
"Al." Al yang merasa dirinya di panggil pun mau tak mau melepaskan pelukannya dari sang Mama dan dengan segera ia menghadap ke orang yang memanggilnya.
"Apa Al juga maafin Papa?" Orang yang memanggil Al tadi adalah Devano yang masih cemas, takut-takut putra pertamanya itu hanya memaafkan Ciara saja ya walaupun Ciara memang tak sepenuhnya salah di banding dirinya. Tapi di cuekin sama anak sendiri tuh rasanya nyakitin banget.
"No. Al gak mau maafin Papa," tolak Al dengan bibir yang kembali mengerucut.
"Emangnya kenapa Al gak mau maafin Papa?" bukan Devano yang bertanya melainkan Ciara.
"Karena Papa jahat sama Al. Kan tadi malam juga Papa yang bujukin Al buat ke kamar Uncle sama Aunty. Untung aja Al gak salah kamar, kalau sampai salah gimana coba? Papa sendiri kan yang ribet nanti," omel Al yang membuat Devano hanya menggaruk tengkuknya.
Zidan yang turut mendengarkan ocehan Al pun terkekeh puas. Apalagi setelah mengamati wajah Devano dengan ekspresi yang jarang sekali ia lihat. Karena yang selalu sahabatnya itu tampilkan saat berada di luar rumah atau jauh dari keluarganya adalah wajah yang datar, dingin melebihi Kutub Selatan, tegas dan penuh wibawa. Sedangkan sekarang, seakan-akan laki-laki yang mendapatkan gelar hot Daddy itu, nyalinya menciut saat putranya mengomeli dirinya. Hingga hal itu membuat Zidan tak bisa menahan tawanya. Malah ia ingin sekali memotret atau memvideokan situasi saat ini dan ia kirimkan ke teman-temannya yang lain atau media sosial sekali. Biar mereka tau sisi lain dari seorang Devano Belvix Rodriguez sang CEO muda yang memiliki cabang dimana-mana yang terkenal dengan ketegasannya itu.
Devano yang mendengar kekehan dari Zidan pun langsung mengalihkan pandangannya kearah sang sahabat kemudian menatap tajam laki-laki yang berada di hadapannya sekarang. Sedangkan Zidan yang ditatap pun segera menghentikan tawanya walaupun masih tersenyum.
"Eyes Papa kenapa melotot seperti itu? gak baik tau Pa." Nah kan Al menegur sang Papa untuk kesekian kalinya.
Devano kini menghela nafas dan menatap anaknya kembali.
"Papa gak melotot lho Al," sangkal Devano.
"Papa banyak alasan ih. Orang Al tadi lihat sendiri eyes Papa mau keluar dari tempatnya," ujar Al.
Devano mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Oke oke baiklah. Papa salah. Papa minta maaf untuk semua yang Papa lakuin dari mulai kemari hingga saat ini. Al mau kan maafin Papa," rayu Devano.
"Gak. Al tetap gak mau maafin Papa. Titik!" ucap Al sembari duduk disamping sang Mama dan menjadikan tubuh Ciara berada di tengah-tengah antara Al dan juga Devano.
"Yakin nih. Al gak mau maafin Papa?"
"Iya lah. Al yakin."
"Ck, ya udah kalau gitu. Padahal Papa tadi udah bikin rencana kalau habis pulang dari sini mau ajak kamu ke Timezone, beliin Al eskrim dan beli cokelat yang banyak. Oh ya Papa juga mau beli mobil-mobilan, pesawat-pesawatan dan masih banyak lagi mainan yang mau Papa beli untuk Al," ucap Devano yang mengeluarkan jurus andalannya yang sering ia gunakan untuk merayu Al saat merajuk seperti saat ini.
Devano melirik Al yang masih terdiam seakan-akan ia tengah berpikir antara dia akan memaafkannya atau tidak sama sekali.
"Dan berhubung Al gak mau maafin Papa. Ya sudah mau gimana lagi. Walaupun Papa kecewa tapi gak papa lah, Papa batalkan rencana itu," sambung Devano saat tak mendengar respon dari anaknya.
Al masih terdiam dengan pikirannya yang masih bimbang dan dilema. Hingga beberapa menit berlalu bahkan makanan pagi untuk mereka semua sudah diantara kedalam kamar tersebut, Al masih saja diam. Hingga...
