
Saat kedua orangtua dari Yura dan Al tengah berdiskusi mengenai masalah yang menimpa anak-anak mereka. Disisi lain Al dan Yura kini sudah berada di sekolah tempat mereka belajar. Dan seperti biasa saat mereka baru bertemu sampai di sekolah, Al maupun Yura tak saling tukar percakapan. Yura yang mempunyai keinginan hanya untuk sekedar mengobrol dengan Al pun setelah melihat wajah Al yang terus menampilkan ekspresi seriusnya membuat Yura berulang kali mengurungkan niatnya itu. Dan dia hanya sesekali bercanda dan tertawa hanya dengan Toni juga Doni saja. Sedangkan Al, anak laki-laki itu tak ada niatan sama sekali untuk bergabung dengan topik pembicaraan mereka yang menurutnya tak menarik sama sekali.
Yura yang melihat Al lebih dulu keluar dari mobil pun ia hanya menghela nafas, lalu setelahnya ia juga segera turun dari mobil tersebut.
"Terimakasih Om. Hati-hati dijalan," ucap Yura dengan senyum lebarnya.
"Siap. Yura juga semangat ya sekolahnya. Om pulang dulu, bye bye," ucap Doni sembari melambaikan tangannya kearah Yura.
"Bye Om," teriak Yura saat mobil yang dikendarai oleh kedua bodyguard Al tadi mulai melaju. Dan saat mobil itu sudah menghilang dari hadapannya, Yura kini mulai memutar tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
Tapi saat dirinya dalam perjalanan ke kelasnya, tiba-tiba saja segerombolan anak nakal yang dulu pernah mendorongnya kini menghadang jalannya.
"Hey nama kamu Yura kan?" tanya salah satu anak laki-laki itu yang hanya di tatap Yura tanpa berniat menjawab pertanyaan tadi.
"Kamu tidak punya mulut atau bagaimana? Ditanya tidak menjawab," timpal satunya lagi.
"Untuk apa kalian tanya nama ku?" ucap Yura dengan memberanikan diri walaupun tangannya kini sudah memegang kuat tasnya.
"Cuma mau tau saja memangnya salah? Lagian sebenarnya nama itu tidak penting buat kita, yang terpenting kamu sekarang serahkan semua uang yang kamu bawa sekarang juga," tutur anak laki-laki yang merupakan anak dari kepala sekolah disana.
"Aku tidak membawa uang sepeser pun," ujar Yura.
"Halah bohong. Cepat berikan ke kita atau kalau tidak, kamu akan aku siram pakai air comberan biar sekalian kamu bau dan berakhir dijauhi teman-teman kamu nanti. Memangnya kamu mau?" ucapnya sembari maju mendekati tubuh Yura. Yang otomatis saat anak laki-laki itu melangkahkan kakinya satu langkah kedepan, maka Yura juga akan melangkahkan kakinya satu langkah kebelakang.
"Kamu tidak mau kan diejek bau comberan sama teman-teman sekelas kamu itu? Kalau tidak mau buruan kasih uangnya ke kita," sambungnya.
"Aku bilang tidak punya uang ya tidak punya!" teriak Yura dengan sengaja agar seseorang membantunya. Namun sepertinya usahanya itu nihil karena tak ada satupun siswa yang terlihat melewati jalanan yang sama seperti Yura karena waktu saat ini masih terlalu pagi untuk para orangtua mengantar anaknya ke sekolah bahkan para guru pun juga belum ada yang kesekolah, hanya kepala sekolah saja.
"Ck, bohong lagi. Kalian semuanya ambil tas dia dan kita geledah isinya," perintah anak kepala sekolah tersebut yang langsung membuat para teman-temannya itu beraksi.
__ADS_1
"Jangan ambil tasku!" teriak Yura sembari tangannya memegang erat tas yang sekarang sudah berada di tangan teman anak kepala sekolah tersebut.
"Dorong saja tubuhnya kalau dia tidak mau melepaskan tasnya," ucap anak kepala sekolah tersebut yang terus memperhatikan wajah Yura yang sudah menangis dengan senyum liciknya.
Dan baru saja perintah itu ia ucapkan, salah satu dari temannya kini mendorong dengan kencang tubuh Yura hingga membuat sang empu terjatuh dilantai.
"Hahaha rasain makanya jangan bandel. Tinggal kasih aja apa susahnya," ucap anak kepala sekolah tersebut diakhiri dengan gelak tawa semua anak disitu. Sedangkan Yura, ia kini menangis tersedu.
"Ah sepertinya ini semua belum seru. Gimana kalau rencanaku tadi kita lakukan sekarang juga. Pumpung belum ada orang banyak yang datang ke sekolah ini," ujarnya.
"Setuju bos," ucap semua anak-anak tadi dengan serempak.
"Kalau setuju, ambil air yang sudah di siapkan Nauval tadi. Bawa kesini cepat!" perintahnya yang diangguki teman-temannya. Lalu setalah itu semua anak-anak tadi kecuali anak kepala sekolah tersebut meninggalkan mereka berdua.
