Young Mother

Young Mother
Welcome Baby Girl


__ADS_3

Setelah Devano memencet tombol darurat, hanya butuh beberapa menit saja dokter beserta suster kini sudah datang di kamar inap Ciara.


"Mohon untuk yang lainnya keluar dulu dari ruangan ini," ucap salah satu suster kepada orangtua Ciara dan Daddy Tian yang masih di dalam kamar tersebut yang juga sama paniknya dengan Devano. Tapi mau bagaimana lagi, mereka harus keluar sesegera mungkin sesuai dengan perintah suster tadi. Dan setelah kepergian mereka bertiga, didalam kamar tersebut hanya tersisa Devano yang terus berada di samping Ciara, menenangkan istri tercintanya itu dan juga dokter beserta suster yang bertugas.


"Oke, pembukaannya sudah sempurna. Kita pindah nyonya Ciara ke ruang bersalin sekarang juga," ucap dokter tersebut dan tanpa menunggu lama suster-suster yang ada disana langsung bergerak untuk mendorong brankar Ciara keluar dari kamar tersebut. Diikuti Devano yang terus menggenggam tangan Ciara.


Saat brankar tadi keluar, bertepatan itu pula Al dan Mommy Nina telah kembali dengan membawa makanan untuk orang-orang yang menunggu proses persalinan Ciara.


"Mama," gumam Al ketika melihat wajah Mama dan Papanya yang sedang memperlihatkan raut wajah berbeda-beda ditambah disekitar orangtuanya ada dokter dan suster. Hal itu membuat perasaan Al menjadi khawatir. Dan saat dirinya ingin berlari mengejar mereka yang sudah mulai menjauh, tubuh Al langsung di gendong secara paksa oleh Papa Julian.


"Turunin Al, Opa. Al mau ikut sama Mama, Papa," ucap Al sembari memberontak untuk turun dari gendongan Papa Julian.


"Al tenang dulu sayang," tutur Papa Julian.


"Al mau ikut mereka Opa."


"Iya sayang. Kita kesana ya, tapi Al tenang dulu," ucap Daddy Tian mencoba membantu besannya untuk memenangkan Al.


Untuk beberapa saat akhirnya Al bisa tenang juga dan pada saat itu dua pasang orangtua dari Ciara dan Devano ditambah Al yang berada digendong Papa Julian melangkahkan kaki mereka menuju ruangan bersalin yang syukurnya dilantai tersebut tersedia ruangan itu jadi mereka tak perlu repot-repot untuk turun ke lantai bawah.


Saat sudah berada di depan ruang bersalin, pintunya sudah tertutup rapat dan sesekali hanya ada suster yang keluar masuk dari ruangan tersebut.


"Papa sama Mama dimana?" tanya Al saat tak melihat kedua orangtuanya disekitarnya.


"Papa sama Mama didalam sayang. Dedek bayi sebentar lagi akan lahir dan ketemu kita semua," jelas Mama Mila.


"Al mau masuk kedalam," pinta Al yang masih senantiasa didalam gendongan Papa Julian.

__ADS_1


"Tidak boleh sayang. Kalau Al masuk nanti dokter sama suster tidak bisa fokus bantu dedek bayi keluar dari perut Mama," ucap Mommy Nina.


"Tapi kenapa Papa boleh masuk?"


"Karena Papa pasangan Mama jadi Papa harus menemani Mama. Al tetap disini ya sayang. Doain Mama dari sini. Semoga Mama dan dedek bayi bisa melewati proses ini dengan selamat," tutur Mama Mila. Al tampak terdiam tapi setelahnya ia menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang terus tertuju di pintu ruangan tersebut.


Sedangkan dalam ruang bersalin, Ciara sudah bersiap untuk mengejan didampingi Devano yang terus menggenggam tangan Ciara dan tangannya yang lain ia gunakan untuk mengelus kepala Ciara.


"Untuk hitungan ketiga, nyonya nanti mengejan ya," ucap dokter tersebut yang sudah berada di posisinya. Dan dengan lemah Ciara menganggukkan kepalanya.


"Oke kita mulai. Satu, Dua, mengejan nyonya!" perintah dokter tersebut.


Dan dengan sekuat tenaga Ciara mencoba memulai mengejan dengan tangan Devano sebagai penguatnya.


"Arkhhhh," erang Ciara.


"Bagus. Ambil nafas lagi dan mengejan!"


