Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 69


__ADS_3

Ketiga orang tadi masih fokus dengan layar laptop didepan mereka sembari menyimak setiap pembicaraan dari kedua orang yang berada didalam rekaman tersebut.


"Jadi usaha yang anda lakukan itu tidak ada yang berhasil?" tanya laki-laki tersebut.


"Ya. Sama sekali tidak ada yang berhasil makanya agar rencana saya kali ini berhasil, saya meminta bantuan anda untuk melenyapkan anak itu," ujar Rizal.


"Melenyapkan dengan cara menculik anak itu?" tanya laki-laki tersebut yang membuat Rizal menganggukkan kepalanya.


"Tapi tak hanya menculik saja tapi kamu juga harus membunuh dia," tutur Rizal.


"Hmmm, tapi apa jaminan yang saya dapatkan jika kedua orangtua dia tau aksi dan rencana kita sehingga mereka memanggil pihak berwajib untuk menangkap saya? Apa anda mau menggantikan posisi saya didalam penjara?" tanya orang tersebut.


"Tidak. Kamu harus terus menghindar jika hal itu terjadi. Kalaupun nanti kamu tertangkap, gampang saja," ujar Rizal menggantung dan kini tangannya bergerak untuk mengambil sesuatu dari dalam jas yang ia kenakan. Lalu setelah ia menemukan apa yang ia cari tadi, ia langsung melemparnya di meja tepat di depan laki-laki tersebut.


Laki-laki itu kini mengerutkan keningnya sembari mengambil sebuah pil yang terbungkus dengan plastik bening.


"Ini?"


"Itu adalah pil racun yang akan memudahkan kamu terbebas dari penjara," ujar Rizal dengan santai.


Laki-laki itu yang sudah paham sebelum di jelaskan oleh Rizal mengenai cara dia menggunakan pil itu untuk terbebas dari penjara pun, ia terkekeh sembari menyenderkan punggungnya di sandaran sofa dengan tangan yang memainkan pil tersebut.


"Ternyata anda licik sekali. Anda melimpahkan semua hukuman ke orang yang sebenarnya adalah orang suruhan anda tanpa mau orang lain tau jika andalah yang sebenarnya salah dalam permasalahan ini. Bahkan dengan teganya anda memberikan pil ini kepada orang bayaran anda hanya karena anda lepas tanggungjawab dan mau menikmati hasilnya saja," ujar laki-laki tersebut dan kini pil yang ada di tangannya tadi kembali ia lempar tepat di wajah Rizal. Dan setelahnya ia kembali menegakkan posisi duduknya dengan tatapan tajamnya yang menghunus di manik mata Rizal.


"Apa anda pikir saya orang bodoh yang mudah anda bohongi seperti orang-orang suruhan anda sebelumnya?" tanya laki-laki tersebut yang terus menatap mata Rizal. Rizal yang melihat tatapan mengerikan itu pun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Jika anda tau jika saya bukanlah orang bodoh, seharusnya anda berpikir terlebih dahulu sebelum memberikan pil itu ke saya. Anda juga tak perlu berbicara angkuh di hadapan saya. Karena yang berada dihadapan anda sekarang bukan orang-orang yang nyalinya kecil tapi orang yang sedang anda hadapi saat ini adalah orang yang tidak akan segan-segan untuk membunuh Anda saat ini juga," ujar laki-laki tadi sembari bergerak dengan gesit membekuk tubuh Rizal dengan tangan yang kini sudah membawa pistol.


Dan karena pergerakannya tadi, Rizal tak bisa berkutik ataupun melawan sama sekali. Tapi anak buah Rizal kini semua bergerak menodong pistol ke arah laki-laki tersebut berada.


"Jika salah satu anak buah anda berani melukai saya. Nyawa anda yang akan jadi taruhannya," ujar Rizal dengan pistol yang semakin ia dekatkan di kepala Rizal.

__ADS_1


Rizal yang mendapat bisikan itu pun dengan wajah pucat ia angkat suara.


"Kalian semua, turunkan senjata kalian. Jangan ada yang berani bergerak dan melukai dia!" tutur Rizal yang langsung membuat semua anak buahnya itu kini menurunkan pistol mereka bahkan kedua tangan para anak buah Rizal terangkat keatas semua.


"Saya sudah menuruti apa yang anda mau. Sekarang kamu menjauh dari saya," ujar Rizal.


Laki-laki tersebut kini menjauh dari tubuh Rizal dan kembali duduk di tempatnya sebelumnya. Dan dengan santainya ia mengirimkan pesan untuk Franda agar segera bergerak ke ruangan tersebut.


Franda yang mendapat pesan tersebut pun langsung memberitahukan hal itu kepada dua laki-laki yang bersama dengannya. Dan kini ketiga orang itu bergerak menuju ruangan Rizal.


"Bawa senjata kan?" tanya Franda saat ketiganya sampai di depan pintu ruangan tersebut. Kedua laki-laki tadi tampak menganggukkan kepalanya.


