Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 8


__ADS_3

Kini Devano dan Ciara kembali turun dengan pakaian yang sudah berganti. Lalu dengan buru-buru keduanya menghampiri Kiya yang masih tak beranjak sedikitpun dari depan televisi.


"Kiya," panggil Ciara dengan lembut. Takut-takut jika Kiya kaget untuk kesekian kali dan berakhir anak perempuannya itu anak mengomeli dirinya.


Kiya yang merasa dipanggil pun kini ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dan saat ia menatap Ciara juga Devano, mata Kiya melihat penampilan kedua orangtuanya itu dari bawah hingga atas.


"Mama sama Papa mau kemana?" tanya Kiya.


"Gini sayang. Papa sama Mama ada keperluan mendadak dan mau gak mau kita berdua malam ini pergi dan ninggalin Kiya dirumah sendiri dengan mbak Dian yang jagain Kiya. Kiya gak papa kan ditinggal Mama sama Papa? Cuma sebentar aja kok sayang. Papa janji gak akan lama. Juga Kiya makan malam duluan ya," tutur Devano sembari mengelus lembut kepala Kiya.


Kiya tampak terdiam tapi setelahnya ia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Kiya gak papa kok dirumah sama mbak. Tapi Kiya punya satu permintaan," ujar Kiya.


"Apa?" tanya Ciara.


"Beliin Kiya boneka chucky," jawab Kiya dengan enteng dan hal itu membuat kedua orangtuanya saling pandang tak percaya.


"Boneka chucky?" tanya Devano memastikan yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Kiya.


"Kamu yakin sayang?" Kiya berdecak sebal saat kedua orangtuanya tak langsung mensetujui permintaannya itu dan malah terlalu banyak bertanya kepadanya.


"Yakin Mama. Pokonya Kiya mau boneka chucky dan jangan lupa alat makeup Kiya juga belum Papa belikan," ujar Kiya.


"Kalau makeupnya masih dalam proses pencarian sayang. Tapi apa gak ada yang lain selain boneka chucky, sayang?" tanya Devano. Jujur saja, sebenarnya ia paling benci dengan boneka yang bentuknya mirip dengan manusia mau itu hanya Barbie sekalipun, tapi jika hanya kartunya saja ia masih berani. Maka dari itu Kiya sedari kecil tak memiliki boneka Barbie atau sejenisnya, paling-paling boneka yang dimiliki anak perempuannya itu berbentuk binatang tak ada yang lain selain bentuk itu.


Tapi sekarang justru Kiya meminta di belikan boneka yang bentuknya mirip manusia terlebih boneka ini salah satu boneka legendaris di film horor. Entah darimana Kiya bisa mengenal boneka tersebut, padahal mereka berdua ataupun Al tak pernah menujukan film yang dibintangi boneka tersebut. Mau menunjukkan bagaimana jika kelurga itu tak menyukai sebuah film dengan genre horor. Dan kini anak terakhirnya itu justru menginginkan yang berbau-bau horor. Duh, belum lihat secara nyata saja Devano maupun Ciara takut apalagi boneka itu ikut menempati rumah mereka.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan boneka chucky sih Pa, Ma? Padahal bonekanya lucu tau," ucap Kiya yang membuat kedua orangtuanya melongo tak percaya. Lucu darimana? batin mereka menjerit.


"Nanti ya sayang, biar Mama sama Papa pikir lagi setelah pulang," ujar Ciara pada akhirnya karena ia tak bisa mensetujui ataupun menolak saat itu juga. Kalau ia menolak pasti Kiya akan merengek kepadanya ataupun Devano dan berakhir mereka berdua tertahan di rumah tanpa melihat kondisi Al saat ini.


Kiya kini mengerucutkan bibirnya sembari melipat kedua tangannya didepan dada.


Ciara menghela nafas dan kini ia mendekati Kiya lalu mencium puncak kepala anak perempuannya itu dengan sayang.


"Mama berangkat dulu. Pulang nanti, Mama belikan es krim sama coklat," ujar Ciara yang membuat ekspresi wajah Kiya berubah menjadi binar bahagia.


"Janji." Kiya mengacungkan jari kelingkingnya kearah Ciara yang langsung disambut dengan jari kelingking Ciara yang kini sudah melingkar di kelingking mungil Kiya.


"Iya Mama janji. Asalkan saat Mama dan Papa pulang nanti, kamu udah makan," ujar Ciara. Kiya kini tersenyum kearah Ciara.


