
Sudah beberapa hari setelah kejadian yang menimpa Al dan Yura saat itu kedua orangtua dari kedua belah pihak masih saja mencari sembari mengumpulkan bukti dari dalang kejadian itu yang sampai saat ini belum mendapatkan titik terang.
Bahkan karena masalah itu, keluarga Bian telah berpindah rumah ke kompleks perumahan yang sama seperti keluarga Devano tinggali saat ini. Bahkan rumah mereka hanya bersebalahan dengan tujuan agar Devano dan Bian muda untuk saling bertukar informasi satu sama lain, sekaligus untuk sementara waktu Yura akan berangkat atau pulang sekolah dengan Al dibawah pengawasan dua bodyguard Al juga beberapa bodyguard tersembunyi yang telah dua keluarga itu siapkan sampai kondisi kembali kondusif. Dan hal itu disetujui oleh Devano walaupun harus merayu Al untuk mensetujui ide itu.
Dan saat ini setelah Al juga Yura pergi kesekolah, dua keluarga itu berkumpul di rumah Devano lebih tepatnya di ruang kerja Devano untuk membahas perkembangan dari pencarian mereka.
"Apa ada sesuatu hal yang kalian curigai?" tanya Devano yang ia tujukan kepada Bian dan Franda.
"Sebenarnya kita berdua belum yakin dengan ini. Tapi gerak gerik dari salah satu orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Franda sangat mencurigakan saat kita datang kerumahnya dengan membawa Yura bersama kita," ujar Bian.
"Pertama saat dia lihat kita berdua lebih dulu menghampiri dia, dia tersenyum lebar dan menyambut kita layaknya keluarga biasa tapi setelah melihat Yura senyum dia seketika luntur dan digantikan dengan ekspresi terkejut yang berusaha dia sembunyikan. Bahkan istrinya pun sama, dia juga menampilkan ekspresi yang sama," sambung Bian.
"Siapa orang itu?" tanya Devano.
"Namanya Rizal, dia merupakan Om dari Franda," jawab Bian yang diangguki oleh Devano.
"Apa kalian tidak ada yang pernah memiliki masalah dengan dia?" tanya Devano untuk menggali lebih dalam lagi.
__ADS_1
Tapi Bian seketika menggelengkan kepalanya, namun berbeda dengan Bian, Franda justru seakan-akan ia tengah teringat suatu hal. Hingga ia kini angkat suara.
"Ah sepertinya aku ingat sesuatu yang sebenarnya ini kejadian sudah lama sekali," ujar Franda yang membuat semua orang kini mengalihkan perhatian mereka ke arah Franda.
"Jadi begini, saat Yura masih di dalam kandungan dan pada waktu itu kamu tengah melakukan perjalanan bisnis. Tiba-tiba kakekku menghubungi seluruh keluarga untuk ia kumpulkan di rumahnya. Dan saat seluruh keluarga sudah berkumpul, beliau membacakan surat wasiat nenek tentang harta warisan keluarga besarku. Dan kakek bilang, jika harta warisan keluarga 50% akan di berikan ke Yura dan 20% diberikan kepadaku dan sisanya diberikan ke keluarga Om Rizal. Awalnya memang keluarga Om Rizal keberatan atas semua itu, bahkan aku sendiri juga kaget akan penyataan yang menurutku tidak adil itu. Tapi saat Om Rizal terus protes dan menginginkan pembagian harta itu dibagi rata, tiba-tiba kakek mengungkapkan sesuatu yang ia simpan lama. Dan pernyataan itu mengenai hubungan mereka berdua yang ternyata tak memiliki hubungan darah sama sekali mau itu dengan kakek ataupun nenek. Istilahnya tuh Om Rizal diadopsi oleh kakek dan nenek sebelum mereka memiliki anak yang merupakan ayahku," jelas Franda dengan menghela nafasnya sebelum dirinya meneruskan ceritanya itu yang belum selesai.
"Memang Om Rizal tidak langsung terima begitu saja dan tetap menyangkal jika pernyataan kakek itu kebohongan semata. Alhasil mereka pergi dengan kemarahan mereka. Dan aku yang merasa tak enak hati dengan itu semua, mencoba untuk membujuk kakek supaya beliau berubah pikiran dan mengganti pernyataannya tadi. Tapi kakek tetap kekeuh tak mau merubahnya sedikitpun dengan alasan karena semua itu untuk membalas budi almarhum ayah yang sudah berhasil membangkitkan usaha keluarga yang pada waktu itu hampir gulung tikar. Jadi mau bagaimanapun usaha aku untuk merayu kakek supaya beliau merubahnya, semuanya berakhir sia-sia, tak ada yang mempan satu pun hingga akhirnya aku menyerah dan pasrah saja dengan keputusan itu. Hingga beberapa bulan setalahnya, saat aku melahirkan. Om Rizal dan istrinya mulai beraksi dengan ingin membunuhku dan menculik Yura pada waktu yang bersamaan. Tapi aksinya itu syukurnya terhenti saat Bian masuk ke kamar. Kamu ingat kan sayang kejadian itu?" sambung Franda diakhiri dengan ia menoleh kearah Bian.
