Young Mother

Young Mother
Pemeriksaan Adik Al


__ADS_3

"Benarkah?" tanya Devano sembari melepaskan pelukannya. Ciara menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang.


Devano kembali memeluk Ciara dengan sangat erat.


"Terimakasih ya Allah. Engkau telah mempercayai kami untuk engkau titipkan satu malaikat kecil lagi yang akan melengkapi rumah tangga kami," ucap Devano tanpa henti mengucap rasa syukur atas nikmat yang tiada tara ini. Bahkan saking terharunya ia juga ikut meneteskan air mata bahagia sama halnya dengan Ciara.


Untuk beberapa saat mereka berdua larut dalam kebahagiaan mereka.


Sedangkan Al yang tak tau menahu tentang Ciara yang tengah mengandung lagi, ia memilih untuk melenggang ke ruang tamu, melanjutkan untuk bermain dan sesekali menikmati eskrim yang berada ditangannya itu.


...****************...


Pagi ini, sesuai yang diarahkan oleh dokter yang memeriksanya kemarin, kini Ciara dan Devano tengah bersiap untuk pergi kerumah sakit.


"Al yakin gak mau ikut Papa sama Mama ke rumah sakit?" tanya Devano saat Al juga sudah siap tapi bukan siap untuk ikut mereka melainkan untuk pergi ke rumah Maimeonnya yang tadi malam saat memberitahukan bahwa Ciara tengah mengandung, Mommy Nina mengatakan bahwa ia ingin sekali bertemu dengan cucu tampannya itu. Alhasil hari ini Al hanya akan diantar ke rumah Mommy Nina saja.


Al mengangguk dengan mantap.


"Al tidak suka bau rumah sakit Papa. Lebih baik Al bermain di rumah Mai dan Dai," ucap Al.


Devano menghela nafas.


"Baiklah," tutur Devano mengalah. Mereka memang belum memberi tahu Al tentang adiknya yang akan segera hadir. Rencana Ciara sehabis ia nanti USG, baru ia akan memberi tahu tentang kabar itu ke Al dengan menunjukkan hasil USG tersebut untuk media penjelasan dan bukti untuk Al.


Kini Ciara baru saja menghampiri kedua jagoannya itu.


"Ayo berangkat," ucap Ciara.


Devano mengangguk kemudian ia keluar dari rumah tersebut menuju mobilnya diikuti oleh Al juga Ciara di belakang.

__ADS_1


"Sayang, kamu duduknya jangan dibelakang dong," protes Devano saat Ciara malah memilih duduk disamping car seat Al.


"Aku gak suka bau kamu, Dev. Udah lah toh masih di dalam satu mobil yang sama," tutur Ciara.


"Ck, tapi kan aku berasa sopir kalian," gerutu Devano yang masih tak rela duduk sendirian didepan.


"Dev!" pekik Ciara.


"Huh, demi anakku yang entah tampan atau cantik itu yang gak suka sama Papanya sendiri. Aku rela jadi sopir dadakan kalian," tutur Devano dengan diakhiri kerucutan di bibirnya.


Perlahan mobil itu meninggalkan lingkungan rumah mereka menuju ke rumah Mommy Nina untuk mengantar Al sebelum akhirnya mobil itu kembali melaju ke rumah sakit yang sangat terkenal dengan penanganan dan juga fasilitasnya yang sangat baik.


Dan hanya butuh waktu kurang lebih 40 menit, Devano juga Ciara telah sampai di rumah sakit tersebut dan kini mereka menuju ke ruang dokter spesialis kandungan.


"Ramai sekali," ucap Ciara yang melihat begitu banyak para ibu hamil yang tengah mengantri depan ruangan tersebut. Padahal jika dilihat waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi.


"Tenang aja sayang. Kita gak perlu antri sama kayak mereka. Bentar lagi nama kamu juga bakal dipanggil," jawab Devano sembari mengantungi ponselnya kembali.


Dan benar saja saat pasien yang sebelumnya berada di dalam ruangan itu kini telah keluar, beberapa saat kemudian suster memanggil nama Ciara.


"Untuk pasien selanjutnya. Nyonya Ciara Devania," teriak suster itu sangat lantang.


