Young Mother

Young Mother
Resepsi


__ADS_3

"Kamu ngundang berapa banyak orang sih? kok dari tadi gak habis-habis," bisik Ciara yang sudah merasakan pegal di kakinya karena sudah hampir 2 jam dirinya terus berdiri tanpa diperbolehkan duduk untuk sementara waktu.


"Cuma dikit kok, tapi kenapa sekarang yang datang banyak banget. Dan aku lihat-lihat kebanyakan yang datang tuh teman Daddy sama Mommy," jawab Devano dengan bisikan pula dan sesekali ia tersenyum saat tangannya bersalaman dengan tamu undangan.


"Ya ampun Dev, kalau aku berdiri terus bisa patah nih kaki sama punggung," keluh Ciara.


"Sabar bentar ya sayang. Paling 30 menit lagi selesai. Atau kamu mau duduk aja?"


Ciara menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kalau aku duduk gak sopan dong sama tamu undangan."


"Terus mau gimana? kasihan kaki kamu juga kalau di paksa berdiri terus," ucap Devano.


Ciara terdiam sesaat tapi sedetik kemudian ia mendudukkan tubuhnya dan dengan cepat ia membuka high heels yang menempel di kakinya. Setelah high heels tersebut terlepas, ia kembali berdiri dan menyalami para tamu undangan yang masih saja berjejer tanpa habisnya.


Devano yang melihat aksi Ciara tadi menggelengkan kepala sembari tersenyum.


Sedangkan Al yang sedari tadi anteng di kursi pengantin dengan menikmati berbagai makanan ringan yang diberikan khusus untuknya itu, kini berdiri dan menatap penuh bahagia kesalah satu tamu yang hanya terhalang 5 orang di depannya.


"Uncel Dafit!" teriak Al kemudian ia membelah deretan manusia tadi untuk menghampiri Dafit yang kini menatapnya dengan senyuman.


Setelah sampai di depan Dafit, ia langsung mengulurkan tangannya supaya tubuhnya di gendong oleh Dafit.


"Hey boy. Bagaimana hari ini?" tanya Dafit setelah Al berada di gendongannya.


"Sangat menyenangkan. Apalagi saat Al melihat wajah Mama yang terus senyum rasanya Al sangat bahagia sekali," ucap Al dengan menatap wajah Ciara.


"Kalau Uncle bagaimana?" tanya Al balik.


"Hmmm perasaan Uncle sama seperti Al. Uncle sangat bahagia apa lagi saat melihat wajah cantik Mama Ciara yang terus memancarkan aura kebahagiaan," jawab Dafit. Al pun mengangguk.

__ADS_1


"Giliran kita kasih selamat ke Mama dan Papa," ucap Al saat Dafit melangkahkan kakinya tepat dihadapan Devano.


"Lho Al kapan kamu ikut Uncle?" tanya Ciara heran pasalnya ia terakhir melihat Al masih duduk anteng di belakangnya.


"Tadi Mama," jawab Al. Ciara mengangguk kemudian menatap Dafit yang sudah bersalaman dengan Devano.


"Selamat untuk pernikahan kalian berdua. Doa kalian adalah doaku juga. Dan aku titip Al juga Ciara, Dev. Jangan pernah tinggalin mereka lagi. Jika aku dengar kamu nyakitin Al ataupun Ciara, aku gak akan segan-segan bawa mereka menjauh dari kehidupanmu dan kamu juga akan menerima akibatnya nanti," tutur Dafit dengan genggam erat di tangan Devano.


"Tenang aja. Aku pastikan kalau kebodohanku yang dulu tak akan terulang lagi. Thanks udah nyempetin datang kesini, thanks juga untuk doanya, dan thanks kamu udah jagain Ciara dan Al selama mereka berada di negara sebrang," ucap Devano sembari melepaskan tangannya dan menepuk-nepuk bahu Dafit.


Dafit mengangguk kemudian ia beralih untuk menyalami tangan Ciara.


"Selamat Ci atas pernikahanmu. Aku harap kamu selalu bahagia dengan status barumu ini. Jika dia bikin hati kamu sakit lagi, jangan segan-segan buat curhat atau minta bantuanku. Dan aku mohon sama kalian, jangan jauhkan aku dengan Al. Walaupun Al bukan siapa-siapaku tapi Al sudah menempati sebagian hatiku. Jadi jangan pernah larang kita untuk sekedar menyapa lewat layar ponsel," tutur Dafit.


