
"Apakah ini?" tanya Kiara menggantung dan menatap wajah Al juga Ciara secara bergantian.
Ciara tersenyum dan mengangguk. Kiara tampak berbinar, lalu ia menjongkokan tubuhnya hingga sejajar dengan tubuh Al yang berada di depannya.
"Nama kamu Al bukan?" tanya Kiara basa-basi dan hanya dijawab anggukan oleh Al.
"Aaaaaaaa keponakan aunty datang juga," teriak Kiara histeris sembari memeluk tubuh mungil Al.
"Akhirnya aunty bisa lihat Al," tutur Kiara disela berpeluknya.
"Ini ada apa pagi-pagi ribut sekali?" tanya seseorang yang baru turun dari lantai atas menghampiri mereka bertiga yang masih berada di depan pintu.
Ciara mengalihkan pandangannya yang tadinya menghadap Al dan Kiara sekarang berubah ke arah sumber suara.
"Mama," ucap Ciara dan beranjak dari tempatnya menghampiri sang Mama yang sudah merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari sang putri pertamanya.
"Mama baru bangun?" tanya Ciara saat pelukan mereka sudah terlepas.
"Udah dari tadi dan ini baru selesai mandi," jawab Mama Mila dan mendapat anggukan paham dari Ciara.
Setelah mengucapkan kalimat itu, mata Mama Mila tertuju kearah Kiara yang tengah menggandeng tangan Al.
"Apakah itu cucu Mama?" tanya Mama Mila dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Al walaupun kepala Al tertunduk takut.
"Iya itu cucu Mama, anak Cia, namanya Al," jawab Ciara. Mama Mila tampak berkaca-kaca dan perlahan menghampiri Al.
"Al, cucu Oma," panggil Mama Mila.
Al yang dipanggil pun dengan memberanikan diri menatap wajah Mama Mila.
"Al tidak mau peluk Oma?" tanyanya dengan senyum supaya Al tidak lagi takut kepadanya sembari berjongkok tak jauh di hadapan Al.
Al kini menghambur, memeluk tubuh Mama Mila yang di balas dekapan hangat sang empu.
Untuk sesaat mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Tampan sekali sih cucu Oma," tutur Mama Mila setelah pelukannya terlepas.
"Terimakasih Oma," jawab Al malu-malu.
"Uh menggemaskan sekali sih," ucap Mama Mila sembari mencium pipi Al dengan gemas.
__ADS_1
"Siapa yang datang Ma?" tanya seseorang yang juga baru turun dari lantai atas dengan suara baritonnya yang menggema.
Semua orang yang berada di sana pun mengahadap kearah Papa Julian.
"Cucu Mama yang paling tampan dong Pa," jawab Mama Mila dengan memeluk tubuh Al dari samping.
Papa Julian tampak terdiam saat menatap wajah Al. Janin yang dulu sempat ingin dia bunuh kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan. Betapa bersalahnya dia jika Ciara benar-benar melakukan apa yang ia perintahkan dulu.
Papa Julian kini menghampiri Al dan juga Mama Mila. Setelah sampai di depan mereka, Papa Julian turut berjongkok dengan tatapan yang tak lepas dari wajah tampan Al.
"Tampan sekali cucu Opa. Siapa namanya sayang?" tanya Papa Julian sembari membelai rambut Al.
"Nama aku Al, Opa. Alsheyrez," tutur Al.
"Nama yang sangat tampan seperti wajahnya. Apa Opa sekarang boleh peluk Al?" izinnya dan dijawab anggukan oleh Al.
Papa Julian tersenyum dan memeluk tubuh Al dengan sangat erat bertepatan itu pula air matanya menetes kala mengingat masa lalu yang membuat dirinya merasa bersalah kepada Ciara maupun Al.
"Opa nangis?" tanya Al yang mendengar isakan kecil dari Papa Julian.
Papa Julian melepaskan pelukannya dan segera mengusap air matanya.
"Opa kenapa nangis?" tanya Al dengan tatapan sedihnya.
"Benarkah?"
"Tentu. Oh ya, Opa punya sesuatu untuk Al," tutur Papa Julian.
