Young Mother

Young Mother
Menggoda


__ADS_3

Setibanya mobil Devano berada di area rumah Olive, ia memalingkan wajahnya kesamping dan mendapati Ciara dan Al tengah tertidur dengan damai.


"Sayang, bangun udah sampai rumah nih," ucap Devano sembari mengelus pipi Ciara dengan lembut.


Ciara yang mendapat sentuhan dari Devano tadi langsung menggeliatkan tubuhnya.


"Eungh," lenguh Ciara yang merasa terganggu namun sentuhan dari Devano tadi tak mampu membuat si empu langsung terbangun. Ia malah kembali mencari posisi ternyamannya dengan menghadapkan wajahnya kearah Devano bahkan tangan Devano yang tadi menempel pada pipinya, ia tarik dan ia genggam seerat mungkin.


Hal itu mampu membuat Devano menegang seketika, bahkan detak jantungnya memacu dua kali lipat dari biasanya. Senyumannya kini kembali terbit, sungguh hal ini merupakan kejadian yang mungkin kalau Ciara dalam keadaan sadar ia tak ingin melakukannya. Jadi biarkan Devano menikmati genggaman tangan Ciara untuk sesaat dengan mata yang terus menatap ke wajah Ciara dan Al secara bergantian.


Namun saat melihat ketidak nyamanan Al, ia merasa tak tega jika harus menikmati genggaman tangan tadi sedangkan anaknya saja sekarang tak merasa nyaman. Ya sudahlah untuk kali ini Devano harus mementingkan Al terlebih dahulu.


Kini tangan yang tak di genggam oleh Ciara, Devano gerakan untuk kembali mengelus pipi wanitanya itu.


"Sayang, bangun dulu yuk," ucap Devano dengan suara lembutnya.


"Eungh," lenguh Ciara untuk kedua kalinya. Kemudian matanya mengerajab lucu. Hal tersebut tak lepas dari perhatian Devano, ia sangat gemas sekarang dengan wanita yang telah melahirkan putranya itu. Karena kegemasannya yang sudah tak bisa ditahan lagi, Devano mengacak rambut Ciara sehingga membuat rambut yang tadinya sudah berantakan tambah menjadi lebih berantakan lagi.


Ciara yang sudah membuka matanya pun sempat terpaku dengan tawa yang jarang Devano perlihatkan itu.


"Tampan," ucap Ciara tanpa sadar yang membuat tawa Devano semakin menggelegar. Ciara lagi-lagi terpesona dengan wajah Devano yang begitu tampan saat tertawa hingga seketika kesadarannya kembali begitu saja. Ciara memelototkan matanya dan langsung menepis kasar tangan Devano yang tadi ia genggam.


Kemudian dengan segera Ciara mengalihkan wajahnya dari wajah Devano. Ia merasa malu dan jengkel kepada laki-laki di sampingnya itu.


"Terimakasih," ucap Ciara dan berniat untuk membuka pintu mobil Devano.


Namun sayang tangannya lebih dulu di cekal oleh Devano sehingga yang tadinya ia ingin keluar dari mobil terpaksa harus urung ia lakukan. Bahkan kini wajahnya kembali menoleh kearah Devano dengan mengerutkan keningnya tanda kebingungan atas tindakan Devano itu.


Sedangkan Devano yang melihat wajah bingung Ciara pun langsung menerbitkan lagi senyumnya.


"Udah puaskah lihat wajah tampanku ini? Apa kamu gak mau lihat lebih lama lagi hmm?" goda Devano sembari menaik turunkan alisnya.


Ciara yang semakin di buat malu pun langsung mengarahkan tangannya untuk menjewer telinga Devano.


"AW, sakit sayang. Kenapa aku malah dijewer sih?" rengek Devano manja padahal jika dirasakan jeweran dari Ciara itu tak sesakit jewerannya Mommy Nina.

__ADS_1


Ciara mendelik sebal.


"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang!" perintahnya.


Namun bukan Devano namanya kalau langsung nurut begitu saja.


"Ya sudah aku panggil kamu istriku aja," godanya lagi.


Pletak!!!


Bukan lagi jeweran yang di dapatkan oleh Devano melainkan ia mendapat jitakkan di kepalanya sekarang.


Dan setelah menjitak kepala Devano, Ciara langsung keluar dari mobil sport milik Devano itu dan menutup pintu mobil tersebut dengan cukup keras.


Keluarnya dari mobil tadi, Ciara dikuti oleh Devano yang juga turut ikut keluar dari mobilnya dan mengikuti setiap langkahnya.


