
Al masih saja histeris melihat wajah Devano bahkan Devano sudah menutupi wajahnya itu menggunakan bantal sofa tapi Al tak mau berhenti menangis.
"Mama, Mama jangan disitu. Nanti Mama dibawa sama monster jelmaan Papa. Mama sini sama Al huwaaaaa Mama," jerit Al histeris.
"Ada apa sih pagi-pagi udah berisik banget? Ini juga si tampan, kenapa nangis kayak gini dan malah pada di lihatin doang?" Tanya Olive yang baru turun dengan muka bantalnya. Kentara sekali kalau di baru bangun tidur, itu pun ia terganggu dengan nyanyian merdu Al kalau tidak terganggu sudah dipastikan ia akan bangun nanti siang apalagi hari ini tengah libur ke kantor.
Al yang tadi masih berdiri di tempatnya kini dengan cepat ia berlari menghampiri Olive bahkan sekarang berdiri di belakang tubuh auntynya itu.
"Aunty, suruh Mama menjauh dari monter itu hiks hiks hiks aunty Dea juga suruh pergi hiks," ucap Al dengan sesegukan.
Olive mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan Al itu. Mana ada monster di dunia nyata atau itu hanya imajinasi Al saja yang sangat suka menonton kartun power rangers dan sebagainya yang tokoh utamanya harus bertarung melawan monster-monster jahat.
"Monster apaan sih Al? Gak ada monster di sini tuh," tutur Olive.
"Ada aunty. Monster itu menjelma menjadi Papa Al hiks," ucap Al.
Olive tambah bingung dan matanya ia alihkan menatap kearah Dea untuk mendapatkan jawaban dari ucapan nyleneh dari Al, tapi Dea hanya menggedikkan bahunya. Kemudian matanya ia alihkan lagi kearah Ciara yang masih menahan tawanya.
"Monster apaan sih Ci?" tanya Olive dan berniat untuk menghampiri Ciara yang masih terduduk di depan Devano. Namun kakinya di peluk erat oleh Al yang membuat dia mengurungkan niatnya.
"Lihat aja sendiri," tutur Ciara.
"Lihatnya dimana coba?"
"Tuh," tunjuk Ciara ke arah Devano yang masih setia menutup wajahnya.
"Al, lepasin kaki aunty dong. Aunty mau lihat monsternya dulu. Atau Al mau ikut lihat?"
__ADS_1
Al yang ditawari Olive pun segera melepas pelukannya. Lebih baik ia tetap disitu daripada nanti ia diserang oleh monster jelmaan Papanya, pikir Al.
Olive menggelengkan kepalanya dan dengan segera ia berjalan mendekati Devano. Setelah dirinya berada disamping laki-laki tersebut, Olive merebut bantal yang digunakan Devano tadi dan akhirnya ia bisa melihat apa yang dimaksud monster oleh Al.
"Astagfirullah, kenapa bentukan kuyang ada disini?" sarkas Olive dengan cengiran ngeri di bibirnya. Melihat luka dan lebam di wajah Devano.
Devano melototkan matanya tajam ke arah Olive yang mengatainya dengan sebutan seperti itu. Enak saja wajah tampan bak model yang ia wariskan ke Al disamakan dengan kuyang, kurang ajar sekali mulut Olive itu, pikirannya. Namun sesaat setelah itu, ia hanya bisa menghela nafas tak ingin menimpali ucapan dari Olive karena kalau ia menimpali ucapan Olive sudah ia pastinya itu semua akan memacu pertengkaran keduanya, ia tak ingin jika Al semakin merasa takut dengannya.
Tatapan mata tajam itu kini berubah menjadi teduh kala menatap wajah Al yang masih menangis sesenggukan.
"Al, ini Papa, nak. Sini peluk Papa. Papa kangen sama Al," ucap Devano pelan.
Al menggeleng dan berlari menghampiri Ciara dan memeluk tubuh sang Mama dengan erat.
"Al kenapa takut hmm?" tanya Ciara dengan mengelus kepala Al yang wajahnya ia sembunyikan di dada Ciara. Pertanyaan dari Ciara tadi hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Al.
