
Note : Nama anak perempuan yang di tolong oleh Al, author ganti ya biar kalian gak bingung karena di cerita ini udah banyak banget nama yang mirip-mirip hehehe. Dan nama itu yang tadinya Asteria menjadi Yura.
Happy Reading semuanya 🤗
...****************...
Ciara dan Devano kini saling pandang saat mereka memiliki pikiran yang sama jika nyawa Yura tengah tak aman sekarang.
"Ya udah kalau gitu, kita akan antar Yura pulang. Kamu gak perlu takut kita semua yang ada disini gak akan nyakitin Yura. Jadi kita sekarang ke rumah Yura ya," ucap Ciara sembari mengelus kepala Yura. Dan ajakan dari Ciara tadi langsung diangguki oleh Yura.
Tapi saat mereka ingin bersiap untuk pergi dari depan ruang UGD tiba-tiba saja derap langkah kaki seseorang menghampiri mereka.
"Mama, Papa," ucap Yura saat melihat orang tersebut adalah orangtuanya juga beberapa bodyguard mereka.
Seluruh orang yang tadi tengah berlari pun kini menghentikan langkahnya saat suara Yura terdengar nyaring di telinga mereka semua.
"Yura," ucap perempuan yang merupakan ibu dari Yura, lalu ia melangkahkan kakinya menuju Yura yang kini tengah berlari kearahnya.
Dan saat jarak keduanya sudah menipis, Yura langsung berhambur kepelukan Mamanya.
"Yura kemana aja sayang? dan kenapa bisa berakhir di rumah sakit?" Tanya Mama Yura yang bernama Franda.
Yura kini melepaskan pelukannya dan anak itu kini menunjukkan lengannya yang sekarang sudah di balut perban itu. Franda kini menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena saking syok dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Anak perempuannya yang ia lindungi dengan segenap jiwa dan raganya kini terluka. Dan karena ia tak bisa berkata-kata, Franda kembali memeluk tubuh Yura dengan sangat erat.
"Siapa yang lukain kamu sayang?" tanya Papa Yura yang bernama Bian sembari menatap kearah keluarga Devano dengan tatapan tajam.
Devano yang merasa tatapan dari Bian tak beres pun ia melangkahkan kakinya mendekati orangtua Bian, berniat untuk menjelaskan semuanya. Tapi belum sempat dirinya sampai di hadapan Bian, tubuhnya langsung dihadang oleh para bodyguard keluarga tersebut. Sedangkan Doni dan Toni pun kini ikut bergerak untuk melindungi Tuan besar mereka jika para bodyguard itu melukai Devano, tak hanya mereka berdua yang bergerak melainkan para bodyguard tersembunyi yang diutus Ciara untuk mengawasi Al kini mereka menampakkan diri mereka dan ikut bergabung dengan Doni juga Toni tadi.
__ADS_1
Devano kini memijit pelipisnya saat suasana di ruang sakit itu semakin mencengkram saat pertemuan dua kubu bodyguard yang tengah melemparkan tatapan tajam mereka satu sama lain.
Berbeda dengan para orang dewasa itu, Al juga Yura kini dua anak itu sama-sama mendengus kesal.
"Kenapa sih orang dewasa itu harus menggunakan otot bukan otak saat mau menyelesaikan masalah. Bahkan ini bukan terbilang suatu masalah hanya meluruskan kesalahpahaman saja," batin Al.
"Papa, bisa tidak suruh Om bodyguard menjauh dulu," ujar Yura tanpa melepaskan pelukannya dari sang Mama tapi mata anak itu menatap kearah Bian.
"Kenapa? bukankah orang-orang ini yang melukai kamu?" tanya Bian.
Yura menghela nafas kemudian ia melepaskan pelukannya dari sang Mama dan kini ia melangkahkan kakinya mendekati Devano yang sedari tadi hanya terdiam sembari mencegah bodyguardnya agar tak mencelakai orang-orang yang dibawa oleh Bian tadi.
"Jangan kesana, Yura," ucap Bian dan dengan sigap ia menggendong tubuh anak perempuannya itu.
"Kenapa Yura tidak boleh kesana sedangkan anak dari Uncel dan Aunty itu yang tadi menyelamatkan Yura dari orang-orang jahat," ujar Yura yang membuat Bian mengerutkan keningnya.
