
Setelah terdiam cukup lama dengan pikirannya, Devano kembali menatap tajam kearah kedua bodyguard yang ia tugaskan menjaga Al.
"Tingkatkan keamanan di sekitar Al juga Ciara. Segera temukan dalang dibalik kejadian tadi. Dan saya tidak mau kalian sampai teledor mengawasi mereka berdua. Kalau sampai kalian teledor dan menyebabkan Al maupun Ciara lecet sedikitpun, jangan harap kalian bisa aman dari pantauan saya," tutur Devano penuh dengan penekanan.
Kedua bodyguard tersebut tampak kesusahan menelan salivanya dan dengan ragu mereka berdua menganggukkan kepalanya.
"Silahkan keluar dan mulai selidiki kejadian tadi. Setelah mendapatkan petunjuk segera hubungi saya!" perintah Devano tak terbantahkan. Kedua bodyguard tadi kini berdiri dari duduknya setelah itu mereka membungkukkan badannya hormat, sebelum akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dengan helaan nafas yang sedikit lega dari sebelumnya.
Setelah kedua bodyguard tadi hilang dari balik pintu, Devano kini menyandarkan tubuhnya di senderan kursi yang sedari tadi ia duduki lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Siapapun kamu yang berani menyentuh putra dan istriku walaupun hanya seujung kuku pun, tak akan pernah aku biarkan kamu hidup dengan tenang di dunia ini," gumam Devano. Kemudian saat hati dan pikirannya sedikit tenang ia berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar pribadi yang ia dan Ciara tempati. Saat dirinya membuka pintu tersebut, matanya menyipit saat melihat Ciara tengah duduk di atas ranjang kamar tersebut dengan buku di tangannya.
Terlintas sesuatu yang membuat Devano tersenyum manis. Ia kini masuk kedalam kamar dan mulai melangkahkan kakinya menghampiri Ciara yang sepertinya tak menyadarinya kehadirannya itu.
Devano segera merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Ciara sebagai bantalannya. Ciara yang awalnya terkejut karena ada sesuatu yang menempel di pahanya itu pun, kini ekspresi keterkejutannya menghilangkan saat melihat wajah sang suami di pangkuannya.
Tapi untuk beberapa saat senyuman itu hilang digantikan dengan tatapan bingung Ciara.
"Bukanya kamu tadi bilang mau mandi? Kenapa pakaian kamu masih saja sama seperti tadi?" tanya Ciara heran.
"Kan aku sudah bilang tadi kalau mau ngurus sesuatu dulu," jawab Devano dan kini ia mengganti posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah perut buncit Ciara dan tanpa izin terlebih dahulu ia langsung menyingkap baju yang tengah di kenakan oleh Ciara hingga perut buncit itu bisa ia lihat langsung tanpa halangan sedikitpun.
Setelah itu ia menghujani ciuman ke arah perut Ciara. Ciara yang melihat perlakuan Devano pun hanya bisa tersenyum manis. Bahkan topik pembicaraan sebelumnya sudah tak ia pedulikan lagi.
"Papa gak sabar lihat kamu lahir
__ADS_1
di dunia ini, sayang," ucap Devano sembari mengelus perut Ciara tanpa mengubah posisi tidurnya tadi.
Sepertinya ucapan Devano tadi bisa didengarkan oleh calon bayi mereka pasalnya setelah Devano mengatakan hal itu ia langsung di balas dengan tendangan yang cukup kencang oleh calon anaknya itu. Senyum merekah kembali terpancar di wajah pasangan suami istri itu.
"Sepertinya anak Papa ini senang kalau di ajak ngobrol sama Papa, iya?" lagi-lagi ocehan Devano di balas tendangan dari dalam perut Ciara.
"Ya ampun Papa jadi gemas sendiri sama kamu, nak. Sabar ya sayang masih ada waktu 2 bulan lagi untuk kita ketemu. Papa sayang kamu, nak." Devano kembali mencium perut Ciara dan untuk kesekian kalinya ia merasakan tendangan dari sang baby.
Ia terus menerus mengusap perut tersebut untuk mengalihkan perhatian Ciara yang sepertinya setiap tendangan dari baby tadi, istrinya itu menahan sakit. Walaupun sakitnya tak seberapa untuk ukuran Ciara dibandingkan dengan melahirkan tapi ia tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya itu. Karena dia merupakan orang yang tak bisa menahan rasa sakit walaupun sedikit pun.
"Sayang sakit?" tanya Devano yang khawatir dengan Ciara. Bahkan dirinya sudah bangkit dari rebahannya.
"Cuma dikit. Kalau dibandingkan sama melahirkan jauh lebih sakit yang melahirkan," ucap Ciara membandingkan hal yang perbandingannya cukup jauh dan tak seimbang.
