Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 41


__ADS_3

Doni kini sudah memasuki ruang kerja dokter tersebut yang langsung disambut bau obat-obatan khas masuk kedalam indra penciumannya.


"Ini ponsel saya. Silahkan di pergunakan sebaik mungkin," ucap dokter tadi sembari menyodorkan ponselnya kearah Doni.


Doni kini tersenyum saat dirinya menerima ponsel tadi dari tangan dokter itu. Dan setelah menerimanya, Doni langsung menjauh dari dokter tadi dan segera menghubungi Devano.


Devano yang tengah sibuk dengan berkas-berkas didepannya pun perhatiannya kini teralihkan saat dering telepon terdengar nyaring.


Dan tanpa melihat siapa penelepon tersebut, Devano langsung mengangkat telepon itu begitu saja.


"To the point," ucap Devano saat sambungan telepon tersebut terhubung.


📞 : "Tuan muda sekarang tengah berada dirumah sakit setelah mendapat goresan belati di lengannya dari seseorang," tutur Doni yang langsung membuat Devano menghentikan aktivitasnya.


"Hah? kok bisa? Memangnya kalian tadi kemana, sampai Al bisa kena belati segala? Dan bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Devano sembari berdiri dari duduknya.


📞 : "Maaf tuan, kita sebenarnya juga ingin melindungi tuan muda tapi saya dan juga Toni tidak di beri kesempatan dari lawan untuk melindungi tuan muda. Keadaan tuan muda sekarang jauh lebih baik," jawab Doni.


Devano menghela nafas lega karena kondisi Al baik-baik saja, tapi disatu sisi sifat iblisnya muncul setelah mendengar kabar tersebut.


"Katakan siapa yang berani menyerang kalian dan mencelakai anak saya," ucap Devano dengan tegas bahkan terlihat tangannya kini terkepal erat sehingga membuat otot-otot tangannya terlihat semua.


📞 : "Saya belum tau siapa dalang dari ini semua. Mereka semua yang menyerang kita tidak ada yang angkat suara sama sekali bahkan mereka rela membunuh dirinya sendiri untuk tetap merahasiakan identitas dalang di balik kejadian ini," ujar Doni.


"Sialan. Kenapa kamu baru mengabari soal ini? Kemana alat komunikasi kamu yang saya berikan? Kenapa tidak meminta bantuan? Jika saja kalian tadi kalah dalam kejadian itu, bagiamana dengan nasib Al? Apa kamu juga akan menaruhkan nyawanya?" omel Devano.


📞 : "Saya benar-benar minta maaf tuan karena tidak menjaga tuan muda dengan baik. Awalnya kita juga akan memberikan informasi mengenai kejadian ini kepada tuan tapi sayangnya pihak lawan sudah menghancurkan semua alat komunikasi kita bahkan jam tangan milik tuan muda yang selalu terkoneksi dengan anda tak luput dari penghancuran mereka," jelas Doni.


Devano kini mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Katakan dimana rumah sakit yang Al tempati saat ini?"


📞 : "Nanti biar saya shareloc lokasinya tuan," ujar Doni.


"Baik. Kamu kirim secepatnya, saya tunggu," tutur Devano.


📞 : "Baik tuan," ucap Doni dan setalahnya sambungan telepon tersebut terputus dan tak berselang lama, sebuah pesan masuk kedalam ponselnya yang langsung membuat Devano kini bergerak untuk segera menuju ke lokasi yang sudah di kirimkan oleh Doni tadi.


Tapi sebelumnya ia sempatkan untuk menghubungi sang istri guna untuk menyampaikan kabar tersebut. Jangan tanyakan bagaimana reaksi Ciara saat mendapat kabar bahwa Al terluka, yang jelas dia sangat panik bahkan terdengar heboh sehingga membuat gendang telinga Devano rasanya ingin pecah karena mendengar teriakan histeris dari Ciara. Dan karena dirinya sudah tak kuat lagi, Devano akhirnya memutuskan untuk menutup sambungan telepon dengan sang istri dan memilih melanjutkannya melalui pesan singkat.


Saat Devano sudah bergerak menuju rumah sakit tersebut, berbeda dengan Doni yang hanya bisa pasrah jika nanti ia mendapat amukan dari kedua bosnya itu. Dan dengan langkah lemas, ia mendekati dokter tadi yang sekarang tengah sibuk dengan kertas-kertas di depannya.


"Terimakasih atas pinjaman ponselnya Dok. Untuk biaya pulsanya nunggu bos saya kesini ya Dok. Soalnya dompet saya hilang, gak tau dimana," tutur Doni yang membuat dokter tadi menatap iba kearahnya.


