
Beberapa hari setelah mereka berdua ke rumah pohon, dari situlah awal mula mereka kini semakin dekat satu sama lain. Bahkan jika di suatu tempat ada Al disitu pasti ada Yura, begitu juga dengan sebaliknya. Dan selama beberapa hari itu juga tak ada lagi tanda-tanda pengganggu yang melancarkan aksinya untuk mencelakai Yura seperti sebelumnya. Bahkan kedua pasangan orangtua dari kedua anak itu juga merasa aneh akan hal tersebut.
"Kalian berdua yakin kalau kamera dan penyadap suara itu terpasang dengan baik dan benar. Tidak ada yang salah sama sekali?" tanya Ciara yang juga curiga kenapa orang yang mereka curigai tak kunjung memunculkan idenya lagi.
"Apa anak buahmu itu benar-benar bisa di andalkan? Dan tidak akan mengkhianati kita?" kini giliran Franda yang bersuara dan pertanyaannya tadi ia tunjukkan kepada suaminya.
"Aku yakin 100% jika anak buahku yang aku suruh buat masang peralatan itu tidak akan pernah mengkhianati kita semua," ujar Bian.
"Darimana kamu tau jika dia tidak mengkhianati kita? Jangan terlalu percaya diri dulu, karena jaman sekarang tuh orang yang justru kita percayai 100% bahkan 1000% adalah orang yang akan menikam kita dari belakang," tutur Franda.
"Tapi kalau yang ini aku jamin gak akan mengkhianati kita sayang. Karena hidup dan mati keluarganya berada di tanganku. Biaya rumah sakit ibunya masih aku tanggung dan jika dia berani mengkhianati kita, aku stop biaya rumah sakit ibunya. Bahkan aku juga bisa membunuh dia tanpa menyentuh tubuh dia sedikitpun," ujar Bian.
"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi jika ada apa-apa sama Yura, kamu yang akan aku bunuh nanti," tutur Franda diakhiri dengan ancamannya.
"Kamu tenang saja sayang. Yura tidak akan kenapa-napa lagi," ucap Bian penuh dengan percaya diri.
"Sudah-sudah bertengkarnya. Kita sekarang fokus ke permasalahan ini. Coba kalian lihat rekaman kamera yang terkoneksi ke laptop kita masing-masing. Jika kalian menemukan adanya kejanggalan, langsung beritahu satu sama lain," tutur Devano menyela pembicaraan dari pasutri tadi.
Dan setelah ucapannya tadi, kini ketiga orang itu sudah kembali fokus dengan layar laptop mereka masing-masing.
Selang beberapa menit telah berlalu dengan kesunyian yang menemani mereka berempat, akhirnya kesunyian itu terpecahkan juga dengan suara Ciara yang tiba-tiba mengintruksi mereka semua yang ada di ruang kerja Devano.
"Sepertinya aku melihat sesuatu yang janggal dari rekaman ini," ucap Ciara.
__ADS_1
Ketiga orang tadi kini merapatkan tubuh mereka ke tempat Ciara.
"Kejanggalannya dimana?" tanya Devano.
"Bentar aku ulang dulu rekamannya," ujar Ciara sembari memutar kembali rekaman di laptopnya itu.
"Pada menit ke 3:48, aku melihat jika salah satu art di rumah itu tengah menatap ke kamar kita. Dan aku rasa art tadi mulai resah dan berakhir memberitahu atasannya," ujar Ciara.
"Tapi sepertinya art itu tidak sadar jika kamera itu milik kita. Dan tidak mencurigainya sama sekali karena aku yakin di rumah Omku itu juga banyak sekali kamer tersembunyi. Atau jangan-jangan saat anak buah Bian masuk kedalam dan memasang peralatan itu, semua gerak-geriknya sudah tertangkap kamera dari Omku. Jadi Om ku sudah antisipasi terlebih dahulu sebelum kita bergerak untuk memergoki dia," tutur Franda yang masih bisa di nalar oleh pikiran mereka.
"Hmmm, sepertinya apa yang kamu katakan tadi ada benarnya juga. Tapi apakah anak buah kamu yang menjadi mata-mata disana aman semua?" tanya Devano.
"Aman. Dan kata mereka, tak ada satupun orang yang mencurigai mereka sebagai mata-mata kita," ucap Bian.
