
H-1 dimana acara pernikahan Ciara dan Devano akan segera dilangsungkan. Semua persiapan telah selesai dirancang walaupun tadinya ada sedikit kendala tapi syukurnya kendala itu bisa langsung segera diatasi. Dan sejak 1 minggu yang lalu, Devano maupun Ciara tak di perbolehkan bertemu hingga hari H mereka. Jika ditanya rindu? jelas, tak perlu diragukan lagi. Apalagi Devano semakin lama dia semakin manja dan lengket dengan Ciara, apapun caranya satu hari ia harus bisa bertatap muka dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya walaupun terjadi perdebatan terlebih dahulu dengan Mommy Nina yang terus melarangnya. Tapi bukan Devano namanya kalau tak memiliki seribu akal dan alasan.
Sama seperti saat ini, ia ketahuan tengah melakukan panggilan video dengan Ciara oleh Mommy Nina yang selalu mengawasinya. Dan dengan mengendap-endap Mommy Nina mendekati Devano kemudian saat dirinya sudah berada di belakang anak laki-laki itu, Mommy Nina langsung merebut ponsel milik Devano dan sambungan telepon mereka langsung ia mastikan begitu saja.
"Mommy apaan sih main di matiin gitu aja. Dev kan belum selesai," tutur Devano sembari berusaha mengambil ponselnya. Tapi sayang saat ia baru ingin merebut ponsel dari tangan Mommy Nina, beliau lebih dulu memasukan ponsel tersebut kedalam buah dadanya. Hal itu membuat Devano berhenti dan tak berani berbuat apa-apa lagi. Malu jika dia tetap nekat mengambil ponselnya di aset berharga milik sang Mommy yang pastinya jika ketahuan dengan Daddy Tian sudah di pastikan ia akan habis ditangan sang ayah. Walaupun dulu dia pernah meminum isi buah dada tersebut tapi kan itu dulu saat dia kecil bukan sekarang yang sudah punya akal pikiran yang cukup nalar.
"Haish kenapa ditaruh disitu sih Mom. Balikin sini," rengek Devano.
"Ambil sendiri kalau kamu berani dan siap kena bogem Daddy kamu. Makanya kalau di omongin itu jangan ngeyel. Disuruh sabar biar gak ketemu untuk sementara waktu aja bandel banget. Padahal tinggal besok kamu itu ketemu Ciara. Bahkan hanya tinggal menghitung jam saja, bisa ditahan sebentar gak sih?" sebal Mommy Nina.
"Ya kan Dev rindu Mom. Dev juga kangen Al, pengen lihat anak sendiri masak dilarang."
"Al hanya dijadikan alasan kamu biar bisa saling pandang sama Ciara. Pokoknya ponsel kamu Mom sita sampai besok setelah akad," tutur Mommy Nina tanpa bantahan dan dia pun kini keluar dari kamar Devano.
Sedangkan Devano kini melongo melihat kepergian Mommy Nina.
"Haish, mana bisa aku nahan kerinduan sama calon istri. Toh ketemunya juga lewat layar ponsel bukan secara langsung. Huh ribet sekali sih. Siapa dulu yang menyetuskan istilah penyet, payet, pingit haish entahlah pokoknya beginian yang hanya buat menyusahkan orang saja," gerutu Devano. Rasanya ia ingin menemui orang yang membuat ide "tak boleh bertemu beberapa hari sebelum akad" dan setelah ketemu dia akan memberikan pelajaran kepada orang tersebut.
Berbeda dengan Devano, Ciara kini justru tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah Devano yang pastinya sedang di omeli Mommy Nina karena ia tadi sempat melihat sekilas wajah Mommy Nina sebelum sambungan teleponnya terputus.
"Mama, kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Al yang menghampirinya dan duduk disamping sang Mama yang tangannya tengah di Henna oleh salah satu orang yang ahli di bidang itu.
"Tak apa sayang." Al pun mengangguk.
"Apa tadi telepon dari Papa?" tanya Al lagi yang dijawab anggukan kepala oleh Ciara.
"Kenapa Mama tadi gak panggil Al? Al kan juga pengen lihat wajah Papa. Al kangen tau Ma sama Papa." Ciara tersenyum kembali.
"Gimana mau panggil Al, orang Papa tadi telepon Mama hanya 3 menit saja dan baru Mama mau panggil Al, sambungan teleponnga mati," jelas Ciara.
__ADS_1
"Papa yang matikan?"
"Bukan tapi Maimeo. Dan mungkin ponsel Papa sekarang tengah disita sama Mai," tutur Ciara.
