
Setelah perginya Lidya dari tempat tersebut, Devano melangkahkan kakinya lebih mendekati tubuh lemah Tiara. Saat sampai didepan tubuh wanita itu yang tengah terduduk di pojok ruangan tersebut tanpa alas apapun, Devano langsung berjongkok untuk melihat lebih jelas wajah Tiara. Saat melihat mata wanita itu tertutup rapat, Devano tersenyum miring.
"Itu menjadi pelajaran buat kamu yang sudah berani mengganggu ketenangan keluargaku, Tiara," ucap Devano. Setelah mengatakan hal itu Devano kembali bangkit dari posisi jongkoknya dan memutar tubuhnya menghadap anak buahnya yang tengah berdiri tegap di belakangnya kecuali Nando.
"Lepaskan rantai yang mengikat tangan dan kaki dia!" perintah Devano yang membuat Nando mengerutkan keningnya.
"Kenapa harus dilepas?" tanya Nando.
"Kalau dilepas dia nanti kabur," sambungnya. Devano memutar bola matanya malas.
"Apa kamu tidak melihat keadaan dia saat ini? mana mungkin dia bisa kabur jika berdiri saja dia tidak mampu," tutur Devano.
Nando tampak terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh Devano. Karena kondisi Tiara saat ini benar-benar diambang hidup dan mati.
"Segera lakukan apa yang saya ucapkan tadi," ulang Devano yang membuat dua anak buahnya langsung bergerak mendekati Tiara dan melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki wanita itu.
"Terus awasi dia jangan lupa kasih dia makanan dan minuman. Jangan bunuh dia sebelum dia yang menginginkan hal itu sendiri," tutur Devano yang diangguki oleh semua orang disana tapi lagi-lagi tidak dengan Nando yang sepertinya tangannya sudah gatal untuk membunuh Tiara.
Setelah berkata demikian, Devano melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruangan pribadinya untuk mengganti pakaian yang ia pakai sebelumnya setelah itu ia baru pergi dari markasnya menuju rumah pribadinya. Ia benar-benar ingin istirahat sekarang sebelum nantinya ia akan bercerita masalah yang sebelumnya terjadi dengan Al kepada Ciara. Walaupun awalnya ia ingin menyembunyikan semua itu dari Ciara tapi jika dipikir-pikir lagi lebih baik Ciara juga mengetahui masalah itu sehingga keduanya bisa berdiskusi mengenai mental Al yang sepertinya sedikit trauma akan masalah itu.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama akhirnya Devano telah sampai juga di lingkungan rumahnya dan saat ia memasuki rumah tersebut, matanya langsung di suguhi pemandangan yang sangat menghangatkan hatinya. Tapi ia juga heran kenapa Al sudah ada dirumah padahal baru pukul setengah 12 dan anaknya itu biasanya pulang pukul 12 atau lebih. Tapi Devano tak ambil pusing akan hal itu, ia memilih untuk mendekati mereka, saat sampai ia langsung duduk disamping Ciara dan memeluk tubuh istrinya itu dari samping. Ciara yang kaget pun langsung menoleh kearah sampingnya.
"Lho kamu kok udah pulang? atau ada sesuatu yang ketinggalan?" tanya Ciara heran dengan kemunculan Devano saat dirinya tengah mengawasi Al yang sedang bermain-main dengan Kiya.
"Gak ada yang ketinggalan. Hanya perlu waktu istirahat lebih lama lagi. Sekali-kali meliburkan diri," tutur Devano diakhiri dengan mencuri kecupan di bibir Ciara.
__ADS_1
"Kebiasaan ih. Kalau Al lihat tadi gimana coba," geram Ciara sembari melirik Al yang masih sibuk dengan benda ditangannya yang terus ia gerakkan jauh diatas kepala Kiya dengan sesekali anak laki-laki itu mencium dan mencolek pipi Kiya yang semakin hari semakin berisi.
"Khilaf sayang. Siapa suruh bibir kamu itu selalu saja buat aku gelap mata." Ciara memutar bola matanya malas.
"Mending kamu ganti baju dulu sana deh," ucap Ciara lebih tepatnya mengusir suaminya itu. Ia benar-benar takut jika aksi Devano yang tak ia duga-duga akan dilihat Al.
"Bentar lagi lah. Masih mau manja-manjaan sama kamu dulu. Oh ya kok Al udah pulang?" tanya Devano.
"Para guru ada rapat tadi dan semua anak didiknya di pulangkan lebih awal," jawab Ciara.
Devano pun menganggukkan kepalanya tapi pelukannya tak pernah terlepas dari tubuh Ciara hingga Al yang sedikit mendengar orang tengah berbicara dengan berbisik pun akhirnya ia menoleh kesumber suara dan saat Al menoleh, Ciara langsung gelagapan lalu berusaha untuk melepaskan pelukan Devano itu tapi suaminya itu justru semakin mengeratkan pelukan tersebut.
