Young Mother

Young Mother
Pertanyaan Kembali Terulang


__ADS_3

Sudah 1 bulan lebih mereka berempat tinggal di Indonesia. Ciara dan juga Olive sudah kembali keaktifan seperti di Malaysia yaitu dengan mengurus urusan kantor Olive yang tengah bermasalah. Dan untuk Dea, ia tengah menyibukkan diri dengan toko bunga dan kue kering milik Ciara yang beberapa hari lalu baru dibuka. Lalu Al yang semakin pintar pun hari ini mulai memasuki sekolah.


Kini Al sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya.


"Al, sudah siap?" tanya Ciara dengan antusias.


Al yang tadi memperhatikan dirinya dari pantulan cermin pun menengadahkan kepalanya untuk melihat Ciara yang berdiri di sampingnya.


Ciara yang mendapat tatapan Al pun melunturkan senyumnya.


"Al kenapa?" tanya Ciara sembari menjongkokan tubuhnya.


"Kenapa Al harus sekolah Ma?" Bukannya menjawab, Al malah balik bertanya.


Ciara kembali mengembangkan senyumnya. Tangannya kini ia ulurkan untuk mengelus rambut Al.


"Supaya Al menjadi anak yang pintar dan cerdas," ucap Ciara.


"Al kan udah pintar dan Al juga bisa belajar sama Mama dan aunty Dea. Kenapa Al masih harus sekolah lagi?" Ciara tak memungkiri ucap dari Al yang berbicara jika dirinya pintar karena itu adalah kenyataannya bahkan Al sudah lancar membaca dan menulis yang sebagian anak-anak diusianya masih kesulitan tapi bagi Al itu hanya hal kecil.

__ADS_1


"Kalau sekolah kan belajarnya sama teman-teman Al dan Al juga bisa bermain dengan mereka," tutur Ciara.


"Mama sama aunty juga teman Al. Kenapa Al harus membutuhkan teman lagi." Ciara kini menggigit bibirnya. Seperti ini lah Al yang tak suka berbaur dengan anak-anak seusianya bahkan Ciara dulu sering membawa Al ke taman yang dekat dari rumahnya saat masih di Malaysia dan hasilnya Al akan terus menempel padanya dan menatap anak-anak seusianya yang ingin bermain dengan dirinya menggunakan tatapan tajam yang membuat anak-anak seusianya takut dan tak jadi mengajaknya bermain dan mereka pun memilih untuk pergi. Dan hal ini membuat Ciara khawatir dan juga takut. Ia takut Al tidak dapat merasakan bahagianya di waktu ia kecil dengan bermain dengan sesuka hati. Namun Al benar-benar berbeda. Ia sangat aktif dirumah dan jika diluar ia akan sangat tertutup dan tak tersentuh orang lain.


"Al, dengar Mama. Mama kan kerja, berarti Mama tidak bisa selalu menemani Al belajar dirumah, begitu juga dengan aunty Dea yang sekarang harus bolak-balik dari rumah ke toko. Aunty Dea juga sibuk sayang sekarang, tidak selalu bisa temani Al terus bermain. Kalau disekolah kan Al bisa belajar sama Bu guru yang selalu siap sedia menemani Al belajar. Dan disana Al juga bisa bermain bola, lego dan sebagainya dengan teman Al. Al gak perlu takut sayang, teman-teman Al disana baik-baik kok," tutur Ciara mencoba meyakinkan Al yang masih enggan untuk sekolah.


"Al gak mau pergi sekolah Mama. Al juga gak suka dengan yang namanya teman. Mereka hanya akan mengejek Al anak haram karena tidak punya Papa seperti mereka. Seperti yang diucapkan para aunty dulu," ucap Al sendu. Sepertinya ingatan Al tentang hujatan yang mereka terima dulu saat masih di negeri Jiran masih terukir jelas dipikiran Al.


