Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 7


__ADS_3

Al kini menatap wajah orang tersebut yang sekarang tengah menangis sembari memegang lengannya. Al yang belum tau jika orang tersebut terluka pun ia mengerutkan keningnya.


"Kenapa menangis? Kamu sudah tidak apa-apa. Sudah aman sekarang," tutur Al dengan ekspresi wajah datarnya.


Orang tadi kini menengadahkan kepalanya menatap wajah Al.


"Sakit hiks," ucapnya sembari memperlihatkan luka berdarah di lengannya tersebut.


Al kini membelalakkan matanya saat melihat luka tersebut yang cukup parah. Tapi beberapa detik berikutnya ia kembali menetralkan wajahnya kembali.


"Ikut aku," ucap Al yang lagi-lagi menarik pergelangan tangan orang tersebut.


"Hiks gak mau. Aku harus pulang sekarang!" berontak orang tersebut.


Al kini menghentikkan langkahnya dan menoleh kearah orang tersebut dengan tatapan tajamnya.


"Bisa diam tidak? tinggal ikut aku ke rumah sakit sebentar buat ngobatin luka kamu, apa susahnya? Nanti kalau sudah berobat juga kamu bakal pulang. Aku pun juga gak punya niatan buat nyulik kamu, kurang kerjaan sekali jika sampai hal itu aku lakukan. Jadi sekarang diam dan kita kerumah sakit dulu," ucap Al tanpa mau mendengarkan penolakan dari orang tadi.


Sedangkan orang itu yang notabenenya anak perempuan akan merasa takut saat berhadapan dengan Al. Dan kini ia mau tak mau menuruti ucapan dari Al dengan hati yang selalu berdoa agar yang dikatakan anak laki-laki yang bersamaan itu bukan hanya bohongan semata.


Dan saat mereka berdua akan kembali menyebrangi jalanan tersebut, mobil yang ditumpangi oleh dua bodyguard pribadi Al pun mendekatinya. Lalu saat sudah berada di depan tuan muda mereka, Doni turun dari mobil tersebut kemudian membukakan pintu untuk tuan muda dan orang yang ia tolong tadi.


Setelah semuanya masuk barulah Doni kembali ke posisinya.


"Om, kerumah sakit dulu ya," ucap Al.


"Lho tuan muda ada yang luka kah?" tanya Doni dengen khawatir.


"Bukan aku tapi dia," jawab Al sembari melirik sekilas kearah anak perempuan yang sekarang sudah tak menangis lagi tapi sesekali ia meringis menahan rasa perih di lengannya itu.


Doni dan Toni kini keduanya dengan kompak melihat kearah anak perempuan tersebut lebih tepatnya kearah lengannya.

__ADS_1


"Tuan muda bisa tidak buat balut lukanya dengan sapu tangan ini dulu. Biar darahnya berhenti ngalir," ucap Toni yang sudah mengulurkan sebuah sapu tangan kearah Al. Ia tak tega saat melihat luka di lengan anak perempuan itu. Tapi ajaibnya anak itu tak meraung kesakitan seperti anak-anak lainnya yang hanya lecet saja sudah meraung-raung seakan-akan ia terluka parah, tapi dia termasuk kedalam anak perempuan yang tahan akan rasa sakit yang ia rasakan.


"Kalau tuan muda tidak bisa biar saya saja yang bantu nona ini buat balut lukanya," timpal Doni saat tak kunjung mendapat respon dari Al.


Tapi belum juga Doni bergerak, Al lebih dulu mengambil sapu tangan tadi.


"Aku bisa. Sekarang mulai jalan kerumah sakit!" ujar Al yang langsung dituruti oleh kedua bodyguardnya. Tapi tanpa Al sadari, Toni dan Doni saat mereka memutar badannya menghadap ke depan, senyum keduanya tercetak jelas di wajah mereka.


Bibir mereka ingin sekali menggoda tuan mudanya itu tapi sepertinya situasi saat ini tak mendukung untuk melakukan hal itu sehingga lebih baik mereka mengurungkan niatnya dan mungkin setelah anak perempuan itu pergi barulah mereka akan menggoda Al.


Mobil itu terus melaju menuju kerumah sakit terdekat dengan Al yang tengah sibuk membalut luka di lengan anak perempuan tersebut dengan sesekali ia ikut meringis saat sang empu merintih kesakitan.


"Udah selesai. Lain kali kalau mau nyebrang lihat kanan kiri dulu," ucap Al.


"Maaf," tutur anak perempuan tersebut dengan kepala yang lagi-lagi ia tundukkan.


"Oh ya, Om jangan ada yang bilang tentang kejadian tadi ke Mama ataupun Papa. Pokoknya jangan lapor apa-apa ke mereka berdua. Dan masalah biaya rumah sakit dia, Al pinjam uang Om, nanti kalau udah sampai rumah Al ganti," tutur Al.


