
Ciara dan Devano yang mendengar cerita dari Doni tentang penyelamatan yang dilakukan oleh Al itu pun hati mereka tampak tersentuh. Dengan usia Al yang masih di bawah 10 tahun tapi anak itu sudah memiliki jiwa penolong yang kuat, bahkan dari cerita tadi, Devano maupun Ciara menyimpulkan bahwa Al tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri saat menolong orang yang akan terkena musibah dan hal itu membuat Ciara kini memeluk tubuh Al dengan air mata yang kembali menetes.
"Mama kenapa nangis lagi? kan Al gak kenapa-napa udah dijelasin sama om Doni tadi," ujar Al saat merasakan tubuh sang Mama bergetar.
Ciara kini melepaskan pelukannya lalu ia menghapus air matanya tersebut tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Al.
"Mama gak papa sayang. Mama hanya bangga sama kamu. Mama gak nyangka aja, anak laki-laki yang dulunya sering Mama gendong kemana-mana sekarang udah besar. Udah tau mana yang benar dan mana yang salah, tambah pintar dan masih banyak lagi pertumbuhan kamu yang buat Mama terpukau. Mama benar-benar bangga sama kamu sayang. Dan terimakasih karena tadi Al sudah menyelamatkan nyawa seseorang, tapi saat kamu kedepannya ingin menolong seseorang lagi pastikan diri kamu mampu dan juga keselamatan kamu tetap bisa kamu lindungi," ucap Ciara sembari mengelus kepala Al.
Al yang diberi petuah dari Ciara pun mengangguk patuh kepada wanita yang menaruhkan nyawanya saat melahirkan dirinya juga wanita yang terus menjaga dirinya tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan semarah-marahnya Mamanya itu, ia tak pernah mendengar nada suara yang tinggi dari bibir Ciara. Wanita itu terus saja bersuara lembut kepada anak-anaknya. Dan mungkin saat Al nanti dewasa, ia akan mencari sosok pasangan yang seperti Ciara, wanita yang sangat ia idolakan.
Saat sepasang ibu dan anak tadi saling menyalurkan kasih sayang satu sama lain, Devano yang duduk disampingnya Al pun hanya menatap mereka dengan senyum yang mengembang. Jika ia ditanya bangga akan aksi Al itu? tantu saja ia merasa bangga, siapa juga sih orangtuanya yang tak bangga melihat anaknya melakukan kebaikan tanpa disuruh terlebih dahulu? tak ada bukan? Jadi tak ada alasan untuk Devano marah kepada Al karena aksinya tadi.
Dan saat satu keluarga kecil itu saling menyalurkan kehangatan, pintu dari UGD tersebut terbuka dan keluarlah seorang dokter dari ruangan tersebut diikuti oleh suster dan anak perempuan tadi.
"Apakah itu orangnya yang Al tolong tadi?" tanya Ciara. Al pun menganggukkan kepalanya sembari menatap sekilas ke anak perempuan tersebut sebelum tatapannya ia alihkan ke arah lain.
Ciara tersenyum kemudian mengacak rambut Al sebelum dirinya menghampiri anak perempuan yang masih berdiri di depan pintu UGD tadi sembari menggenggam tangan suster disampingnya.
"Sepertinya ini anak takut sama aku dan Devano," batin Ciara saat melihat tatapan berbeda dari anak perempuan tersebut kepadanya.
Ciara terus melangkahkan kakinya hingga sampai didepan anak perempuan tadi kemudian ia menjongkokan tubuhnya agar memudahkan dirinya menatap wajah mungil anak itu.
__ADS_1
"Hay, nama kamu siapa?" tanya Ciara dengan senyuman yang mengembang.
"Yura" jawab anak perempuan tersebut dengan suara lirih.
"Nama yang cantik sama seperti orangnya. Oh ya, kenalin nama Tante adalah Ciara, Mama dari anak laki-laki yang membawamu kesini. Dan nama anak Tante itu Al. Anaknya emang cuek bebek seperti itu. Tapi kalau Tante tentu saja tidak dong, jadi jangan takut ya sama tente," ujar Ciara dengan sedikit membujuk Yura agar tak takut lagi kepadanya.
