
Daddy Tian memijit ujung hidungnya. Sungguh banyak kejutan hari ini dari Devano untuk dirinya.
"Aku ngantuk Dad, aku duluan ke kamar," ucap Mommy Nina yang sepertinya tak ingin lebih lama lagi menatap wajah Devano.
"Ya sudah kamu istirahat duluan nanti aku susul," timpal Daddy Tian sembari mengusap lembut kepala Mommy Nina.
Mommy Nina mengangguk dan kini ia melangkahkan kakinya menjauh dari dua laki-laki yang masih terduduk di ruang keluarga. Tapi sesaat kemudian Mommy Nina menghentikan langkahnya.
"Pertanggungjawabkan perbuatanmu itu. Bawa perempuan malang itu dan juga cucu Mommy secepatnya!" perintah Mommy Nina dengan lantang tanpa menoleh ke arah Devano sedikitpun kemudian kakinya ia langkahkan kembali menuju kamarnya.
"Pasti Mom. Apapun yang akan Dev hadapin nantinya, Dev akan tetap berusaha sebisa mungkin untuk Cia dan Al," jawab Devano lirih dan memandangi punggung Mommy Nina yang semakin jauh dari jangkauannya.
Setelah kepergian Mommy Nina, tinggallah Devano dan Daddy Tian disana yang sama-sama terdiam untuk beberapa saat hingga Daddy Tian angkat bicara kembali.
"Daddy sudah tak tau lagi harus berbuat apa dengan perlakuanmu itu Dev. Dad, terlalu malu. Daddy sudah gagal menjadi seorang ayah untukmu. Daddy gagal mendidik anak semata wayang Dad agar menjadi generasi yang baik. Dad sekarang lepas tangan dengan urusanmu itu. Ini saatnya kamu yang berusaha untuk menebus semua kesalahan kepada perempuan itu. Temui dia, minta maaflah dan perbaiki semuanya," ucap Daddy Tian tegas, ia lalu beranjak dari duduknya untuk menyusul Mommy Nina yang tadi lebih dulu menuju kamar mereka.
Devano menghela nafas berat sebelum akhirnya ia juga bergegas menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah mati rasa itu.
Devano merebahkan tubuhnya, matanya menatap ke langit-langit kamar tersebut.
"Maafin aku Ci, maafin Papa Al," gumamnya sebelum ia menutup mata, tertidur dengan gusar tak mendapat ketenangan sedikitpun walaupun dalam posisi ia terlelap lebih dalam lagi ke alam mimpi. Begitulah Devano kapanpun dan dalam posisi apapun ia tak akan bisa merasakan hidup tenang sebelum mendapatkan maaf yang tulus dari Ciara.
...****************...
Pagi harinya Ciara dan juga Al telah rapi dan kini mereka berdua tengah beranjak menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Wah, keponakan aunty udah tampan aja pagi-pagi gini. Udah gak sabar ya ketemu opa sama oma?" tanya Dea yang juga baru saja sampai di meja makan tersebut.
__ADS_1
"Al kan selalu tampan aunty. Al juga udah gak sabar banget ketemu opa sama oma. Nanti Al akan main sama mereka," jawab Al penuh antusias.
"Al juga punya aunty baru lho," sambungnya.
"Oh ya? siapa nama aunty Al itu?" tanya Dea.
"Aunty Kia. Al juga gak sabar pengen minta mainan sama dia," tutur Al dengan lucunya.
Ciara hanya tersenyum melihat antusias dari Al. Semalam memang ia sudah menceritakan tentang keluarganya kepada Al secara perlahan agar Al mengerti dengan apa yang ia katakan.
Dan ia tak menyangka saat melihat respon Al yang jauh dari ekspetasinya. Awalnya ia tak yakin Al mau diajak ke rumah kedua orangtuanya tapi Al pada malam itu juga ia meminta Ciara untuk bergegas menghampiri Opa, Oma dan juga aunty Kia. Bahkan ia sempat merengek saat Ciara tak kunjung menuruti permintaannya. Tapi perlahan Ciara memberi pengertian lagi agar Al bisa menunggu hingga matahari terbit dan untungnya Al memahami hal itu dengan cepat dan tak lagi meminta untuk diantar ke rumah keluarga Cia pada malam itu juga.
