Young Mother

Young Mother
Hukuman dan Penyesalan


__ADS_3

Setelah hampir 3 jam akhirnya emosi Devano telah mereda dan kini ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Tapi sebelum ia pergi dari kantor tersebut, ia lebih dulu menghampiri Hisna yang berada di dalam ruangan dengan terus mondar-mandir disana.


Ceklekk!!


Pintu ruangan Hisna dibuka tanpa permisi oleh Devano dan hal itu membuat kaki Hisna berhenti melangkah dan tubuhnya seketika menengang saat melihat wajah Devano yang muncul dari balik pintu.


"Batalkan semua jadwal saya untuk hari ini," ucap Devano yang langsung diangguki oleh Hisna setelah itu Devano kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Bara.


Dan lagi-lagi, tanpa permisi Devano membuka pintu ruangan tersebut dan ia langsung bersuara hanya dengan kepalanya saja yang muncul dicela pintu terbuka tersebut.


"Nitip kantor untuk hari ini. Kalau ada apa-apa panggil Hisna langsung," tutur Devano dan tanpa mendengar persetujuan dari Bara, Devano lebih dulu menutup pintu ruangan tersebut. Dan hal itu membuat sang empu hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari mengelus dadanya.


"Sabar." Hanya satu kata yang terlontar dari mulut Bara saat ini. Ia ingin protes tapi Devano adalah bos di tempatnya bekerja. Jadi ia hanya bisa bersabar saja, siapa tau bosnya itu bisa lebih baik lagi ketika ingin masuk kedalam ruangan orang lain setidaknya dengan mengabari lewat pesan kalau tangannya tak sanggup untuk mengetuk pintu. Tapi ya sudahlah yang punya kantornya juga.


Saat Bara tengah meratapi nasibnya, berbeda dengan Devano yang sekarang sudah berada didalam mobil yang sudah mulai melaju menuju ke markas miliknya untuk segera bertemu dengan Lidya dan memberi pelajaran kepada wanita itu.


Dan butuh waktu 1 jam akhirnya mobil Devano sudah memasuki parkiran markas tersebut. Tak ingin mengulur waktu lagi, Devano segera turun dari mobilnya dan berjalan dengan langkah lebar memasuki markas tersebut. Banyak anak buahnya yang melihat Devano berkunjung ke markas, mereka selalu menyapa Devano dengan senyum ramahnya yang sesekali Devano balas dengan senyum ataupun anggukan saja.


"Bos," teriak salah satu anak buahnya itu saat Devano ingin menaiki tangga dimarkas tersebut.


Devano mengerutkan keningnya kemudian ia memutar tubuhnya menghadap anak buahnya tersebut.


"Maaf sebelumnya bos. Saya disini hanya untuk menjalankan tugas saya dari bang Nando untuk memberitahu bos jika Nona Lidya kini tengah berada di ruangan bawah tanah di pintu nomor dua," ucap anak buah Devano tadi. Devano menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya akan kesana setelah ini," ucap Devano setelahnya ia kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga hingga ia sampai di dalam suatu kamar yang memang ia gunakan untuk dirinya sendiri.


Ia segera melepas pakaian formalnya kemudian menggantinya dengan pakaian biasa yang selalu ia gunakan untuk mengeksekusi tawanannya atau hanya sekedar melihat kondisi tawanannya itu. Ia memang sengaja mengganti pakaiannya dengan pakaian-pakian yang sudah tersedia disana karena ia tak ingin jika dia nanti menyentuh tawanannya yang sudah pasti bersimbah darah, darahnya tak sengaja mengenai pakaian yang sebelumnya ia pakai dari rumah pribadinya. Jika ia sampai teledor melakukan kesalahan itu, ia takut Ciara atau Al akan mengetahui sisi gelap didalam dirinya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Devano segera turun lagi kebawah dan langsung menuju ruang bawah tanah.


Lagi-lagi banyak anak buahnya yang memberikan hormat kepada Devano saat dirinya baru memasuki ruangan tersebut. Dan lagi-lagi Devano hanya menganggukkan kepalanya karena fokusnya sekarang berada di titik dimana Lidya berada saat ini.


Kepala Lidya terus menunduk dengan borgol yang berada di tangannya ditambah sebuah rantai yang mengikat kakinya. Devano dengan gagahnya mendekati Lidya yang membuat tubuh wanita itu bergetar hebat. Ia belum siap untuk mati sekarang, masih banyak tanggungjawab yang harus ia selesaikan. Adik-adiknya yang harus ia sekolahkan, biaya rumah sakit ayahnya juga makanan untuk menghidupi keluarganya. Jika dirinya mati sekarang bagaimana nasib keluarganya yang bergantung hidup dengan dirinya. Mungkin jika ia dipecat dari perusahaan Devano, ia masih bisa mencari pekerjaan di lain tempat walaupun ia sudah tak bisa kerja kantoran lagi karena ia yakin semua perusahaan sudah memblacklist dirinya karena menurut semua perusahaan jika mantan karyawan dari perusahaan milik Devano telah di pecat maka orang itu mereka anggap tak becus dalam berkerja.


"Lepas borgol dan rantainya!" perintah Devano.


Dua anak buahnya yang selalu berdiri di belakang Lidya pun segera bergerak membuka borgol dan rantai yang sedari tadi Lidya pakai. Setelah semuanya terbuka, Lidya langsung bersujud di bawah kaki Devano.


