
Melihat darah yang terus mengalir dari tangan Devano, ditambah lagi dengan mata yang sembab tak lupa air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, pakaian yang dikenakan sudah acak-acakan, rambut yang sudah tak berbentuk, membuat Mommy Nina semakin khawatir dengan keadaan Devano yang sangat kacau itu.
Racauan dari mulut Devano pun masih terus terdengar oleh telinga Mommy Nina.
"Maaf... Aku mohon maafkan aku," racau Devano.
"Hey sayang ada apa?" tanya Mommy Nina dengan mengusap rambut Devano dalam dekapannya.
"Mom, apa dia mau maafin Dev?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya kearah Mommy Nina.
"Dev, tenang dulu ya, nak. Semua masalah yang Dev sekarang alami pasti ada jalan keluarnya. Tenang lah sayang, dia pasti maafin Dev, kalau Dev bicarakan masalah ini dengan kepala dingin dan secara baik-baik," ucap Mommy Nina menenangkan. Walaupun ia tak tau masalah apa yang sedang Devano hadapi sekarang.
Mommy Nina kini semakin mempererat pelukannya saat melihat sorot mata Devano yang seakan-akan menggambarkan kesedihan yang teramat dalam. Hatinya seakan teriris melihat kondisi Devano saat ini. Baru pertama kali ia melihat putra semata wayangnya selemah ini.
"Kita duduk di sofa yuk. Mommy mau obatin luka kamu ini, takut jadi infeksi. Nanti kalau kamu udah merasa tenang, ceritakan apapun masalah kamu ke Mommy," ucap Mommy Nina.
Ia pun segera menuntun putranya menuju sofa diruangan tersebut dan mendudukkan tubuh Devano di sana.
"Mommy ambil obat dulu,", tutur Mommy Nina. Dengan cepat Mommy Nina mencari keberadaan kotak obat diruangan tersebut dan setelah mendapatkannya ia langsung kembali ketempat Devano berada.
Ia mendudukkan tubuhnya disamping Devano dengan tangan yang cukup terampil membuka kotak P3K di pangkuannya.
"Sini tangannya," ucap Mommy Nina.
Devano menyerahkan kedua tangannya yang penuh dengan luka kearah Mommy Nina.
Mommy Nina pun meraih tangan Devano dan ia segera mengobati luka tersebut dengan perlahan.
"Kalau sakit tahan sebentar ya," tutur Mommy Nina namun hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Devano karena ia tak merasakan sakit sedikitpun atas lukanya.
Mommy Nina menghela nafas berat, biarlah Devano seperti itu untuk sesaat. Mungkin sang anak juga butuh menenangkan dirinya sendiri sekarang.
...*****...
Disisi lain Ciara dengan cemas menunggu kehadiran Olive yang tak kunjung datang ke kantor padahal sebentar lagi akan diadakan meeting dengan klien dari Singapura untuk membicarakan tender yang cukup besar.
"Ck, itu anak juga kemana sih. Mau keluar gak bilang-bilang dulu," gumam Ciara.
__ADS_1
Sesaat setelahnya, suara pintu terbuka pun terdengar yang menampilkan Olive di balik pintu tersebut.
Dengan langkah lebar Olive mendekati Ciara yang sudah membawa beberapa lembar dokumen dan juga laptopnya.
"Aku gak terlambat kan Ci?" tanya Olive dengan nafas tak beraturan.
"Enggak sih. Tapi bentar lagi mau dimulai. Awalnya aku tadi mau batalin meeting hari ini biar nih kantor cepat gulung tikar," sarkas Ciara.
Olive yang mendengar ucapan dari Ciara tadi pun langsung mencebikkan bibirnya.
"Jangan gitu dong Ci. Kalau kantor ini sampai gulung tikar, kamu juga akan jadi pengangguran," tutur Olive.
"Aku bisa cari kerjaan baru lagi," jawab Ciara santai.
"Ck kamu mah gitu," gerutu Olive.
"Lagian kamu udah tau kalau ada meeting penting hari ini malah hilang gitu aja. Emang kamu tadi pergi kemana sih?" Olive yang diberi pertanyaan seperti itu pun terlihat panik.