"Ci," panggil Devano.


"Cia."


"Ck, sayang tungguin dong, akunya jangan ditinggalin kayak gini," teriak Devano dengan lantang karena beberapa kali ia memanggil Ciara hanya dianggap angin lalu oleh sang empu.


Ciara yang mendengar kata sayang kembali terucap dan disematkan olehnya dari Devano, kini ia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Devano di belakangnya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang! Dan jangan ikuti aku, balik sana, rumah ini lagi tidak menerima tamu," ucap Ciara mengusir. Kemudian ia pun kembali melenggang masuk kedalam rumah tersebut.


Entah mode jahilnya lagi on atau memang keinginannya untuk terus bersama Ciara dan Al semakin besar, Devano kini mengikuti lagi langkah Ciara bahkan sekarang ia sudah sampai didalam kamar milik Ciara.


Ciara yang tak merasa bahwa ternyata sedari tadi Devano mengikutinya pun ia langsung masuk kedalam kamar mandi di kamar tersebut tanpa menoleh ke sekelilingnya setelah meletakkan tubuh Al di atas kasur king size di kamar tersebut.


Tak berselang lama Ciara telah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi dada dan hanya sampai di pahanya saja.


Ia pun bergegas menuju lemari untuk mencari baju gantinya. Ia masih belum menyadari bahwa di dalam kamar tersebut tak hanya ada dirinya dan juga Al saja melainkan ada orang lain di sana.


Setelah menemukan baju santai yang akan ia kenakan, tangannya kini bergerak untuk membuka kaitan handuknya sembari memutar tubuhnya menghadap ranjang tempat Al tidur.

__ADS_1


"Kyaaaaa," teriak Ciara kaget saat matanya kini melihat Devano yang berada di samping Al. Buru-buru ia membenarkan handuknya agar tak terlepas.


"Sedang apa kamu dikamarku hah?" tanya Ciara kesal.


"Istirahat dengan putra tampanku dan sekaligus mengamati calon istriku," jawab Devano enteng.


Sebutan calon istri yang keluar dari bibir Devano itu membuat pipi Ciara merona malu. Namun sesaat ia menggelengkan kepalanya kuat, ia tak akan lagi kena rayuan dari laki-laki brengsek itu. Ia sekarang menatap tajam kearah Devano.


"Keluar dari kamarku sekarang brengsek!" perintah Ciara.


Devano menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan ucapan Ciara tadi.


"Keluar tidak!" ucap Ciara lagi.


"Tidak," tolak Devano tanpa merasa takut jika Ciara nanti akan marah besar kepadanya.


Ciara menghela nafas, ia tak ingin bertengkar kali ini, ia sudah tak cukup bertenaga untuk melawan ucapan Devano nantinya jika mereka adu mulut.


"Lalu apa maumu?" tanya Ciara mencoba untuk bernegosiasi.


"Apa kamu ingin terus seperti itu? mencoba untuk memancingku, baby?" tanya Devano menggoda dengan mata tak lepas dari lekuk tubuh Ciara yang semakin terbentuk itu. Ia masih lelaki normal, jika disuguhi pemandangan seperti itu siapa yang tak akan tergugah coba, apalagi didepannya itu adalah milik Ciara yang menambah nafsunya kembali membuncah. Namun jika di depannya itu bukan Ciara ia pastikan perempuan itu akan langsung mati ditangannya. Perlu digarisbawahi jika Ia sekarang hanya akan tergoda oleh Ciaranya bukan wanita lain seperti dulu.


"Hah?" ucap Ciara tak paham dengan maksud dan tujuan dari perkataan Devano tersebut.


Devano kini beranjak dari duduknya dan perlahan kakinya ia langkahkan untuk mendekati Ciara.


Ciara memincingkan alisnya namun ia juga takut dengan Devano bahkan wajahnya kini tampak pucat kala Devano semakin mendekati dirinya. Ia tak tau apa yang berada di dalam otak tampan Devano itu sekarang. Kakinya juga ia langkahkan mudur agar Devano tak bisa meraih dirinya.


...*****...


Terimakasih 400 likenya sebelum jam 5 sore ini hehehe 🤭 Dan sesuai apa yang author janjikan tadi, maka ini lah eps tambahan untuk kalian yey😆


Tapi janji ya eps ini juga harus mendapat 400 like, kalau gak ngambek nih author 🤭 gak dengan canda.


Dah dulu ya, happy reading sayang-sayangku 🤗 See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2