Young Mother

Young Mother
Dafit


__ADS_3

Acara pernikahan antara Ciara dan juga Devano akan dilaksanakan 2 minggu lagi sejak lamaran yang tak disangka oleh Ciara kemarin. Dan mulai hari ini mereka berdua juga keluarga dari kedua belah tengah sibuk mempersiapkan untuk acara tersebut mulai dari WO, gedung, catering dan lain sebagainya yang sekiranya memang di perlukan untuk acara pernikahan mereka.


Siang ini Ciara dan Devano sudah berjanjian untuk ke toko perhiasan guna mencari cincin pernikahan mereka.


Sudah 30 menit Ciara mengunggu Devano yang tak kunjung datang ke rumah Olive untuk menjemputnya juga Al.


"Kenapa Papa lama sekali?" tutur Al yang sepertinya sudah tak sabar bertemu Papanya itu, walaupun setiap hari dia bertemu dengan Devano tapi entah kenapa Al selalu merindukan sosok ayahnya itu.


"Mungkin Papa masih ada urusan sayang," ucap Ciara menenangkan Al. Al tampak mengerucutkan bibirnya dan beberapa saat setelahnya bel rumah tersebut berbunyi.


"Itu pasti Papa," ucap Al dengan binar bahagia. Kemudian ia berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu tersebut meninggalkan Ciara yang masih duduk di sofa ruang tamu.


Saat pintu tersebut terbuka, Al mendangakan kepalanya untuk menatap wajah seseorang yang ada di hadapannya itu.


"Surprise," ucap orang tersebut dengan senyum mengembang.


"Uncle Dafit," tutur Al yang tak menghilangkan senyumnya tadi bahkan senyum itu tambah lebar.


Dafit kini menjongkokan tubuhnya kemudian merentangkan kedua tangannya.


"Peluk Uncle dong," pinta Dafit. Al pun langsung menubruk tubuh Dafit yang selalu ia rindukan itu.


"Al kangen Uncle," tutur Al dalam pelukan Dafit.


"Uncle juga kangen Al." Untuk beberapa saat mereka terus berpelukan menyalurkan rasa rindu yang beberapa bulan itu mereka tahan. Hingga pelukan tersebut terlepas saat suara Ciara terdengar nyaring.


"Siapa Al?" tanya Ciara berteriak karena anaknya itu tak kunjung kembali dan jika itu Devano pasti sang empu langsung menghampirinya. Tapi ini Al saja lama sekali membuka pintunya.


"Uncel ayo masuk dan kasih sayang surprise juga untuk Mama," ajak Al.


Dafit mengangguk kemudian ia menggendong tubuh Al dan sebelumnya ia menyerahkan paper bag yang sedari tadi ia pegang ke tangan Al.


"Ini apa uncle?" tanya Al penasaran.


"Oleh-oleh buat Al. Dan ini oleh-oleh buat Mama dan para aunty Al." Dafit menunjukkan beberapa paper bag lagi di tangannya. Al pun mengangguk senang.


"Terimakasih Uncle," ujar Al lalu mencium pipi Dafit.


"Sama-sama boy," tutur Dafit sembari membalas ciuman dari Al tadi.


Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dimana Ciara tengah sibuk mengotak-atik ponselnya, keluar masuk aplikasi WhatsApp untuk menantikan pesan dari Devano yang tak kunjung mengabarinya.

__ADS_1


Saat mereka berdua sudah sampai di ruang tamu, Dafit memelankan langkahnya hingga sampai di belakang tubuh Ciara. Dafit kini memberi instruksi ke Al agar anak laki-laki itu membantunya berteriak untuk mengkagetkan Ciara.


"1 2 3," bisik Dafit yang di angguki Al, kemudian...


"Dorrrr!" teriak Dafit dan Al dengan suara yang sangat nyaring.


Ciara terperanjat kaget hingga dirinya berdiri dari duduknya.


"Astagfirullah," gumam Ciara sembari mengelus dadanya yang sekarang tengah berdisko ria akibat terkejut tadi.


"Surprise!" teriak keduanya lagi saat Ciara memutar tubuhnya menghadap kearah Dafit dan juga Al.


Ciara sekarang membelalakkan matanya saat menatap Dafit di depannya.


"Lho Daf, sejak kapan kamu disini? kenapa gak kabarin aku dulu kalau mau ke Indonesia dan berkunjung kesini?" tanya Ciara beruntun sembari menghampiri Dafit yang sekarang menurunkan tubuh Al.


"Kalau aku bilang lebih dulu sama kamu, yang ada bukan surprise dong namanya," tutur Dafit setelahnya ia merentangkan tangannya yang langsung disambut pelukan hangat dari Ciara.


"Baik semua kan?" tanya Dafit setelah pelukan mereka terlepas.


