Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 68


__ADS_3

Devano, Bian dan Franda yang melihat secara langsung kejadian itu pun, ketiganya langsung melongo terutama Franda. Karena ia tak menyangka dengan aksi kejam Rizal yang terkenal paling kalem dari kelurga besar Franda. Tapi nyatanya yang paling kalem ternyata yang paling membahayakan.


"Jika dia bukan dalang dari masalah waktu itu, dia tetap bisa kita laporkan atas pembunuhan ini," ujar Bian yang berhasil memecahkan ketegangan di ruangan tersebut.


"Benar apa yang kamu katakan tadi. Dan rekaman ini bisa menjadi bukti aksinya itu," ucap Devano.


"Kamu bisa dan tega kan melaporkan dia ke pihak berwajib?" tutur Bian yang ia tunjukkan kepada Franda yang masih syok dengan kejadian tersebut. Dan hal itu membuat Franda kini menatap suaminya.


"Ya, aku bisa dan tega laporin dia ke pihak berwajib karena apapun alasannya, mau itu keluargaku sendiri kalau tingkahnya seperti ini memang harus di tindak lanjuti sebelum semakin banyak nyawa yang melayang," ujar Franda dengan mantap.


Bian yang merasa bangga dengan sang istri pun ia mencium kening Franda.


Devano yang melihat kemesraan keduanya pun berdecak sebal.


"Jangan mesra-mesraan dulu. Lihat tuh ada orang baru lagi yang masuk," tutur Devano yang berhasil membuat sepasang suami-istri tadi kembali fokus dengan layar laptop Bian.


Orang yang berjenis kelamin laki-laki itu yang baru masuk ke ruangan Rizal, tampak terkejut saat melihat darah yang masih berada di lantai ruangan tersebut tanpa ada tubuh orang yang tadi di tembak oleh anak buah Rizal di tempat tersebut.


Tapi keterkejutannya itu hilang saat Rizal mulai angkat suara.


"Duduk," perintah Rizal yang langsung di turuti oleh laki-laki tadi.


"Kamu sudah tau bukan, kenapa saya memanggil kamu kesini?" tanya Rizal to the point.


"Ya, saya tau. Tapi saya perlu tau seluk beluk anak itu dari keluarga siapa," ujar laki-laki tersebut yang tak ingin mengambil resiko yang lebih besar jika lawannya adalah orang yang sangat kuat.


Dan karena permintaannya tadi membuat Rizal berdecak sebal.

__ADS_1


"Tapi jika anda tidak mau memberi tahu seluk-beluk keluarganya. Maka jangan harap anda bekerja sama dengan saya. Dan carilah orang lain yang langsung mensetujui permintaan anda itu. Permisi," ujar laki-laki tersebut.


Saat laki-laki itu sudah berdiri dan ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, suara Rizal menghentikan langkahnya.


"Jika kamu keluar dan tidak melakukan apa yang saya katakan sebelumnya, maka jangan salahkan saya jika nyawa kamu yang akan melayang saat ini juga," ancam Rizal.


Laki-laki tadi memutar tubuhnya dengan senyum miringnya, menghadap ke arah Rizal berada.


"Saya tidak takut mati. Dan jika saya mati maka anda juga akan mati," ujar laki-laki tersebut sembari menunjukkan sebuah remote control kecil di tangannya.


Rizal yang mengetahui fungsi dari remote tersebut pun kini ia mulai celingukan kesana-kemari untuk mencari sesuatu yang terkoneksi dengan remote tersebut.


"Mau sampai mata anda copot sekalipun, anda tidak akan pernah menemukan keberadaan bom itu," ujar laki-laki tersebut.


"Dan apa anda pikir saya mudah di ancam begitu saja dan akan takut dengan ancaman itu? Oh tentu saja tidak. Karena selicik-liciknya anda lebih licik saya," sambungnya.


Dan setelah mengatakan hal itu, laki-laki itu kembali memutar tubuhnya, tapi sayangnya langkah itu terhenti lagi saat Rizal mencegahnya.


Laki-laki itu kini mulai mendekati Rizal kembali.


"Cepat, ceritakan seluk-beluk tentang keluarga anak itu sekarang juga. Mulai dari nama dia dan nama kedua orangtuanya," perintah laki-laki tersebut tanpa mau mendengar ucapan basa-basi dari Rizal.


