Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 48


__ADS_3

Yura terus menatap ke sekelilingnya berharap ada seseorang yang datang menolong Al tapi sayangnya tak ada satu orangpun yang melewati lorong tersebut.


Sedangkan Al, anak itu masih saja santai menghadapi para anak nakal itu. Setiap pukulan yang mereka arahkan ke Al, selalu saja bisa Al tangkis dan hindari sembari ia terus berjalan mendekati anak kepala sekolah tadi yang masih berdiri menatap para teman-temannya yang tengah beraksi untuk melukai Al tanpa ada niatan untuk membantu mereka.


Hingga akhirnya Al kini telah melumpuhkan semua teman-teman anak dari kepala sekolah tersebut hanya dalam hitungan menit saja dan kini ia sudah berdiri tepat di depan anak kepala sekolah tersebut.


"Apakah orangtua kamu tidak pernah memberikan uang jajan untuk kamu sampai kamu memalak anak lain? Padahal orangtua kamu termasuk orangtua yang kaya lho, ayah kamu menjadi kepala sekolah disini dan saya yakin gaji kepala sekolah tidak sedikit. Atau jangan-jangan orangtua kamu pelit sehingga kamu tak mendapatkan uang sepeser pun dari mereka. Jika memang benar begitu, kasihan sekali hidup kamu. Dirumah tidak mendapatkan kasih sayang dan perhentian dari keluarga, dan di luar rumah berlagak menjadi preman yang sok berkuasa," ucap Al dengan tatapan tajamnya.


"Diam kamu! Berbicara omong kosong saja. Orangtuaku sangat menyayangiku bahkan apapun yang aku mau selalu mereka turuti," ujar anak kepala sekolah tersebut.


"Oh ya, jika begitu kenapa kamu tadi ingin mengambil uang Yura? Bukankah dengan sikapmu itu, sama saja kamu sudah mencerminkan jika kamu kekurangan uang," tutur Al.


"Aku sama sekali tidak kekurangan uang sepeser pun. Semua itu aku lakukan hanya untuk bermain-main saja dengan dia," ucap anak kepala sekolah itu.


"Bermain-main katamu? Heh menarik sekali caramu bermain," ujar Al dengan senyum miring di bibirnya.


"Kenapa? Kamu mau menggantikan Yura bermain denganku? Oke baiklah. Kalau begitu, jangan salahkan aku jika wajah bengismu itu nanti akan penuh lebam gara-gara tinjuanku," ucap anak kepala sekolah itu dan tanpa aba-aba dia kini melayangkan kepalan tangannya kearah Al.


Al yang sudah membaca pergerakan dari anak itu pun dengan sekali lirikan mata dan kecepatan tangannya, ia berhasil menangkap kepalan tangan tersebut yang hampir saja mengenai pipinya. Dan tanpa rasa ampun, Al memelintir tangan tersebut dan membawanya ke belakang tubuh sang empu.


"Aws, sakit," teriak anak itu.


"Sakit? Saya pikir kamu sudah tidak bisa merasakan sakit sedikitpun," ucap Al.

__ADS_1


"Lepas!" teriak anak itu.


"Oke akan saya lepas, tapi dengan tiga syarat. Pertama kembalikan tas Yura. Kedua minta maaf dengan dia dan yang terakhir jangan pernah menganggu anak-anak lain terutama Yura. Apa kamu bisa memenuhi syarat itu semua?" tanya Al.


"Tidak. Aku tidak akan pernah meminta maaf sama anak itu dan juga tidak akan pernah menghentikan aksiku untuk menganggu anak-anak lain disekolah ini. Kamu harus ingat bahwa aku anak kepala sekolah, jadi kamu tidak bisa apa-apa. Akulah sang penguasa di sekolah ini," ujar anak kepala sekolah tersebut yang baru Al ketahui bernama Henry.


"Oh ya? Kalau kamu penguasa disekolah ini, lawan saya sekarang juga atau setidaknya kamu bisa melepaskan tangan kamu ini," ucap Al yang semakin mengencangkan plintiran tangannya itu.


"Arkkhhhhhhh sakit! Lepas sekarang atau aku teriak biar semua orang tau tindakan kamu ini!" ancam Henry.


"Sudah saya bilang kan tadi, saya akan melepaskan kamu dengan ketiga syarat tadi. Jika kamu masih tidak mau ya jangan salahkan saya jika tanganmu ini patah nanti," ucap Al dengan santainya.


