
Kini Ciara, Al dan juga Devano telah keluar dari rumah tersebut dengan Mommy Nina dan Daddy Tian yang turut mengantarkan mereka bertiga hingga di depan pintu utama.
"Cia pamit pulang dulu ya Mom, Dad," pamit Ciara sembari mencium kedua telapak tangan orangtua Devano itu secara bergantian.
"Hati-hati ya nak. Jaga kesehatan dan jangan lupa sering-sering kesini. Nemenin Mommy dirumah," tutur Mommy Nina sembari memeluk tubuh Ciara sesaat.
"Cia usahain Mom," ucap Ciara.
"Mai dan dai gak boleh sedih ya. Al pulang dulu. Nanti kalau Al sudah libur sekolah lagi, Al janji deh bakal kesini lagi. Main bareng Mai dan dai." Daddy Tian tersenyum kemudian ia membawa tubuh Al kedalam gendongannya dan menciumi pipi Al dengan gemas.
"Al gak boleh nakal ya. Dan sebagai laki-laki harus kuat gak boleh sering nangis, oke." Al mengacungkan jari jempolnya sembari tersenyum kearah Daddy Tian.
Daddy Tian yang merasa gemas dengan tingkah Al pun kembali mendaratkan ciumannya sebelum menurunkan tubuh Al dari gendongannya.
"Al jangan lupa salim sama Mai dan Dai," ingat Ciara.
Al menepuk jidatnya karena sempat melupakan hal itu. Kemudian ia sekarang meraih tangan Daddy Tian untuk ia cium, setelah itu ia berjalan tepat di depan Mommy Nina.
"Mai, Al pulang dulu," pamit Al sembari mencium telapak tangan Mommy Nina.
Mommy Nina menjongkokan tubuhnya dan mengelus kepala Al.
"Al jagain Mama Cia ya. Jangan buat Mama nangis karena kenakalan Al. Al harus nurut apa yang dikatakan Mama, ya nak." Al menganggukkan kepalanya untuk menjadi ucapan dari Mommy Nina.
Mommy Nina tersenyum sembari memeluk tubuh Al kemudian ia mencium seluruh wajah Al tanpa se inci pun yang terlewatkan.
"Kita pulang dulu Mom, Dad. Assalamualaikum," pamit Ciara setelah pelukan Mommy Nina dan juga Al terlepas.
"Waalaikumsalam. Dev, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut," tutur Mommy Nina.
"Iya, Mommy tenang aja. Dev juga pamit assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Mommy Nina dan juga Daddy Tian serempak.
Kini mereka bertiga menuju ke mobil Devano dan segera masuk kedalam mobil di posisi mereka masing-masing.
"Bye bye Mai, Dai," teriak Al dari dalam mobil tersebut sembari melambaikan tangannya kearah kedua orangtua Devano.
"Bye bye sayang," balas Mommy Nina dengan teriakan.
Mobil Devano kini perlahan berjalan dan sebelum benar-benar meninggalkan lingkungan rumah tersebut, Devano membunyikan klaksonnya dan baru ia menambahkan kecepatan mobilnya hingga akhirnya mobil tersebut hilang dari pandangan Mommy Nina dan Daddy Tian.
45 menit didalam perjalanan, akhirnya mobil Devano kini sampai di kediaman Olive. Setelah mematikan mesin mobilnya, Devano kini menatap kearah samping dan mendapati Ciara dan juga Al tengah terlelap mungkin karena kelelahan.
__ADS_1
Namun Devano tak langsung membangunkan Ciara agar segera turun dari mobilnya dan berpindah tempat ke kamarnya untuk meneruskan tidur nyenyaknya itu. Melainkan ia malah memandangi wajah Ciara yang tampak damai dan semakin cantik.
Tangan Devano kini perlahan mendekati wajah Ciara, menyingkirkan rambut yang terurai menutupi sebagai wajah Ciara kemudian ia mengelus pipi mulus wanita itu.
"Doakan semuanya baik-baik saja ,Ci," batin Devano kemudian ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Ciara bergantian dengan pipi Al.
Ciara yang merasakan akan sentuhan dari Devano tadi kini perlahan membuka matanya dan menatap wajah Devano yang tengah tersenyum kepadanya.
"Udah sampai?" Tanya Ciara sembari melihat kanan kirinya.
"Udah. Turun yuk, tidurnya di lanjut dikamar aja," ucap Devano dengan membuka pintu disampingnya kemudian berjalan mendekati pintu disamping Ciara untuk membukakan pintu tersebut.
Setelah pintu disamping Ciara terbuka, Devano langsung mengambil alih Al kedalam gendongannya sebelum Ciara keluar dari mobil tersebut.
"Al langsung aku bawa ke kamar kamu ya," ucap Devano setelah mereka menapakkan kaki di dalam rumah.
Ciara mengangguk setelah mendapat persetujuan dari Ciara, Devano langsung membawa tubuh Al naik ke lantai atas dimana letak kamar Ciara berada.
Tak berselang lama, Devano telah kembali menghampiri Ciara yang tengah duduk termenung di ruang tamu.
"Aku langsung pulang ya," tutur Devano saat sudah berdiri di samping Ciara.
