Young Mother

Young Mother
Pasangan Laknat


__ADS_3

"Al, bangun boy," ucap Kellen membangunkan Al dari tidurnya lebih tepatnya dari hipnotis yang ia lakukan ke anak laki-laki itu.


Perlahan Al mengerjabkan matanya, menyesuaikan cahaya masuk kedalam retinanya.


"Al ketiduran lagi ya aunty?" tanya Al yang dijawab dengan anggukan dan senyum dari Kellen.


"Maaf ya aunty. Al kalau udah tiduran di kursi ini tuh bawaannya ngantuk mulu," ujar Al dengan mengerucutkan bibirnya.


"Gak apa-apa boy. Mungkin Al juga kelelahan karena kebanyakan main sebelum kesini tadi. Oh ya, kita keluar yuk," ajak Kellen sembari meraih tangan Al untuk ia gandeng. Dan saat keduanya membuka pintu ruang periksa, dengan reflek Kellen menutup mata Al dengan kedua telapak tangannya saat ia melihat pemandangan tak senonoh di dalam ruangan itu.


"Aunty, kenapa mata Al di tutup?" tanya Al penasaran.


"Ah itu sayang. Di ruangan ini lagi ada makhluk tanpa akhlak, jadi mending Al masuk dulu keruangan tadi. Biar aunty usir dulu makhluknya," ucap Kellen.


Dan tanpa mendengar penolakan dari Al, ia langsung membawa tubuh anak laki-laki itu kedalam ruang periksa tadi dan setelahnya ia kembali keluar dengan pintu yang ia kunci dari luar agar Al tak bisa melihat adegan tersebut.


Kellen kini menggeram kesal lalu tanpa pikir panjang ia melepas kedua sepatunya dan langsung melempar benda itu tepat di punggung Devano.


"Aws, berani-beraninya!" geram Devano setelah itu ia memutar tubuhnya menghadap ke belakang begitu juga dengan Ciara yang menatap ke arah belakang Devano.


Mereka berdua membelalakkan matanya saat melihat Kellen tengah berjalan cepat kearah mereka berdua dan setelah sampai, Kellen langsung menjewer telinga sepasang suami istri tersebut.


"Bagus ya, ciuman di ruang kerja orang lain. Mana di dalam ruangannya bukan hanya berdua lagi. Masih ada aku dan Al. Untung aja aku tadi bisa jaga mata suci Al agar dia gak lihat adegan kotor kalian tadi. Kalau sampai lihat, mati lah kalian berdua," ujar Kellen tanpa melepaskan jewerannya.


"Sakit Kel, lepasin ih," keluh Ciara.


"Aws, sakit woy. Lepasin," kini giliran Devano yang merintih kesakitan.

__ADS_1


"Gak akan aku lepasin jeweran ini. Biar kalian tau rasa dan gak ngulangin apa yang kalian lakukan tadi. Benar-benar ya kalian berdua tuh. Hih pengen aku geprek jantung kalian," geram Kellen.


"Itu bukan salahku Kellen. Itu salahnya Devano tuh yang tiba-tiba nyerang aku duluan," ujar Ciara tak mau disalahkan.


"Bodoamat mau itu siapa dulu yang nyerang. Aku gak peduli, kalian emang harus dikasih pelajaran biar gak main ciuman dan mesra-mesraan didepan umum," tutur Kellen yang semakin mengencangkan jewerannya.


"Aw aw aw, sakit Kel. Lepas lah, kalau kamu gak mau lepasin, cincin yang dikasih Al tadi aku ambil lagi," ancam Devano.


"Ambil noh ambil. Tapi kalau Al tanya cincinnya dimana aku juga bakal jawab jujur sama dia." Devano kini terdiam tak lagi mengancam Kellen karena percuma saja, perempuan itu mau diancam bagaimana pun ia tak akan pernah takut.


"Sakit banget lho Kel. Maaf deh kita akuin itu salah. Gak lagi-lagi ciuman di depan umum," mohon Ciara.


Kellen menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia melepaskan jewerannya itu dari telinga Ciara dan Devano yang membuat mereka berdua kini menjauh dari sang empu.


