Young Mother

Young Mother
Siasat Ayah dan Anak


__ADS_3

Kini Ciara telah selesai dengan acara memasaknya bertepatan itu pula, Al dan juga Devano juga telah selesai menyiapkan keperluan sekolah Al.


"Mama," panggil Al dalam gendongan Devano.


Ciara yang dipanggil oleh Al pun langsung menolehkan kepalanya kesumber suara.


"Kita sarapan dulu," ucap Ciara kepada dua laki-laki yang sudah berdiri disampingnya.


Tiga orang tadi duduk di kursi masing-masing dan beberapa saat kemudian Olive menghampiri mereka dengan baju kantornya.


"Selamat pagi," sapa Olive setelah sampai di ruang makan tersebut dengan senyum yang mengembang ia berikan kepada Al dan juga Ciara dan saat tatapan matanya kearah Devano, senyum itu hilang dan tergantikan dengan pelototan matanya.


Setelahnya kini giliran Dea yang juga sudah siap dengan pakaian santainya yang akan ia gunakan untuk pergi ke toko bunga milik Ciara.


"Selamat pa---gi," ucap Dea yang sempat terputus karena matanya tak sengaja melihat sosok yang tempo hari lalu bertengkar hebat dengan Kakak angkatnya itu.


"Loh," kaget Dea sembari menunjuk ke arah Devano dengan mata yang ia arahkan ke arah Devano dan Ciara secara bergantian.


Ciara yang ditatap oleh Dea pun menggedikkan bahunya acuh.


Dea masih terbengong, berharap ada yang menjelaskan kehadiran laki-laki tampan yang sayangnya berengsek itu.


"Papa mau ngantar Al kesekolah, aunty," tutur Al yang sepertinya tau kebengongan auntynya itu.


"Papa?" beo Dea yang semakin bingung.


"Iya Aunty. Papa Devano sekarang Papa Al. Al udah punya Papa lagi," ucap Al dengan girang.


"Eh kok? lah?" ucap gagu Dea yang semakin dibuat linglung.


"Sudah-sudah, nanti lagi bicaranya. Kita sarapan dulu sekarang," tutur Ciara untuk menghentikan perbincangan antara Dea dan juga Al tadi.


Kini keduanya terdiam dan Dea segera duduk di depan Al. Setelah itu mereka menikmati sarapan paginya dengan nikmat kecuali Ciara yang malah mengaduk-aduk makanan di depannya.


Olive yang mengetahui hal itu pun segera menghentikan aktivitasnya dan menatap Ciara dengan lekat.


"Ci," panggil Olive namun panggilannya tak digubris oleh Ciara, ia masih saja sibuk mengaduk-aduk makanan tadi.


"Ciara," panggilnya lagi dengan mengelus tangan Ciara yang berada di atas meja makan tersebut. Ia tau pasti apa yang tengah dihadapi Ciara saat ini.

__ADS_1


Dan sejak kedatangan Devano beberapa waktu yang lalu, Ciara nampak banyak berubah. Ia menjadi lebih pendiam dan juga sering sekali melamun. Ditambah dengan rasa kekhawatiran akan kehilangan Al terus saja menghantui, saat dirinya harus bertatap muka dengan laki-laki berengsek itu yang sayangnya adalah ayah biologis dari Al. Ia tak bisa berfikir positif mengenai Devano, entah mengapa ia pun tak tau. Mungkin rasa trauma akan perlakuan lelaki itu masih sangat membekas di pikiran dan hatinya. Dan saat bayangan masa lalu akan hal itu membuat hatinya terasa nyeri kembali. Ia pun menekan-nekan dadanya untuk mengurangi rasa nyeri itu.


"Ci, are you oke?" tanya Olive mulai khawatir dengan keadaan Ciara saat ini dengan genggaman tangan yang semakin erat.


"Eh ah kenapa?" tanya Ciara ketika sadar akan kebengongannya tadi.


Olive menghela nafas kesal.


"Aku memanggilmu dari tadi tapi kamu terus aja bengong," gerutu Olive.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? coba beritahu aku," sambungnya.


Sementara Al, Devano dan juga Dea, mereka memilih diam namun mata mereka tak lepas memandang lekat kearah Ciara.


"Ah aku gak papa kok," jawab Ciara dengan memaksakan senyumnya.


"Al, udah selesai sarapannya?" tanya Ciara Sepertinya ia ingin menghindari pertanyaan dari Olive selanjutnya.


"Udah Ma," jawab Al yang memang sudah menghabiskan makanannya.