Ciara menolehkan kepalanya kemudian ia ikut berdiri, berhadapan dengan Devano.
Devano tersenyum dan tangannya kini mengapit pipi Ciara.
"Apa kamu tidak ingin aku pergi? Masih rindu kah?" Godanya.
Ciara berdecak kemudian melepaskan tangan Devano dari pipinya.
"Kamu ini bisa gak sih gak bercanda terus," gerutu Ciara.
"Baiklah-baiklah sayang. Tapi aku pulang dulu ya sekarang, masih ada urusan yang harus aku selesaikan," tutur Devano sembari mencium kening Ciara.
Tapi sebelum ia beranjak keluar dari rumah tersebut, Devano tampak mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua kartu berwarna hitam dan juga gold.
"Ini untuk kamu dan juga Al. Gunakan sesukamu, turuti semua yang Al mau." Devano memberikan dua kartu tersebut ke tangan Ciara.
Ciara tampak tergelak dan menatap dua kartu tersebut yang hanya dimiliki oleh beberapa orang yang tergolong dengan sebutan sultan itu.
"Gak Dev, aku gak akan nerima ini semua." Ciara mengembalikan kartu tersebut kepada Devano tapi tak di terima oleh sang empu.
"Ci, aku mohon terima kartu itu. Kalau kamu gak mau, simpan saja kartu itu dan jika suatu saat nanti kamu butuh sesuatu, maka gunakan uang yang ada disitu. Dan yang satu itu buat tabungan masa depan Al hingga dia dewasa nanti. Aku hanya bisa memberi kan hal ini kepada kalian berdua. Jadi please terima itu," mohon Devano.
__ADS_1
Ciara tambak berfikir sesaat sembari melihat raut wajah Devano. Kemudian ia menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kartu ini akan aku simpan. Jika kamu membutuhkannya bilang sama aku, biar aku kembalikan."
Devano tersenyum. Tak akan pernah ia meminta dua kartu tersebut kembali lagi. Itu semua sudah ia rencanakan sedemikan rupa untuk Al dan Ciara.
"Ya sudah aku pulang dulu. Assalamualaikum," pamit Devano.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan," jawab Ciara sembari berjalan mengikuti Devano hingga sampai di depan pintu utama rumah tersebut.
Devano membunyikan klakson mobilnya sebelum ia menjalankan mobil tersebut meninggalkan pelataran rumah Olive. Ciara tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Huh kenapa perasaanku seperti ini?" Gumamnya dengan helaan nafas panjang. Setelah itu ia masuk kembali kedalam rumah tersebut setelah mobil Devano sudah tak terlihat lagi.
Sedangkan Devano, ia terlihat cemas akan apa yang ia hadapi setelah ini.
Dan tak terasa mobil yang ia kendarai sekarang telah berhenti di depan gerbang rumah orangtua Ciara. Ia menatap nanar rumah tersebut dengan menghela nafas beberapa kali guna menghilangkan kegugupan yang sedang melandanya.
"Kamu harus bertanggungjawab Dev. Apapun yang akan mereka lakukan terhadapmu nanti kamu harus terima dengan lapang dada," tutur Devano menguatkan dirinya sendiri.
Setelah dirasa dirinya sedikit tenang, akhirnya Devano keluar dari mobilnya dan menuju gerbang rumah tersebut.
Ting tong!!
Devano memencet bel rumah tersebut agar gerbang di depannya itu terbuka dan benar saja setelah bel tadi berbunyi, salah satu security dirumah tersebut membukakan gerbang untuknya.
"Maaf Tuan, cari siapa ya?"
"Apakah tuan Julian dan nyonya Mila ada dirumah?" Tanya Devano.
"Oh tuan dan nyonya, kebetulan beliau baru sampai di rumah tadi. Silahkan masuk tuan." Security tadi menggeser tubuhnya agar Devano masuk kedalam area rumah tersebut.
"Apa itu mobil tuan? Kalau itu mobil tuan bawa masuk saja." Devano menolehkan kepalanya menghadap security tadi.
"Tak usah Pak. Biar mobil saya disitu saja." Security itu pun mengangguk kemudian menutup kembali gerbang rumah tersebut walaupun tak semuanya karena ia harus mengawasi mobil Devano walaupun tak disuruh tapi jika ada maling yang mencuri mobil tersebut bisa bahaya dan nantinya dia juga yang akan merasa bersalah.
Sedangkan Devano kini sudah berada di depan pintu utama rumah tersebut dan dengan ragu ia mengetuk pintu tadi hingga beberapa kali sebelum akhirnya pintu itu terbuka oleh salah satu art disana.
"Maaf, cari siapa ya tuan?" Tanya art tadi.
"Tuan Julian dan nyonya Mila," jawab Devano to the point.
"Oh tuan dan nyonya. Beliau ada dirumah, silahkan masuk." Devano mengangguk dan segera masuk kedalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Silahkan duduk dulu tuan. Biar saya panggilkan tuan Julian dan nyonya Mila. Tunggu sebentar ya tuan." Lagi-lagi Devano mengangguk dan segera duduk di salah satu sofa diruang tamu tersebut setelah kepergian art tadi.