
Tok tok tok!!!
"Aunty cantik bukain pintunya!" teriakan nyaring dari anak kecil yang dengan sengaja mengetuk pintu bahkan menggedor-gedor pintu kamar yang ditempati oleh Rahel dan Zidan mampu membuat kedua pasangan yang lagi di pengaruhi oleh napsu pun dengan terpaksa harus menghentikkan aktivitasnya yang sebentar lagi akan memulai mendalami sebuah kenikmatan dunia.
"Aunty!!! bukain pintunya! Al mau masuk." Yap orang yang mengganggu malam pertama mereka adalah Al, si bocah cilik yang sempat cemburu karena aunty cantiknya menikah dengan uncle Zidan.
Zidan dan Rahel kini saling mematung dengan tatapan mata yang saling pandang satu sama lain.
"Please aku udah gak tahan," tutur Zidan dengan wajah memerah. Ia benar-benar sudah tak tahan jika harus menundanya lagi.
Rahel menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia tak tega dengan Zidan tapi di depan kamar mereka sekarang tengah ada Al yang masih saja menggedor pintu itu. Ia juga berpikir kenapa anak itu ada disini, bukannya ini sudah malam bahkan waktu pun sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi anak ini kenapa masih keluyuran dan kenapa Ciara serta Devano berada? Tolong jangan katakan jika Al di tinggal atau ketinggalan di hotel ini. Memikirkan hal itu saja membuat Rahel khawatir.
"Sayang. Jangan hiraukan teriakan itu. Mungkin saja itu hanya teriakan setan yang menyerupai teriakan Al. Sudah ya, jangan di dengarkan. Aku akan lanjut, oke." Rahel terdiam dan berpikir, mungkin apa yang di katakan oleh Zidan ada benarnya juga kan ini sudah tengah malam jadi wajarlah ada setan yang berkeliaran.
Rahel kini menghela nafas kemudian mengangguk, memberikan izin ke Zidan agar meneruskan apa yang ia mau. Tapi lagi-lagi saat pusaka Zidan sudah berada di bibir goa, terdengar teriakan dan diakhiri dengan tangisan yang kembali mengalihkan atensi keduanya.
"Aunty cantik buka pintunya! huwaaaaa!"
Zidan berdecak sebal dan segera ia berpindah tempat dari yang tadinya berada di atas Rahel kini tubuhnya sudah turun dan ia segera menyambar paper bag yang di antarkan oleh anak buahnya tadi. Setelah memakai celana saja, dengan perasaan yang dongkol serta emosi, Zidan beranjak untuk membuka pintu tersebut tapi hanya sedikit saja. Kalau lebar, bisa bahaya. Karena kondisi Rahel masih belum memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Saat pintu kamar tersebut terbuka, Zidan menggeram kesal karena apa yang ia lihat saat ini adalah nyata bukan seperti tebakannya tadi.
__ADS_1
"Al ngapain kesini?" tanya Zidan dengan sinis.
Al yang tadi menangis pun kini mengelap air mata dengan tangannya sembari menengadahkan kepalanya untuk bertatap langsung dengan Zidan.
"Uncle juga ngapain kesini? ini kan kamar aunty cantik," ucap Al dengan tatapan intimidasi yang cukup tajam bahkan Zidan cukup kaget melihat tatapan itu tapi ia bisa mengontrol dirinya agar tak terlalu kelihatan, bisa jatuh harga dirinya hanya karena di tatap oleh Al seperti ini.
"Jangan-jangan Uncle mau culik aunty cantik. Gak, Al gak akan biarkan uncle bawa pergi aunty," tutur Al yang membuat Zidan memutar bola matanya malas.
"Kalau aku mau nyulik juga gak akan dapat dosa Al Al. Toh dia juga istri sahku. Mau aku apa-apain juga gak masalah. Selain nyiksa dia dan itu gak akan pernah terjadi," batin Zidan yang tak bisa ia ucapkan langsung.