"Alhamdulillah semua orang disini jauh lebih baik dari yang kamu kira. Duduk dulu Daf. Aku buatin kamu minum dulu. Mau kopi, teh atau jus?" tanya Ciara.


Ciara kini mengangguk dan segera menuju dapur rumah tersebut untuk membuatkan satu cangkir kopi untuk Dafit.


Hanya beberapa menit saja Ciara sudah kembali menghampiri Dafit dan juga Al yang tengah bermain bersama.


"Bagaimana proyek kamu? sukses besar kan?" Tanya Ciara sembari menaruh satu cangkir kopi di meja di ruang tamu tersebut.


Dafit kini mengalihkan pandangannya.


"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Terimakasih untuk kopinya," tutur Dafit sembari menyeruput kopi tadi.


Ciara menganggukkan kepalanya.


Sesaat mereka bertiga sibuk bercanda gurau hingga terdengar bel rumah tersebut kembali berbunyi.


"Biar Al yang bukain," ucap Al saat Ciara ingin berdiri dari duduknya.


Kini Al berlari menuju pintu utama tersebut dan setelah terbuka Al tersenyum.


"Papa," ucap Al sembari merentangkan tangannya agar Devano segera menggendong tubuhnya.

__ADS_1


Devano tersenyum kemudian membawa tubuh Al kedalam gendongannya.


"Hay boy, selamat siang. Bagaimana tadi sekolahnya?" tanya Devano.


"Selamat siang juga Papa. Sekolah Al biasa saja dan pelajarannya cuma itu-itu saja, tak menantang otak pintar Al sama sekali," keluh Al.


Devano terkekeh kecil mendengar kesombongan Al itu. Benar-benar anaknya sampai hal yang negatif saja menurun ke Al asal jangan sifat brengseknya saja yang diikuti Al nantinya. Amit-amit jika itu terjadi.


"Oh ya Mama mana?" tanya Devano.


"Mama ada di ruang tamu sama Uncle Dafit," jawab Al dengan polos.


Devano mengerutkan keningnya saat Al mengucapkan nama orang lain yang ia tak tau nama siapa itu.


"Uncel Dafit?" Al menganggukkan kepalanya.


Setelah melihat anggukan Al tadi, kini Devano melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dan benar saja saat dirinya sudah sampai disana, Ciara tengah asik mengobrol dengan laki-laki yang tak ia kenal itu bahkan terlihat senyum merekah di wajah Ciara. Dan hal itu membuat hati Devano terasa panas dan mendidih.


"Ehemmm," dehem Devano. Kedua orang tadi yang masih bercengkrama kini menolehkan kepalanya kearah Devano yang sudah memasang wajah datar dan sedingin Kutub Utara itu.


"Udah datang rupanya. Duduk dulu gih, aku buatin kamu minum dulu," tutur Ciara sembari beranjak kembali menuju dapur tanpa menunggu jawaban Devano terlebih dahulu.


Devano kini menatap tajam kearah Dafit sembari duduk di sofa yang tadi Ciara gunakan tak lupa Al berada dipangkuannya untuk menunjukkan kemiripan diantara keduanya dan sekalian juga ia memberikan kode bahwa Al, anak Ciara adalah anaknya juga.


Sedangkan Dafit, ia juga turut menatap wajah Devano tanpa takut sedikitpun dan saat Al duduk dipangkuan Devano baru ia bisa membandingkan wajah keduanya yang benar-benar sangatlah mirip.


"Siapa laki-laki ini? Kenapa mukanya sangat mirip dengan Al? Bahkan mereka berdua juga sangat akrab dan lengket satu sama lain. Kalau orang luar gak mungkin Al bisa lengket seperti ini. Aku saja dulu butuh berbulan-bulan untuk mendekati Al. Atau jangan-jangan laki-laki ini adalah orang yang ada dalam cerita masa kelam Ciara?" tanya Dafit yang hanya bersarang di pikirannya saja.


...****************...


Ehemmm tes 1 2 3 mana suaranya 📢


Kenapa ini likenya semakin hari semakin turun hiks author nangis nih 😭 ayo dong dukung author, cuma klik tanda jempol aja kok. Karena like kalian mempengaruhi mood author 😭


Dan yakinlah komen kalian author baca semua dan jika ada waktu luang nanti author bakal bales kok 🤗 jangan lupa kalau ada kesalahan kata, typo dan sebagainya segera kasih tau author oke🤗


Jangan lupa buat ninggalin jejak kalian ya dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE DAN KASIH HADIAH juga tentunya.


Dan author ucapkan terimakasih untuk sayang-sayangku yang sudah sabar menunggu update-an cerita ini. Sayang kalian banyak-banyak 😘


See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2