"Berdiri! saya bukan tuhan kamu. Tak perlu kamu sembah seperti ini! berdiri sekarang atau saya tendang muka kamu!" tutur Devano dengan tegas. Ia paling benci ada seseorang yang bersujud di bawah kakinya. Karena ia bukan tuhan yang pantas mereka sembah.


Lidya yang takut akan ancaman Devano kini dengan cepat ia berdiri dari sujudnya tadi.


"Kamu tau kesalahan kamu dimana?" Lidya menganggukkan kepalanya.


"Sekali lagi saya mohon maaf Pak."


"Maaf kamu sudah tak ada gunanya. Apa dengan cara mohon maaf, mental Al akan kembali seperti semula?" Lidya tertegun. Ia tak menyangka dampak dari pembuatnya itu sampai ke mental Al yang notabenenya anak cerdas itu.

__ADS_1


"Tidak bukan. Lalu apa yang harus saya maafkan atas kejadian ini? jika mental anak saya saja masih diombang-ambingkan. Kamu sudah bekerja dengan saya bertahun-tahun. Kamu hampir tau pribadi saya bagaimana. Dan kamu pun juga tau cara saya menghukum seseorang yang salah. Tapi kenapa justru kamulah yang sekarang akan merasakan hukuman itu? Saya tak habis pikir dengan kamu. Jika pada waktu itu kamu memikirkan hal ini dengan otak, saya yakin kamu tak akan melakukan hal itu dan malah kamu akan laporkan ancaman dari Tiara itu ke saya. Saya justru akan melindungi keselamatan keluarga kamu dan juga kamu pribadi tentunya," tutur Devano panjang lebar. Dan ini menjadi perkataan terpanjang yang pernah Lidya dengar sebelumnya. Ia pun juga merasa menyesal setelah dengan bodohnya ia dulu tak langsung lapor ke Devano dan dengan bodohnya ia malah luluh akan ancaman yang diberikan oleh Tiara.


"Jadi katakan hukuman apa yang mau kamu rasakan?" tanya Devano. Lidya hanya terdiam tak menjawab pertanyaan dari Devano.


1 menit hingga 2 menit Devano menunggu jawaban dari wanita didepan itu pun berdecak sebal sebelum ia bersuara kembali.


"Sini kamu!" perintah Devano dan dengan perlahan Lidya mendekati Devano. Ia benar-benar pasrah sekarang akan tindakan apa yang harus ia tanggung saat ini.


"Ambilkan pisau," titahnya kepada anak buahnya. Anak buahnya pun langsung bergerak mengambil pisau yang tertata rapi di didinding ruangan tersebut. Sedangkan Lidya sekarang tengah berdebar, otaknya seakan terus memikirkan masa depan keluarganya setelah ia meninggal nantinya.


"Kemarikan tangan kamu!" ucap Devano setelah anak buahnya tadi memberi dia sebuah pisau tajam kepadanya.


Lidya menatap mata Devano sebentar tapi kemudian ia menunduk lagi sembari menggelengkan kepalanya.


"Kamu serahkan sendiri tangan kamu atau saya paksa dan langsung saya potong tangan kamu hmmm." Lidya semakin menggelengkan kepalanya dan dengan cepat ia mengulurkan tangannya di hadapan Devano. Dengan sigap Devano meraih tangan Lidya dan langsung menyayat telapak tangan wanita tersebut dari ujung telapak tangan bagian bawah hingga ujung jari tengah.


Lidya mengigit bibir bawahnya saat merasakan perih yang luar biasa.


Setelah Devano selesai melukis kedua telapak tangan Lidya. Ia langsung mengembalikan pisau tadi ke anak buahnya.


"Itu hukuman untuk kamu. Saya masih berbaik hati untuk tak membunuh kamu karena pada waktu itu kamu juga yang telah membantu kami menemukan titik rumah itu dengan tepat menggunakan nomor baru. Dan setelah ini obati luka kamu, untuk kedepannya kamu tak perlu bekerja lagi di perusahaan saya karena saya akan mengirim kamu ke luar negeri untuk pengobatan ayah kamu. Sekaligus kamu juga akan bekerja di perusahaan saya disana. Masalah tempat tinggal, semuanya sudah beres tak perlu kamu pusingkan hal itu. Karena saya yakin setelah ini banyak orang yang juga mencari kamu dan keselamatanmu juga akan terancam. Anggap saja perpindahan kamu itu sebagai ucapan terimakasih saya karena kamu secara diam-diam membantu proses pencarian Al. Tapi jika kamu ulangi lagi kesalahan kamu ini, saya tak akan segan-segan untuk membunuh kamu saat itu juga. Mengerti!" Lidya dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih Pak terimakasih," ucap Lidya. Ia sekarang benar-benar kecewa dengan dirinya saat ini. Karena ia sudah dengan tega mengkhianati bosnya sendiri dan setelah kesalahannya yang ia lakukan dengan baik hati bosnya itu hanya menghukum dirinya dengan hukum yang ringan.

__ADS_1


Lidya memang orang yang mengirim pesan kepada Devano saat itu setalah dirinya pergi dari rumah itu. Padahal hanya sepele saja yang ia lakukan dibandingkan kelakuannya tapi lagi-lagi dengan baik hatinya Devano memaafkan kesalahannya begitu saja dan malah membantu dirinya untuk mengobati penyakit ayahnya. Ya Tuhan, dia benar-benar menyesal sekarang.


__ADS_2