
Setelah mengetahui kebenaran tentang Franda dan juga setelah mereka semua berdiskusi untuk rencana selanjutnya, akhirnya mereka kini memutuskan untuk mulai bergerak di hari berikutnya. Dan saat mereka berempat telah keluar dari ruang kerja Devano, bertepatan dengan itu juga, mereka melihat Yura dan Al di ruang baca Al, tengah belajar bersama dengan sesekali bercanda gurau.
"Semakin hari sifat Al yang awalnya seperti kutub Utara kini perlahan mulai menghangat karena dia sudah menemukan mataharinya," gumam Devano sembari terus menatap kearah Al dan Yura.
"Aku rasa juga begitu. Dan aku sangat bersyukur jika Al berubah dan tak lagi seperti dulu yang selalu dingin dengan orang lain," ujar Ciara.
"Bukan cuma kalian berdua saja yang bersyukur dengan kedekatan mereka berdua, kita juga sama bersyukurnya dengan kalian. Karena dengan adanya Al, Yura tidak lagi tertekan dan merasa dirinya seperti sudah menemukan perisai yang kuat dan selalu melindunginya. Haish aku yang merupakan ayah kandungnya saja tidak bisa memberikan kenyamanan dan perlindungan untuk Yura," timpal Bian. Franda yang berada di samping sang suami pun tangannya bergerak untuk mengelus lengan Bian. Dan hal itu ia gunakan untuk menenangkan Bian agar laki-laki itu tak selalu menyalahkan dirinya sendiri terus-menerus atas semua kejadian yang selalu menimpa Yura.
"Hmmm sepertinya mereka berdua cocok kalau di jodohkan," timpal seseorang dari belakang keempat orang dewasa tersebut secara tiba-tiba.
Keempat orang tadi yang mendengar ucapan dari seseorang di belakang mereka pun kini keempat orang itu menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dan saat mereka semua melihat siapa pemilik suara tadi, dengan serempak mereka semua berdecak lalu setelahnya keempat orang itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan depan ruang baca Al.
Sedangkan orang yang memberikan usulan tadi dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Toni, ia mencebikkan bibirnya saat tak ada tanggapan sama sekali dari salah satu orang dewasa tadi.
"Sepertinya mereka tiba-tiba kena sakit sariawan jadi tidak bisa menimpali ucapanku tadi," gumam Toni sembari melihat kearah orang-orang tadi dan setelahnya ia menggedikkan bahunya lalu barulah ia kini melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang baca Al.
"Ehemmm," dehem Toni saat dirinya sudah berada di hadapan kedua anak-anak itu.
Al dan Yura yang tadinya tengah tertawa bersama kini tawa mereka terhenti dan tatapan mereka kini menatap kearah Toni.
"Kalau mau masuk tuh ketuk pintu dulu bisa kan, Om?" ucap Al yang hanya dibalas dengan cengiran di bibir Toni.
Dan hal itu membuat Al memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kenapa?" sambung Al.
"Hmmm jadi begini, saya kesini mau memberitahukan sesuatu kepada kalian berdua," ujar Toni.
"Memberitahu apa, Om?" tanya Yura.
"Itu, kura-kura yang beberapa hari yang lalu kalian beli, kura-kura itu sekarang di lepas begitu saja dari kandangnya oleh Kiya," ucap Toni.
"Oh cuma itu aja. Ya gak papa kali Om, toh cuma di lepas gitu aja mereka juga tidak akan kabur jauh dari pekarangan rumah ini," tutur Al dengan santai.
"Masalahnya tuh Kiya lepas kura-kura itu tidak di dalam lingkungan rumah ini melainkan di jalan raya di depan rumah," ujar Toni yang membuat Yura dan Al kini membelalakkan matanya. Lalu tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua langsung berlari keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke depan rumah keluarga Devano, meninggalkan Toni sendiri di ruangan tersebut.
"Yah, ditinggal lagi," ucap Toni sebelum ia mengikuti langkah kedua anak tadi.
Dan saat mereka melihat Toni yang juga melewati tempat itu, Ciara langsung menghentikan langkah bodyguard Al tersebut.
"Toni tunggu sebentar," ucap Ciara yang langsung membuat Toni menghentikan langkahnya.
"Iya, kenapa nyonya? Nyonya rindu dengan saya? Atau mau membahas tentang ide saya sebelumnya tentang perjodohan antara tuan muda dan nona Yura?" tanya Toni dan tanpa ia sadari jika Devano kini sudah menatap tajam kearah dirinya.
"Ck, kamu ini jangan berkata omong kosong dulu. Saya menghentikan langkah kamu karena saya ingin tau kenapa Al dan Yura lari-lari begitu? Ada apa sebenarnya?" tanya Ciara.
"Hehehe kirain tadi nyonya rindu saya, eh ternyata tidak. Dan tuan muda juga nona Yura kenapa lari-lari seperti tadi tuh, ya karena dia sedang khawatir dengan hewan peliharaan mereka berdua," ucap Toni.
__ADS_1
"Maksud kamu kura-kura itu?" tanya Ciara yang dijawab anggukan kepala oleh Toni.
"Memangnya kenapa dengan kura-kura mereka?" tanya Franda.
"Itu lho, Kiya tadi melepas kura-kura mereka berdua di jalan raya depan rumah ini," ujar Toni yang membuat semua orang disana membelalakkan matanya dan setelahnya keempat orang itu berlari menyusul Al dan Yura.
"Di tinggal lagi, di tinggal terus!" teriak Toni yang sudah geram karena sedari tadi ia selalu diabaikan dan di tinggalkan oleh orang-orang di rumah tersebut.
Dan dengan langkah yang ia hentak-hentakkan, ia menuju ke tempat dimana Kiya tadi berada.
Sedangkan Kiya yang menjadi tersangka akan keramaian yang tercipta pun, ia masih saja santai dengan bersorak riang, menyoraki dua kura-kura yang tengah ia lombakan itu.
"Ayo ayo ayo! buruan jalannya!" teriak Kiya sembari bertepuk tangan.
"Om Doni juga harus menyemangati kura-kura itu dong. Dukung salah satu dari mereka berdua. Kalau Kiya sih mendukung yang menang saja," ujar Kiya.
Doni yang sedari tadi sudah berusaha untuk memberikan pengertian dan mencoba merayu Kiya supaya anak perempuan itu segera memasukkan kura-kura tadi kembali ke tempatnya dengan segala macam cara, usahanya itu tak ada yang berhasil sama sekali. Hingga akhirnya Doni menyerah dan menunggu sebuah keajaiban agar dirinya terlindungi dari omelan Al dan Yura nanti.
"Kiya!" teriak Al dengan nyaring dan hal itu membuat Kiya yang tadinya masih heboh menyemangati kura-kura tadi, kini kehebohan itu terhenti dan kini tatapan Kiya beralih kearah Al berada.
Sedangkan Doni, ia kini berlari untuk bersembunyi dibalik tubuh Devano agar saat Al nanti murka ia tak ikut kena semprot oleh Al.
"Biarkan saya sembunyi disini dulu sebentar, tuan. Please," ucap Doni dengan tatapan memelasnya.
__ADS_1
Devano yang akan menjadi tempat persembunyian dari bodyguard Al itu pun, ia hanya bisa menghela nafas dan membiarkan tubuhnya menjadi tempat persembunyian Doni. Sebelum bodyguard Al itu nantinya akan merengek kepadanya saat ia tak mengizinkan keinginan Doni tadi tercapai.