"Oke, bagus. Kita bergerak sekarang," ujar Franda dan setelahnya, tangannya kini bergerak untuk membuka pintu ruangan tersebut.


Dan pergerakan dari pintu itu membuat para anak buah Rizal dengan sigap mengambil pistol mereka lagi.


"Sudah saya bilang bukan. Jika kalian mengangkat senjata maka bos kalian akan mati di tangan saya," tutur laki-laki tadi yang berhasil membuat para anak buah Rizal menuruti ucapannya itu.


Dan saat pintu itu benar-benar terbuka lebar, laki-laki tersebut tersenyum kearah Franda yang dibalas dengan senyuman pula.


"Fr---Franda," ucap Rizal dengan gagap.


Senyum Franda kini hilang saat ia mendengar suara dari laki-laki yang kini ia benci itu.


"Jadi ini orangnya yang selama ini menginginkan Yura lenyap dari dunia ini," ujar Franda sembari melangkahkan kakinya mendekati Rizal.


"Ti---tidak bukan Om, Franda. Kamu salah paham," ucap Rizal.


"Salah paham? Salah paham di bagian mana hah? Aku sudah mendengar sendiri saat kamu dengan lantangnya menyebut nama lengkap Yura dan niat kamu untuk membunuh anak aku yang merupakan keponakan kamu sendiri. Kamu tidak perlu mengelak lagi karena aku sudah tau semuanya tentang niat busukmu itu!" geram Franda.


Bian yang tak kalah geramnya dengan Franda pun ia sebisa mungkin mengontrol emosinya dan kini ia bergerak untuk memeluk tubuh Franda agar istrinya itu mendapatkan ketenangan.

__ADS_1


"Tenang dulu. Jangan sampai gegabah karena sebentar lagi akan ada pihak kepolisian datang kesini untuk mengamankan mereka semua yang sudah jahat sama Yura," bisik Bian.


Dan baru saja Bian mengatupkan bibirnya, pintu ruangan tersebut kembali terbuka.


"Jangan bergerak dan angkat tangan kalian," ujar salah satu polisi yang menggerebek ruangan tersebut.


Semua orang yang ada disana kecuali Devano, Bian dan Franda kini mulai didatangi polisi satu persatu untuk di borgol.


Dan saat giliran laki-laki yang telah membantu mereka bertiga memecahkan masalah tadi pun, Franda kini angkat suara.


"Dia tidak bersalah Pak. Dia yang justru membantu kita mengungkapkan kebenarannya dengan pura-pura menjadi seorang pembunuh profesional. Dia juga bisa menjadi saksi nanti di pengadilan," ujar Franda yang membuat polisi yang berniat memborgol tangan laki-laki tersebut mengurungkan niatnya.


Laki-laki tersebut yang tak jadi terseret dalam masalah tersebut dan tak harus berhadapan dengan pihak kepolisian pun ia melemparkan senyuman kepada Franda sembari dirinya berjalan mendekati Franda yang tengah berada di pelukan sang suami.


"Terimakasih," ucap laki-laki itu saat dirinya sudah berdiri di depan Franda dan Bian.


"Aku yang harusnya berterimakasih ke kamu karena sudah membantuku untuk mengungkap siapa dalang dari permasalahan yang terus menimpa putri ku. Terimakasih banyak Daniel, terimakasih," tutur Franda dengan sesekali ia membungkukkan tubuhnya di hadapan laki-laki tersebut yang dibalas anggukan dan senyum dari laki-laki tadi.


Tapi percakapan keduanya terhenti saat Rizal berteriak meminta kebebasan lagi.


"Lepaskan saya. Ini semua hanya salah paham saja!" teriak Rizal.


"Franda! Kamu suruh mereka lepaskan saya sekarang juga!" perintah Rizal yang sama sekali tak dihiraukan oleh Franda. Bahkan ia hanya menatap wajah Rizal dengan tajam.


"Bawa mereka kedalam mobil!" perintah salah satu polisi tadi.


"Franda! Awas kamu ya! Aku tidak akan tinggal diam jika sampai aku masuk penjara, maka hidup kamu juga akan sengsara. Camkan itu!" teriak Rizal yang membuat orang-orang disana menggelengkan kepala mereka tak terkecuali dengan pihak kepolisian.


"Tenang saja nyonya, hal itu tidak akan pernah berjadi karena saya pastikan dia akan masuk penjara sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini. Dan saya ucapkan terimakasih atas kerjasamanya," ucap polisi tersebut sembari mengulurkan tangannya di hadapan Franda. Dan uluran tangan itu langsung di balas oleh Bian.


"Terimakasih juga atas bantuannya Pak. Saya harap dia bisa di hukum seberat-beratnya," ujar Bian yang diangguki polisi tersebut.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri, selamat pagi," tutur polisi tadi sebelum beranjak dari ruangan tersebut.


"Selama pagi," balas keempat orang yang tersisa diruangan tersebut dengan serempak.


__ADS_2