"Ayo sayang kamu pasti bisa. Kamu wanita kuat. Jangan menyerah begitu saja, ingat ada baby girl yang menunggu kita untuk menimangnya," bisik Devano tepat di telinga Ciara. Dan sesekali tangannya yang sedari tadi berada diatas kepala Ciara, ia gunakan untuk menghapus keringat istrinya itu yang sudah mulai membasahi wajah cantik Ciara.


"Ambil nafas lagi nyonya." Ciara mulai menarik nafasnya dalam-dalam.


"Dan mengejan sekarang!"


"Arkkhhhhhhh!" erang Ciara dan tak berselang lama suara tangis malaikat kecil terdengar di telinga Devano maupun Ciara.


"Berhasil. Congratulation tuan dan nyonya baby girl lahir dengan selamat tanpa ada cacat sedikitpun," ucap dokter tersebut setelah itu ia menaruh baby girl di dalam pelukan Ciara untuk melakukan IMD atau sering disebut Inisiasi Menyusui Dini. Sedangkan dokter yang sudah menyerahkan baby tadi langsung kembali menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Tak kalah dengan lahirnya Al dulu, Ciara kini menangis terharu. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan kembali merasakan proses melahirkan seperti saat ini setelah 6 tahun yang lalu. Ia bahkan tak ada gambaran tentang ini semua. Ia dulu bahkan tak ada niatan untuk berumah tangga dan hanya akan hidup berdua dengan Al saja tapi lihatlah takdir yang sudah tertulis itu seakan-akan tak membiarkan dirinya merasakan lebih lama lagi keterpurukan. Sehingga ia sekarang merasakan senang dan pahitnya sebuah rumah tangga dengan seorang laki-laki yang dulu sangat ia benci. Bahkan takdir itu juga telah mengizinkan dirinya untuk kembali memiliki buah hati dengan laki-laki yang sama. Sungguh awal yang menyakitkan tapi berakhir dengan keindahan dan Ciara kini hanya berharap keindahan ini akan berlangsung lama hingga maut yang menentukan takdir mereka selanjutnya.


Sedangkan Devano yang melihat putrinya untuk pertama kali pun tak kalah terharunya dengan Ciara bahkan ia sekarang tengah menangis tersedu-sedu di balik ceruk leher Ciara.


"Terimakasih sayang terimakasih," gumam Devano disela tangisnya. Ia tak bisa berkata-kata lagi hanya ucapan terimakasih yang bisa ia keluarkan dari bibirnya dengan mengecup seluruh wajah Ciara. Tak peduli jika suster dan dokter melihat apa yang tengah ia lakukan sekarang.


Ciara tersenyum saat melihat wajah Devano yang selalu menemaninya tadi. Sangat berbeda memang suasana saat ia dulu melahirkan Al dan baby girl. Jika dulu ia berjuang sendiri maka kali ini ia ditemani oleh laki-laki yang sangat ia cintai.


"Terimakasih juga dukungan dan semangatnya sayang," balas Ciara.


Devano mengangguk dengan air mata yang menetes. Tangan Ciara yang melihat air mata itu pun langsung menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata suaminya itu.


"Baby girl udah gak nangis lho ini. Tapi kenapa Papanya yang sekarang malah nangis," tutur Ciara.


Devano mencebikkan bibirnya.


"Ini tangis harus sayang," ucap Devano. Ciara terkekeh saat melihat raut wajah Devano yang sangat lucu baginya.


"Oh ya coba sini aku lihat tangan kamu." Ciara meraih tangan Devano yang ia genggam tadi dan betapa terkejutnya dia saat melihat tangan itu penuh dengan cakaran bahkan ada darah yang keluar dari bekas cakaran tersebut.


"Astaga. Maaf sayang. Aku gak sadar kalau tadi cakar kamu," tutur Ciara.


"It's oke sayang. Ini gak seberapa dengan rasa sakit yang kamu rasakan tadi," tutur Devano dan kembali menciumi kening Ciara.


"Terimakasih sayang." Devano hanya mengangguk dan tersenyum lebar.


"Maaf mengganggu tuan dan nyonya. Baby-nya biar saya bersihkan dulu terus nanti saya harap tuan untuk mengadzani baby-nya setelah selesai di bersihkan," ucap suster tersebut dengan perlahan mengambil baby girl dari dada Ciara.

__ADS_1


"Baik Sus," tutur Devano.


Suster yang membawa baby girl tadi sudah hilang di balik pintu kamar mandi untuk membersihkan baby yang baru lahir tadi. Sedangkan dokter dan suster lainnya sudah pamit undur diri setelah memastikan keadaan Ciara dan baby aman.


__ADS_2