Yura yang tau niat jahat yang akan dilakukan anak-anak nakal itu, ia berusaha untuk kabur dari mereka namun sayangnya, dirinya dicekal oleh anak kepala sekolah tadi.
"Lepasin!" teriak Yura sembari mencoba untuk melepaskan cekalan di lengannya itu.
"Buruan guyur dia!" perintah anak kepala sekolah tersebut yang membuat teman-temannya kini berbondong-bondong mengangkat ember tadi untuk mengguyur tubuh Yura.
Tapi sayangnya saat air itu mulai terjun bebas menuju tubuh Yura, Yura justru dibuat terkejut saat ada sebuah tangan yang menariknya cukup kuat menjauh dari guyuran air itu.
Byurrr!!!
Air kotor itu kini berhasil mendarat di tubuh seseorang, bukan Yura ataupun orang yang menolongnya tadi melainkan air itu jatuh membasahi tubuh anak kepala sekolah tersebut.
"Apa yang kalian lakukan!" geram anak kepala sekolah tersebut dengan tatapan matanya mengarah ke teman-temannya itu. Dan hal itu membuat teman-temannya tadi tertunduk takut.
Sedangkan Yura yang masih syok pun kini perlahan mengerjabkan matanya lalu setelahnya ia menatap seseorang yang berdiri di belakang tubuhnya dengan tangan yang masih menggenggam lengan Yura.
__ADS_1
"Kembalikan tas dia," ucap orang yang telah menolong Yura tadi.
Semua anak-anak nakal tadi tatapan mata mereka berhasil teralihkan dengan suara orang
tapi.
"Ck, jangan sok jadi pahlawan kamu!" tutur anak kepala sekolah tersebut.
"Kembalikan atau saya tidak segan-segan memberi kalian perhitungan," ucap orang tersebut dengan ekspresi wajah datar.
"Hahaha perhitungan katanya, hahahaha. Kamu belum sampai buat perhitungan ke kita, kamu yang lebih dulu memohon ampun ke aku," ujar anak kepala sekolah tadi yang langsung disambut gelak tawa komplotan anak nakal tadi.
"Kalian semua maju dan pukul anak bengis ini sampai dia kapok berurusan dengan kita," perintahnya yang lagi-lagi langsung dituruti oleh teman-temannya tadi.
Yura yang melihat anak-anak itu mulai mendekati dirinya dan orang yang menolongnya tadi pun dengan cepat ia merentangkan tangannya didepan orang yang menolongnya.
"Berhenti kalian. Kalian mau ambil tasku, ambil saja. Geledah dan jika kalian menemukan uang di dalam tas itu maka uang itu untuk kalian. Asal kalian tidak memukul dia," ucap Yura.
"Kamu sudah terlambat. Harusnya perkataanmu itu lebih awal kamu ucapkan. Tapi sayangnya, gara-gara anak bengis itu, penampilan aku jadi menjijikkan seperti ini. Maka dari itu, apa yang telah aku katakan tadi tak akan pernah aku tarik kembali," tutur anak kepala sekolah tersebut dengan sombongnya.
"Cepat pukul dia!" sambungnya.
"Sudahlah jangan banyak negosiasi sama orang-orang yang kurang kasih sayang ini. Jadi lebih baik kamu sekarang menjauh dari sini," ujar orang tersebut yang sama sekali tak memiliki rasa takut sedikitpun.
"Tapi Al, kamu nanti akan terluka kalau melawan mereka semua," ucap Yura dengan tatapan mata khawatir.
Yap, orang yang menolong Yura itu adalah Al yang tak sengaja melewati lorong yang digunakan anak-anak nakal untuk melakukan aksinya. Awalnya Al tidak ingin ikut campur masalah mereka, tapi setelah ia lihat-lihat lagi dan merasa kasihan, akhirnya Al bergerak juga untuk menolong Yura.
"Menjauh dari sini!" perintah Al penuh dengan penekanan. Dan hal itu membuat Yura seketika menurunkan tangannya yang terlentang tadi lalu setalahnya ia berlari menjauh dari mereka.
__ADS_1
"Al, jangan sampai tubuh kamu terluka!" teriak Yura yang sama sekali tak mendapat respon dari Al. Dan kini anak perempuan itu tengah bingung, ingin sekali ia meminta bantuan kepada kepala sekolah tapi ia yakini Al nanti akan mendapat masalah karena bagaimanapun kepala sekolah itu pasti akan memihak ke anaknya sendiri walaupun Al tidak bersalah sama sekali. Dan jika ia meminta pertolongan ke orang lain disekolah tersebut entah itu siswa lain, satpam, atau tukang kebun pasti ujung-ujungnya mereka akan mengadu ke guru yang berakhir akan sampai ke telinga kepala sekolah tersebut dan lagi-lagi yang akan disalahkan pasti Al. Haish, Yura sekarang benar-benar bingung ingin berbuat apa agar ia bisa membantu Al menghadapi anak-anak nakal itu.