Saat mereka bertiga tengah asik dengan sarapan mereka masing-masing ditambah dengan ocehan Al yang tak ada habisnya, terdengar suara bel rumah tersebut berbunyi.
"Siapa sih pagi-pagi bertamu dirumah orang?" tanya Ciara.
"Biar Kakak aja yang bukain. Kamu lanjutin aja sarapannya," ucap Ciara, lalu ia beranjak dari meja makan menuju pintu utama rumah tersebut.
"Astagfirullah, muka kamu kenapa?" tanya Ciara syok saat sudah membukakan pintu tersebut dan melihat kondisi wajah Devano yang sangat mengerikan itu di balik pintu tadi.
Devano tersenyum saat melihat wajah cantik Ciara yang terbesit rasa kekhawatiran disana.
"Aku gak papa kok. Apa aku boleh masuk untuk ketemu sama Al?" ucap Devano lemah. Kondisi tubuhnya saat ini benar-benar tak mendukung dirinya untuk berjuang mendapatkan Ciara dan juga Al kembali. Tapi ia harus melawan itu semua agar ia bisa segera berdamai dengan Ciara.
"Eh ah silahkan masuk," tutur Ciara sembari menggeser tubuhnya kesamping agar Devano bisa masuk kedalam rumah tersebut.
"Kamu duduk dulu disini, biar aku panggilkan Al dulu," sambung Ciara setelah mereka sampai diruang tamu. Devano mengangguk setuju. Setelah itu Ciara bergegas melangkahkan kakinya menuju meja makan.
__ADS_1
Dan tak berselang lama, Ciara telah kembali dengan membawa nampan yang berisi sarapan dan juga teh hangat untuk Devano.
"Sarapan dulu," titah Ciara datar sembari meletakkan sarapan dan teh di atas meja depan Devano.
"Al mana?" tanya Devano bingung pasalnya Ciara tadi berkata ingin memanggil anak tampan mereka tapi saat Ciara kembali, perempuan itu tak bersama dengan Al.
"Al masih sarapan. Sebentar lagi dia juga akan kesini. Makan aja dulu, nanti keburu dingin," ucap Ciara dengan tangan yang terus mencari kotak P3K di dalam lemari khusus untuk menyimpan barang tersebut.
Devano mengangguk dan tangannya kini terulur untuk meraih sarapan yang diberikan Ciara tadi kepadanya.
"Kamu gak makan?" tanyanya saat Ciara terduduk di hadapannya dengan menatap intens ke wajah Devano. Dan hal itu justru membuat seorang Devano merasa gugup dan salah tingkah.
"Udah kenyang," jawab Ciara datar. Padahal ucapannya tadi sebenarnya sebuah kebohongan. Ia masih lapar bahkan lapar sekali karena nasi yang masuk ke mulutnya baru 2 sendok saja. Tapi entah kenapa saat dirinya disuguhkan dengan wajah penuh luka dan lebam milik Devano itu, rasa laparnya menghilang berganti menjadi kekhawatiran.
Devano tampak mengangguk menimpali ucapan Ciara tadi, setelah itu ia menundukkan kepalanya untuk menyantap sarapan tadi.
"Kak, ini air kompresan dan juga handuk yang Kakak minta tadi," tutur Dea yang tengah berjalan menghampiri kedua orang di ruang tamu tersebut bersama Al di belakangnya.
"Papaaaa!" teriak Al menggelegar memenuhi seisi rumah tersebut. Ia berlari sekencang-kencangnya agar segera sampai dan memeluk tubuh Devano. Tapi saat Devano mendongak, Al mendadak berhenti.
Ia terbengong dengan tatapan ngeri dan takut akan wajah Devano saat ini.
"Hiks hiks hiks Mama. Kenapa wajah Papa jadi seperti monster huwaaaaa," tangis Al.
"Hiks Papa Al yang ganteng mana ma? kenapa sekarang berubah jadi jelek huwaaaaa Mama!" suara tangisan Al semakin melengking.
Bukannya Ciara merasa gugup dan gelagapan untuk menenangkan tangisan Al, ia justru terlihat santai dengan menahan tawa akan ucapan polos sang anak.
__ADS_1
Sedangkan Dea yang sedari tadi disana pun kini sudah tertawa puas menertawakan ke jujuran ponakannya itu.