"Ya sudah kalau gitu berangkat sekolah sekarang yuk ini juga udah jam setengah tujuh," ajak Ciara sembari beranjak dari duduknya dan menaruh piring kotor miliknya dan juga Al ke dapur.


Saat Ciara pergi, Al dan Devano saling pandang.


"Papa juga sudah selesai boy. Tapi kamu tunggu disini sebentar ya, Papa kedapur dulu buat naruh piring ini," ucap Devano. Al pun menganggukkan kepalanya.


Devano pun kini bergegas masuk ke dapur, menyusul Ciara yang malah terdiam di depan wastafel.


"Sayang," panggil Devano dari belakang tubuh Ciara. Devano yang tak mendengar dan tak mendapatkan respon dari Ciara pun, ia langsung melangkahkan kakinya semakin dekat kearah Ciara dan saat sudah berada di samping wanitanya, ia mengelus lembut kepala Ciara.


"Hey, sayang. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Devano penuh dengan perhatian.


Ciara kini tersadar dan setelahnya ia menangkis tangan Devano dari kepalanya.


"Aku tunggu di luar," ucap Ciara dengan dingin setelah itu ia meninggalkan ruangan tersebut yang membuat Devano mengerutkan keningnya bingung.


"Apa yang terjadi dengan Ciara? Kenapa sikapnya berubah menjadi dingin seperti itu?" pikir Devano. Ia menggelengkan kepalanya tak ingin pikiran negatif mengenai Ciara menghantui otaknya. Ia pun segera menaruh dan mencuci piring dan gelas bekasnya setelah itu ia menyusul Ciara dan juga Al yang sudah berada di luar rumah tersebut.


Saat sudah berada di tempat yang sama dengan Ciara dan Al, Devano langsung menggendong tubuh Al.

__ADS_1


"Let's go kita berangkat," ucap Devano.


"Let's go Papa," tutur Al dengan semangat.


Sementara itu Ciara, ia tak melirik Devano terlebih dahulu, ia malah langsung nyelonong menghampiri mobil Devano dan masuk ke kursi belakang mobil tersebut.


"Papa," panggil Al kepada Devano yang menatap nanar kearah Ciara.


"Eh iya sayang, ada apa hm?"


"Mama kenapa aneh seperti itu?" tanya Al.


"Mungkin Mama masih ngantuk sayang jadinya murung seperti itu," jawab Devano sekenanya saja. Karena ia juga tak tau pasti penyebab Ciara berubah.


Setelah mengucapkan hal itu, Devano segera menghampiri mobilnya dan setelah sampai di samping mobilnya, Devano langsung membuka pintu mobil bagian belakang kemudi yang sudah terdapat satu buah car seat yang baru kemarin sore ia beli untuk Al.


Setelah menaruh tubuh Al di car seat tersebut dan memastikan sabuk pengaman yang digunakan Al sudah aman, Devano menutup pintunya dan menghampiri pintu disebelah Ciara berada.


"Duduk didepan!" perintahnya yang sudah membuka pintu itu.


"Gak," tolak Ciara dingin.


"Ci, ayolah. Aku juga bukan sopirmu lho," ucap Devano masih mencoba membujuk Ciara.


"Saya juga tidak meminta anda untuk menjadi sopir saya dan mengantar jemput anak saya," tutur Ciara.


Devano memincingkan alisnya. Apa lagi ini? Kenapa Ciara sekarang menggunakan bahasa formal kepada dirinya? sungguh aneh dan tak biasa.


"Mama," kini Al yang angkat suara.


"Iya sayang ada apa?"


"Mama temani Papa didepan dong. Biar kaya Mamanya Dewa yang selalu menemani Papa Dewa di sampingnya," ucap Al.


"Tapi sayang---"


"Harusnya begitu ya Al, tapi sayang Mama gak mau nemenin Papa," tutur Devano memutus ucapan Ciara tadi bahkan bakat aktingnya kini beraksi. Dengan mengubah mimik wajah menjadi sedih yang akan membuat Al nanti membantunya untuk membujuk Ciara.


"Mama," tutur Al dengan rengekan.

__ADS_1


Ciara berdecak dan tanpa sepatah kata lagi ia langsung keluar dari mobil tersebut dan duduk di kursi depan, samping kemudi.


Devano pun tersenyum dan langsung mengacungkan jari jempolnya kearah Al yang di balas dengan ancungan jempol dari anaknya itu. Memang benar-benar siasat ayah dan anak yang sangat pintar.


__ADS_2