Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 13


__ADS_3

Devano maupun Bian sama-sama mengerjabkan matanya berkali-kali hingga mereka tersadar dari lamunan mereka tadi.


"Ngapain malah lihat-lihatan. Buruan minta maaf," bisik Franda kepada suaminya yang masih saja menutup mulutnya.


"Kamu aja deh sayang yang minta maaf," balas Bian yang langsung mendapat pelototan mata dari Franda.


"Buruan minta maaf atau nanti malam kamu tidur di luar," ancam Franda yang membuat Bian langsung gelagapan.


"Eh jangan gitu dong sayang. Iya-iya aku minta maaf sama mereka sekarang, tapi jangan suruh aku tidur diluar nanti malam ya," tutur Bian.


"Iya asalkan kamu benar-benar minta maaf sama mereka." Bian kini menganggukkan kepalanya setalahnya ia kembali menatap dua orang yang masih duduk di kursi tersebut. Dan sebelum mulai berbicara, Bian berdehem sesaat.


"Saya beserta istri saya meminta maaf atas kesalahpahaman tadi," ujar Bian.


Saat Devano ingin menimpali ucapan dari Bian tadi, bibir yang tadinya sudah mulai terbuka kini tertutup lagi saat Ciara lebih dulu angkat suara.


"Ah tidak masalah tuan. Kita juga mengerti kekhawatiran anda tadi," ucap Ciara yang membuat Devano mengerutkan keningnya. Ia kira Ciara akan marah karena tindakan dari orangtua Yura yang seenaknya menuduh mereka penculik tadi. Tapi nyatanya, istrinya itu justru dengan mudah memaafkan mereka. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, batin Devano.


"Sayang, kok kamu gitu sih. Harusnya kita marah karena mereka tadi sudah seenaknya menuduh kita yang bukan-bukan tanpa ada bukti yang jelas. Dan hal ini bisa kita laporkan ke pihak kepolisian atas pencemaran nama baik kita berdua," tutur Devano yang justru mendapat tatapan tajam dari Ciara.


"Jangan lebay ya kamu. Cuma masalah seperti ini saja sampai harus bawa-bawa pihak polisi juga. Jika masih bisa diselesaikan secara baik-baik kenapa harus sampai ke meja hijau? toh mereka juga sudah punya niatan baik buat minta maaf ke kita," ujar Ciara.


"Tapi sayang---"


"Gak ada tapi-tapian ya. Pihak polisi masih banyak perkara yang lebih penting yang harus mereka tangani. Jadi jangan buat pekerjaan penting itu terbengkalai gara-gara laporan kamu," putus Ciara. Dan hal itu membuat Devano mencebikkan bibirnya. Kalau Ciara sudah menolak mentah-mentah pendapatnya tadi, Devano sudah tak bisa berkutik lagi dan mau tak mau ia harus mengikuti kemauan dari Ciara walaupun hatinya tak menerimanya.


"Maafkan suami saya yang punya mulut tidak bisa di rem itu. Kita juga minta maaf karena sudah membawa Yura tanpa menghubungi kalian berdua terlebih dahulu tadi," tutur Ciara yang lagi-lagi membuat Devano melongo.

__ADS_1


"Kenapa cantik ku malah ikut-ikutan minta maaf sama mereka segala sih? kan kita gak salah apa-apa sama keluarga rese itu. Haish, mau komen tapi takut gak dapat jatah nanti malam mana ini malam Jum'at lagi. Ck, dahlah biarin dia mau ngomong apa saja, terserah yang penting jatah aman," batin Devano diakhiri dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Ciara yang melihat suaminya tengah senyum-senyum sendiri pun ia kembali menyenggol lengan Devano.


"Ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Ciara.


"Kamu mau tau alasan kenapa aku senyum-senyum sendiri?" Ciara yang kepo pun langsung menganggukkan kepalanya tanpa memperdulikan dua orang didepannya yang sekarang tengah menatap kearah mereka dengan kebingungan.


Devano kini mendekatkan wajahnya ke samping telinga Ciara kemudian ia mulai membisikan sesuatu kepada istrinya tersebut.


"Aku senyum-senyum karena lagi bayangin kita nanti malam berduaan dikamar dan juga bayangin kalau kita buat adik baru buat Al juga Kiya. Sepertinya bagus deh sayang kalau kita tambah anak lagi," bisik Devano yang langsung mendapat pukulan di pahanya.


"Mesum banget sih pikiran kamu itu. Mana udah berencana mau nambah anak lagi, gak bayangin apa reportnya ngurus Kiya dirumah. Apalagi kalau sampai kita punya anak lagi disaat Kiya masih suka buat ulah, apa kamu gak kasihan gitu sama aku yang akan tambah pusing setiap harinya?" balas Ciara.


"Kan kita tinggal sewa jasa baby sitter buat bantu kamu ngurus Al, Kiya sama new baby nanti. Toh umur Kiya juga udah 4 tahun, beda setahun sama Al dulu saat kamu hamil Kiya. Jadi gak ada masalah lagi kan?"


