
Walaupun sudah berpakaian rapi, Al masih enggan untuk keluar dari kamar mandi tersebut. Bahkan suara Devano dan Ciara secara bergantian meneriaki namanya tapi hal itu tak bisa mencegah aksi ngambeknya terus berjalan. Dan dia sekarang hanya duduk manis di toilet kamar mandi tersebut.
"Al, bukain pintunya sayang. Mama sama Papa minta maaf sama Al," teriak Ciara menggema memenuhi kamar hotel tersebut. Ucapan demi ucapan maaf terus saja ia lontarkan tapi tak mendapatkan respon dari Al sejak tadi.
Sedangkan si pengantin baru, mereka malah menikmati drama keluarga itu tanpa berniat membantunya. Lebih tepatnya Zidan yang tak ingin membantu mereka, biar tau rasa katanya. Sedangkan Rahel, awalnya ia sudah bergerak untuk membantu para sahabatnya itu untuk membujuk Al tapi selalu saja di cegah oleh sang suami yang terus saja memeluknya dan tanpa mengizinkan dirinya untuk bergerak sedikitpun.
"Zi, aku mau bantu mereka ya. Kasihan tuh Ciara udah mulai nangis," ucap Rahel dengan suara lembut sembari mengelus kepala Zidan yang setia di pangkuannya.
"Gak. Biarin aja sih. Toh ini semua juga salah mereka. Jadi biarin aja mereka terus berusaha mendapatkan maaf dari Al," tutur Zidan.
"Tapi Zi. Aku kasih sama baby di dalam perut Ciara kalau emaknya nangis pasti dia didalam perut perasaannya juga sama seperti emaknya. Coba kamu bayangin deh kalau aku yang jadi Ciara dan saat itu juga aku lagi hamil besar." Zidan terdiam, tapi otaknya menuruti apa yang di ucapkan oleh Rahel tersebut untuk membayangkan hal yang sesuai dengan ucapan Rahel tadi.
"Orang hamil itu capek lho, sayang. Apalagi usia kandungannya udah tua kayak Ciara gini, aku rasa Ciara sebenarnya juga gak kuat berdiri lama seperti itu. Dan aku takut karena dia kelamaan berdiri, baby-nya akan kenapa-napa nanti," sambung Rahel mencoba untuk membujuk Zidan agar suaminya itu mengizinkan dia ikut membujuk Al.
Tapi lagi-lagi tak ada respon dari Zidan yang membuat Rahel pasrah. Tapi untuk beberapa detik kemudian, Zidan berdiri dari rebahannya dan langsung beranjak dari ranjang tersebut menuju pintu kamar mandi yang masih ada Ciara dan Devano. Rahel yang melihat pergerakan itu pun juga langsung mengikuti Zidan hingga sekarang sepasang pasutri tadi sudah bergabung dengan Ciara dan Devano.
"Kalian minggir dulu," ucap Zidan. Ciara dan Devano menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk kedua orang tersebut.
Zidan menghela nafas, pasalnya ia belum puas melihat kedua sahabatnya itu menderita. Tapi setelah mendengar kata-kata dari Rahel tadi, hatinya bergerak untuk mencoba membujuk Al. Karena aksi ngambek Al ini didasari oleh dirinya. Jadi mau tak mau ia harus ikut andil untuk membujuk Al agar keluar dari kamar mandi tersebut. Ia juga takut Al akan kelaparan di dalam sana, mengingat bahwa bocah itu sudah mengurung dirinya sendiri selama 2 jam.
__ADS_1
Tok tok tok!!!
Pintu kamar mandi mulai di ketuk oleh Zidan.
"Al, ini Uncle Zi. Al didalam terus apa gak bosen? Uncel aja bosen lho lihat pintu kamar mandi yang terus terkunci sama Al gini. Dan apa Al gak lapar? dari tadi pagi kan Al belum makan. Al keluar dulu ya, makan dulu habis itu kalau Al mau ngambek lagi terserah deh. Yang penting Al keluar bentar untuk makan," teriak Zidan. Dan hening tak ada jawaban dari Al, tapi sesaat setelahnya pintu kamar mandi tersebut akhirnya terbuka juga dan langsung menampilkan wajah Al yang tertekuk. Walaupun begitu anak laki-laki itu masih saja tampan.
