
Devano yang sudah berganti pakaian santai pun kini menghampiri anak dan istrinya yang tengah terduduk di ruang keluarga dengan menonton acara kartun seperti biasa.
Devano kini mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di samping Ciara kemudian ia memeluk tubuh istrinya itu dari samping.
"Udah makan malam?" tanya Devano.
"Belum. Nunggu Al," jawab Ciara. Devano baru sadar jika sedari dirinya pulang sampai saat ini ia tak melihat batang hidung anak laki-lakinya itu.
"Emang kemana tuh anak? Ini udah sore banget lho," ucap Devano sembari melihat jam di dinding ruangan tersebut yang menunjukkan pukul 6 sore hari.
"Tadi sih bilangnya mau belajar kelompok dirumah temennya dan aku tadi barusan telepon, katanya kurang sedikit lagi dia selesai belajarnya," tutur Ciara sembari melihat Kiya yang masih anteng menonton kartun diatas karpet tebal tak lupa cemilan sudah tersedia dihadapannya.
"Bodyguard ada yang nungguin dia kan?" tanya Devano. Karena setelah kejadian yang menimpa Al beberapa tahun lalu membuat Devano sekarang semakin posesif dan overprotektif kepada keluarga kecilnya itu terutama anak-anaknya. Ia tak mau jika kejadian itu terulang lagi apalagi sampai mengganggu mental orang-orang tersayangnya sama seperti Al dulu. Ia tak akan pernah kuat melihat hal itu terjadi lagi.
"Ada. Seperti biasa si kembar Doni dan Toni. Juga ada beberapa bodyguard lainnya yang ngikutin dia diam-diam," tutur Ciara yang langsung membuat Devano menghela nafas lega.
...****************...
Sedangkan disisi lain Al kini baru masuk kedalam mobil yang sedari tadi menunggunya di depan sebuah rumah yang merupakan rumah temannya.
"Om, nanti mampir ke mini market dulu ya," tutur Al saat dirinya sudah mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di bagian penumpang.
Kedua bodyguardnya kini saling pandang satu sama lain. Tak biasanya bos kecilnya itu harus mampir-mampir dulu, karena biasanya Al akan langsung pulang entah itu dirinya baru pulang sekolah atau belajar kelompok seperti ini. Tapi hari ini sangat langka sekali, tanpa paksaan dari kedua bodyguardnya itu Al berinisiatif sendiri untuk mampir kesalah satu mini market.
Al yang melihat kedua bodyguardnya masih terdiam pun kini ia berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.
__ADS_1
"Aku mau beliin Kiya coklat sama es krim aja," ucap Al agar para bodyguard itu tak berpikir aneh-aneh tentangnya.
"Baik tuan muda, laksanakan," tutur Toni dan kini mobil tersebut melaju meninggalkan depan rumah tadi.
Tak berselang lama mobil itu berhenti di salah satu mini market yang berada pinggir jalan.
"Om jangan ikut turun. Tetap disini!" perintah Al yang merasa risi jika setiap langkahnya harus diikuti oleh bodyguardnya itu.
"Tapi tuan---"
"Tidak ada tapi-tapian Om. Tetap disini kalau Om gak nurutin apa yang aku bilang tadi mulai hari ini aku gak akan pernah mau diikuti oleh bodyguard siapapun itu. Walaupun Papa sama Mama maksa, aku tetap tidak mau ada seorang bodyguard pun yang ngawasin aku," ancam Al yang membuat Toni dan Doni kini terdiam. Jika tuan mudanya itu tak akan mau lagi memakai jasa bodyguard untuk mengawasinya pasti tuan besarnya akan curiga kemudian mencari tahu dibalik itu semua. Yang pastinya akan berakhir pada diri mereka berdua dan sudah dipastikan mereka nanti akan diintrogasi habis-habisan oleh tuan besar mereka dan malah lebih parahnya mereka berdua akan dipecat dari pekerjaannya itu.
