Young Mother

Young Mother
Teman Baru


__ADS_3

Saat sudah berganti pakaian Ciara kembali menuju kearah Dafit yang masih saja duduk di kursi tadi.


"Hmmm, kalau mau beli silahkan. Saya yang akan melayani kamu," ucap Ciara.


Dafit yang sedari tadi menunduk sembari memainkan ponselnya kini ia mendongakkan kepalanya menatap Ciara yang tengah berdiri dihadapannya.


"Baiklah," jawabannya.


Ciara pun segera masuk kedalam tempat pelayanan. Disusul Dafit yang berada disebrangnya.


Dea yang melihat kehadiran Kakak angkatnya pun mengkerutkan dahinya. Setelah itu ia perlahan mendekati Ciara yang tengah sibuk memasukan beberapa cupcake yang di tunjuk oleh Dafit.


"Lho Kak, kok pulang lagi?" tanya Dea dengan berbisik.


Ciara menolehkan kepalanya kearah Dea.


"Tadi ada insiden sedikit dan hari ini sepertinya hari dimana para sopir taksi libur karena Kakak sedari tadi gak menemukan taksi yang lewat," jawab Ciara dengan berbisik juga.


"Pakai motor itu aja Kak. Kakakkan bisa pakai motor," ujar Dea.


"Iya nanti, setelah Kakak selesai masukin kue-kue yang akan dibeli sama teman Kakak," ujar Ciara.


"Teman?"


"Hmmm."


Ciara kembali menata cupcake dan beberapa kue lainnya kedalam box.


Sedangkan Dea kini menatap wajah Dafit yang menunggu pesanannya jadi dan Dafit yang merasa dirinya tengah diperhatikan oleh Dea pun mengalihkan pandangannya dari wajah Ciara ke Dea dengan senyum manis yang membuat Dea terpesona.


"Taman Kakak yang lagi nungguin pesanan ini?" Tanya Dea penasaran setelah melepas kontak mata dengan Dafit.


Ciara menganggukkan kepalanya. Ciara kemudian menyerahkan beberapa box kotak berisi beberapa pesanan dari Dafit tersebut.


"Berapa?" tanya Dafit.


" 89 Ringgit aja," jawab Ciara.


Dafit pun mengangguk dan ia mengeluarkan beberapa uang kearah Ciara.


"Tunggu bentar," ujar Ciara. Ia kemudian mencari kembalian untuk Dafit.


"Ini kembaliannya. Terimakasih," ucap Ciara sembari tersenyum ramah.


"Terimakasih kembali,", ujar Dafit.


Dafit masih saja berdiri menatap Ciara yang tengah mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kamu mau pergi kerja?" tanya Dafit penasaran karena pakaian yang dikenakan oleh Ciara seperti pakaian beberapa karyawannya dikantor.


"Iya," jawab Ciara singkat.


"Sekalian sama saya saja. Karena kalau dilihat-lihat gak ada taksi yang lewat dan sekarang sudah pukul setengah 8 kalau kamu kerja di kantor mungkin setengah jam lagi sudah mulai kerja. Itu jam kantor pada umumnya," ujar Dafit.


"Tidak usah Dafit. Saya nanti malah akan merepotkanmu lagi," tolak Ciara.


"Tak ada yang direpotkan Ciara. Sesama ciptaan Tuhan kan harus saling membantu." Ciara menggaruk pelipisnya yang tak gatal, tak tau lagi metode apa yang harus ia gunakan untuk menolak tawaran dari pria baik itu.


"Gimana?" tanya Dafit memastikan.


"Tidak usah Dafit. Saya tadi sudah menghubungi Adik saya untuk dia jemput."


Dafit menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi," pamit Dafit dan hanya diangguki oleh Ciara.


Ciara yang merasa tak enak pun akhirnya mengantar Dafit hingga di depan tokonya.


"Hati-hati," ucap Ciara basa-basi.


Dafit pun tersenyum. Setelah itu ia memasuki mobilnya dan menurunkan kaca mobil dibagian belakang.


"Saya pergi dulu dan mungkin kalau ada waktu luang saya akan kesini untuk beli beberapa kue kamu," ucap Dafit.


"Silahkan, toko kami selalu menunggu pelanggan untuk datang lagi," tutur Ciara bergurau sembari tersenyum.


"Waalaikumsalam," jawab Ciara.


Tak berselang lama, mobil Dafit perlahan meninggalkan rumah berserta toko milik Ciara tersebut. Dan bertepatan dengan mobil Dafit berjalan, Al berlari menghampiri dirinya yang masih berdiri di luar toko.


"Mama!" teriak bocah kecil tersebut.


Ciara yang tadinya masih memperhatikan mobil Dafit kini ia mengalihkan perhatiannya ke Al sembari menjongkokan tubuhnya untuk menangkap tubuh Al.


Hap


Tubuh Al kini sudah berada didalam pelukannya.