"Akhirnya," ucap Zidan dan Rahel serempak.
Al pun kini berjalan tanpa menghiraukan keempat orang dewasa itu, lebih tepatnya hanya kedua orangtuanya yang tengah menatapnya dengan tatapan sedih. Rahel dan Zidan yang juga merasakan tatapan berbeda dari orangtua Al pun segera mengajak mereka berdua untuk mengikuti langkah Al yang ternyata mengarah ke sofa kamar tersebut.
Setelah sampai, Ciara dan Devano mengambil posisi duduk tepat di sebelah kanan dan kiri Al sedangkan sepasang pengantin baru duduk di sofa lainnya tapi masih berhadapan dengan kelurga kecil itu. Baru saja Ciara dan Devano mendaratkan bokongnya, Al justru berdiri dari duduknya dan ia melangkahkan kakinya menuju sofa yang di tepati oleh Rahel dan Zidan setelah itu ia duduk ditengah-tengah mereka berdua.
Sedangkan sepasang pengantin baru hanya bisa melongo di tempat.
"Uncle, Al lapar. Bolehkah Uncle bantu Al buat pesan makanan?" tanya Al dengan mata yang berbinar. Zidan pun hanya terdiam sembari melirik kearah kedua orang didepannya.
"Uncle denger Al ngomong gak sih," rengek Al.
"Ah oh oke boy. Uncle pesanin dulu," ucap Zidan kemudian ia beranjak untuk menelepon pihak resepsionis hotel tersebut untuk mengantar makanan yang ia pesan ke kamarnya. Bukan hanya Al yang ia pesankan melainkan semua orang di sana.
__ADS_1
Setelah itu ia kembali menghampiri keempat orang tadi.
"Al," panggil Devano. Al tampak menatap Devano sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke sembarang arah tak lupa kedua tangannya ia lipat di dada, menandakan bahwa dia masih merajuk.
"Al maafin Papa sama Mama, nak. Papa janji gak akan ngulang kesalahan itu lagi sama Al." Al masih terdiam. Dan hal itu membuat Devano menghela nafas. Baru kali ini Al lama dalam mode Merajuk. Biasanya anak itu akan merajuk paling lama hanya 5 menit saja.
"Al hiks, Mama tau Mama salah tapi hiks apa Al benar-benar gak mau maafin kesalahan Mama? Mama menyesal udah buat Al marah kayak gini. Maafin Mama, Al hiks Mama mohon." Al sekarang mengalihkan pandangannya kearah Mamanya yang sudah menangis tersedu-sedu. Ia paling tidak suka melihat Mamanya itu menangis karena hatinya terasa sakit saat melihat wanita kesayangannya itu tengah meneteskan air mata.
Al kini menoleh kearah Zidan dan menatap wajah Unclenya itu seperti ia meminta izin untuk memaafkan kedua orangtuanya. Zidan yang mengerti tatapan dari Al pun, tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Al, maafin Mama sama Papa ya. Mereka kan udah janji gak akan ngulang lagi. Jadi Al hentikan aksi ngambeknya," tutur Zidan sembari mengelus kepala Al.
Al menganggukkan kepalanya dan segera beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang Mama yang masih setia meneteskan air matanya.
"Mama, Al sudah maafin Mama. Tapi Al gak mau kejadian seperti tadi malam terulang lagi," ucap Al dihadapan Mamanya itu. Ciara pun langsung menganggukkan kepalanya, mensetujui apa yang dikatakan oleh Al. Lalu ia merengkuh tubuh Al untuk ia peluk.
"Mama janji gak akan ngulang lagi. Hiks maafin Mama sayang. Mama gak sanggup kalau Al ngambek lama kayak tadi hiks." Al melepaskan pelukan tersebut dan menatap lekat wajah Ciara setelah itu tangannya terulur untuk menghapus air mata Ciara.
"Iya Mama. Al udah maafin Mama. Jadi Mama jangan nangis lagi ya. Al gak suka lihat Mama nangis. Maafin Al karena udah ngambek lama sama Mama," tutur Al. Ciara mengangguk dengan cepat dan segera memeluk tubuh Al untuk kedua kalinya.
__ADS_1