"Aku kan sudah bilang sama kamu kalau aku gak mau anak-anak kita diasuh oleh baby sitter. Dan pola pikir Al juga Kiya itu beda. Kalau Al dulu memang sudah dewasa dan anaknya juga udah ngebet pengen punya adik sedangkan Kiya, dia masih nyaman dengan status anak terakhir dengan pikiran seperti anak-anak biasa yang selalu menginginkan kasih sayang yang lebih dan anaknya juga gak mau kalau punya adik. Karena menurut dia, kalau dia jadi Kakak, pasti makanan kesukaannya seperti coklat, eskrim juga makanan yang lainnya pasti dihabiskan sama adiknya, itu tadi pendapat Kiya. Jadi menurutku saat ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk tambah momongan. Kalaupun mau, bujuk Kiya sana. Aku yakin anak itu kekeuh gak mau punya adik," tutur Ciara sembari mengalihkan pandangannya. Dan baru lah ia kembali tersadar jika didepannya masih ada orangtua Yura yang masih berdiri tegap.


"Maaf karena sudah mengabaikan keberadaan kalian berdua tadi. Tolong dimaklumi saja ya," ujar Ciara yang dibalas dengan senyum manis oleh Franda juga anggukan kepala.


"Tidak apa-apa. Sekali lagi saya juga suami saya minta maaf atas semua kesalahan kami tadi. Dan jika kalian berkenan kami pamit undur diri terlebih dahulu," ucap Franda yang membuat Ciara langsung berdiri dari duduknya.


"Ah silahkan. Eh tapi sebentar, saya ingin menyampaikan pesan dari dokter yang menangani Yura tadi. Kata dokter, Yura harus cek up lukanya seminggu lagi dan jika luka Yura membaik, dokter juga akan melepas jahitan Yura," tutur Ciara yang hampir saja melupakan ucapan dari dokter tadi. Dan hal itu justru membuat Franda kini menepuk keningnya lalu setelahnya tangannya bergerak ke arah saku belakang Bian untuk mengambil dompet sang suami.


Bian yang sedari terdiam dengan mengalihkan pandangan ke arah lain, ia sempat terkejut atas ulah istri tadi. Tapi setelah ia mengetahui apa yang dilakukan Franda, ia hanya menghela nafas pasrah.


"Baiklah kalau begitu saya akan membawa Yura kesini seminggu lagi. Dan ini sebagai uang ganti dari uang yang kalian gunakan untuk membayar biaya pemeriksaan Yura tadi." Franda kini menyodorkan beberapa lembar uang 100 ribuan kearah Ciara. Walaupun ia tahu jika orang yang menyelamatkan Yura tadi adalah orang terpandang karena terlihat dari pengawalan yang cukup banyak. Tapi setidaknya mengganti uang mereka yang sudah keluar untuk anaknya, tak masalah bukan.

__ADS_1


Ciara mendorong pelan tangan Franda yang tengah memegang uang tersebut, sebagai tanda bahwa dirinya menolak hal tersebut.


"Tidak usah nyonya. Kami ikhlas menolong Yura tadi. Dan uang itu lebih baik nyonya simpan atau donasikan ke orang-orang yang lebih membutuhkan saja," tolak Ciara.


"Tapi---"


"Saya benar-benar berterimakasih jika anda menyimpan uang itu kembali atau memberikannya ke orang yang lebih membutuhkan," kekeuh Ciara yang membuat Franda menghela nafas.


"Baiklah kalau begitu saya akan memberikan uang ini untuk orang yang lebih membutuhkan saja seperti yang anda katakan tadi. Tapi saya mohon jangan panggil saya dengan sebutan nyonya," ujar Franda kemudian ia mengulurkan tangannya kearah Ciara yang langsung di balas oleh sang empu.


"Nama saya, Franda dan suami saya namanya Bian. Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, tolong panggil kita berdua dengan nama saja tanpa embel-embel tuan dan nyonya," ucap Franda.


"Baiklah. Anda juga harus panggil saya dengan nama saja jika kita bertemu lagi. Panggil Ciara juga Devano saja," tutur Ciara dengan senyum manisnya. Lalu kedua tangan yang saling bersalaman itu kini terlepas.


"Kalau begitu kita berdua pamit undur diri. Sekali lagi terimakasih banyak atas pertolongan kalian tadi." Ciara menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu kami, peluang dulu. Selamat malam."


"Selamat malam dan hati-hati dijalan," ujar Ciara lalu keduanya kini saling bersalaman lagi sebagian salam perpisahan.


"Salaman gih!" perintah Franda sembari menyenggol lengan sang suami.


Lagi-lagi Bian menghela nafas lalu tangannya kini terulur kearah Ciara tapi saat Ciara ingin membalas uluran tangan tadi, tiba-tiba saja ada tangan besar yang mendahuluinya. Dan pelakunya, siapa lagi kalau bukan Devano.


Kedua laki-laki itu sempat saling pandang satu sama lain sebelum tangan mereka terlepas.


Dan kini giliran Ciara yang memerintah Devano untuk bersalaman dengan Franda tapi sama seperti yang dilakukan oleh Devano tadi, bukan tangan Franda yang mendarat di telapak tangan Devano melainkan milik Bian.

__ADS_1


Ciara juga Franda kini saling pandang dan keduanya hanya bisa menggelengkan kepala mereka.


"Maklum bucin," ucap Ciara dan Franda secara bersamaan lalu diakhiri dengan tawa renyah mereka. Sedangkan Devano dan Bian kini melepaskan jabatan tangan mereka berdua dan keduanya kini mulai melangkahkan kakinya pergi menjauh dari sang istri. Jika Bian lebih dulu menghampiri Yura yang duduk disamping Al, berbeda dengan Devano yang justru sudah ngacir duluan keluar dari rumah sakit tersebut.


__ADS_2