
Hampir 1 jam lebih mereka menempuh perjalanan menuju ke rumah sakit tempat Ciara sekarang berada dan setelah sampai, Devano bergegas turun dari mobil lalu berlari menuju kamar VIP yang tengah ditempati Ciara. Bahkan saking tidak sabarnya, Devano sampai meninggalkan Al di belakangnya bersama dengan 3 orang lainnya.
Al yang melihat Papanya sudah menjauh pun kini menengadahkan kepalanya guna untuk melihat wajah para kakeknya.
"Papa kemana lari-lari begitu?" tanya Al kepada mereka berdua.
"Entahlah, Dai juga gak tau," jawab Daddy Tian.
"Opa juga sama seperti Dai, Al. Kita semua gak tau kenapa Papa kamu sampai lari-lari begitu. Dan lebih baik kita sekarang nyusul Papa supaya rasa penasaran Al langsung terjawab," tutur Papa Julian saat tatapan Al tadi berpindah kearahnya.
Al pun mengangguk. Dan dengan kedua tangannya yang digandeng oleh Dai dan Opanya, Al berjalan dengan senyum yang terus mengembang. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan adiknya yang sudah sangat lama ia tunggu-tunggu kelahirannya.
Sedangkan disisi lain, Devano kembali berlari setelah pintu lift terbuka hingga kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar Ciara. Dan dengan nafas yang tak beraturan Devano membuka pintu tersebut perlahan. Bisa ia lihat Mommynya dan mertuanya tengah membantu Ciara yang tengah berjalan mondar-mandir untuk mempercepat proses pembukaan.
Devano bisa bernafas lega, setidaknya ia bisa menemani Ciara saat persalinan nanti. Walaupun ia sempat menyesal karena tak menemani Ciara dari awal pembukaan tadi. Tapi mau gimana lagi, ia harus menyelamatkan nyawa Al terlebih dahulu. Dan jika ia mau menyalah akan kejadian itu maka ia akan menyalahkan Tiara yang sudah berani-beraninya menculik Al ditambah di waktu yang tidak tepat lagi, sehingga membuat dirinya tadi sempat merasakan dilema yang luar biasa.
Ciara yang menyadari bahwa Devano sudah kembali pun langsung menyambut suaminya itu dengan senyuman manis di bibirnya.
"Dev," panggil Ciara dengan lemah.
Devano kini bergegas mendekati tubuh Ciara.
"Biar Dev aja Mom, Ma," ucap Devano saat sudah berada di depan Ciara.
Kedua wanita paruh baya itu tampak saling bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya mereka menyerahkan Ciara ke Devano dan keduanya pun langsung menyingkir dari samping pasangan suami istri itu. Membiarkan Devano membantu proses demi proses persalinan karena itulah yang di inginkan Devano sedari tadi.
__ADS_1
"Tambah sakit ya?" tanya Devano saat Ciara tiba-tiba berhenti dan mencengkeram kuat tangannya yang sedari tadi berada di genggaman Ciara.
Ciara dengan lemah mengangguk. Devano yang melihat itu merasa kasihan kepada Ciara dan mungkin ini adalah terakhir kali ia memiliki buah hati. Karena ia tak sanggup jika harus melihat wanita pujaannya itu kesakitan seperti saat ini. Cita-citanya memiliki anak 5 akan berhenti diangka 2 saja.
"Aku panggil dokter ya," ucap Devano yang benar-benar sudah tak tega melihat wajah pucat dari Ciara yang selalu memancarkan rasa sakit di wajah tersebut.
"Gak usah. Tadi dokter baru aja kesini buat cek semuanya dan kata dokter pembukaannya sudah di tahap ke 8. Jadi tinggal nunggu 2 pembukaan lagi. Kamu tenang aja ya, aku baik-baik aja kok," tutur Ciara menenangkan suaminya.
Devano hanya bisa mengangguk pasrah. Dan ia hanya mampu menemani Ciara yang masih berjalan-jalan hingga terdengar suara pintu kamar inap Ciara terbuka.
"Mama!" teriak Al menggema memenuhi kamar tersebut.
