Young Mother

Young Mother
Pelit


__ADS_3

Kini hari telah berganti menjadi malam, sepasang pengantin baru kini sudah berganti pakaian dan tengah berdiri tegap di singgasana pernikahan mereka, menyambut para tamu yang ingin memberikan kata-kata selamat atas pernikahan mereka berdua. Begitu juga Ciara dan Devano ditambah Al yang kini telah kembali lagi di acara resepsi pernikahan sahabat mereka setelah tadi sempat pulang untuk istirahat sebentar. Pada awalnya Devano menolak untuk kembali lagi ikut merayakan hal itu karena ia takut Ciara akan kecapekan dan berakibat fatal bagi istri dan calon anak keduanya itu. Tapi Ciara masih aja ingin pergi ke sana, memaksa Devano dengan wajah yang super di imut-imutkan. Dan hal itu berhasil membuat Devano luluh yang berakhir ia mengalah dan pada malam itu juga mereka gass ke tempat yang sama seperti tadi diadakan ijab qobul.


"Tunggu nanti aja kalau udah sepi. Kita duduk dulu," ucap Devano saat Ciara dengan semangat ingin ikut mengantri dengan para tamu undangan untuk bersalaman dengan pengantin baru tersebut.


"Kalau nunggu nanti bakal lama. Pasti tamunya akan terus bertambah," tutur Ciara dengan kerucutan di bibirnya.


Devano menghela nafas.


"Tenang aja sayang. Tamunya gak akan tambah kok. Beberapa menit lagi pasti antriannya menipis. Kalau kita kesana sekarang, kaki kamu nanti pegal lho dan juga apa kamu gak kasihan sama baby hmmm? dia dari tadi pagi belum istirahat lho. Ikut Mamanya kesana kemari terus," ucap Devano.


"Tapi kan..."


"Gak ada tapi-tapian. Duduk sekarang atau kita pulang!" tegas Devano yang langsung dituruti oleh Ciara dengan hentakan kecil sebelum pergi menuju salah satu kursi yang tak jauh dari mereka.


Al yang sedari tadi berada di sebelah Devano dengan tangan yang terus digenggam Papanya sembari menatap kagum keindahan acara pernikahan tersebut, kini mengalihkan pandangannya kepada Ciara yang sudah pergi menjauh dari dirinya dan Devano.


Al menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah Devano.


"Mama kenapa Pa?" tanya Al dengan polosnya.


"Biasa Al. Mama kamu lagi ngambek," jawab Devano yang langsung diangguki oleh Al. Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Al mendengarkan keluh kesah dan curhatan Papanya itu saat sang Mama dalam mode merajuk.


"Kita susul Mama yuk," ajak Devano. Kini dua laki-laki tampan beda usia itu melangkahkan kakinya menuju kursi yang sudah di isi oleh Ciara.


Saat mereka sudah sampai, Devano maupun Al hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Ciara tengah menyantap berbagai makanan di atas meja di depannya, menghiraukan kedatangan mereka berdua yang sekarang sudah duduk disebelahnya.


"Mama," panggil Al yang sedari tadi memperhatikan Ciara.


Ciara menolehkan kepalanya dengan mulut penuh makanan.


"Al boleh minta es krimnya?" tanya Al sembari menunjuk ke arah es krim yang belum tersentuh oleh Ciara.


"Gak boleh. Kalau Al mau, ambil aja sendiri," tutur Ciara kemudian ia melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Al yang sudah menahan tangisnya didalam pangkuan Devano.


Devano yang turut menyimak percakapan antara istri dan anaknya pun menghela nafas.


"Al jangan nangis. Mama tadi gak bermaksud bicara seperti itu sama Al. Mama hanya mau baby di perut Mama gak kelaparan," ucap Devano menenangkan Al.

__ADS_1


"Benarkah?" Devano menganggukkan.


"Al mau es krim kan?" Dengan mata berbinar Al menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, kamu disini sama Mama dulu. Papa mau ambilin es krim buat Al." Devano kini berdiri dari duduknya dan memindahkan tubuh Al di kursi yang ia tempati tadi sebelum akhirnya pergi untuk mencari tempat es krim yang disediakan di sana.


Sedangkan Ciara yang melirik sekilas kepergian Devano pun kini mengalihkan pandangannya ke putra semata wayangnya itu.


"Papa kamu mau kemana?" tanyanya.


"Ambilin Al es krim," jawab Al tanpa menatap wajah Ciara. Ia masih sebal dengan sikap Mamanya tadi yang super duper pelit dengannya.


Ciara menganggukkan kepalanya lalu ia kembali menyantap hidangan yang masih mengantri untuk ia makan.


"Mama gak mau minta maaf sama Al?" tanya Al tiba-tiba yang membuat Ciara kembali menatap wajah Al yang sudah tertekuk.