Saat Toni dan Doni masih asik berperang dengan pikiran mereka masing-masing, Al diam-diam turun dari mobil tersebut kemudian berlari kecil masuk kedalam mini market itu.
Setelah ia berhasil masuk kedalam tanpa sepengetahuan para bodyguard itu, Al langsung menuju ke barang yang akan ia beli. Tapi saat dirinya lagi memilih coklat yang sekiranya Kiya sukai, tiba-tiba bahunya di tepuk seseorang dari belakang.
"Mataku memang gak pernah salah," gumam orang tersebut.
"Ada apa Uncle Zi?" tanya Al kepada Zidan yang berdiri di belakangnya dengan menggendong seorang anak kecil yang kira-kira berusia 9 bulan.
"Eh ada baby Arav," tutur Al sembari mencolek pipi gembul anak laki-laki itu yang membuat sang empu tersenyum dengan celotehan khas bayinya.
"Al disini sama siapa?" tanya Zidan. Al kini menghentikkan tangannya yang tadi terus ia gunakan untuk bercanda dengan baby Arav yang merupakan anak dari Zidan dan Rahel.
"Sama Om bodyguard," jawab Al dengan santai.
__ADS_1
"Terus mereka dimana sekarang? kenapa gak ikut kamu kedalam? Kalau sampai Papa kamu tau mereka gak kerja dengan benar pasti langsung dipecat." Al memutar bola matanya malah saat mendengar ucapan dari Zidan itu. Bukan hanya Papa dan Mamanya saja memang yang selalu mengkhawatirkan dirinya, para Uncle dan Auntynya pun juga sama seperti orangtuanya.
"Please lah Uncle, Al sekarang udah besar. Al juga udah bisa jaga diri Al sendiri. Jika Al memang diharuskan ada bodyguard yang menjaga Al, biarkan mereka menjaga Al dari jauh saja. Buka selalu mengikuti Al kemanapun," tutur Al.
"Tapi Al---"
"Huh, kenapa setiap orang harus melontarkan kata tapi sih? bosen dengernya," ucap Al memotong ucapan dari Zidan tadi.
"Baiklah-baiklah. Sekarang bukan saatnya bahas ini. Dan karena Al kebetulan disini, Uncle mau minat tolong dong," tutur Zidan yang langsung mendapat tatapan intimidasi oleh Al.
"Biasa aja kali Al natapnya. Uncle cuma mau minta tolong cariin makanan yang bisa bikin mood seseorang baik lagi," ucap Zidan.
"Apa seseorang itu adalah aunty cantik?" tanya Al. Zidan menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aunty cantik, kamu apain lagi Uncle?" ucap Al dengan tatapan tajamnya. Zidan kini menggelengkan kepalanya sembari melambai-lambai tangannya.
"Bukan, ini bukan salah Uncle kok Al, beneran deh suer. Uncle gak apa-apain Aunty Rahel," tutur Zidan.
"Kalau bukan karena Uncel, terus karena siapa lagi?" Zidan kini bersusah payah menelan salivanya, ia menjadi tertekan sendiri saat menghadapi Al yang dalam mode seperti ingin menerkam mangsanya itu.
"Itu lho Al. Aunty Rahel tuh lagi kedatangan tamu," ujar Zidan.
"Tamu? siapa?"
"Tamu bulanan Al. Kalau perempuan kan setiap bulan selalu kedatangan tamu itu. Kalau lebih kasarnya Aunty Rahel lagi menstruasi. Al pasti tau kan hal itu apa?" Al kini mengerjabkan matanya berkali-kali bahkan pipinya kini tanpa merona.
__ADS_1
"Lah tuh anak kenapa jadi salting gitu? Padahal aku gak lagi kasih gombalan atau ngerayu dia lho. Aduh emang benar-benar aneh anak Devano ini. Amit-amit deh jangan sampai nular ke anakku. Kalau nular kepintaran dan ketampanannya, boleh aja, silahkan. Tapi kalau keanehan jangan sampai. Jauh-jauh sana," batin Zidan sembari mengelus kepala anak balita di gendongannya itu.