"Anu itu hmmm tadi aku habis ke kantor Rafa. Iya-iya benar kantor Rafa," jawab Olive gugup.
Ciara memincingkan alisnya curiga dengan gelagat aneh dari Olive.
"Ma---mana ada aku bohongin kamu."
"Kalau gak lagi bohong kenapa kamu tadi jawabnya gugup gitu?" tanya Ciara semakin curiga.
"Aku gugup bukan karena pertanyaanmu tadi, tapi aku gugup karena 5 menit lagi meeting segera dimulai sedangkan aku baru sedikit mempelajari materi buat nanti," jawab Olive beralasan sebenarnya ia sudah sangat hafal dengan semua materi untuk ia presentasikan nanti saat meeting bahkan sudah diluar kepalanya.
Ciara mengangguk mencoba untuk percaya dengan apa yang dikatakan oleh Olive tadi.
"Oke, aku percaya. Kamu sekarang gak usah gugup nanti aku bantu kamu, semalam aku juga sudah mempelajari materi meeting hari ini," tutur Ciara sembari menepuk-nepuk pundak Olive.
Olive pun menghela nafas lega. Sepertinya alasannya tadi bisa di terima oleh Ciara. Jika sang adik angkat itu tak percaya dan terus mencurigai dirinya bisa gawat dia. Apalagi kalau Ciara tau tujuan dia tadi pergi menemui Devano, sudah dipastikan sang adik akan merajuk bahkan bisa-bisa marah besar ke dirinya.
"Ah syukurlah kalau gitu. Sekarang kita langsung ke ruang meeting aja," ajak Olive sembari menggandeng lengan Ciara.
Kini mereka telah keluar dari ruangan Olive menuju ke ruangan meeting yang berada di kantor tersebut.
__ADS_1
...*****...
Sedangkan dikantor Devano, sang empu masih saja terbengong ditemani oleh Mommynya tercinta.
"Dev," panggil Mommy Nina sembari mengusap punggung Devano.
Devano menatap kearah Mommy Nina dan tersenyum samar.
"Mom, gak pulang?" tanyanya.
"Nanti aja," jawab Mommy Nina yang tak tega meninggalkan Devano dengan keadaan seperti itu sendirian.
"Mommy pulang aja ya, ini udah sore," ujar Devano. Mommy Nina pun kini melihat jam yang melingkar ditangannya tengah menunjukan pukul 4 sore.
Ia menghela nafas. Sepertinya untuk menjaga diri Devano harus tertunda dulu karena ia sadar masih ada suami yang juga harus ia layani di rumah.
"Ya sudah Mommy pulang dulu ya. Jangan terlalu diforsir kerjanya. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik, jangan seperti tadi," tutur Mommy Nina sembari mengusap rambut Devano.
Devano pun menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah Mommy pulang. Takut Daddy kamu udah di rumah sebelum Mommy sampai duluan. Assalamualaikum," pamit Mommy Nina. Kemudian ia segera keluar dari ruangan Devano menuju rumahnya.
Setelah kepergian Mommy Nina, Devano termenung sesaat sebelum ia meraih ponselnya yang berada diatas meja didepan sofa yang ia duduki.
Dengan cekatan jari-jemarinya ia gunakan untuk mencari kontak nomor seseorang setelah itu ia langsung menghubungi nomor tersebut.
"Cari tau alamat rumah pemilik Hansen's Corp. Saya tunggu malam ini," ucapnya to the point setelah itu ia mematikan sambungan telepon tersebut.
Dan kini devano melangkahkan kakinya keluar dari kantor tersebut. Seperti biasa banyak pasang mata yang menatap dirinya dengan penuh kekaguman dan juga ketertarikan namun Devano mengacuhkan itu semua.
Ia sekarang hanya ingin segera kembali ke rumahnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah dan juga pikirannya yang semakin kalang kabut.
Setelah sampai di depan mobil sportnya itu, Devano segera masuk dan menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
...*****...
Yuk bisa yuk 400 like ðŸ¤
__ADS_1
Happy reading sayang-sayangku 🤗 See you next eps bye 👋