Yura yang tadinya menunduk pun kini menatap wajah Ciara yang masih saja tersenyum kearahnya.
"Sini, biar Tante lihat luka kamu," ucap Ciara yang perlahan membuat genggaman tangan Yura dengan suster itu pun terlepas dan kini ia melangkahkan kakinya lebih mendekati Ciara.
"Masih sakit?" tanya Ciara dengan lembut.
"Dah, nanti sampai dirumah lukanya udah gak sakit lagi," tutur Ciara kemudian ia berdiri dari posisi jongkoknya tadi.
"Apa lukanya dalam dok?" tanya Ciara saat dirinya berhadapan langsung dengan dokter yang menangani Yuraa tadi.
"Lumayan dalam. Tapi untungnya saat diperjalanan tadi, luka dia sempat dikasih perban penolong untuk menghentikan darahnya. Jika tidak bisa saja anak ini kehabisan darah saat sampai disini," jelas dokter tersebut.
"Syukurlah kalau begitu, oh ya apa lukanya tadi harus dijahit?" tanya Ciara memastikan.
"Benar dan saya berpesan 1 Minggu lagi, orangtua Yura membawa dia kesini untuk pemeriksaan ulang dan kemungkinan pada saat itu jahitan di lengan Yura akan kami lepas," ucap dokter tersebut. Ciara pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, saya nanti akan sampaikan ke orangtua Yura. Terimakasih Dok, Sus," ucap Ciara yang dibalas anggukan dan senyuman dari kedua wanita didepannya itu.
"Kalau begitu kami permisi dulu Ibu, mari," tutur dokter tersebut sebelum melenggang meninggalkan depan ruang UGD tersebut.
Dan setelah kepergian dokter juga suster tadi, mata Ciara kembali menatap kearah Yura yang tengah memegangi kertas ditangannya.
"Kita duduk dulu yuk, sayang," ajak Ciara sembari menggandeng tangan Yura dan tanpa menunggu persetujuan dari anak perempuan itu, Ciara langsung membawa tubuh Yura ke kursi disamping Al.
"Yura, kenapa tadi nyebrang sembarangan sayang?" tanya Ciara sembari menyelipkan rambut Yura di belakang telinga anak itu saat mereka sudah duduk di kursi tunggu.
"Yura tadi takut karena ada seseorang yang ngejar Yura," jawab Yura dengan suara lirihnya bahkan anak itu kembali menunduk.
"Seseorang yang mengejar kamu? Apa Yura tidak mengenal orang itu?" kini giliran Devano yang buka suara. Yura pun menggelengkan kepalanya.
"Yura sama sekali tidak kenal salah satu orang tadi. Bahkan orang-orang yang jagain Yura dipukul oleh orang itu sampai pingsan," ujar Yura.
"Sebentar, jadi Yura tadi keluar rumah sama suster yang jagain Yura?"
"Bukan tapi orang yang sama seperti dua om itu," ucap Yura sembari menunjuk kearah Doni dan Toni. Devano kini menganggukkan kepalanya paham. Dan dia kini bisa menyimpulkan jika anak perempuan itu bukan anak perempuan sembarangan karena dia masih kecil saja nyawanya sudah diincar oleh orang lain. Atau mungkin anak itu merupakan anak dari salah satu pembisnis sukses seperti dirinya yang selalu dibayang-bayangi oleh lawan bisnis yang iri kepada mereka dan berusaha menjatuhkan bisnis mereka dengan cara melemahkan keluarga mereka atau bahasa yang lebih sadisnya membantai seluruh orang-orang yang berkaitan dengan pemilik bisnis tersebut dan saat si pemilik lengah, mereka akan bergerak untuk melemahkan bisnis mereka yang berakibat bisnis tersebut akan bangkrut dan gulung tikar.
Mengerikan memang dunia bisnis itu, tapi ya itulah resiko yang harus mereka hadapi sebagi seorang pembisnis selain kebangkrutan tentunya. Maka banyak anak pembisnis yang selalu di rahasiakan identitasnya hingga mereka dewasa dan akan menggantikan posisi mereka nantinya agar anak mereka terus terlindungi dari musuh yang terus berkeliaran di luar.
__ADS_1