
Devano dan Ciara sekarang hanya bisa memantau Kiya dari kejauhan saat sang anak tengah bermain dengan hewan peliharaan barunya.
"Ayo lari lagi," ucap Kiya sembari menyeret tali yang terhubung dengan leher bebek tersebut. Dan hal yang ia lakukan itu membuat bebek tadi berkali-kali terjungkal karena ulah Kiya.
"Aku yakin itu bebek gak akan bertahan hidup satu hari," ujar Devano.
"Ya gimana mau tahan hidup kalau lehernya di tali begitu mana di seret-seret pula. Siapa sih yang kasih ide kayak gitu tadi?" tanya Ciara.
"Siapa lagi kalau bukan bodyguard gilanya Al itu," ujar Devano. Ciara yang paham akan siapa yang di maksud oleh Devano itu pun ia hanya bisa menghela nafas berat. Kalau sudah dua bodyguard itu yang beraksi, maka tak perlu heran lagi.
Mereka berdua terus menatap Kiya hingga akhirnya anak perempuan itu menghentikan aksi lari-larian dan kini ia melangkahkan kakinya menuju kearah kedua orangtuanya dengan kerucutan di bibirnya dan membiarkan bebek tadi terkulai lemas di halaman rumah tersebut.
"Kenapa bibirnya begitu hmmm?" tanya Devano saat sang anak sudah berdiri didepannya.
"Kiya tidak suka bebek. Bebek gak bisa lari cepat. Kiya mau ganti peliharaan aja," ujar Kiya.
"Ya udah, Kiya mau ganti hewan apa hmm?" tanya Ciara sembari mengelus kepala Kiya.
"Mau pelihara kucing saja lah," ujar Kiya.
"Yakin mau pelihara kucing?" tanya Devano memastikan.
"Iya. Tapi kucing yang bulunya banyak," ucap Kiya.
"Baiklah nona muda. Papa nanti belikan, sekarang kamu pergi mandi, setelah mandi nanti apa yang kamu inginkan sudah ada di rumah ini," tutur Devano yang membuat anak perempuannya itu kini tersenyum kembali.
"Terimakasih Papa. Papa memang yang terbaik," ujar Kiya sembari memeluk kaki Devano.
"Sama-sama sayang. Sekarang Kiya mandi sana. Dan habis ini jangan minta ganti hewan peliharaan lagi, Kiya mengerti?" Kiya tampak menganggukkan kepalanya. Lalu setalahnya ia melenggang pergi dari hadapan kedua orangtuanya. Tapi sebelum Kiya menaiki anak tangga, anak perempuan itu menghentikan langkahnya kemudian ia menatap kearah kedua orangtuanya.
"Untuk bebek itu, goreng aja. Nanti biar di jadiin lauk untuk kucing baru Kiya. Biar tau rasa bebeknya. Siapa suruh jadi bebek lemah, tidak mau di ajak lari-larian," ujar Kiya. Dan tanpa menunggu persetujuan dari kedua orangtuanya tadi, ia melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Sedangkan Devano dan Ciara kini mereka saling pandang satu sama lain. Lalu dengan kompak mereka menatap kearah bebek tadi yang sepertinya tengah kesakitan.
"Bebek yang malang," ucap Ciara dan Devano secara bersamaan.
Dan setelah mengucapkan hal tadi, mereka berdua langsung berpencar ke arah yang berbeda. Devano ke arah luar rumah untuk mencari bodyguard untuk ia suruh lagi, sedangkan Ciara, ia memilih untuk menyusul anak perempuannya itu.
Saat ketiga anggota keluarga itu tengah heboh, berbeda dengan Al yang kini ia tengah menatap kearah jalanan dari balkon kamarnya. Dan kini dahinya berkerut saat matanya tak sengaja menatap kearah seorang anak perempuan yang sudah tak asing lagi baginya. Dan perempuan itu kini tengah memasuki lingkungan rumahnya.
"Mau apa dia kesini?" tanya Al dengan dirinya sendiri tanpa mengalihkan pandangannya dari Yura hingga tubuh anak itu menghilang dari pandangannya.
Yura yang baru menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut pun langsung mendapat sambutan hangat dari Devano.
"Eh Yura, sejak kapan disini nak?" tanya Devano. Yura tersenyum lebar kearah Devano.
