Young Mother

Young Mother
Hukuman bagi Tiara


__ADS_3

Devano terus mendekat kearah Tiara dan saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan wanita itu, Devano kembali menarik pelatuk pistolnya dan di arahkan ke lengan sebelah kiri Tiara.


Tiara menggelengkan kepalanya, meminta Devano agar tak menembak dirinya lagi. Tapi Devano tak peduli hingga...


Dorrr!!


Peluru dari pistol Devano kini sudah merobek kulit lengan Tiara hingga suara rintihan dari wanita itu kembali didengar oleh Devano bertepatan itu pula darah segera mengalir di lengan yang terkena tembakan tadi.


"Dua tangan itu nantinya akan membusuk dengan sendirinya. Anggap saja itu hukuman bagi kamu yang sudah menyakiti Al," tutur Devano dengan suara rendahnya yang justru sangat menakutkan di dengar oleh semua orang disana.


Dan setelah mengatakan hal tadi Devano mengkode salah satu anak buahnya untuk mendekati dirinya.


"Wakilkan Al untuk menembak kedua kaki dia," ucap Devano saat anak buahnya sudah berada di sampingnya.


Dan dengan senang hati anak buah tadi langsung melancarkan aksinya dan dengan dua kali tembakan, kaki Tiara sudah berhasil anak buahnya lumpuhkan dan sekarang tubuh yang tadinya berdiri angkuh kini meluruh ke lantai dingin ruangan tersebut.


"Dev, aku mohon jangan siksa aku lagi. Aku tau kamu begini karena terpaksa. Aku juga tau kamu melakukan ini gara-gara ancaman dari keluarga wanita murahan itu kan! Aku tau sebenarnya kamu gak bisa ngelukain aku seperti ini. Kamu hanya terpaksa!" teriak Tiara.


"Tutup mulut busukmu itu. Omong kosong dari mana yang kamu katakan itu! Ciara istriku, pujaan hatiku, cinta terakhirku, separuh nyawaku dan Al adalah putraku, darah dagingku dan separuh nafasku. Tak ada alasan atau ancaman yang membuat aku untuk melindungi mereka. Mereka tanggungjawabku yang harus aku jaga dari manusia bermuka iblis sepertimu. Dan aku tekankan sekali lagi, istriku hanya Ciara seorang tak akan pernah ada yang menggantikan posisi dia hatiku," ucap Devano penuh penekanan.


Setelah mengatakan hal itu ia memutar tubuhnya membelakangi Tiara dan sebelum dirinya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut, Devano mengangkat suaranya lagi.


"Bawa dia ke markas dan kurung dia diruang bawah tanah. Ikat tangan dan kaki dia dengan besi panas. Siksa dia sampai dia menyerah akan hidupnya. Dan setelah ia menyerah, penggal kepalanya, antar kepala itu ke rumah dia!" perintah Devano tanpa menghiraukan gelengan dan air mata Tiara. Dan setelah itu ia bergegas pergi dari ruangan tersebut.


"Devano! tunggu aku! aku gak mau sama mereka Dev. Devano!" teriak Tiara melengking memenuhi ruangan tersebut tapi Devano mana peduli dengan dirinya walaupun dia sampai nangis darah sekalipun Devano tak akan melepaskan dirinya begitu saja. Dan yang ada dipikiran Devano sekarang hanya segera pergi dari tempat itu dan menemui Ciara yang mungkin sekarang sudah semakin kesakitan.

__ADS_1


Kini Devano sudah mendekati mobilnya yang didalam mobil itu terdapat 4 orang disana.


"Papa!" teriak Al saat melihat Devano sudah masuk kedalam mobil tersebut dan duduk di kursi kemudi.


Devano tersenyum kemudian ia memindah tubuh Al yang awalnya berada di pangkuan Daddy Tian ke pangkuannya.


Lalu ia langsung mencium setiap inci wajah dari putranya itu. Al terkekeh geli berkat ulah sang Papa. Setelah puas dengan ciuman, Devano kini menangkup pipi Al yang masih memerah dengan bekas cengkraman dari Tiara tadi.


Tiba-tiba saja mata Devano memanas lalu ia memeluk tubuh Al dengan sangat erat.


"Maafin Papa, sayang. Gara-gara Papa, Al harus melewati hal seperti ini. Maaf Al, maafin Papa," tutur Devano dengan rasa bersalah.


Tangan Al kini mengelus punggung Devano.