"Kalau Papa tidak percaya sama Yura, turunin Yura sekarang, Yura tidak mau lagi dekat-dekat sama Papa," sambung Yura saat tak ada jawaban dari Bian.
Franda yang sudah hafal dengan sifat keras kepala sang suami pun kini ia mengelus lengan Bian dengan lembut.
"Kamu tenang dulu sayang. Dan dilihat-lihat yang dikatakan sama Yura tadi memang benar adanya. Kalau mereka mau mencelakai Yura mana mungkin mereka malah membawa Yura kerumah sakit bukan langsung ke markas mereka?" Bian masih terdiam sembari mencerna ucapan dari istrinya tadi.
Al yang sudah mulai lelah melihat hal itu pun kini ia dengan berani melangkah kakinya.
"Al mau kemana?" tanya Ciara dengan panik.
Al menolehkan kepalanya kearah Ciara sembari menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mau jelasin semuanya. Kalau Al masih diam aja gak bersuara, masalah ini gak akan pernah selesai sampai besok pagi," ujar Al lalu ia meneruskan langkahnya hingga ia memberanikan dirinya menerobos barisan para bodyguard Bian.
"Lepaskan tangan anda dari lengan saya," ucap Al dengan tatapan tajamnya saat salah satu bodyguard Bian menahan lengannya.
"Lepaskan dia," perintah Bian yang langsung dituruti oleh bodyguard tersebut. Lalu setelah Al terlepas dari cekalan tadi, ia melanjutkan langkahnya hingga didepan tubuh Bian juga Franda.
"Biasakan masalah ini dibicarakan baik-baik tanpa melibatkan kekerasan? Disini masih kawasan rumah sakit, tidak etis saja jika dilihat orang lain apalagi sampai mengganggu pasien lain gara-gara dua belah pihak yang hanya mementingkan ego mereka masing-masing. Dan juga anda belum tau cerita sesungguhnya maka saya akan jelaskan semuanya," tutur Al dengan ekspresi wajah datar. Dan ucapan dari Al tadi mampu menyentil hati Bian maupun Devano.
Sedangkan Ciara yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun tersenyum bangga kepada anaknya saat ia sudah berdiri tepat disamping Devano.
"Duh Al mulutnya pedes banget ya. Dirumah sering kamu kasih makan cabai rawit kah?" celetuk Devano.
"Heh enak aja. Makanan yang aku berikan ke anak-anak tuh 4 sehat 5 sempurna," tutur Ciara tak terima.
"Tapi kenapa bisa pedes gitu, sampai hati aku seakan-akan tertampar sama ucapannya tadi. Tapi aku juga bangga sama anak itu yang memiliki pikiran dewasa," ujar Devano dengan senyum mengembangnya tapi matanya tak pernah lepas dari Al yang sekarang sudah terduduk di salah satu kursi dengan kedua orangtua Yura, dan sepertinya anak itu sekarang sudah mulai menjelaskan kronologi kejadian tadi karena terlihat dari mulut Al yang komat-kamit seperti orang yang tengah berbicara.
"Udah dari dulu Al punya pikiran dewasa bahkan saat umur dia belum genap 5 tahun dia udah sangat dewasa sebelum waktunya. Bukan kayak bapaknya yang malah justru punya pemikiran yang sebaliknya," sindir Ciara diakhiri dengan cebikan di bibirnya.
Devano kini membelalakkan matanya lalu mengalihkan pandangannya kearah samping tepat di wajah Ciara.
"Heh siapa yang bilang kalau aku punya pemikiran berbanding terbalik sama Al?" tanya Devano.
"Aku lah, kan tadi aku yang ngomong. Dan itu memang kenyataannya," ucap Ciara.
"Gak ada, gak ada. Ngarang aja kamu, padahal pemikiran Al sama aku tuh sama, sama-sama dewasa dan bijak," tutur Devano yang membuat Ciara memutar bola matanya malas.
"Halah prett," batin Ciara.
__ADS_1
"Iyain ajalah biar cepat selesai," ujar Ciara pada akhirnya dan hal itu membuat Devano kembali tersenyum lebar lalu ia memeluk tubuh sang istri, tak peduli jika sekarang mereka berdua menjadi obyek dari para bodyguard didepannya juga belakangnya itu.