Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 4


__ADS_3

Disore hari, Ciara lagi-lagi harus direpotkan oleh Kiya yang sedari tadi ia suruh mandi dan anak perempuan itu tak kunjung menuruti ucapannya itu hingga akhirnya Ciara lah yang harus turun tangan berniat untuk memandikan Kiya.


Tapi tak semudah apa yang orang-orang kira, Kiya sekarang justru terus menghindari Ciara. Bahkan Ciara sudah mengeluarkan berbagai jurus untuk membujuk Kiya tapi tetap saja tak ada yang berhasil. Hingga dirinya yang sudah tak sabar lagi berniat untuk memaksa Kiya yang tentunya anak itu terus memberontak.


"Diam dulu Kiya. Mandi sebentar apa susahnya sih? biasanya juga Kiya paling suka kalau disuruh mandi. Kenapa hari ini Kiya gak mau mandi hmmm?" Cerocos Ciara sembari berusaha melepaskan baju yang melekat ditubuh Kiya dibantu oleh beberapa art rumah tersebut.


"Kiya gak mau. Kiya masih wangi!" teriak Kiya dan saat bajunya telah terlepas, bertepatan itu pula Kiya berhasil kabur dari orang-orang yang mengukung dirinya tadi.


"Kiya! balik kesini! kalau kamu gak balik, Mama pastiin kamu gak akan Mama kasih es krim lagi!" teriak Ciara sembari mengejar Kiya yang tengah menuruni anak tangga.


"Kiya nanti bisa minta Abang sama Papa," balas Kiya sembari menoleh kearah Ciara.


"Hati-hati, lihat jalan yang benar. Jangan sampai jatuh!" sambungnya. Ia benar-benar khawatir saat anaknya itu dengan lincah menuruni anak tangga dirumah tersebut.


Tapi Kiya tak menggubris ucapan dari Ciara itu karena yang ada didalam benaknya sekarang adalah menjauh dari Ciara dan kembali bermain sesuatu yang menurutnya seru.


Dan saat dirinya sudah dilantai bawah, ia kembali berlari menuju pintu utama rumah tersebut. Tapi saat dirinya sudah sampai di depan pintu tersebut, bertepatan itu pula Devano membuka pintu tadi.


"Tangkap dia!" teriak Ciara mengintruksi Devano.


Devano yang mendengar arahan dari sang istri pun langsung menangkap tubuh Kiya. Walaupun ia tak tau situasi didalam rumah ini. Kenapa anak dan istrinya bisa kejar-kejaran seperti ini? Ditambah Kiya hanya memakai ****** ***** saja.


Ciara yang sudah melihat Kiya berada digendong Devano pun ia mendudukkan tubuhnya di lantai begitu saja. Biarkan saja jika lantai itu kotor dia tak peduli. Yang terpenting ia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang penat itu.


"Ada apa ini?" tanya Devano sembari menghampiri Ciara yang masih selonjoran di lantai.


Ciara kini menengadahkan kepalanya melihat sang suami yang sudah berada dihadapannya itu.


"Anak kamu gak mau mandi," ucap Ciara.


Devano kini mengalihkan pandangan kearah Kiya yang tengah memainkan kerah jasnya.

__ADS_1


"Kiya jawab Papa. Kenapa Kiya gak mau mandi hmmm?" tanya Devano sembari mengelus pipi Kiya dengan lembut.


"Kiya mau mandi kok. Hanya saja nanti kalau Kiya udah puas mainnya," jawab Kiya yang membuat Ciara mencebikkan bibirnya.


"Kalau gak ingat gimana sakitnya saat ngelahirin tuh bocah udah dari dulu mungkin aku balikin dia ke perut," gerutu Ciara yang masih bisa didengarkan oleh Devano.


Devano paham susahnya menjadi seorang ibu apalagi jika anaknya senakal dan seaktif Kiya. Sudah dipastikan setiap detik dan menitnya habis hanya untuk menjaga mereka. Mungkin ibu-ibu takut jika ia lengah sedikit, anak mereka sudah menghancurkan seisi rumah mereka sama seperti Ciara yang mungkin memiliki kekhawatiran seperti itu.


Devano kini menurunkan Kiya dari gendongannya kemudian ia membungkukkan tubuhnya hingga bisa berhadapan langsung dengan Kiya. Bahkan kedua tangannya kini berada di pundak Kiya.