"Ini bukan salah Papa. Tapi salah Tante badut dan teman-temannya. Jadi Papa gak boleh merasa bersalah seperti ini, oke. Al gak papa kok. Tubuh Al masih utuh dan tak ada goresan sedikitpun. Walaupun masih ada bekas tangan Tante badut tapi it's oke, Al baik-baik saja." Devano memejamkan matanya setelah mendengar ucapan dari Al tadi. Sungguh anaknya itu sangatlah pandai menyembunyikan sesuatu yang sekiranya membuat dirinya atau Ciara nantinya akan khawatir padanya.


"Ini salah Papa, Al. Papa gak bisa jagain kamu. Maaf sayang maaf. Sekarang coba katakan sama Papa, dibagian mana yang sakit?" Al menggelengkan kepalanya.


"Al sudah tidak merasakan sakit lagi Papa. Rasa sakit itu udah hilang saat Papa tadi datang nolongin Al. Terimakasih Papa. Al sayang Papa," tutur Al dengan diakhiri dengan ciuman singkat di pipi Devano.


Saat Devano ingin membalas ucapan dari Al, tiba-tiba saja ponselnya yang berada disaku celananya berbunyi nyaring hingga membuat Devano langsung mengambil ponselnya. Setelah mendapatkannya, ia melirik sekilas nama di dalam layar ponselnya dan setelah itu ia langsung mengangkat telepon tadi.


Dan pada saat itu suasana hening di dalam mobil itu tak ada yang angkat bicara kecuali Devano.


"Halo, ada apa Mom?'" tanya Devano to the point.

__ADS_1


📞 : "Kalian udah nemuin Al belum?" bukannya menjawab Mommy Nina kembali bertanya.


"Alhamdulillah sudah Mom," jawab Devano dengan menatap wajah Al.


📞 : "Syukurlah kalau begitu. Oh ya, Mom tadi telepon kamu karena mau ngasih tau kalau Ciara udah di rumah sakit dan tinggal nunggu 3 pembukaan lagi Ciara akan melahirkan. Mom harap kamu segera kesini sekarang kalau urusan disana udah selesai," tutur Mommy Nina.


Devano tampak tertegun saat mendengar cerita bahwa sebentar lagi Ciara akan melahirkan anak kedua mereka yang kemungkinan Ciara harus melewati persalinan sendiri seperti dulu.


📞 : "Dev! Hoy anak monyet. Diem aja dari tadi." Suara teriakan yang bisa membuat gendang telinga pecah itu pun masuk dalam indra pendengarannya. Tapi hal itu juga yang membuat Devano tersadar dari lamunannya.


"Iya Mom, Dev kesana sekarang. Dan bilangin ke Cia, Mom. Kalau doaku dan Al akan terus mengalir mengiringi proses persalinannya," tutur Devano.


📞 : "Iya-iya, ya udah buruan kesini. Mommy kirim alamat rumah sakitnya lewat pesan," ucap Mommy Nina sebelum sambungan telepon keduanya terputus.


"Ada apa Pa?" tanya Al penasaran pasalnya saat telepon tadi semua gerak-gerik dan ekspresi Devano dapat Al lihat. Ditambah tatapan Devano berubah menjadi tatapan khawatir setelah menerima telepon tadi.


Devano yang mendengar pertanyaan dari Al pun tersenyum sembari mengelus kepala anaknya itu.


"Al sebentar lagi akan ketemu sama dedek bayi." Ucapan Devano itu mampu membuat Al langsung memancarkan binar bahagia.


"Benarkah?" Devano mengangguk sembari tersenyum.


"Kita sekarang ke rumah sakit yuk. Semoga kita nanti sampai disana masih bisa nemenin Mama buat proses persalinan." Al dengan antusias mengangguk walaupun tak sepenuhnya ia paham dengan ucapan Devano itu.


Devano hanya bisa tersenyum melihat antusias Al kemudian ia memindahkan tubuh anaknya di dalam pangkuan Daddynya kembali.

__ADS_1


"Gak usah ngebut-ngebut. Proses persalinan itu butuh waktu yang lama. Setiap pembukaan aja membutuhkan waktu beberapa menit bahkan jam. Jadi pelankan laju mobilnya nanti," peringat Daddy Tian. Ia tak ingin merasakan sport jantung nantinya saat Devano mengemudi mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Bisa-bisa ia dan besannya mati syok didalam mobil itu sebelum sampai di rumah sakit.


Devano hanya bisa menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya. Setelah itu mobil miliknya melesat, menjauhi rumah yang tadi digunakan untuk menyekap Al menuju ke rumah sakit yang sudah Mommy Nina kirimkan alamatnya.


__ADS_2