Young Mother

Young Mother
Penjelasan


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar bahwa Al sedang di intai oleh seseorang, Devano langsung tancap gas pulang kerumahnya. Meninggalkan semua pekerjaan yang masih lumayan menumpuk itu. Karena perinsipnya sekarang adalah keluarga nomor one, pekerjaan nomor sekian. Yang terpenting dalam hidupnya adalah keluarga. Ia tak ingin kehilangan orang tersayangnya kembali, ia tak ingin Al berpisah dengan dirinya lagi. Sudah cukup waktu 5 tahun lebih dirinya berpisah dengan orang yang paling ia sayang, kalau sekarang jangan harap. Mau sekeras apapun Ciara ataupun Al ingin meninggalkan Devano. Devano akan tetap mencegahnya bagaimana pun caranya. Apalagi orang lain yang menginginkan perpisahan mereka bertiga, oh tak akan pernah bisa. Lihat saja siapapun yang berani mengusik ketenangan keluarganya, mereka akan berhadapan langsung dengan Devano. Dan jangan harap setelah Devano mendapatkan orang itu, ia tak akan pernah mudah terlepas dari bayang-bayang Devano yang akan selalu menyiksanya. Lihat saja nanti.


"Assalamualaikum," salam Devano saat sudah masuk kedalam rumahnya.


Ciara yang awalnya masih santai-santai di depan televisi bersama Al pun langsung mengkerutkan dahinya saat mendengar suara yang cukup familiar di telinganya.


"Papa sudah pulang Ma?" tanya Al yang sama herannya dengan Ciara. Pasalnya sang Papa biasanya akan pulang pada jam 5 sore atau setidaknya sebelum Maghrib, sang empu harus sudah berada dirumah. Tapi saat ini kenapa sang Papa sudah pulang padahal waktu baru menujukan pukul setengah 2.


"Sepertinya begitu. Coba kita lihat yuk," ajak Ciara. Dan dengan penuh semangat Al turun dari atas sofa yang ia duduki tadi kemudian tanpa menunggu Ciara, ia langsung berlari menuju sumber suara tadi.


Saat dirinya sudah berada di ruang tamu, matanya seketika melebar saat melihat Devano tengah berjalan kearahnya.


"Papa!" teriak Al.


Devano yang awalnya memasang raut wajah yang garang, dingin dengan tatapan yang tajam kini raut wajah itu berubah 180° dari sebelumnya. Tatapnya menjadi menghangat, bibir yang tadinya tak ada senyum kini terukir sebuah senyuman indah dan wajah yang dingin kini berubah menjadi wajah yang sangat bersahabat.


"Hey boy," tutur Devano setelah sampai di depan Al, setelah itu ia membawa tubuh Al kedalam gendongnya.


"Papa sudah selesai bekerja?" tanya Al polos.


Devano mengangguk sembari mengecup pipi Al dengan gemas.


"Oh ya Mama dimana?" tanya Devano.


"Mama ada disini." Bukan Al yang menjawab, tapi Ciara yang angkat suara.


Devano semakin merekahkan senyumannya. Dan disela-sela senyum itu ia mengucap syukur karena anak dan istrinya masih dalam keadaan baik-baik saja, tak ada luka sedikitpun, terutama di tubuh Al.

__ADS_1


Devano kini menghampiri Ciara dan meraih pinggang istrinya dengan satu tangannya. Sehingga membuat tubuh Ciara merapat ke tubuh tegapnya. Setelah itu ia mencium puncak kepala Ciara.


"Tumben udah pulang?" tanya Ciara dengan tingkat kekepoannya yang sangat tinggi. Tak lupa mereka sekarang berjalan kembali ke ruang keluarga.


"Emangnya tidak boleh gitu pulang cepat?" bukanya menjawab Devano malah bertanya balik sembari duduk di sofa di ruang tamu dengan Al dipangkuannya.


Ciara yang duduk di samping Devano hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Boleh sayang. Siapa juga yang melarang kamu untuk pulang cepat. Malah kalau bisa setiap hari pulang jam segini," ucap Ciara dengan mode manja yang mulai aktif. Bahkan kepalanya sekarang sudah bersandar di bahu sang suami.


Devano yang melihat tingkah istrinya pun menggelengkan kepalanya, sudah tak heran baginya kalau Ciara akan sangat manja dengannya.


Untuk beberapa saat Devano membiarkan kedua orang yang sangat ia cintai bermanja-manja dengannya sebelum ia nanti akan mengintrogasi bodyguard Al.


"Sayang," panggil Devano yang membuat sepasang ibu dan anak menoleh kearahnya.


"Cuma sebentar sayang. Buat ganti baju dan ngerjain sedikit pekerjaan yang tertunda. Aku janji gak akan sampai 1 jam kok. Setelah selesai semuanya aku langsung kesini," ucap Devano.


"Katanya pekerjaan kamu udah selesai tadi. Kenapa harus ngerjain lagi saat sudah dirumah?"