"Kiya dengerin Papa ya. Kiya harus nurut apa yang dikatakan Mama. Kiya gak boleh menentang apapun yang Mama ucapkan. Jika Kiya melakukan apa yang Mama perintahkan dan gak memberontak seperti ini, berarti Kiya adalah anak baik. Tapi jika Kiya terus-terusan seperti ini berarti Kiya adalah anak yang tidak baik. Apa Kiya gak kasihan sama Mama? Mama sudah seharian ngurusin Kiya, nurutin semua keinginan Kiya, Mama juga gak pernah marah sama Kiya kan kalau Kiya bikin kesalahan?" Kiya terdiam kemudian menggelengkan kepalanya. Ciara memang tak pernah marah dengan Kiya walaupun kelakuan Kiya yang selalu diluar dugaan Ciara itu. Karena Ciara pasti akan meluapkan emosinya kepada Devano dengan cara lain. Yang pastinya luapan emosi itu tidak akan menyakiti hati suaminya, dan mungkin kebanyakan yang ia lakukan hanya menguras uang Devano saja tak lebih dari itu.


"Jadi mulai hari ini Kiya gak boleh bandel lagi sama Mama. Apa Kiya sanggup menuruti semua perintah Mama?" Dengan ragu-ragu Kiya menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Kiya minta maaf gih sama Mama," tutur Devano. Kiya kini perlahan mendekati Ciara yang tengah memalingkan wajahnya.


"Mama," panggil Kiya.


"Gak mau," ucap Ciara yang lagi-lagi memalingkan wajahnya.


Kiya kini melengkungkan bibirnya kebawah saat permintaan maafnya ditolak oleh Ciara.


"Mama marah sama Kiya?" tanyanya.


"Iya lah. Mama sekarang marah sama Kiya," jawab Ciara yang belum mengetahui jika Kiya sekarang sudah meneteskan air matanya.


Kiya kini lebih merapatkan tubuhnya kearah Ciara dan setelahnya ia memeluk tubuh Ciara dari samping.


"Hiks maafin Kiya, Mama. Kiya janji gak bakal seperti tadi. Hiks maaf." Ciara yang mendengar tangisan dari Kiya pun hatinya menjadi tak tega jika harus marah dengan anaknya itu. Ya walaupun ucapnya tadi memang hanya untuk menakut-nakuti Kiya saja bukan karena dirinya marah sungguhan.


Ciara menghela nafas kemudian membalas pelukan dari Kiya.

__ADS_1


"Mama maafin Kiya. Tapi Kiya gak boleh seperti itu lagi ya. Jujur saja Mama gak sanggup kalau harus kejar-kejaran seperti tadi," ucap Ciara.


Kiya kini melepaskan pelukannya dan menatap Ciara.


"Mama maafin Kiya?" Ciara tersenyum kemudian mengangguk.


"Iya Mama maafin Kiya. Tapi kalau Kiya ulangi lagi, Mama gak akan pernah maafin Kiya sampai kapanpun," tutur Ciara.


"Terimakasih Mama. Kiya janji akan nurut sama Mama mulai hari ini. Tapi gak tau nanti kalau Kiya lagi gak mood," ucap Kiya yang sudah merubah ekspresi wajahnya.


Ciara lagi-lagi menghela nafas, ia sudah bisa menebak jika tak akan semudah itu untuk menaklukkan makhluk kecil yang sayangannya makhluk itu anaknya sendiri.


"Terserah kamu lah yang penting kamu sekarang mandi. Ini udah hampir maghrib, dan kalau kamu masih menunda lagi, kamu akan sakit nanti. Buruan mandi sana," tutur Ciara sembari menepuk pantat Kiya dengan pelan.


"Iya Mama. Kiya Bakalan mandi kok tapi harus ada syaratnya," ujar Kiya.


Devano kini menatap Ciara yang hanya dibalas gidikan bahu saja oleh sang empu.


"Syaratnya apa?" tanya Devano penasaran.


"Beliin Kiya makeup khusus buat anak kecil," jawab Kiya penuh dengan antusias.


"Memangnya ada sayang makeup khusus anak kecil?" tanya Devano kepada Ciara.


"Gak tau. Aku belum pernah dengar soalnya," ucap Ciara.


"Jadi gimana?" tanya Kiya tak sabar.


"Papa coba carikan nanti. Sekarang Kiya harus mandi dulu oke." Kiya kini tersenyum kemudian ia menghadapkan tubuhnya sempurna ke arah Devano.


"Siap bos. Laksanakan," ucap Kiya diakhiri dengan ia memberikan hormat kearah Devano dan barulah ia pergi dari hadapan kedua orangtuanya. Ciara yang melihat hal itu pun hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Devano yang melihat tingkah luar biasa dari Kiya pun menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya bertukar peran dengan Ciara untuk mengurus Kiya. Pasti satu hari saja, urat di seluruh tubuhnya akan keluar semua, darahnya akan naik juga rambutnya akan memutih semua saking pusingnya mengurus Kiya yang super duper aktif itu.


__ADS_2