"Baik, saya akan beritahu sekarang. Jadi nama anak itu adalah Ayura Jesellyn Lowe. Nama kedua orangtuanya adalah Franda Stevani Edrick dan Bian Permana Lowe. Orangtuanya merupakan pembisnis dan pemilik Jefra's Company. Anak itu merupakan anak satu-satunya dari pasangan suami istri itu dan---" ucapan Rizal dengan terpaksa harus terhenti saat laki-laki tersebut menyela ucapannya tadi.


"Oke, cukup. Sekarang saya mau bertanya, selain rencana yang akan kita lakukan ini. Apakah anda pernah mencoba melukai anak itu?" tanya laki-laki tersebut.


"Ya," jawab Rizal singkat.

__ADS_1


"Kapan? Dan apa saja yang telah anda lakukan?" tanya laki-laki tersebut.


"Jika kamu tanya kapannya, saya juga sudah lupa karena saya bukan hanya sekali saja mencoba untuk melukai anak itu tapi sudah berkali-kali. Dan apa yang sudah saya lakukan? Banyak, segala cara sudah pernah saya lakukan untuk melenyapkan anak sialan itu. Bahkan yang terakhir saya lakukan adalah menyewa puluhan preman juga mengerahkan sebagian anak buah saya untuk mengeroyok anak itu disaat dia tengah berangkat ke sekolah. Bahkan di hari dimana rencana itu di lakukan, saya juga menutup jalanan tersebut secara ilegal," jawab laki-laki tersebut menggebu-gebu.


Dan semua pernyataannya tadi membuat ketiga orang dewasa yang berada di ruangan sebelah, mengepalkan tangan mereka.


"Sialan!" geram Bian yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


"Aku tidak bisa diam begini saja. Aku harus beri pelajaran ke laki-laki sialan itu," sambung Bian. Tapi saat dirinya ingin melangkahkan kakinya, Franda lebih dulu mencekal lengan Bian.


"Jangan gegabah. Biarkan temanku interogasi dia sampai selesai dulu," ujar Franda yang membuat Devano maupun Bian kini mengerutkan keningnya.


"Teman? Maksud kamu, laki-laki yang sedang duduk di samping Rizal itu adalah teman kamu?" tanya Bian yang diangguki oleh Franda.


"Kok bisa?" tanya Bian lagi sembari dirinya kembali duduk di tempatnya sebelumnya.


"Ya bisa lah. Dia itu satu profesi denganku, tapi memang dia terkenal dengan pembunuh bayaran," jelas Franda.


"Tapi dia bunuh orang juga pilih-pilih dulu makanya dia tanya seluk-beluk keluarga dari orang yang akan dia bunuh. Mungkin dia juga takut kalau dia bergerak dan sudah membunuh targetnya, ternyata targetnya itu merupakan keluarga dari kerabatnya seperti saat ini," sambung Franda.


"Dan dia juga barusan sudah mengirim pesan ke aku untuk datang ke restoran ini dan menyergap Rizal setelah dia memberikan kode ke kita untuk bergerak," ujar Franda lagi.


"Oh astaga. Kenapa banyak sekali rahasia yang masih kamu sembunyikan dariku, sayang," ujar Bian frustasi sembari merebahkan dirinya disandaran kursi.


"Ya gimana tidak banyak rahasia jika kita menikah saja hanya hitungan hari setelah kita berkenalan. Inilah konsekuensinya jika menerima perjodohan dari orangtua tuh, banyak rahasia dari pasangan yang tidak terungkap lebih awal dan taunya sesudah berumahtangga," tutur Franda.


"Haish benar juga sih. Tapi apa pekerjaanmu ini termasuk kedalam kelompok mafia?" tanya Bian.

__ADS_1


"Hmmmm mungkin masih terbilang seperti itu. Ck, sudahlah jangan banyak tanya dulu, urusan itu belakangan, yang paling utama adalah urusan Yura saat ini," omel Franda yang membuat Bian mencebikkan bibirnya.


Sedangkan Devano yang sedari tadi hanya menyimak layar laptop tersebut dan sesekali mendengar ocehan sepasang suami istri itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Walaupun ia tadi juga sempat kaget dengan pengakuan dari Franda, tapi sebisa mungkin ia menetralkan kembali ekspresi wajahnya itu. Karena ia sendiri juga bisa di bilang seorang mafia, membunuh orang-orang yang menganggu hidupnya dengan sesuka hatinya.


__ADS_2