Al mengerucutkan bibirnya saat melihat Mamanya itu tengah dipeluk oleh Devano yang notabenenya adalah Papanya sendiri.
Al yang tak suka melihat hal itu pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua orangtuanya.
"Ih apaan sih Al. Datang-datang main usir Papa aja. Al aja yang pergi sana, jagain baby Kiya tuh kasihan dia sendirian," tutur Devano. Ia melakukan hal itu dengan sengaja karena ia tau Al pasti akan cemburu dengannya. Maka tak jarang ia sering menjahili anak laki-lakinya itu yang super protektif terhadap Mamanya.
"Papa aja sana yang nemenin baby Kiya. Al mau sama Mama," ucap Al yang masih dalam usahanya.
"Ih siapa dulu yang mau punya adik hmm? Al kan? Dan sekarang adiknya udah keluar berarti Al harus jagain adiknya dong. Emang mau baby Kiya masuk lagi kedalam perut Mama," tutur Devano yang semakin membuat bibir Al maju kedepan bahkan tangan anaknya itu sudah menjauh dari lengan Devano dan berganti ia tekuk didepan dadanya sendiri.
Devano ingin sekali tertawa, ia benar-benar gemas dengan ekspresi Al saat merajuk seperti ini.
Sedangkan Ciara hanya bisa menghela nafas saat keusilan Devano mulai kambuh. Jika sampai anak laki-lakinya itu menangis, maka Devano harus bertanggungjawab untuk menenangkannya tanpa meminta bantuan Ciara tentunya.
__ADS_1
"Udah sana, Al jangan ganggu Papa sama Mama," usir Devano dan dengan kesal Al bergerak menuju ketempat sebelumnya dengan kaki yang ia hentak-hentakkan selama ia jalan.
"Al jalannya biasa aja nak, kaki kamu nanti bisa sakit kalau terus kamu hentak-hentakkan begitu," ucap Ciara.
"Biarin aja. Mama gak usah peduli sama Al. Karena Mama sekarang memilih Papa daripada Al." Devano yang sudah tak tahan pun akhirnya tertawa terbahak-bahak yang membuat Al menatap dirinya dengan tingkat kekesalan yang meningkat.
"Ck, kamu sih. Anaknya jadi ngambek kan. Mana ngambeknya sama aku juga lagi," tutur Ciara dengan menatap tajam kearah Devano.
Devano dengan susah payah meredakan tawanya.
"Maaf-maaf sayang," ucap Devano kemudian ia melepaskan pelukannya dari Ciara setelah itu ia beranjak mendekati Al lalu memeluk tubuh mungil itu. Al yang masih sebal dengan Papanya pun memberontak tak ingin dipeluk oleh laki-laki itu padahal disaat dirinya tak lagi merajuk ia akan sangat senang di peluk oleh Devano bahkan sampai ia tak rela jika sang Papa melepaskan pelukannya tapi untuk saat ini ia tak ingin di peluk dulu oleh Papanya itu.
"Maaf boy, Papa bercanda tadi," ucap Devano yang membuat Al menghentikkan gerakan tubuhnya yang terus memberontak dengan pelukan Devano.
"Gak mau. Al gak mau maafin Papa," tutur Al.
"Kok gitu?" tanya Devano sembari melepaskan pelukannya dan pertanyaannya tadi tak mendapat jawaban dari anak laki-laki didepannya itu.
"Beneran gak mau maafin Papa nih?" Al dengan mantap menggelengkan kepalanya lalu setelahnya ia membuang muka kearah lainnya.
"Oke kalau begitu, Papa gak akan maksa Al buat maafin Papa tapi, rasakan ini." Devano kini menyerang Al dengen menggelitik tubuh Al hingga membuat anaknya itu terkekeh geli bahkan tubuhnya yang tadi terduduk kini terbaring dengan menggeliat menghindari gelitikan dari Devano.
"Hahahaha stop Papa," tutur Al dengan gelak tawa yang terus terdengar. Sedangkan Ciara kini sudah gabung dengan mereka lebih tepatnya Ciara menyelamatkan tubuh Kiya agar tak tekena salah satu tangan dari dua jagonya itu yang tengah bertarung.
"Gak mau. Al aja gak mau maafin Papa, Papa juga gak mau berhenti buat gelitiki Al," ucap Devano.
__ADS_1
"Hahahaha baiklah-baiklah Al maafin Papa. Jadi sekarang stop Papa, Al mau pipis hahaha." Devano kini berhenti menggelitik tubuh Al setelah itu ia membantu Al untuk berdiri dari rebahannya lalu ia mengecup pipi Al yang tampak memerah karena kebanyakan tertawa.
"Thanks boy." Al tak menjawab ucapan dari Devano tadi, ia justru berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari ruang keluarga. Hal itu membuat Devano dan Ciara tertawa melihat tingkah lucu Al.