"Yura baru aja sampai Uncle," ujar Yura.
"Begitu rupanya. Oh ya, Yura kesini pasti mau ketemu sama Al kan?" Yura tampak menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Ya sudah kalau gitu, uncle kasih tau. Saat kamu sampai di atas nanti, kamar Al berada di pintu nomor 2 disebelah kanan. Di depan pintunya ada namanya kok. Jadi Yura gak akan kesusahan cari kamar Al," ujar Devano.
"Baiklah kalau begitu Yura keatas dulu. Terimakasih uncle sudah mengizinkan Yura ke kamar Al," tutur Yura yang diangguki oleh Devano lalu setalahnya Devano mempersilahkan Yura untuk segera naik keatas.
Dan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Devano tadi, Yura kini mencari pintu kamar yang beratas namakan Al di pintu tersebut. Dan setelah ia menemukannya, Yura segera mengetuk pintu tersebut berulangkali hingga akhirnya pintu tersebut terbuka dan menampilkan Al di balik pintu tersebut.
"Kenapa?" tanya Al tanpa ekspresi.
"Hmmmm, Yura kesini mau ngasih ini ke Al," ucap Yura sembari menyodorkan sebuah paper bag kearah Al.
Al mengerut keningnya saat melihat paper bag tadi. Dan bukannya ia langsung menerima paper bag tadi, ia sekarang justru membuka pintu kamarnya dengan lebar.
"Masuk," ucapnya.
__ADS_1
"Yura boleh masuk?" tanya Yura memastikan dan pertanyaannya itu hanya di jawab deheman oleh Al saja.
"Kamu yakin?" tanya Yura lagi dan hal itu membuat Al kini berdecak sebal.
"Masuk sekarang sebelum pintu ini aku tutup lagi, dan pemberian kamu itu tidak akan pernah aku terima sama sekali," ujar Al yang langsung membuat Yura bergerak dengan cepat untuk masuk kedalam kamar tersebut.
Dan setelah Yura masuk kedalam kamar tersebut, Al langsung menutup pintu itu kembali.
Dan tanpa sepatah katapun, Al berjalan dan mendudukkan tubuhnya di atas karpet bulu di kamar tersebut.
Yura yang melihat hal itu pun segera melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Al tadi. Lalu setelah ia duduk disamping Al, ia menaruh paper bag tadi di depan Al.
"Tolong di terima ya. Karena cuma ini yang bisa Yura lakukan untuk berterimakasih dengan Al yang selama ini udah bantu Yura kalau Yura tengah mendapat masalah," ujar Yura yang lagi-lagi hanya dibalas dengan deheman oleh Al.
"Al tidak mau buka pemberian Yura sekarang?" tanya Yura karena ia sangat ingin melihat ekspresi wajah Al saat sang empu tau isi didalam paper bag itu.
"Nanti saja," ujar Al yang membaut Yura seketika melunturkan senyumnya.
"Oh oke," ucap Yura dengan wajah tertunduk lesu. Dan hal tersebut tak lepas dari perhatian Al. Hingga akhirnya Al kini bergerak mengambil paper bag tadi dan mulai melihat isi didalamnya.
Yura yang mendengar pergerakan dari paper bag tadi dengan cepat ia menegakkan kepalanya kembali.
Sedangkan Al yang sudah tau isi didalam paper bag tersebut, lagi-lagi ia mengerutkan keningnya.
"Ini," ucap Al sembari mengangkat sebuah buku yang diberikan oleh Yura tadi.
Yura tersenyum sembari mengangguk.
"Waktu itu kan Al ingin beli buku itu kan. Tapi Al lebih memilih mengalah dan memberikan buku itu ke Yura. Dan perlu Al tau, setalah Al pergi dari toko buku itu, Yura selalu tak tenang karena menurutku, Yura lah yang merebut buku itu dari Al padahal Al yang lebih dulu tau buku itu. Jadi dari pada Yura kepikiran terus, mending Yura kasih buku itu ke Al, sekaligus untuk berterimakasih ke Al. Tenang aja, buku itu masih baru kok, belum Yura buka segelnya," ujar Yura dengan jujur.
Tapi kejujurannya itu justru membuat Al langsung memasukkan kembali buku tadi kedalam paper bag dan menyerahkannya kembali di hadapan Yura.
__ADS_1