"Gak akan pernah aku pisahin kalian yang udah kayak permen karet gini. Aku juga gak akan ngelarang kamu untuk ketemu Al, asalkan jangan diculik aja dia. Bisa depresi aku tar," canda Ciara.


"Kamu ini ada-ada saja. Aku masih punya hati nurani buat nyulik Al. Ya udah aku turun dulu, masih lumayan banyak tamu yang ngantri tuh." Ciara menganggukkan kepalanya.


"Al mau ikut Uncle," jawab Al.


"Ya udah tapi jangan nakal ya sama Uncle." Al menganggukkan kepalanya.


"Daf, aku titip Al ya. Maaf ngerepotin."


"Gak ada kata ngerepotin buat Al dan juga kamu. Aku turun. Oh ya Dev." Devano yang merasa dirinya dipanggil pun menoleh.


"Kalau nanti malam belah duren mainnya yang halus aja jangan kasar dan terlalu bersemangat. Kasihan Ciara tar gak bisa jalan," tutur Dafit yang langsung mendapat geplakan tangan dari Ciara.


"Tenang aja semuanya terkendali. Tapi kalau khilaf ya gak tau nanti." Ciara kini memelototkan matanya kearah Devano yang hanya dibalas cengiran kuda oleh sang empu.


Sedangkan Dafit, ia tersenyum kemudian turun dan menuju ke kursi tamu yang sudah disediakan oleh pihak WO.

__ADS_1


"Uncle," panggil Al.


"Iya boy kenapa?"


"Al mau es krim itu," ucap Al sembari menunjuk salah satu hidangan di sebrang deretan kursi tamu.


"Ya udah Uncle ambilin dulu. Al jangan kemana-mana, oke." Al mengacungkan jari jempolnya dan duduk di kursi yang tadi Dafit duduki.


Setelah memastikan Al anteng di tempat, Dafit kini bergegas kearah meja es krim yang sudah tersedia beberapa varian rasa es krim disana.


Dafit tak pikir lama, ia langsung mengambil satu cup es krim rasa coklat kesukaan Al dan baru saja ia ingin berbalik menuju tempat Al tadi berada, tak disengaja ia malah menabrak seseorang yang tengah membawa beberapa minuman dinampannya hingga minuman tersebut tumpah dan mengenai pakaian wanita tadi juga pakaian Dafit.


"Astagfirullah, maaf tuan saya tidak sengaja," tutur wanita tersebut yang diyakini adalah salah satu pelayan yang melayani tamu disana.


"Ah gak papa kok. Kamu juga tidak bersalah. Saya yang salah tadi," ucap Dafit. Tapi wanita tersebut tampaknya terlalu takut dan akhirnya ia mengambil tisu yang berada di atas meja dan dengan segera mengelap baju Dafit.


Dafit yang merasa jengah pun kini menggenggam tangan wanita tersebut dan menyingkirkan tangan itu dari jas yang ia pakai.


"Saya sudah bilang tidak papa. Lebih baik kamu segera ganti baju kamu yang basah itu dan kembali berkerja dari pada mencoba mengeringkan pakaian saya," tutur Dafit.


"Ma---maaf tuan. Sekali lagi saya minta maaf," tuturnya yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Dafit dan setelahnya ia beranjak dari depan wanita tersebut yang tengah menatap kepergiannya.


"Aduh kenapa bisa lalai begini sih. Mana kalau dilihat-lihat harga pakaiannya mahal lagi. Aduh emakkkk, untungnya tadi mas-masnya baik dan gak minta ganti rugi. Kalau sampai orang yang aku tabrak punya tempramen yang tinggi sudah dipastikan aku bakal di ceramahin panjang kali lebar belum lagi di suruh ganti rugi. Mau ganti rugi pakai apa coba, gajiku seumur hidup belum tentu bisa membeli baju tadi," batinnya penuh rasa syukur kemudian ia beranjak untuk membereskan kekacauan yang dia dan Dafit perbuat tadi.


...****************...


Terimakasih untuk 1 M nya sayang-sayangku 🤗


Maaf kalau cerita ini masih banyak kekurangannya 🤗


Jangan lupa tetap dukung author dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE, DAN KASIH HADIAH 😘

__ADS_1


Stay healthy, stay safety and stay with me 💜 see you next eps bye 👋


__ADS_2