu ruangan.


Setelah sampai di ruangan yang mereka tuju, Ciara menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu ruangan tersebut tapi belum sempat kepalan tangannya mendarat di pintu, suara Al menghentikkan gerakan tangannya.


"Biar Al saja yang mengetuk pintunya, Mama," pinta Al yang langsung disetujui oleh sang empu.


Dengan girang Al mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!!


"Masuk!!" suara teriakan dari dalam mengintruksi mereka untuk segera masuk kedalam ruangan tersebut dan saat pintu itu dibuka oleh Ciara, ketiga orang itu bisa melihat isi ruangan tersebut juga seorang yang tengah terduduk dan tersenyum manis kearah mereka, lebih tepatnya kearah Al. Karena Devano dan Ciara yang merupakan teman dari psikologi itu sudah memberi tahu bahwa Al lah yang tengah bermasalah. Maka dari itu ia melemparkan senyuman itu ke arah Al supaya anak itu tak takut kepadanya.


"Masuk sini tampan," ucapnya yang membuat Al langsung melangkahkan kakinya mendekati orang tadi.


"Aunty boleh tau nama kamu siapa?" Al menganggukkan kepalanya.


"Boleh dong. Namaku Al, aunty," jawabnya dengan senyum mengembang.


"Nama yang bagus seperti orangnya. Oh ya aunty mau ngobrol dulu sama Al boleh?"


"Boleh. Aunty nanti juga harus kasih tau ke Al cara menyembuhkan orang yang lagi sakit," ujar Al yang membuat orang tersebut terdiam sesaat. Ia bingung dengan maksud Al, menyembuhkan orang yang sakit apa dulu? kalau sakit jiwa mungkin ia bisa tapi kalau sakit medis ya dia tentu tak bisa.


Orang tadi tampak menatap kearah Ciara dan Devano yang sudah duduk di kursi depan mejanya. Dan kedua orang itu dengan kompak menganggukkan kepalanya.


Dan dengan helaan nafas, orang tadi kembali menatap kearah Al.


"Baiklah. Aunty nanti akan kasih tau Al cara menyembuhkan orang sakit. Oh ya sebelumnya kenalin, nama aunty Kellen atau Al bisa panggil aunty Kel. Oke," ucap Kellen.

__ADS_1


"Oke aunty Kel." Kellen tersenyum sembari mengacak rambut Al dengan gemas. Bahkan ia tak percaya jika anak seceria Al ini tengah mengalami trauma sama seperti yang di ucapkan oleh Devano melalui telepon pada waktu itu. Tapi ia juga tak bisa menyimpulkan itu semua hanya dari penglihatannya saja. Dan mungkin trauma Al ini masih dalam tahap awal bukan trauma akut yang bisa membahayakan mental orang yang tengah mengalaminya.


"Oke kalau gitu Al boleh pindah ke kursi itu," ucap Kellen sembari menujuk kesebuah kursi dan tanpa curiga Al menuruti setiap ucapan dari Kellen tadi. Setelah Al sudah duduk di kursi tadi, baru Kellen mendekati tubuh Al. Sedangkan Ciara kini menggenggam tangan Devano dengan erat guna mengalihkan kegugupannya.


__ADS_2