"Anda tidak perlu mengganti uang pulsa saya. Saya hari ini lagi ikhlas menolong Anda. Jadi tidak usah dipikirkan lagi untuk menggantinya. Pikirkan saja nasib anda setelah ini," ucap dokter tersebut yang sepertinya tau akan tekanan batin yang tengah Doni rasakan saat ini.


"Siapa juga yang mengkhawatirkan dirinya. Padahal aku tadi cuma kasihan lihat wajah tertekannya itu. Huh, ternyata di dunia ini masih ada ya laki-laki terlalu percaya diri seperti manusia itu. Dasar," gerutunya sembari menatap punggung Doni yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Doni terus berjalan hingga saat ia sampai di lobi rumah sakit tersebut, langkahnya terhenti saat terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Doni!" Doni kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dan setelah ia tau siapa yang memanggilnya tadi, kepala Doni langsung menunduk, tak berani adu pandangan dengan orang tersebut yang tak lain adalah Devano.


"Maaf tuan, saya---"


"Jangan minta maaf dulu. Antarkan saya ke kamar Al sekarang juga dan setelah itu kamu ceritakan kronologi kejadian tadi," ujar Devano dengan nafas ngos-ngosan.


"Maaf tuan, saya tidak tau kamar inap tuan muda," ucap Doni yang membuat Devano melongo tak percaya.


"Hah? Kok bisa? Emang kamu tadi kemana aja? Astaga," geram Devano.

__ADS_1


"Saya tadi buru-buru mau mengabari tuan. Jadinya saya lupa tanya nomor kamar inap tuan muda," ujar Doni.


Devano kini menepuk keningnya sendiri dan setelah itu ia berlari menuju tempat informasi diikuti Doni di belakangnya.


"Sus, mau tanya pasien atas nama Alsheyrez Devra Rodriguez dirawat di kamar nomor berapa ya?" tanya Devano saat dirinya sudah berhadapan dengan suster dibagian informasi.


"Sebentar ya Pak. Saya carikan dulu," ujar suster tersebut yang diangguki oleh Devano.


"Pasien atas nama Alsheyrez Devra Rodriguez dirawat di kamar nomor 3. Dari sini lurus sedikit terus nanti belok ke kanan," ucap suster tersebut sembari menunjukkan arah kamar yang ia maksud.


"Baik, terimakasih Sus," tutur Devano dan setelahnya ia kembali berlari menuju kamar inap Al.


Dan tak butuh waktu lama akhirnya mereka berdua menemukan kamar tersebut dan tanpa mengetuk pintunya, Devano langsung membuka begitu saja hingga membuat orang-orang yang berada di dalam kamar terperanjat kaget.


Saat pintu itu terbuka lebar, mata Devano langsung menatap kearah Al yang sudah tersadar dari pingsannya.


"Al," ucap Devano kemudian ia berlari dan memeluknya tubuh Al.


"Maafin Papa nak, Papa belum bisa lindungi kamu," ujar Devano dan tak terasa air matanya menetes tanpa ia harapkan.


Al yang merasakan getaran di tubuh sang Papa pun tangannya terulur untuk membalas pelukan dari Devano tadi.


"Papa tidak salah. Papa sudah menjadi seorang ayah yang terbaik untuk Al dan juga Kiya. Al saja tadi yang terlalu teledor, sehingga lengan Al terluka. Semua kejadian hari ini bukan salah Papa, jadi Papa jangan minta maaf lagi. Al baik-baik saja kok," ujar Al sembari mengelus punggung Devano.


Devano kini mengusap air matanya lalu setalahnya ia melepaskan pelukannya itu kemudian ia menatap wajah Al yang masih pucat sebelum akhirnya ia mencium seluruh wajah anak laki-lakinya itu.


"Papa gak sanggup lihat kamu seperti ini nak. Lain kali jika ada seseorang yang berniat jahatin kamu, langsung minta bantuan sama Papa. Jangan asal bergerak sendiri yang berujung akan seperti ini nanti. Dan jika sudah tak memungkinkan lagi buat kamu untuk menunggu bantuan Papa hingga sampai, kamu boleh bergerak buat melawan mereka tapi minta senjata sama Om Toni atau Om Doni dulu. Apa Al mengerti apa yang Papa katakan barusan?" Tanya Devano yang mendapat anggukan dari sang empu.


"Al mengerti Papa. Terimakasih," ujar Al sembari tersenyum. Devano yang melihat senyum Al yang sudah lama tak ia lihat lagi setelah beberapa tahun yang lalu membuat hatinya kini menghangatkan dan seketika Devano mencium kembali kening Al cukup lama. Hingga setelah merasa puas ia melepaskan ciuman tersebut sembari membalas senyuman Al tadi dengan tangan yang bergerak untuk mengusap rambut Al.

__ADS_1


__ADS_2