"Kalau sampai aku lihat lagi kalian ciuman kayak tadi, bukan hanya telinga kalian yang kena seranganku tapi bibir kalian berdua yang akan jadi korban selanjutnya," tutur Kellen dengan menggerakkan tangannya seakan-akan ingin mencubit bibir pasangan suami istri itu. Dan dengan reflek Ciara juga Devano, keduanya langsung mengatupkan bibirnya dan menutup bibir itu menggunakan telapak tangannya tak lupa mereka berdua mengangguk, mensetujui ucapan dari Kellen tadi.


"Al sekarang boleh keluar," ucap Kellen saat pintunya sudah terbuka. Al tersenyum kemudian ia bergegas keluar dari ruangan itu.


Al mengerutkan keningnya saat melihat kedua orangtuanya tengah berdiri tegak di samping pintu.


"Papa, Mama kenapa berdiri disitu? kayak lagi dihukum aja," tutur Al.


"Kalian berdua, duduk!" perintah Kellen dan dengan patuh keduanya kini duduk di kursi tepat didepan Kellen dan hal itu semakin membuat Al bingung. Tapi setelahnya ia bersikap bodoamat karena itu bukan urusannya juga.


"Al mau main atau mau ikut dengerin penjelasan aunty?" tanya Kellen dengan suara lembut.


"Emang aunty punya mainan?"

__ADS_1


"Punya dong. Bahkan mainan ini nantinya buat Al. Bentar, aunty ambilin." Kellen kini meraih satu paper bag besar disamping kursinya setelah itu ia menyerahkannya ke Al.


"Wah bagus sekali. Al juga punya beberapa di rumah tapi bentuknya beda sama yang ini," ucap Al setalah melihat mobil remot yang dibelikan Kellen itu.


"Al mau coba main?" Al menganggukkan kepalanya penuh dengan antusias setalah itu dengan dibantu Kellen, akhirnya Al bisa memainkan mobil-mobilannya itu.


Dan saat Al tengah asik bermain, Kellen kembali mantap kearah kedua orangtua anak laki-laki tersebut.


"Hufttt," helaan nafas Kellen untuk menetralkan emosinya yang masih membara saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu itu.


"Aku kasih tau kalian to the point aja karena aku lagi gak mood buat ngomong sama kalian berdua. Jadi setelah aku periksa Al tadi, trauma yang dia alami sudah membaik bahkan sudah di katakan sembuh total. Tapi untuk jaga-jaga kalian harus tetap melatih dia menembak setidaknya satu bulan sekali dan jangan lupa saat tidur, lampu utama di kamar Al harus dimatikan," ujar Kellen yang mendapat anggukan kepala oleh keduanya.


"Sudah cuma itu saja yang aku sampaikan. Kalau mau pulang dan lanjutin yang tadi silahkan," sambung Kellen sedikit mengusir mereka berdua.


"Iya-iya ini juga mau pulang. Thanks udah bantu kita nanganin trauma Al. Buat bonusnya aku nanti transfer ke rekening kamu," ujar Devano yang hanya dibalas dengan deheman oleh Kellen.


"Al, kita pulang yuk. Mainnya dilanjut di rumah," tutur Ciara yang langsung dituruti oleh Al. Anak itu segera menghentikan bermainnya lalu ia berlari kearah Kellen untuk sekedar berpamitan sebelum akhirnya ia kembali kearah orangtuanya.


"Kita pulang dulu. Sekali lagi terimakasih, assalamualaikum," pamit Ciara.


"Waalaikumsalam hati-hati," balas Kellen. Dan kini ketiga orang tadi segera keluar dari ruangan tersebut menuju kearah parkiran mobil.


Tapi saat ditengah jalan, tiba-tiba ponsel Devano berbunyi. Dan tak butuh lama, ia langsung mengangkat telepon tersebut setelah mengetahui siapa penelepon itu.


"Ada apa?" tanyanya to the point.


📞 : "....."

__ADS_1


"Saya akan kesana sekarang juga," tutur Devano setelah itu ia memutus sambungan telepon tersebut.


__ADS_2