"Uh anak Mama baru bangun tidur ya," ucap Ciara sembari menciumi pipi Al yang membuat Al tertawa geli.


"Hihihi belhenti Mama," ucap Al dengan cadelnya. Ciara menghentikan ciumannya dan kini ia merapikan rambut Al yang sedikit berantakan.


"Nanti mandinya sama aunty Dea ya. Mama sekarang mau berangkat kerja," ujar Ciara. Al yang tadi tersenyum manis kini menekuk wajahnya.


"No," tolak Al.

__ADS_1


"Lho kok no sih sayang."


"Al au itut Mama," ucapnya sembari berkaca-kaca. Ciara menghela nafas setelah itu ia menghapus air mata Al yang sudah terjun bebas membasahi pipi gemasnya.


"Baiklah Al nanti ikut Mama tapi sekarang mandi dulu ya sayang. Mama yang akan mandiin Al," tutur Ciara dan diangguki antusias oleh Al.


Ciara kini berdiri dari jongkoknya dan menggandeng tangan Al.


"Let's go," ucap Ciara. Al kembali tersenyum dan akhirnya mereka berdua masuk kembali kedalam toko sebelum masuk ke rumah utama bagi Ciara.


Setiap interaksi antara ibu dan anak tadi tak luput dari pengamatan Dafit yang tadi sempat melihat ada anak kecil yang menghampiri Ciara dari pantulan spion mobilnya karena dia berada diposisi samping sopir pribadinya tadi. Dan karena rasa penasarannya, Dafit memutuskan untuk menyuruh sopirnya itu berhenti tak jauh dari toko Ciara untuk kembali menyaksikan apa yang sedang mereka berdua lakukan. Bahkan saat Ciara dan Al bercanda gurau ia merasa bahwa bibirnya juga ikut terangkat walaupun ia tak tau apa yang mereka bicarakan namun hanya melihat kebahagiaan dari keduanya saja membuat Dafit ikut tersenyum.


"Menurut kamu, anak kecil tadi siapanya perempuan itu?" tanya Dafit kepada sopirnya saat mobil kembali berjalan.


"Hmmm mungkin anaknya atau keponakannya," jawab sopir tersebut.


"Anak?" tanya Dafit lagi.


"Mungkin Bos karena yang saya amati perempuan tadi sangatlah keibuan dan sepertinya ia sangat sayang sekali dengan anak itu," ucapnya.


Dafit menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke sebrang jalan.


"Benarkah dia anak Ciara? kalau iya berarti dia sudah menikah. Tapi aku lihat dari wajahnya, Ciara masih berusia sangat muda mungkinkah ia nikah muda. Arkh kenapa aku malah memikirkan tentang Ciara sih. Sepertinya otak aku ini lagi tak beres memikirkan istri orang tanpa seizin suaminya, huh," batin Dafit.


Sopir yang sedari tadi memperhatikan Dafit pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Bisa-bisanya Pak Bos muda jatuh cinta sama cewek yang baru dia temui tadi. Ada-ada saja," batin sopir tadi.


Sedangkan diposisi lain, Ciara telah selesai memandikan dan juga memakaikan baju untuk Al sebelum akhirnya sepasang ibu dan anak tersebut kembali keluar untuk berpamitan ke Dea yang sudah tak melayani pelanggan.


"De, aku sama Al berangkat dulu ya. Motor kamu gak papa kan Kakak pinjam?" tanya Ciara.


"Ck Kakak, pertanyaan macam apa itu?. Itu juga motor Kakak kali, kan Kak Olive beliin motor itu untuk kita berdua bukan cuma aku saja. Oh ya Kak, Al dimana? Katanya dia ikut?" tanya Dea, pasalnya Al sudah nyelonong begitu saja menghampiri motor yang sudah Dea siapkan tadi di depan toko.


"Dia udah nyelonong tuh," ucap Ciara sembari menunjuk Al dengan dagunya.


"Ck anak itu, benar-benar tak berpamitan dengan auntynya yang sangat cantik ini. Huh," ujar Dea.


"Ya ampun sejak kapan Adik aku ini narsis banget?" Tanya Ciara sembari terkekeh.


"Sejak tadi," jawab Dea.


"Hahaha dasar. Ya udah, Kakak pergi dulu, assalamualaikum," pamit Ciara.


"Waalaikumsalam, hati-hati Kak. Hati-hati Al, bye bye," teriak Dea sembari melambaikan tangannya ke arah Al yang sudah siap dengan helm kecilnya.


"Bye-bye anty!" balas Al dengan nyaring.

__ADS_1


Kini motor matic tersebut perlahan menghilang dari pandangan Dea yang sedari tadi melihat mereka berdua dari dalam toko. Dea menghela nafas panjang, saat Ciara dan juga Al sudah berangkat menuju kantor Olive.


"Huh sepi lagi nih rumah," gumam Dea sembari memandangi toko dan rumah Ciara yang hanya berisi dia saja tak ada orang lain yang menemani kesepian yang ia rasakan.


__ADS_2