"Ah satu lagi, kalau mau teriak, silahkan. Saya tidak pernah takut sama siapapun di bumi ini tak terkecuali dengan ayah kamu itu," sambung Al.


"Oke kalau begitu jangan salahkan aku juga kalau mulai besok kamu tidak bisa sekolah disini lagi," ujarnya yang dibalas senyum miring dari Al. Dan hal itu ternyata membuat Henry semakin emosi, alhasil setalahnya Henry berancang-ancang untuk berteriak sekuat tenaga.


Tapi belum sempat ia mengeluarkan teriakannya, ayah dari Henry juga beberapa guru tengah berlari kearah mereka.


"Hari baikmu akan segera berakhir," ucap Henry dengan senyumannya. Dan hal itu membuat Al memutar bola matanya malas.


Walaupun ia sudah mengetahui semua guru-guru menuju kearahnya, Al sama sekali tak berniat melepaskan plintirannya tadi.


"Hey lepaskan anak saya!" teriak kepala sekolah tersebut menggema memenuhi lorong tadi.

__ADS_1


Tapi sayangnya teriakan itu hanya di anggap angin lalu oleh Al.


"Saya bilang lepaskan!" bentak kepala sekolah tersebut yang langsung membuat Al menengadahkan kepalanya, menatap wajah kepala sekolah tersebut yang sudah merah padam dengan mata yang melotot.


"Saya akan melepaskan putra anda jika dia tidak mengganggu murid lain disini lagi," ujar Al tanpa rasa takut sedikitpun.


"Papa, Henry tidak pernah menganggu murid disini. Justru anak ini yang tadi melakukan hal itu dan saat Henry ingin menegurnya, justru dia menguyur Henry dengan air comberan, memukul teman-teman Henry dan sekarang dia mau mematahkan lengan Henry," adu Henry dengan air mata buayanya.


"Al, lepasin tangan Henry nak," ucap guru yang menjadi wali kelas Al.


"Baik," ujar Al nurut dan setalah itu ia melepaskan pelintiran tangannya tadi. Namun beberapa saat setelahnya Al langsung meninju pipi Henry dengan sangat keras hingga membuat anak itu terjatuh kelantai.


Semua orang yang ada disana terkejut dengan aksi Al itu. Sedangkan kepala sekolah itu kini ia memutar tubuh Al dan setalahnya ia menampar pipi Al hingga membuat sudut bibir Al mengeluarkan darah segar juga bekas tamparan tadi terlihat jelas di pipi Al.


"Pak Tri! Apa yang kamu lakukan," tutur wali kelas Al tadi sembari menghampiri Al yang terus memandang kearah kepala sekolah tersebut.


"Dia sudah membully anak saya dan kalian tadi bukannya lihat juga kalau anak ini berani-beraninya memukul anak saya tepat didepan mata kita semua," ucap kepala sekolah tersebut sembari menunjuk tepat di wajah Al.


"Kita semua disini memang lihat aksi Al tadi. Tapi setidaknya anda bisa mengontrol tangan anda itu. Harusnya anda sebagai kepala sekolah bisa lebih dingin kepala untuk menangani setiap masalah. Tak terkecuali dengan masalah yang sedang putra anda hadapi saat ini. Bukan langsung main tangan begini! Kalau sampai Al nanti ngomong sama orangtuanya, anda bisa dipenjarakan sama mereka," ujar guru lainnya yang di benarkan semua guru-guru disana.


"Al tidak perlu ngomong atau ngadu sama saya. Karena saya lebih dulu tau ulah kepala sekolah disini yang benar-benar sangat terhormat dan bijaksana tanpa membeda-bedakan muridnya." Suara bariton itu membuat semua orang kini menoleh kearah sumber suara tak terkecuali dengan kepala sekolah tersebut.


Yap, si pemilik suara itu adalah Devano. Ia sebenarnya baru tiba setelah para guru tadi sampai di depan Al. Dan semua kejadian tadi benar-benar terekam jelas oleh Devano, dan hal itu membuat Devano langsung naik pitam. Tapi sayangnya saat dirinya ingin menghampiri kepala sekolah tadi dan membalas tamparan di pipi Al tadi, lengannya dicegah oleh Bian yang juga ikut ke sekolah tersebut. Karena Bian saat itu tengah merekam semua kejadian disana untuk bukti jika Devano nanti akan membawa kasus ini ke pihak berwajib.

__ADS_1


__ADS_2