"Apa mungkin yang berniat melenyapkan Yura itu bukan Omnya Franda melainkan orang lain yang entah itu dekat dengan kalian atau justru yang jauh dari kalian?" tanya Devano.
"Aku rasa tidak. Karena selama ini kita tidak pernah mencari masalah dengan orang lain jika orang itu tidak mengganggu kita terlebih dahulu. Dan aku tetap yakin jika pelakunya memanglah keluarga yang gila harta itu," ujar Bian kekeuh dengan instingnya.
"Dan apa kalian tidak curiga, setelah kita bergerak dan memasang kamar dan penyadap suara itu, juga saat Yura sudah tidak diantar jemput dengan anak buah dari keluargaku melainkan selalu bersama dengan Al, dalang dari semua kejadian itu tidak bergerak lagi? Semuanya aman-aman saja seperti yang kita lihat di rekaman kamera ini yang tak menangkap sesuatu yang sangat-sangat mencurigakan. Dan hal ini juga bisa di simpulkan bahwa memang Omnya Franda itu menjadi pelaku atau dalang dari semua ini. Dan karena dia tau dia sekarang tengah diawasi kita, jadinya dia tidak berani bergerak untuk melukai Yura kembali," tutur Bian panjang lebar.
"Dan bisa jadi juga kalau dia sebenarnya tengah merencanakan sesuatu yang jauh dari nalar kita semua, di suatu tempat yang tersembunyi. Dan bisa jadi rencananya kali ini lebih ekstrim lagi dari sebelumnya," sambung Bian.
"Jadi yang bisa kita lakukan kali ini hanya menjaga Al dan Yura seketat mungkin. Jangan sampai kita teledor yang akan berakibat fatal nantinya. Dan salah satu cara lainnya untuk memastikan ini semua, kita harus mempersiapkan seseorang untuk mengikuti kemanapun orang itu pergi. Tapi mengikuti dia secara diam-diam dan kalau bisa sampai dia tidak mencurigai bahwa kita melakukan hal itu," tutur Bian lagi.
__ADS_1
"Hmmmm sepertinya ide kamu itu perlu kita coba. Tapi untuk mata-mata yang super profesional dan yang dapat dipercaya, kita carinya dimana?" tanya Devano.
"Kalau masalah itu biar aku yang cari. Kamu tetap pantau perkembangan dari rekaman itu siapa tau ada tanda-tanda yang kalian dapatkan," ujar Bian sembari berdiri dari duduknya.
Franda yang melihat suaminya ingin beranjak dari tempat tersebut pun dengan cepat ia mencekal lengan Bian.
"Mau kemana?" tanya Franda.
"Cari mata-mata profesional lah, memangnya mau kemana lagi?" jawab Bian.
"Ck, maksudku itu, kenapa kamu harus cari susah-susah sih kalau disini sudah ada seorang mata-mata profesional," ujar Franda yang membuat Devano dan Ciara kini mengerutkan keningnya.
"Siapa orangnya yang kamu maksud itu?" tanya Ciara.
"Aku sendiri orangnya," jawab Franda lalu untuk menyakinkan mereka bertiga, Franda kini mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
Dan setelah mendapatkan apa yang dia cari, ia langsung mengeluarkan benda tersebut dan menaruhnya di atas meja di depannya.
Ketiga orang tadi kini menatap kartu tadi dan sesaat setelahnya mereka menatap kearah Franda yang tengah terduduk santai di depan mereka. Bahkan saking terkejutnya, Ciara sampai menutup mulutnya yang tengah melongo itu.
"Kamu?" ucap Bian sembari menunjuk kearah Franda.
"Apa? Makanya kalau punya istri itu di telusuri seluk beluknya sampai akar-akarnya. Jadinya biar gak kaget saat tau kenyataannya seperti saat ini. Dan ya, pekerjaanku selama ini adalah agen mata-mata rahasia. Bahkan apa yang kalian lakukan dimasa lalu sudah aku ketahui semuanya. Terutama kamu, sayang," tutur Franda dengan mengelus lengan sang suami. Tapi gerakannya saat ini juga membuat Bian merinding disko, takut-takut jika dia akan di musnahkan saat itu juga oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi kalian perlu ketahui jika aku sudah pernah menelusuri kasus Yura ini, dan hasilnya nihil. Tidak ada titik terang sama sekali dari kasus ini. Tapi tenang saja kali ini aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan dalang dari permasalahan ini," ujar Franda menggebu-gebu.