Devano yang sudah mulai menyuap makanannya pun menoleh kearah Al dengan senyum yang sangat tipis bagian saking tipisnya tak bisa orang lain lihat.
"Hmmm Al mau maafin Papa. Tapi ada syaratnya." Devano kini tersenyum lebar, berhasil juga sogokannya tadi, batinnya.
"Apa tuh?" tanya Devano setelah menelan makanan yang tadi ada di mulutnya.
"Papa harus janji gak akan ngulang kesalahan sama seperti tadi malam dan---" Al dengan sengaja menggantung ucapannya yang membuat keempat orang dewasa itu menatapnya dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
"Papa harus beliin Al salju sekarang juga. Al penasaran pengen sentuh salju. Al juga pernah lihat video anak-anak yang seumuran Al, mereka tengah asik main salju. Al juga mau ngerasain apa yang mereka lakukan. Al mau main salju juga Pa," pinta Al. Yang membuat semua orang disana melongo, ya siapa tak melongo jika anak itu menginginkan salju sekarang juga. Bisa sih Devano memboyong keluarganya ke negara yang biasanya mempunyai musim salju saat ini juga, tapi sayangnya negara-negara itu saat ini tengah dilanda musim hujan bukan musim salju. Jadi dia harus mencari salju itu dimana sekarang ini? ya kali dia harus naik gunung Jayawijaya terlebih dahulu buat mengambil salju disana. Yang ada bukan salju yang ia dapat nanti, melainkan dirinya yang sudah mati berdiri karena takut dengan ketinggian.
Devano berdehem sesaat sebelum menjawab permintaan dari Al tadi.
"Ehemmm, gini ya boy. Bukannya Papa gak mau nurutin Al buat main salju tapi saat ini memang di berbagai negara yang mempunyai berbagai musim tengah dilanda hujan sayang. Al pasti sudah tau kan kalau musim itu selalu berubah-ubah disetiap negara yang berbeda-beda, bukan hanya satu dan menetap begitu saja. Benarkah begitu Al?" Al mengangguk membenarkan apa yang di ucapkan sang Papa.
"Nah saat ini tak ada satu pun negara yang mengalami musim salju. Jadi kita harus tunggu terlebih dahulu dan saat musim itu ada, Papa janji bakal bawa Al buat pergi ke salah satu negara itu biar Al bisa main salju sepuasnya," tutur Devano memberikan pengertian.
"Bohong tuh Al. Padahal masih ada dua wilayah yang terus bersalju," timpal Zidan.
Al menatap binar kearah Zidan.
"Iya kah? dimana itu uncle?" tanya Al antusias.
"Kutub Utara dan Kutub Selatan. Tuh dua wilayah yang selalu di lapisi salju," tutur Zidan yang langsung mendapat lemparan remote AC dari Devano.
Al yang paham akan dua wilayah yang jarang sekali orang berkunjung pun hanya memutar bola matanya malas.
"Kalau disitu bukannya Al asik main tapi baru menginjakkan kaki Al disana, Al udah beku duluan Uncle," tutur Al.
Zidan melongo tak percaya dengan pengetahuan Al tentang dua wilayah tersebut, ia kira Al bisa ia kibulin lagi dan alhasil anak itu akan merengek kepada Devano untuk mengajaknya kesana. Tapi sayangnya Al sudah mengetahui segalanya.
"Jangan coba-coba buat ngibulin anak gue. Lo pikir dia kayak anak-anak pada umumnya? gak, lo salah. Dia bahkan lebih pintar dari otak lo yang cuma sebesar walnut," tutur Devano dengan diakhiri dengan senyum miringnya.
__ADS_1
Zidan hanya berdecak sebal saat mendapat ejekan dari Devano itu.
"Udah-udah. Lanjutin makanannya. Kita juga bentar lagi mau check out dari sini. Jangan pada ribut. Udah cukup," geram Ciara yang sudah mulai pusing mendengarkan perdebatan diantara dua laki-laki ditambah Al itu. Jika adu mulut itu tak segera di lerai, sudah dipastikan mereka akan betah berdebat satu sama lain sampai hari berikutnya