"Stop. Didalam kamus aku gak ada kata tapi lagi. Semua yang aku ucapkan tadi, aku gak butuh bantahan sama sekali," ucap Al yang sudah jengah mendengarkan kata tapi yang keluar dari bibir orang-orang disekitarnya saat ingin menimpali ucapannya itu.


Doni dan Toni kini hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Baiklah kalau begitu. Kita tidak akan lapor ke tuan dan nyonya tapi kalau beliau tau sendiri dan nyalahin kita berdua. Tuan muda harus siap bantu kita," ucap Doni.


"Iya. Nanti aku bantu kalau Om dapat masalah," ucap Al.


Setelah percakapan tadi, tak ada lagi pembicaraan didalam mobil tersebut hingga mobil itu berhenti disalah satu rumah sakit.


"Turun," perintah Al kepada anak perempuan tersebut saat Doni sudah membukakan pintu tepat disamping anak perempuan tadi.


"Biar saya bantu nona," ucap Doni sembari mengangkat tubuh anak perempuan tersebut.

__ADS_1


Setelah anak itu keluar barulah Al juga ikut turun dari mobil dan kini keduanya diikuti oleh Doni dan Toni masuk kedalam rumah sakit tersebut.


Sedangkan para bodyguard lain, kini mereka memilih untuk tetap di dalam mobil mereka agar tak ketahuan oleh tuan mudanya.


"Beritahu tuan dan nyonya," perintah salah satu bodyguard yang terus memperhatikan keempat orang tadi, yang langsung di turuti oleh temannya yang duduk disampingnya.


Jari-jemari dari bodyguard tersebut segera mengetik sebuah pesan dan setelah selesai ia mengirimkan pesan tersebut kepada tuan besar mereka.


Disisi lain Devano, Ciara juga Kiya masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing lebih tepatnya Kiya yang tak beranjak sedikitpun dari depan televisi sedangkan Devano, ia juga tak beranjak dari samping Ciara bahkan tangannya masih melingkar di tubuh Ciara dengan sesekali ia mencuri ciuman dari sang istri. Dan saat ia menikmati keromantisan yang semakin hari semakin sulit ia dapatkan kecuali anak-anaknya telah tertidur atau mempunyai kesibukan lainnya, tiba-tiba saja harus terganggu saat ponselnya berbunyi yang membuat ia berdecak sebal tapi tangannya segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Ia mengerutkan keningnya saat nama bodyguardnya terlihat di layar ponselnya. Tak menunggu lama, Devano kini membuka pesan tadi dan dengan reflek ia berteriak saat sudah selesai membaca pesan tadi.


"Astaga!" teriaknya yang membuat Ciara maupun Kiya terperanjat kaget.


"Aduh Papa. Kenapa teriak-teriak sih, Kiya kan jadi kaget," ucap Kiya.


"Maaf sayang maaf. Papa refleks tadi," ujar Devano. Kiya mencebikkan bibirnya kemudian ia kembali fokus menatap ke layar televisi tak peduli lagi dengan percakapan kedua orangtuanya.


Ciara yang penasaran pun kini ia melirik kearah ponsel Devano tapi sayangnya ia tak bisa melihat isi didalam ponsel tersebut.


"Ada apa sih? sampai kamu heboh kaya gitu?" tanya Ciara. Devano kini menatap Ciara dengan harapan istrinya itu tak marah besar saat ia mengatakan isi pesan tadi.


"Itu sayang. Aku tadi dapat pesan dari anak buah yang kamu utus jika Al sekarang lagi dirumah sakit," ucap Devano yang langsung membuat mata Ciara terbuka lebar.


"Apa!" teriak Ciara yang lagi-lagi mengusik ketenangan Kiya.


"Ya ampun. Tadi Papa yang teriak sekarang Mama sampai Kiya mau nonton kartun aja keganggu terus. Sebel ih," ucap Kiya diakhiri dengan ia memasukan makanan ringan ke mulutnya. Ciara yang mendapat omelan dari anak perempuannya pun kini ia tersenyum canggung.


"Maaf sayang maaf ya. Lanjutin nontonnya," ucap Ciara yang membuat Kiya langsung mengalihkan pandangannya kembali.


Setelah memastikan bahwa Kiya aman, Ciara kini menatap Devano. Seolah-olah mereka berdua tengah berbicara lewat tatapan mata mereka. Dan tak berselang lama keduanya kini berlari menuju lantai atas meninggalkan Kiya sendiri di depan televisi tapi sebelum menaiki tangga, Ciara sudah memanggil salah satu artnya untuk menemani Kiya di ruang keluarga.

__ADS_1


__ADS_2