Ciara merasa terenyuh dengan ucapan anak semata wayangnya itu. Hatinya saat ini seperti di tikam dengan puluhan belati yang sangat tajam. Ngilu dan sakit rasanya saat mengingat kenyataan yang harus Al terima. Ternyata selama ini Ciara belum bisa menjadi orangtua tunggal yang baik buat Al, sampai ia tak menyadari bahwa anaknya itu sudah tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dengan kemampuan mengingat yang sangat tinggi. Dan cepat atau lambat Al akan bertanya lagi tentang Papanya seperti dulu saat ia berusia 2 tahun. Walaupun setelah beberapa tahun berlalu Al tak lagi bertanya mengenai Papanya, tapi Ciara tahu Al selalu merindukan sosok Ayah disampaingnya.


"Hey, dengar Mama. Al punya Papa, jadi Al gak usah takut lagi dengan omongan mereka. Papa Al ada disini bersama kita," tutur Ciara sembari menunjuk dada Al.


"Papa ada disini?" tanya Al dengan polosnya.


"Makanya Al gak boleh sedih lagi. Meskipun Papa sudah ada di surga, Al harus tau kalau Papa Al selalu dihati Al, apapun yang terjadi Papa akan selalu melindungi Al dimana pun Al berada. Al juga kan masih punya Mama, Aunty Dea, Aunty Olive sama Uncle Dafit," ucap Ciara.


Katakan kalau Ciara jahat. Tapi inilah satu-satunya cara agar Al bisa mengerti keadaannya dan tak lagi bertanya ke Ciara dimana Papanya. Ia tak mau lagi melihat penolakan dari laki-laki brengsek itu untuk yang kedua kalinya.


"Maafin Mama yang udah bohong sama Al untuk kedua kalinya," batin Ciara.

__ADS_1


Lamunan Ciara kini buyar saat Al kembali bertanya.


"Surga itu dimana Ma? Apa kita bisa kesana buat jemput Papa? Al ingin bertemu Papa, Ma." Kini tangis Al yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga.


Ciara yang tak sanggup melihat Al menangis pun segera merengkuh tubuh mungil anaknya, membawa tubuh Al kedalam pelukannya.


"Ya Allah, aku tak sanggup melihat putraku seperti ini. Apa belum cukup penderita yang engkau berikan kepadaku dan juga Al selama ini? Aku mohon jangan limpah semua hukuman atas dosa besar yang aku perbuat selama ini kepada putra ku, Tuhan!" batin Ciara menjerit.


Berkali-kali lipat rasa sakit yang Ciara rasakan saat melihat Al meraung merindukan pria brengsek itu. Bahkan rasa sakitnya ini lebih sakit daripada penolak yang diberikan oleh Devano dulu.


Ciara melepaskan pelukannya namun sebelumnya ia mengusap air mata yang tanpa permisi menetes membasahi pipinya.


Ciara memegang kedua telapak tangan anaknya dengan sangat erat.


"Al, Papa sudah tenang di surga bersama Allah. Kita tidak bisa menjemputnya sayang. Al cukup doakan Papa ya. Dan Al harus jadi anak yang penurut supaya Papa diatas, disurganya Allah bangga dengan Al," tutur Ciara. Kini tangannya ia ulurkan untuk menghapus air mata Al.


Olive yang tadi berniat untuk melihat Al sudah siap untuk pergi kesekolah pun terpaksa harus menghentikan langkahnya saat ia mendengar percakapan antara Ibu dan anak tersebut. Bahkan Olive juga ikut merasakan sakit yang teramat dalam saat mendengar ucapan dari Al yang terus saja merindukan kasih sayang seorang Ayah.


"Aunty janji, Al akan selalu bahagia tanpa kehadiran Papa brengsekmu itu, Al," batin Olive dan kini ia memilih untuk meninggalkan mereka.

__ADS_1


...*****...


Bisa yok target like 300 per-eps. Kalau bisa sampai segitu tar siang author tambah deh up-nya... Yuk ah gas keun💜


__ADS_2