
Saat situasi dan kondisi sudah mulai kondusif, bahkan Henry juga sudah mulai terlelap kembali. Keluarga Devano dan keluarga Bian kini mereka mulai bergerak mendekati Mama Henry yang masih menemani sang anak tidur dengan sesekali mengusap kepalanya.
"Ehemmm," dehem Devano yang berhasil membuat wanita yang masih menangis namun dalam diam itu dengan cepat ia menghapus air matanya. Lalu setalahnya ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara tadi. Dan saat dirinya melihat orang-orang yang telah menolong Henry sekaligus melukai anak laki-lakinya itu pun ia hanya bisa tersenyum ramah kearah semua orang di sampingnya itu.
"Nyonya pastinya sudah pernah lihat saya. Karena saya sering pesan catering di tempat anda saat ada acara kantor. Tapi pertemuan kita kali ini bukan karena saya akan pesan catering nyonya, melainkan untuk berdiskusi mengenai masalah yang di timbulkan oleh kedua anak kita," ujar Devano.
"Sebelumnya saya meminta maaf gara-gara anak saya, putra anda jadi terluka dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit ini. Tapi nyonya tidak perlu khawatir lagi mengenai biaya selama Henry di rawat disini, semua akan saya tanggung. Sekali lagi saya minta maaf untuk mewakili putra saya," sambung Devano dengan tulus.
Mama Henry yang tadinya menyimak ucapan Devano kini dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak tuan. Putra anda tidak bersalah melainkan Henry yang bersalah dalam kejadian ini. Karena saya sudah hafal dengan sifat Henry yang selalu mencari masalah dengan orang-orang disekitarnya. Dan yang di lakukan oleh putra anda menurut saya sudah benar tuan. Biar Henry juga merasa kapok dan dia juga tau konsekuensinya saat dia mengganggu orang lain itu seperti apa. Dan semoga setelah kejadian ini dia tidak lagi membuat masalah apapun, apalagi masalah yang menyangkut nyawa orang lain ataupun nyawanya sendiri," ujar Mama Henry.
"Dan untuk biaya rumah sakit Henry, saya benar-benar berterimakasih atas bantuan tuan dan nyonya sekalian. Karena terus terang saja, saya sedari tadi berpikir bagaimana jika saya tidak bisa membayar rumah sakit ini sampai Henry sembuh? Henry akan di rawat dimana? Karena saya takut lukanya akan bertambah parah saat saya memaksa membawa dia keluar dari rumah sakit ini disaat lukanya masih basah. Saya benar-benar takut kehilangan dia karena cuma dia lah satu-satunya keluarga yang saya punya," sambung Mama Henry sembari mengalihkan pandangannya kearah Henry.
Beberapa menit berlalu hanya ada kesunyian di ruangan tersebut sebelum akhirnya Mama Henry kambali menatap kearah mereka lagi.
Devano yang tadinya juga terbawa suasana pun kini ia mengerjabkan matanya berkali-kali.
"Ehemmm tapi masih ada satu permasalahan yang perlu saya beritahukan ke nyonya," ucap Devano.
"Apa tuan?" tanya Mama Henry.
__ADS_1
"Suami anda sekarang tengah di penjara," jawab Devano to the point. Dan Devano pada awalnya menebak reaksi dari wanita itu yang ia yakini pasti akan menangis meraung-raung dan mengamuk atau bahkan bisa jadi juga dia akan melakukan apa yang tadi di lakukan oleh Henry saat mengetahui laki-laki yang merupakan kepala keluarga di rumahnya tertangkap polisi. Tapi sepertinya tebakannya itu sama sekali tak ada yang benar. Karena ternyata reaksi yang didapatkan oleh Devano hanya senyuman dan anggukan saja oleh wanita tersebut.
Semua orang yang disana pun kini mengerutkan keningnya. Mereka merasa aneh kenapa wanita itu hanya santai saja, tidak marah sama sekali kepada mereka?