"Siap laksanakan Mama," ucap Kiya yang dibalas senyuman oleh Ciara. Dan kini giliran Devano yang mencium puncak kepala Kiya lalu ia mengacak gemas rambut anaknya itu.


"Kiya kan anak baik jadi gak bakalan nakal sama mbak Dian. Iya kan mbak?" tanya Kiya sembari melempar tatapan matanya kearah art dirumah tersebut.


Art yang disebut dengan mbak Dian itu tersenyum kemudian mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu Mama sama Papa berangkat. Assalamualaikum," pamit Ciara.


"Waalaikumsalam. Bye Mama, bye Papa. Hati-hati dijalan jangan lupa es krim sama coklatnya," terik Kiya saat kedua orangtuanya dengan tergesa-gesa menuju kearah pintu utama rumah tersebut.


"Siap sayang! Ingat jangan nakal ya. Bye." Ciara melambaikan tangannya sebelum ia menutup pintu utama rumah tersebut.


Dan setelah pintu itu tertutup sempurna, Ciara berlari menuju ke salah satu mobil yang sudah siap untuk Devano dan Ciara pakai. Dan didalam mobil itu sudah lebih dulu ada Devano disana yang sudah menyalakan mesin mobil. Kemudian saat Ciara sudah masuk kedalam mobil tersebut dan memakai sabuk pengamannya, Devano langsung tancap gas menuju ke salah satu rumah sakit yang alamatnya sudah dikirim oleh anak buahnya tadi.

__ADS_1


20 menit telah berlalu, mobil yang ditumpangi oleh Devano juga Ciara sekarang sudah sampai di rumah sakit yang Al kunjungi malam ini. Dan setelah mobil itu terparkir, kedua orang itu bergegas keluar dari mobil tersebut lalu dengan langkah lebarnya mereka berdua masuk kedalam rumah sakit tersebut.


"Maaf, Sus menganggu sebentar. Apa malam ini ada pasien yang bernama Al ah lebih tepatnya Alsheyrez Devra Rodriguez?" tanya Ciara kepada salah satu suster yang menunggu di ruang pendaftaran pasien.


"Tunggu sebentar ya, Bu," ujar salah satu suster disana sembari melihat layar monitor didepannya untuk mengecek nama yang Ciara tadi sebutan. Hingga beberapa menit setelahnya suster itu angkat suara.


"Maaf Bu. Pasien atas nama Alsheyrez Devra Rodriguez tidak ada," ucap suster tersebut.


"Hah? gak ada? masak sih Sus. Tapi salah satu bod--- eh kerabat saya tadi bilang kalau lihat anak saya masuk rumah sakit ini. Apa suster benar-benar sudah mengecek semua daftar pasiennya?" tutur Ciara masih kekeuh memastikan jika Al memang ada di rumah sakit itu.


"Saya akan cek sekali lagi. Siapa tau tadi saya melewati nama yang ibu maksud tadi." Ciara menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Al sekarang, bahkan pikiran yang tidak-tidak pun mulai menyerangnya. Dan saat kekhawatirannya tengah membuncah, tangannya kini terasa hangat karena genggaman dari sang suami.


"Tenang sayang. Al pasti akan baik-baik saja," bisik Devano tepat di depan telinga Ciara.


Ciara pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari membalas genggaman tangan dari Devano. Karena hanya itu yang menjadi sumber kekuatannya saat ini.


"Sekali lagi, maaf Bu. Nama yang ibu sebutkan tadi memang tak ada di daftar pasien rumah sakit ini. Mungkin kerabat ibu tadi salah lihat saja," ucap suster itu.


"Bagaimana bisa salah lihat. Orang yang aku maksud itu bodyguard yang selalu ngawasin Al," batin Ciara.


Devano yang mengerti situasi hati Ciara saat ini pun ia mengelus punggung sang istri dengan lembut.


"Baiklah kalau memang tidak ada nama itu di daftar pasien dirumah sakit ini. Tapi apa suster tadi sempat lihat ada anak laki-laki dengan dua pria dewasa yang masuk ke rumah sakit sini?" tanya Devano. Suster itu tampak mengingat-ingat.


"Ah kalau soal itu, saya tadi lihat," jawab suster tadi.


"Jadi apa anak itu sudah keluar dari rumah sakit ini atau masih ada disini? jika masih ada disini, katakan dimana arah jalannya anak itu!" perintah Devano.

__ADS_1


"Tadi mereka menuju ke ruang UGD," ucap suster tersebut yang membuat tubuh Ciara lemas seketika.


__ADS_2