Ciara dan Devano menghentikkan langkahnya saat mendengar teriakkan tadi.
"Hay sayang," sapa Ciara dengan senyum yang mengembang padahal rasa sakit kini tengah ia rasakan tapi sebisa mungkin ia menahannya di hadapan putra pertamanya.
"Lho kenapa perut Mama masih besar? bukannya dedek bayinya udah keluar?" tanya Al.
Ciara masih tersenyum dan tangannya kini bergerak untuk mengacak-acak rambut Al.
"Belum sayang. Sebentar lagi dedek bayi akan lahir dan bertemu kita semua. Jadi Al doain Mama ya nak, supaya proses keluarnya dedek bayi lancar." Al menganggukkan kepalanya antusias.
"Pasti Al akan doakan yang terbaik buat Mama dan dedek bayi," ucap Al. Devano tersenyum saat mendengar ucapan dari anaknya itu. Hatinya menghangat seketika.
"Oh ya, Al belum makan kan?" tanya Devano untuk mengalihkan pandang Al supaya anaknya itu tak melihat raut wajah Ciara yang berubah menjadi raut wajah kesakitan.
__ADS_1
"Iya Papa. Dan sekarang perut Al lagi nangis minta diisi." Belum sempat Devano menimpali ucapan dari Al, suara Mommy Nina sudah lebih dulu mendominasi ruangan tersebut.
"Mai juga belum makan. Al mau beli makanan sama Mai gak? sekalian juga beliin buat mereka semua yang ada disini?" tawar Mommy Nina.
Al tampak berpikir sejenak hingga akhirnya ia mengangguk setuju.
Mommy Nina pun segera mendekati Al dan menggandeng tangan cucu tampannya itu.
"Mama, Al beli makanan dulu ya. Dedek bayi segeralah keluar dari perut Mama. Jangan bikin Mama kesakitan ya. Abang sayang kamu. Love you," tutur Al diakhiri dengan kecupan singkat di perut Ciara. Walaupun Ciara sudah sebisa mungkin menyembunyikan raut kesakitannya tapi Al masih bisa melihat hal itu.
Setelah itu Al dan Mommy Nina kini mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut dan setelah tubuh mereka berdua tak terlihat lagi, Ciara langsung memeluk Devano dengan cengkraman kuat di punggung suaminya itu.
Bohong jika Devano tak merasakan sakit karena cengkraman Ciara tadi, tapi mau bagaimana lagi, toh ini juga sudah menjadi resiko dia sebagai suami yang siap siaga.
"Kamu perempuan hebat, perempuan kuat. Aku yakin kamu bisa melewati proses ini," bisik Devano tepat ditelinga Ciara.
"Stttt sakit Dev. Benar-benar sakit bahkan lebih sakit dari proses persalinan Al dulu," tutur Ciara.
Devano mengelus punggung hingga pinggang Ciara.
"Aku memang tidak tau rasanya bagaimana tapi aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua hingga baby girl lahir. Atau aku panggil dokter buat persiapkan proses persalinan secara caesar sekarang juga? biar rasa sakit yang kamu rasakan itu cepat hilangnya," usul Devano yang langsung mendapat gelengan kepala oleh Ciara.
"Gak. Aku maunya normal Dev. Dan kalau mau caesar udah nanggung banget," tolak Ciara dengan suara yang teramat lirih karena ia tengah merasakan sakit yang luar biasa.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi kamu harus tetap semangat oke. Ini demi anak kita dan jika sakit itu bisa dialihkan ke aku, biarkan aku saja yang merasakan itu semua. Tapi baby girl bukan lah Al dulu yang tengah menjalankan karma buat Papanya," tutur Devano.
__ADS_1
Ciara tak lagi menjawab ucapan dari Devano itu, ia benar-benar sudah merasakan kesakitan hingga akhirnya....
"Dev, aku udah gak kuat. Tolong panggilan dokter sekarang," ucap Ciara. Devano semakin panik dan dengan perlahan ia menuntun tubuh Ciara ke arah brankar kamar tersebut dan setelah merebahkan tubuh Ciara di atas banker, Devano langsung memencet tombol darurat yang berada di atas banker tadi.