"Nyonya tidak marah?" tanya Toni yang sudah tak tahan lagi untuk menyimpan pertanyaan itu didalam otaknya.
"Tidak. Saya tidak marah sedikitpun kepada kalian semua. Justru saya malah ingin mengucapkan terimakasih banyak karena kalian telah membantu saya menjebloskan dia ke penjara," ujar Mama Henry. Dan perkataan dari wanita itu lagi-lagi membuat semua orang yang ada disana melongo tak percaya.
"Tapi dia suami anda, nyonya. Masak anda juga punya niatan buat jeblosin dia ke penjara. Tega banget jadi istri," timpal Doni yang diangguki setuju oleh Toni.
Wanita itu kini menghela nafas sebelum menjawab ucapan dari Doni tadi.
"Bukannya saya tega dengan suami saya. Tapi alasan saya mendukung tuan Devano menjebloskan dia ke penjara karena saya sudah benar-benar tidak kuat menerima siksaan dia setiap hari. Kalian semua lihat, banyak bekas luka di tangan dan lebam di wajah saya ini. Ini semua dia yang melakukannya. Jika dia emosi pasti akan melampiaskan kemarahannya itu dengan memukul saya hingga pingsan," ujar Mama Henry dengan menunjukkan sedikit bukti KDRT yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Kita turut prihatin dengan apanya yang telah terjadi dengan anda selama ini," ucap Ciara. Mama Henry yang tadinya terkejut dengan aksi Ciara dan Franda tadi pun kini tangannya mulai bergerak untuk membalas pelukan dari dua wanita tersebut setelah ia mengetahui alasan kenapa mereka berdua tiba-tiba memeluknya.
"Terimakasih atas simpati kalian," ujar Mama Henry diakhiri dengan senyum tulusnya.
Tak berselang lama, Ciara dan Franda kini melepaskan pelukannya.
"Apakah ada luka lain selain di wajah dan tangan anda, nyonya?" tanya Franda penasaran.
__ADS_1
"Banyak. Bahkan hampir di sekujur tubuh saya ini di penuhi dengan lebam dan luka," jawab Mama Henry.
"Yang lebih parah lagi, di bagian perut. Nyonya mau lihat?" tanya Mama Henry yang langsung diangguki oleh kedua perempuan tersebut.
"Tapi disini banyak laki-laki," sambung Mama Henry sembari melirik kearah belakang dua wanita didepannya itu.
Ciara dan Franda dengan seketika menolehkan kepalanya kearah belakang mereka.
"Kalian hadap belakang. Jangan ada yang menoleh kesini. Kalau sampai ada, aku bogem," ancam Ciara yang langsung di turuti oleh Devano dan Bian.
Sedangkan kedua bodyguard tadi sama sekali tak bergerak sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Ciara tadi.
"Heh kalian berdua kenapa tidak hadap belakang?" tanya Ciara.
"Lah kita juga nyonya?" tanya Toni balik.
"Iya lah, kalian laki-laki kan? Kalau laki-laki hadap belakang semua," ujar Clara yang membuat kedua bodyguard Al berdecak lalu setelahnya mereka langsung memutar tubuhnya mereka.
Al yang melihat bodyguard masih saja bertingkat aneh pun ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah memastikan keempat laki-laki dewasa di ruangan tersebut telah berputar arah, Ciara dan Franda kini mengalihkan kembali pandangan mereka kearah Mama Henry.
__ADS_1
Dan beberapa detik setelah Ciara dan Franda menoleh kearah dirinya kembali, tangan Mama Henry bergerak untuk mengangkat baju yang ia kenakan hingga bawah buah dadanya untuk memperlihatkan luka yang dia maksud tadi.
Dan saat luka itu terlihat, Ciara dan Franda dengan seketika melebarkan matanya dengan tatapan mata yang ngeri sendiri dibuatnya.