Ucapan lembut dari Ciara tadi tak luput dari pendengaran Devano. Hatinya sekarang menghangat, tubuhnya berdesir bahagia. Ciara selalu bisa membuat dirinya jatuh cinta dengan caranya sendiri.
"Tapi kalau itu Papa hiks kenapa muka Papa berubah jelek kayak monster, Ma?" tanya Al yang menengadahkan kepalanya menatap wajah Ciara.
Ciara tak bisa lagi menahan tawanya, ia sekarang terkekeh kecil dan dengan segera ia memegang kedua pipi Al.
"Al, yang ada di hadapan Al saat ini memang Papa Al, bukan monster. Hanya saja wajah Papa untuk sementara waktu akan seperti itu," tutur Ciara.
"Kenapa wajah Papa berubah seperti itu, Ma?" tanyanya lagi. Ia belum merasa puas sebelum Ciara mengatakan penyebab berubahnya wajah tampan Devano.
"Papa tadi makan buaya goreng yang mengakibatkan muka Papa alergi dan berubah seperti itu," jawab Ciara ngarang.
__ADS_1
Al semakin mengerutkan keningnya.
"Papa benaran makan buaya, Ma?" tanya Al polos dan dijawab anggukan oleh Ciara. Ia tak peduli jika saat ini Devano sudah memelototkan matanya dan bibir yang mengerucut tanda sang empu sebal dengan ucapan dari Ciara tadi.
"Bukannya buaya gak boleh dimakan, Ma?" tanyanya semakin penasaran.
Ciara lagi-lagi hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Al.
"Makannya Al peluk Papa sana gih. Biar Papa gak makan buaya lagi. Kalau Al gak peluk Papa, Papa bisa makan buaya lagi lho dan muka Papa akan semakin mengerikan. Emang Al mau lihat wajah Papa seperti itu?" Al menggeleng kuat, kemudian ia merosot dari pangkuan Ciara dan dengan cepat ia berlari memeluk tubuh Devano yang sudah merentangkan tangannya, menyambut pelukan hangat sang putra tercinta. Ia benar-benar dibuat kagum dengan kemampuan Ciara membujuk Al dengan mudah tanpa ada embel-embel yang lainnya.
"Papa jangan makan buaya lagi ya. Al gak mau lihat Papa seperti ini. Papa juga pasti kesakitan kan?" tutur Al berkaca-kaca.
Devano menggelengkan kepalanya.
"Papa gak papa kok sayang," jawab Devano.
Al perlahan melonggarkan pelukannya, lalu ia menatap takut ke wajah Devano dan tanpa disangka, Al memberanikan dirinya untuk mencium wajah Devano.
"Semoga sakitnya pindah ke Al, biar Papa gak ngerasain sakit lagi. Ini yang biasa Mama lakuin kalau Al sedang sakit atau terluka. Mama khawatir banget saat mengetahui Al tengah kesakitan bahkan Mama sampai menangis karena Al gak mau nurutin ucapnya dan Al juga sering nakal tapi Mama gak pernah marahin Al. Jadi Papa harus cepat sembuh biar Mama gak khawatir dan gak nangis gara-gara Papa kesakitan," ucap Al polos.
Lagi dan lagi Devano merasakan desiran hangat, ia tak menyangka Al meniru kebaikan dari Ciara. Jika saja semua diri Devano ia wariskan ke anak semata wayangnya itu sudah dipastikan Al tak akan menjadi anak kecil yang penuh perhatian seperti ini.
Tanpa sadar Devano menitikkan air matanya terharu.
"Terimakasih nak atas perhatian yang Al berikan ke Papa. Papa sayang Al," ucapnya, lalu ia mencium seluruh wajah Al dan meraih tubuh mungil tersebut untuk ia peluk kembali.
Sedangkan Ciara, Olive dan juga Dea yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua pun juga turut berkaca-kaca bahkan mereka tak menyangka dengan pikiran dan sifat dewasa Al yang selalu membuat mereka terkejut.
__ADS_1