Young Mother

Young Mother
Papa Devano


__ADS_3

Al sudah selesai dengan makanannya begitu juga Ciara dan Devano. Namun ia masih saja enggan untuk menjauh dan lepas dari tubuh Devano.


"Uncle," panggil Al yang sudah duduk menghadap tubuh Devano.


"Iya sayang," jawab Devano dengan menatap mata Al.


"Al boleh tidak peluk Uncle?" tanya Al.


Devano tersenyum lalu mengangguk. Al pun membalas senyum itu dan segera memeluk erat tubuh Devano.


Namun Devano merasa ada yang aneh di dadanya seperti ada yang basah di sana. Ia pun melonggarkan pelukannya supaya bisa menatap wajah Al dan ternyata Al sedang menangis di dalam pelukannya.


"Hey boy, kenapa menangis?" tanya Devano sembari mengeratkan kembali pelukannya di tubuh Al.


Ciara yang mendengar kalau sang anak tengah menangis pun langsung berpindah tempat duduk di kursi samping Devano yang membuat ia bisa menatap langsung wajah anaknya.


"Al, kamu kenapa sayang?" tanya Ciara sembari mengelus rambut Al.


Al hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Ma. Hanya saja Al merasa kalau Uncle adalah papa Al," tutur Al dengan air mata yang terus mengalir.


Ciara melepaskan tangannya dari kepala Al.


"Memang benar Al, laki-laki yang kau sebut Uncle itu memang Papa kamu," batin Ciara.


Sedangkan Devano setelah mendengar penuturan dari Al pun langsung memandang Ciara yang tiba-tiba melamun dengan pikirannya. Devano hanya bisa menghela nafas ia pun juga ingin sekali memberitahu Al bahwa yang di ucapkan sang anak memang benar adanya. Tapi itu tak mungkin ia lakukan sebelum Ciara memperbolehkannya dan ia juga ingin kalau Ciara lah yang memberitahu Al tentang keberadaan Papanya yang sebenarnya.


"Apa Al boleh panggil Uncle dengan sebutan Papa?" tanya Al.


Ciara yang tadi membuang muka dan berperang dengan pikirannya pun langsung menoleh kembali kearah Al begitu juga Devano.


Devano sangat senang sekali jika memang Al mau memanggil dirinya dengan sebutan Papa. Namun lagi-lagi ia tak berani mengangguk, ia harus meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Ciara.


Ciara kini menangkup kedua pipi Al.

__ADS_1


"Al, Al tidak boleh seperti itu sayang. Uncle Dev bukan siapa-siapa kita, nanti Uncle bisa merasa tidak nyaman kalau Al panggil Uncle dengan sebutan Papa," ucap Ciara memberi penjelasan.


Mata indah yang mirip dengan Devano itu mengedip-ngedip menahan tangis yang kembali akan pecah.


"Maafin Al Mama, Al hanya ingin punya Papa seperti teman-teman Al yang lain," tuturnya dengan air mata yang tadi ia tahan kini pecah juga.


Devano terpaku atas ucapan sang anak. Rasanya ia benar-benar tak berguna sebagai seorang ayah, ayah yang harusnya selalu dibutuhkan oleh anaknya malah tak menemani tumbuh kembangnya selama ini.


"Ya Tuhan, benar-benar brengsek dirimu Dev. Al maafin Papa, nak," batin Devano penuh penyesalan.


Sedangkan Ciara ia terdiam, ia bingung harus menjawab apa lagi ucapan Al tadi. Sebenarnya ia juga sangat kasian dengan Al tapi ia cukup takut kalau ia harus memberi tahu Al yang sebenarnya yang akan membuat Al semakin nempel pada Devano dan perlahan meninggalkan dirinya. Keegoisan itu masih saja menempel pada diri Ciara.


Devano sudah tak tahan lagi dengan penuturan dari bibir mungil Al itu, hatinya begitu ngilu dan sakit seperti dicabik-cabik hingga hancur. Persetanan dengan Ciara yang nantinya akan marah urus nanti saja yang terpenting ia sekarang dapat melihat senyum Al kembali terbit di bibir mungil itu.