"Kalau urusan di kantor memang sudah selesai tapi ini urusan lain sayang. Boleh ya, cuma sebentar kok." Terdengar helaan nafas Ciara dan dengan tak ikhlas Ciara menganggukkan kepalanya.


Devano yang melihat persetujuan dari Ciara pun langsung menghujani ciuman yang bertubi-tubi di wajah Ciara hingga sang empu kegelian sendiri.


"Udah ih. Geli tau, malu juga tuh di lihatin Al." Ciara menjauhkan wajah Devano dari wajahnya.


"Hehehe, kelepasan. Ya udah aku tinggal dulu ya. Jangan keluar dari rumah oke. Kalau mau keluar kasih tau aku." Ciara lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Setelah itu Devano beranjak dari duduknya dan dengan gemas ia mengacak-acak rambut Ciara kemudian beralih mencium pipi Al.

__ADS_1


"Jagain Mama, boy," ucap Devano yang hanya diacungi jempol oleh sang empu karena ia tak ingin fokusnya untuk menonton kartun kesukaannya teralihkan.


Setelah mengucapkan hal itu, Devano kini benar-benar pergi dari hadapan kedua orang tersebut dan langsung menuju ruang kerjanya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.


Saat dirinya sudah sampai di ruangan itu, ia langsung menelpon bodyguard yang mengurus Al untuk meminta mereka menemuinya. Dan tak berselang lama, kedua bodyguard Al kini sampai didepan pintu kerja sang bos.


Dengan ragu dan jantung yang berdebar hebat salah satu dari mereka berdua memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!!!


"Masuk!" terdengar suara dari dalam yang memerintahkan mereka berdua segera masuk kedalam ruangan tersebut. Mereka sekarang tampak saling tatap satu sama lain sembari menetralkan kegugupan mereka masing-masing sebelum akhirnya masuk kedalam.


"Duduk!" perintah Devano saat melihat kedua bodyguard tadi sudah berada didalam ruangannya.


Keduanya mengangguk hormat kemudian duduk di depan Devano yang hanya terhalang meja di depan mereka.


Devano menatap satu persatu bodyguard tersebut dengan tatapan tajam.


"Ceritakan kejadian tadi!" ucap Devano dengan suara tenang tapi bagi kedua bodyguard yang sudah lama berkerja dengan Devano mendengar suara itu seakan-akan mendesak mereka untuk segera masuk kedalam neraka.


Salah satu bodyguard yang bernama Doni tampak berdehem sebentar setelah itu mulai angkat bicara.


"Izin untuk menjelaskan semuanya tuan," ucapnya dan langsung diangguki Devano.


"Awalnya tak ada yang mencurigakan saat kita berdua memantau tuan muda dari kejauhan. Tapi saat bel pulang berbunyi ada satu laki-laki dengan pakai serba hitam mendekati kelas tuan muda. Kita kira awalnya dia adalah salah satu orangtua murid disana tapi setelah kami telisik, dia bukanlah orangtua dari salah satu murid disana pasalnya saat semua teman-teman sekelas tuan muda sudah berhamburan keluar dan sudah pulang semua dia masih di depan kelas itu sedangkan di dalam hanya tersisa tuan muda saja. Dan saat tuan muda mulai beranjak dia juga mulai bergerak tapi untungnya sebelum dia berhasil meraih tubuh tuan muda dan sebelum tuan muda menyadari itu semua, kita berdua berhasil mencegahnya dan membawa orang itu ke tempat yang sepi tapi saat kita lengah orang tersebut menyerang kita dan mencoba kabur dari kita berdua. Tapi dia tidak bisa kabur lebih jauh lagi karena kita lagi-lagi berhasil menangkapnya. Dan saat kita ingin membawa orang itu kehadapan tuan, tiba-tiba saja segerombolan orang dalam jumlah 10 orang dengan perawakan kekar, tinggi dan tegap menghalangi langkah kita berdua dan tiba-tiba saja segerombolan orang itu menyerang kita. Awalnya kita berdua ingin meminta bantuan agar bisa menangkap mereka semua tapi kita tak sempat meminta bantuan. Alhasil mau tidak mau kita melawan orang-orang itu walaupun kita kalah jumlah. Tapi Alhamdulillah kita bisa melumpuhkan semua orang tersebut dan saat kita ingin menyeret salah satu dari mereka untuk kita interogasi, mereka kabur semua. Awalnya kita akan mengejar mereka tapi kita ingat ada tuan muda yang lebih utama untuk kita lindungi sehingga kita tidak jadi mengejar mereka dan kembali ke sekolah tuan muda," jelas Doni.


Devano yang mendengar penjelasan dari Doni pun tampak menelaah semua ucapan tersebut dan otaknya dengan keras berpikir. Siapa orang yang dengan beraninya mengincar anaknya itu?

__ADS_1


__ADS_2