"Kenapa harus disita Ma?"
"Karena Papa gak mau nurut sama omongan Mai. Sama kayak Al yang gak nurut sama Mama, kalau dibilangin selalu ngeyel jadinya Mama selalu sita mainan kesayangan Al kan. Nah Papa sama seperti itu, biar Papa gak ngeyel lagi." Al mengangguk-angguk kepalanya mengerti. Setelah itu tak ada pertanyaan selanjutnya dari mulut Al, ia hanya fokus pada tangan Mamanya yang terlihat begitu indah.
Butuh beberapa menit akhirnya Henna di kedua telapak tangannya selesai dikerjakan. Ciara memandangi sekilas tangannya tersebut dengan senyum kepuasan akan hasilnya.
"Terimakasih mbak," ucap Ciara.
"Sama-sama Kak. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu. Assalamualaikum," pamit orang tersebut.
"Waalaikumsalam. Mari saya antar sampai depan," ujar Ciara.
Mereka berdua kini saling beriringan menuju pintu utama rumah kedua orangtua Ciara.
"Saya usahakan Kak. Terimakasih karena sudah mempercayai saya." Ciara lagi-lagi hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu orang tersebut bergegas pergi dari rumah itu.
Baru saja Ciara ingin menutup pintu rumah tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriakan Olive yang mampu menghentikan tangannya.
"Ciaaaaa!" teriak Olive sembari berlari kearah Ciara setelah sampai, ia langsung menubruk tubuh Ciara dan memeluk tubuh tersebut begitu erat.
"Astaga, untung gak jatuh," ucap Ciara.
Olive terkekeh sembari melepaskan pelukannya.
"Iya ih Kak Olive kayak anak kecil aja pakai lari-larian segala," timpal Dea yang baru bergabung dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Sudah-sudah. Gak papa yang penting gak sampai jatuh aja. Masuk gih, udara malam gak baik buat badan." Ciara kini membuka pintu selebar-lebarnya untuk kedua sahabatnya yang sudah ia anggap keluarga sendiri.
Kini ketiganya sudah memasuki rumah tersebut yang langsung disambut teriakan heboh dari Al.
"Aunty?" teriak Al sembari berlari kearah Olive dan Dea. Olive kini tersenyum kemudian ia berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari keponakannya itu. Tapi sayang Al lebih memilih menubruk kaki Dea.
Olive kembali berdiri dari jongkoknya sembari menghentakkan kakinya sebal.
"Ish Al. Baru ketemu hari ini udah bikin badmood aja. Yang nyambut pelukan dia kan aku bukan Dea. Tapi kenapa dia malah milih meluk kaki Dea dari pada tubuhku. Padahal tubuhku lebih empuk dari pada kaki cungkring Dea yang hanya tulang aja," kesal Olive.
"Terima nasib aja sih Kak," tutur Dea sembari terkekeh.
"Al mah pilih kasih. Udah ah aunty gak mau berteman lagi sama Al," ucap Olive.
"Kan kita memang tidak pernah berteman aunty." Olive melongo menatap wajah polos Al.
Sedangkan Ciara juga Dea kini mereka tertawa terbahak-bahak melihat aksi Tom and Jerry di depan meraka saat ini.
"Ya ampun sakit sekali. Aduh dadaku rasanya sesak sekali. Ahhhh Cia, tolongin aku." Olive kini bergelayut manja ke tubuh Ciara.
"Al, gak boleh gitu nak. Kasihan aunty Olivenya yang udah mau nangis lho. Ayo sekarang Al peluk Aunty kalau Al masih mau di traktir makanan dan mainan yang Al suka," bujuk Ciara.
Al tampak berpikir sejenak kemudian ia sekarang mendekati tubuh Olive.
"Ya sudah deh, Al mau peluk aunty Olive." Olive kini tersenyum senang kemudian ia segera berjongkok dan tanpa membuang waktu lagi ia memeluk erat tubuh Al.
"Tapi habis ini Al mau di beliin es krim," ujar Al.
"Haish kamu ini kecil-kecil udah banyak akal. Mau dipeluk aja minta imbalan, dasar. Huh untuk tampan, ponakan sendiri pula. Kalau gak udah aunty hih biar balik lagi jadi kecil," tutur Olive sembari melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Udah-udah, sekarang kita ke ruang keluarga. Mama, Papa sama Kiara sudah disana nungguin kalian dari tadi," ucap Ciara.
Kini keempat orang tersebut berjalan menuju ruang keluarga untuk berkumpul bersama dengan keluarga Ciara sebelum Ciara melepaskan status lajangnya.