"Apa Opa?" tanya Al penuh antusias.
"Sebentar ya Opa ambilin dulu," tutur Papa Julian dan ia segera berlari kecil naik ke lantai atas lagi untuk mengambil hadiah yang telah ia siapkan khusus untuk cucunya itu.
"Al udah sarapan belum?" tanya Mama Mila.
"Sudah Oma," jawab Al.
"Kalau Al masih lapar ngomong sama Oma ya biar nanti Oma ambilin atau masakin makanan kesukaan Al," ucap Mama Mila dan langsung di jawab anggukan kepala oleh Al.
Tak berselang lama, Papa Julian telah kembali dan membawa hadiah berupa mobil remote untuk Al.
"Ini hadiah untuk Al," tutur Papa Julian dengan memberikan hadiah tadi ke pada Al dan langsung diterima dengan senang olehnya.
__ADS_1
"Wah bagus sekali Opa," tutur Al.
"Al senang?" Al mengangguk dan sudah tak sabar untuk memainkan mobil tersebut.
"Mainnya di ruang keluarga aja yuk," ajak Mama Mila.
Tanpa menjawab atau menimpali ucapan dari Mama Mila tadi, Papa Julian langsung menggandeng tangan Al dan membawa cucu satu-satunya itu menuju ruang keluarga meninggalkan ketiga wanita berbeda usia yang masih menatap punggungnya.
"Haish Papa kalian tuh kalau udah sama cucunya sampai lupa sama kita," gerutu Mama Mila.
"Sudahlah tak apa Ma, kita tinggal nyusul mereka aja," ucap Ciara sembari merangkul tubuh Mama Mila dari samping.
"Ya udah yuk kita susul Papa sama Al," tutur Kiara dengan menyusup ditengah-tengah Mama Mila dan juga Ciara, lalu ia menggandeng tangan mereka kemudian mengajaknya untuk keruang keluarga.
...****************...
Disisi lain, Devano baru sampai di rumahnya dan dengan langkah malas ia berjalan masuk kedalam rumah mewah itu.
"Khemm," dehem seseorang yang tengah terduduk di sofa ruang tamu yang kebetulan Devano lewati.
Devano menghela nafas kemudian ia menatap orang tersebut yang ternyata Daddy Tian yang tengah bersantai dengan koran di tangannya.
"Mana Cucu dan calon menantuku?" tanya Daddy Tian to the point.
Devano awalnya merasa kaget saat mendengar kata calon menantu keluar dari bibir Daddy Tian. Kalau sang Daddy sudah berkata seperti itu, bukankah artinya dia sudah memberi lampu hijau untuk hubungannya dengan Ciara kedepannya. Kalau benar sungguh beruntungnya dirinya, mendapat lampu hijau dari sang Daddy secepat itu.
Devano kini tampak tersenyum tipis.
"Kenapa malah senyum-senyum seperti orang gila begitu?" tanya Daddy Tian yang merasa heran dengan tingkah Devano.
Devano menggeleng, lalu ia beranjak untuk duduk di sofa depan Daddy Tian.
"Kamu belum jawab pertanyaan Daddy," tutur Daddy Tian.
"Huft, maaf Dad, Dev belum bisa ajak mereka kesini," ucap Devano dengan helaan nafas panjang.
"Kenapa? Jangan bilang kalau mereka gak mau lihat kamu lagi seperti perkataanmu kemarin," tutur Daddy Tian yang sudah siap murka kembali.
"Bukan seperti itu Dad. Cia sepertinya mengubah pikirannya kembali dan mengurungkan niatnya yang kemarin. Dev belum ajak mereka kesini karena Dev merasa waktunya belum tepat ditambah dengan kondisi Dev saat bertamu tadi babak-belur seperti ini. Bahkan Al saja sempat mengira kalau Dev ini monster," tutur Dev dengan sedih kala mengingat ketakutan Al tadi kepadanya.
"Pufttt, hahaha," tawa Daddy Tian menggelegar.
__ADS_1
"Ya ampun Daddy ketawa kamu keras sekali," tutur Mommy Nina yang baru saja menghampiri kedua pria kesayangannya itu dengan membawa satu gelas kopi di tangannya.