Bian yang sepertinya sudah mulai ingat pun dengan cepat ia menepuk keningnya sendiri.
"Astaga kenapa aku bisa lupa akan kejadian itu. Iya-iya aku ingat banget kejadian yang bikin kamu kritis itu. Haish," ucap Bian dengan mengepalkan tangannya erat saat memori kejadian itu berputar diotaknya. Franda yang melihat kepalan tangan itu pun segera menggenggam tangan Bian untuk menenangkan emosi suaminya itu.
"Pada waktu itu dia menyelinap masuk ke kamar inapku dan menyuntikkan racun di dalam tubuhku juga dia menindih kepalaku menggunakan bantal. Tidak hanya itu saja, tapi dia juga beberapa kali memukul perutku cukup keras hingga membuatku pendarahan hebat dan setalahnya tak sadarkan diri," cerita Franda yang membuat Ciara meringis, membayangkan betapa sakitnya yang Franda rasakan pada waktu itu.
"Tapi untungnya semuanya bisa ditangani oleh dokter. Yang awalnya aku udah pasrah dengan kondisi rahimku, alhamdulilah rahimku juga baik-baik saja. Dan setalah kejadian itu Om Rizal juga istrinya memohon ke kita untuk tidak melaporkan semua kejahatannya itu ke pihak berwajib dengan berbagai alasan dan janji-janji mereka. Alhasil dengan mencoba mengikhlaskan semua kejadian itu, kita berdua berusaha untuk memaafkan dia dengan syarat perjanjian tertulis dan sah di mata hukum. Jika mereka melanggarnya maka perjanjian itu akan berlaku untuk mereka. Dan jika benar dalang di balik ini semua adalah mereka berdua maka janji itu juga masih akan tetap berlaku," ujar Franda.
Devano yang sedari tadi menyimak setiap cerita dari Franda pun kini menganggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Sepertinya apa yang kalian curigai kemungkinan besar benar adanya. Jadi supaya kemungkinan-kemungkinan itu mendapatkan jawaban, kita harus segera bergerak mulai dari sekarang. Utus salah satu anak buah kamu untuk menyelinap menjadi bodyguard dia juga menyelinap untuk menjadi karyawan di perusahaan miliknya. Dan setelah anak buahmu itu berhasil menyelinap, berikan mereka kamera tersembunyi juga penyadap suara dan suruh mereka untuk memasangnya di tempat-tempat tertentu yang sekiranya sering dia tempati juga kalau bisa pasang alat itu di barang yang sering ia gunakan, seperti jas, jaket, baju atau dasi. Dari situ kita nanti bisa mengawasi dia dan tau rencana apa yang akan dia rencanakan untuk membunuh kalian sekeluarga," ujar Devano sebelum ia melanjutkan perkataannya.
"Karena aku yakin dia masih menginginkan harta itu dan satu-satunya cara yaitu membunuh kalian semua terutama Yura yang memiliki setengah dari warisan itu. Dan saat dia berhasil melumpuhkan Yura otomatis dia juga sudah melumpuhkan kalian berdua dari dalam dan setalahnya mereka akan sangat mudah melenyapkan kalian. Satu lagi, apa kakek kamu itu masih ada sekarang?" tanya Devano yang dijawab gelengan oleh Franda.
"Kakek, nenek dan ayah kamu sudah tiada. Kalau ibu kamu?"
"Mama juga sudah tiada," jawab Franda.
"Apa kakek dan nenek kamu memiliki anak lagi selain ayah kamu?"
"Tidak. Cuma ayahku saja dan Om Rizal," jawab Franda.
"Nah sudah bisa disimpulkan sekarang. Saat kalian semua sudah lenyap makan semua harta entah itu dari keluarga kalian atau harta dari jerih payah kalian otomatis akan jatuh ke tangan dia," ujar Devano yang sepertinya memang sangat masuk akal.
"Dan untuk nama dalam kartu nama itu bisa saja di palsukan atau dia sengaja berkerjadama dengan seseorang agar pergerakan mereka tak terhendus kalian. Jadi lebih baik kita coba cara yang aku katakan tadi. Jika cara itu gagal kita pikirkan lagi cara yang lainnya. Dan untuk kamera biar aku saja yang cari, kalian cukup menyiapkan penyadap suara itu. Ingat, semua benda itu harus dalam bentuk sekecil mungkin," sambung Devano yang diangguki setuju oleh keduanya.
"Baik kalau gitu kita bergerak sekarang untuk mencari barang itu. Terimakasih atas bantuan kalian," ujar Bian dengan senyumnya. Devano membalas senyuman itu lalu ia menepuk pundak sang empu.
__ADS_1
"Tidak masalah jika itu semua bisa melindungi kalian semua," tutur Devano yang dibalas anggukan oleh Bian tanpa melunturkan senyumannya.