"Huh, maaf," tutur Devano dengan suara seraknya seperti dirinya tengah menahan air mata yang sewaktu-waktu akan tumpah.
"Kenapa minta maaf? Memangnya kamu punya salah apa sama aku?" tanya Ciara bingung. Devano tak membalas tatapan istrinya karena matanya masih fokus menatap tangannya yang sedari tadi bergerak mengelus perut Ciara.
"Aku banyak salah sama kamu, sayang. Rekaman masa lalu kembali berputar di otakku. Aku gak bisa bayangin gimana kamu dulu saat ngidam, cari uang dengan perut yang membesar, merasakan sakit saat mendapat tendangan dari Al dulu dan aku gak bisa bayangin kamu melahirkan sendiri tanpa ada aku yang notabenenya sebagai ayah dari Al tak ada di sampingmu. Menyemangatimu, memberikan kekuatan dan terus menemanimu saat kamu bertaruh nyawa demi melahirkan Al. Maaf, maafkan aku, sayang." Kini air mata yang sedari tadi Devano bendung akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. Biarkan dia nanti diejek Ciara cengeng atau apalah. Dia tak peduli karena memang ia selalu saja merasa bersalah akan tindakannya di masa lalu.
Ciara menghela nafas kemudian ia merubah posisi duduknya menjadi menghadap Devano kemudian kearah sang suami, lalu tanpa aba-aba ia langsung memeluk tubuh Devano dengan cukup erat.
"Sudah jangan di bahas lagi. Masa lalu biarlah menjadi kenangan yang tak akan pernah kita lihat lagi dan tak perlu kita pikirkan lagi. Bukankah kita juga pernah berjanji untuk melupakan dan memaafkan kejadian itu bahkan kita memilih berdamai dengan masa lalu kita. Jadi aku mohon jangan salahkan dirimu lagi. Lupakan semuanya jika kamu tak mau melihat aku sedih kembali karena bayang-bayang masa lalu yang sudah mulai hilang dari pikiranku dan akan kembali saat kamu mengingatkan hal itu. Kamu mau hal itu terjadi hmm?" Devano menggelengkan kepalanya kemudian dengan kasar ia menghapus air matanya setelah itu ia membalas pelukan dari Ciara.
"Terimakasih karena sudah mengizinkanku berada disampingmu kembali dan terimakasih kamu telah kembali dalam pelukanku, memberikan kesempatan kedua untukku. Terimakasih sayang. Aku bersyukur dan sangat bahagia memilikimu," tutur Devano diakhiri dengan kecupan berulang kali di puncak kepala Ciara.
__ADS_1
Ciara yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devano pun menganggukkan kepalanya untuk menanggapi semua ucapan sang suami.
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan hingga suara gedoran pintu kamar mereka berbunyi nyaring yang membuat mereka terpaksa melepaskan pelukannya.
"Mama, Papa. Bukain! Al mau masuk!" teriak Al dari balik pintu tersebut.
"Iya sebentar sayang!" balas Devano. Saat dirinya ingin beranjak untuk membukakan pintu anak laki-lakinya itu, lengannya di cekal oleh Ciara yang membuat sang empu terpaksa menghentikan tubuhnya untuk beranjak dari ranjang tersebut.
"Biar aku aja. Kamu mandi aja sana gih. Badan kamu udah bau banget soalnya," ucap Ciara dengan menutup hidungnya menggunakan satu telapak tangannya sedangkan telapak tangannya yang lain ia gunakan untuk mendorong tubuh Devano agar segera ke kamar mandi.
Devano mengerutkan keningnya kemudian ia mencium bajunya.
"Mana ada bau. Aku ini selalu wangi tau sayang."
"Ck, pokoknya kamu bau dan pergi mandi sekarang!" titah Ciara.
"Gak ada. Aku wangi sayang. Kalau gak percaya cium nih ketiak aku." Devano kini mendekatkan wajah Ciara dengan ketiaknya. Namun sebelum wajah Ciara berhasil mencium ketiak suaminya yang memang kenyataannya selalu wangi itu, Ciara dengan reflek memundurkan tubuhnya hingga hampir saja tubuhnya jatuh dari atas ranjang kalau Devano tak menahan tubuh tersebut.
"Untung aja," ucap Devano dengan nafas lega.
"Ck, kamu sih, jail banget jadi orang. Buruan mandi sana."
"Mandi bareng yuk." Ciara memelototkan matanya saat mendengarkan ucapan Devano tadi.
"Al mau ikut mandi!" tiba-tiba suara Al menyaut begitu saja.
__ADS_1
"Mulut kamu ih. Al jadi dengar kan," geram Ciara sembari memukul bibir Devano dengan pelan sebelum beranjak untuk membukakan pintu untuk anaknya yang sedari tadi menunggu mereka untuk membukakan pintu. Sedangkan Devano kini malah menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Merutuki dirinya sendiri yang kelepasan berbicara seperti itu.