Ciara yang tak percaya hal itu kini menatap kearah Devano yang tengah tersenyum kepadanya.


"Ayo masuk. Tenang aja kita gak nerobos antrian kok karena aku tadi malam saat kamu udah tidur, aku bikin janji sama dokter yang akan periksa kamu nanti. Jadinya kapanpun kita sampai, sebanyak apapun antriannya, kamu akan langsung dipanggil saat aku udah memberitahu dokter didalam kalau kita sudah berada di rumah sakit ini. Udah ah, kita masuk sekarang, kasihan yang lainnya nanti kelamaan nunggunya kalau kita masih ngobrol di sini, gak langsung ke dalam," tutur Devano. Kini ia menggandeng tangan Ciara masuk kedalam ruang pemeriksaan.


"Selamat pagi nyonya Ciara dan tuan Devano," sapa dokter cantik yang bernama dokter Indi itu.


"Selamat pagi dok," balas Ciara sembari duduk di depan dokter tersebut.

__ADS_1


"Baru pertama periksa kan?" tanya dokter Indi yang dijawab anggukan oleh Ciara.


"Ada keluhan yang membuat nyonya Ciara kewalahan?"


"Banyak dok." Bukan Ciara yang menjawab melainkan Devano yang menimpali ucapan dari dokter Indi tadi.


"Oh ya? coba beritahu saya apa keluhan yang dirasakan nyonya Ciara, tuan," tutur dokter Indi.


"Nah yang pertama itu dia gak suka kalau saya deketin dia. Selalu saja menghindar kalau saya mau mendekatinya. Dan hidung dia akhir-akhir ini menjadi lebih sensitif terhadap bau. Kalau mual dan muntah cuma setelah menghirup bau yang gak dia suka saja bukan seperti morning sickness pada umumnya yang setiap pagi dan hari mual dan muntah terus menerus. Masalah makan, dia jadi tambah lahap 3x dari sebelumnya," jelas Devano yang membuat Ciara mendelik. Sedangkan dokter Indi tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau seperti itu, mari nyonya Ciara berbaring di banker itu. Dan untuk tuan Devano, saya ucapkan terimakasih atas penjelasannya," tutur dokter Indi.


"Sama-sama Dok. Kamu buruan tiduran sana gih," ucap Devano yang langsung mendapat geplakan sayang dari Ciara.


Tapi setelah itu Ciara beranjak dari duduknya dan menuju ke banker di ruangan tersebut.


Dan saat dirinya sudah berbaring dengan nyaman, dokter Indi segera memeriksa kondisi Ciara dan juga kondisi janin yang berada di perut Ciara.


Dokter Indi kini mengoleskan sebuah gel sebelum menempelkan alat USG ke atas perut Ciara.


"Detak jantung sudah terdeteksi, kantung janin juga sudah terlihat. Semuanya sehat, tak ada kekurangan untuk saat ini dan semoga untuk kedepannya juga sama, sampai saat kelahiran tiba. Saya hanya menyarankan untuk makan sayur dan buah yang banyak ya nyonya jangan lupa juga susu untuk menambah nutrisi dan membantu pertumbuhan pada janin," tutur dokter Indi sembari membereskan peralatannya kembali.


"Baik dok," ucap Ciara.


"Dok, apakah ngidam yang dialami oleh Ciara bisa segera hilang? saya sudah tidak kuat kalau harus di cuekin terus sama dia," tutur Devano.


Dokter Indi lagi-lagi tersenyum kemudian duduk di kursi yang sebelumnya, diikuti oleh Ciara yang juga sudah duduk dihadapannya.


"Tentu saja tuan. Biasanya rasa ngidam pada ibu hamil akan berakhir saat usia kandungan 12 minggu dan sekarang usia kandungan nyonya Ciara sudah memasuki usia kandungan 7 minggu, jalan 8 minggu malah. Jadi tuan Devano tak perlu risau hanya tinggal 4 minggu lagi, perkara ngidam itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi itu tergantung bayinya juga jika masih ingin ngidam ya berarti akan lebih lama lagi." Devano yang mendengar penjelasan dari dokter Indi tadi hanya bisa bernafas pasrah dengan apa yang terjadi kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2