"Emang Mama punya salah sama Al? perasaan gak ada deh," jawabnya dengan memutar memory di otaknya untuk mencari kesalahannya tapi ia tak menemukan hal itu.


Al berdecak dan kerucutan di bibirnya semakin bertambah.


"Mama ih, menyebalkan," geram Al sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Mama tadi gak mau berbagi sama Al terus Mama tadi bilang gini. Gak boleh, kalau Al mau ambil aja sendiri. Mama menyebalkan," ucap Al dengan menirukan suara Ciara tadi.


Ciara kini ingat dengan hal itu dan kini ia malah tertawa geli melihat Al yang merajuk karena ucapannya tadi.


"Ya udah deh maafin Mama ya sayang. Mama tadi kebawa emosi sama Papamu itu. Beneran suer Mama gak sengaja tadi. Maaf ya," tutur Ciara dengan lembut sembari mengusap kepala Al.


"Al mau es krim kan. Nih ambil aja tapi sisain dikit ya buat baby di perut Mama." Ciara menyodorkan es krimnya kearah Al.


"Gak ah. Itu buat Mama sama baby aja. Al tadi udah di ambilin Papa," ucap Al.


"Tapi Mama gak mau kalau Al masih marah sama Mama gara-gara tadi." Ciara mengerucutkan bibirnya.


"Al udah gak marah sama Mama. Mama kan udah minta maaf tadi, jadi Al udah maafin Mama. Tapi lain kali, Mama jangan pelit sama Al," ujar Al dengan senyum yang mengembang.


"Kalau Al maafin Mama. Al peluk Mama dong." Al turun dari kursinya kemudian berpindah ke depan sang Mama lalu ia memeluk erat tubuh Ciara yang sengaja ia tundukkan agar Al bisa leluasa memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Al sayang sama Mama," ucap Al dalam pelukan itu.


"Mama juga sayang Al," balas Ciara.


Saat Ciara dan Al masih saling berpelukan, Devano kini sudah kembali dan saat sudah sampai ditempatnya tadi ia langsung tersenyum cerah saat melihat orang yang ia sayangi tengah berpelukan romantis.


"Ehemmm, Papa gak diajak berpelukan nih?" ucap Devano yang membuat pelukan tadi terlepas dan kedua orang tersebut kini menoleh kearah Devano.


"Sini Papa," ajak Al. Devano mendudukkan tubuhnya disamping Ciara setelah itu ia menaruh es krim untuk Al diatas meja sebelum ia meraih tubuh Al kedalam pangkuannya.


"Tapi Papa takut Al," ujar Devano.


"Papa takut apa?"


"Papa takut Mama gak mau Papa peluk. Kan Mama masih marah sama Papa," adu Devano supaya dirinya nanti dibantu oleh Al agar Ciara tak merajuk lagi dengannya. Karena ia yakin Ciara akan langsung luluh dengan Al. Maka dari itu ia akan memanfaatkan anaknya itu sekarang. Pintar sekali memang bapak Devano ini.


Al kini menatap Ciara yang tengah memelototkan matanya kearah Devano.


"Mama." Ciara langsung mengubah mimik wajahnya.


"Iya sayang."


"Maafin Papa ya. Al gak mau lihat Mama bertengkar sama Papa," ucap Al penuh permohonan.


Ciara menghela nafas dan apa yang di perkirakan oleh Devano memang benar adanya. Ia sekarang langsung luluh dengan ucapan Al. Kemudian ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Al tadi. Berhasil sudah siasat bapak Devano kali ini.


"Kalau Mama udah gak marah lagi. Ayo kita berpelukan." Al kini merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut oleh kedua orangtuanya yang kini tersenyum lebar. Gemas akan tingkah Al yang selalu mencairkan situasi mereka yang tadi sempat mendidih.


Dan hal itu sangat mencuti atensi seluruh tamu disana. Banyak yang fokus dengan keluarga kecil yang sangat harmonis itu sehingga tak menghiraukan tokoh utama di acara itu malam ini.


...****************...


Hay sayang-sayangku apa kabar nih? lama author gak nyapa kalian hihihi.Tapi tenang komen kalian author baca semua walaupun gak sempet author balas, maaf ya😘


Oh ya cerita ini kita yang ringan-ringan dulu ya, author gak mood buat nulis yang ada konfliknya soalnya 🤭 semoga kalian suka aja lah..


Dan author ucapkan kepada para readers yang selalu ninggalin jejak di cerita absurd ini. Yang gak ninggalin Dan hanya baca aja, semoga insyaf deh 😂

__ADS_1


Dah lah author malah curhat. Jangan lupa ninggalin Like, komen, vote dan kasih hadiah... See you next eps bye 👋


__ADS_2