Devano kini meraih kedua pipi Al dan menghapus air mata anaknya itu.


"Al boleh kok panggil Uncle dengan sebutan Papa. Uncle tak keberatan sama sekali malah Uncel sangat senang kalau Al panggil Uncle, Papa," ucap Devano meyakinkan sembari tersenyum kepada Al.


"Benarkah Papa?" tanya Al memastikan.


Sedangkan Ciara yang melihat persetujuan dari Devano pun matanya sekarang melebar. Namun Devano tak akan merubah keputusannya tadi.


"Apa Al boleh peluk Papa kayak gini terus? Setiap hari dan setiap saat?" tanya Al penuh antusias.


Devano hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tak kuasa untuk menimpali ucapan dari Al tadi. Ia sangat bahagia sekarang karena Al sudah mengakui Devano sebagai Papanya walaupun Al belum tau kebenarannya bahwa dirinya memanglah ayah kandungnya. Walaupun begitu Devano sekarang tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat bagus ini untuk mendapatkan kedua orang tercinta itu.


"Papa," panggil Al sembari melepaskan pelukannya. Ia pun mengerutkan keningnya saat ada bekas air mata di pipi Devano.


"Papa nangis?" tanya Al sembari mengusap air mata tersebut.


"Tidak sayang. Papa tak menangis," jawab Devano sembari tersenyum.


Al pun mengangguk percaya.


"Papa besok antar Al kesekolah ya," pinta Al.

__ADS_1


"Al mau tunjukkin ke teman-teman kalau Al juga punya Papa kayak mereka. Biar mereka gak ngatain Al sama Mama lagi," sambungnya dengan suara sendu kala mengingat pembullyan yang ia dapatkan dari teman-teman sebayanya itu.


Devano kini menatap dan mengelus pipi Al dengan lembut, penuh kasih sayang.


"Al bukan anak haram seperti yang orang-orang tadi sebutkan ke Al begitu juga dengan Mama. Mama wanita baik, tangguh dan penyayang. Al dan Mama milik Papa. Al anak Papa dan Mama Cia, Al akan selalu menjadi anak Papa dan Mama sampai kapanpun," ucap Devano.


Al mengangguk dan senyumnya kembali terbit di bibirnya.


"Terimakasih Papa," ucap Al penuh dengan ketulusan. Mereka berdua pun kembali berpelukan untuk menyalurkan kerinduan yang selama ini mereka pendam.


Ciara? ia sedari tadi menyaksikan interaksi dari ayah dan anak tersebut. Ia juga sangat hanyut dalam percakapan keduanya tadi dan jika dipikir-pikir untuk saat ini ia tak akan egois setelah binar kebahagian terpancar pada wajah Al bahkan saat bersama dirinya selama ini ia tak pernah melihat hal tersebut dan ia mungkin perlahan akan mengikis rasa benci kepada Devano demi Al, anaknya.


"Ehem," dehem Ciara untuk menyadarkan kedua laki-laki berbeda usia tadi.


"Sudah sore, kita pulang yuk. Makannya juga udah selesai," ajak Ciara.


Keduanya pun langsung melepaskan pelukannya.


"Papa gendong Al lagi ya sama kayak tadi," pinta Al dan langsung dituruti oleh Devano.


"Al jangan gitu sama Uncle, kasihan Uncle Dev," tegur Ciara.


"Bukan Uncle, Mama, tapi Papa," ucap Al membenahi ucapan Ciara tadi.


Ciara menghela nafas berat.


"Sebut Papa, Mama sayang, bukan Uncle tapi Papa," tutur Devano dengan menekankan kata Papa yang membuat Ciara memelototkan matanya.


Sedangkan Devano, ia tersenyum penuh kemenangan dan ia pun langsung menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan tadi tak lupa dengan Al yang dengan setia menempel pada tubuhnya.


...*****...


400 like sebelum jam 5 bisa gak ya πŸ˜‚ kalau bisa tar author kasih tambahan up lagi🀭


Happy reading sayang-sayangku πŸ€— See you next eps bye πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2