"Aunty! Ada penculik yang mau nyulik aunty. Aunty dimana sekarang?" teriak Al lagi dan berusaha untuk mencoba mencari celah agar bisa masuk kedalam kamar tersebut. Namun sayang badan Zidan selalu mengikuti badan Al dan mencegah badan mungil itu untuk masuk.
"Uncle turunin Al!" perintah Al dengan menggerakkan badannya, berusaha untuk melepas gedongan Zidan.
"Gak. Uncle gak akan turunin Al. Katakan kemana orangtuamu sekarang?" tanya Zidan dengan menatap wajah Al yang sudah berhenti menangis.
"Uncle kepo. Turunin Al buruan! Al mau sama aunty cantik." Al terus memberontak tapi sama saja tak berhasil meloloskan dirinya.
"Al," ucap Zidan dengan suara rendah namun terkesan menyeramkan. Al kini berhenti untuk menggerakkan tubuhnya dan dengan susah payah ia menelan salivanya. Ternyata ada juga yang di takuti dari anak kecil satu ini.
"Katakan dimana orangtua Al sekarang?" tanya ulang Zidan.
__ADS_1
"Mama sama Papa katanya tadi lagi buat jalan baby biar Al cepat bertemu sama baby didalam perut Mama. Makanya Al disuruh ikut aunty cantik dulu dan gak boleh ganggu mereka. Kalau Al ganggu, baby di perut Mama nanti lama keluarnya," jawab Al dengan polosnya.
Zidan membelalakkan matanya. Ia paham apa yang di katakan oleh Al tadi. Bisa-bisanya sahabatnya itu tengah enak-enak dan membiarkan anaknya mengganggu dirinya yang juga ingin memenuhi haknya. Tak bisa Zidan biarkan mereka menikmati hal itu sedangkan dirinya saja tak memperolehnya.
"Apa mereka sekarang tengah menginap disini?" tanya Zidan dengan suara yang sudah kembali lembut. Ia kasihan melihat raut wajah Al yang tadi sempat ketakutan karena suaranya tadi.
Al menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan dari Zidan tadi.
"Kamarnya dimana?" Al menunjuk kesalah satu kamar yang berada disebelah kamar dari sepasang pengantin baru tadi.
"Ya sudah Al tunggu disini sebentar. Jangan ikut Uncle atau masuk kedalam kamar aunty. Pokoknya Al jangan kemana-mana sebelum Uncle datang lagi. Oke." Al tampak lagi mode penurut pasalnya ia langsung menganggukkan kepalanya mensetujui ucapan dari Zidan tadi.
Zidan pun kini menurunkan tubuh Al kemudian ia mengacak rambut Al sebelum ia beranjak untuk menghampiri kamar yang ditunjukkan oleh anak sahabatnya itu, meninggalkan Al yang hanya berdiri tegak di tempat tadi sembari menatap kearah Zidan yang sekarang sudah berada didepan pintu kamar orangtua Al.
Zidan mengernyitkan keningnya saat melihat pintu tersebut tak tertutup sempurna. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Zidan langsung mendorong pintu tersebut dan masuk kedalam kamar itu tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan sialnya saat dirinya sudah masuk kedalam kamar tadi, telinga Zidan langsung menangkap suara-suara aneh dari dua orang yang berada di dalam kamar tersebut.
Karena rasa penasaran dan juga untuk memastikan jika didalam itu apakah benar Ciara dan Devano atau orang lain, maka dari itu Zidan berjalan dengan sangat pelan, mendekati suara tadi. Dan saat dirinya sudah berada di jarak yang cukup dekat, ia bersembunyi di balik tembok yang digunakan untuk pembatas antara kamar dan ruangan kecil di sana. Perlahan Zidan mengintip kegiatan orang tersebut.
"Anjir. Kurang ajar, bisa-bisa yang menikmati malam pertama mereka berdua bukan gue sama Rahel. Sahabat gak ada akhlak, mana biarin anaknya ganggu gue lagi. Kurang ajar, brengsek, sialan," geram Zidan dengan berbagai umpat kasar yang keluar dari mulutnya saat menyaksikan aktivitas yang harusnya ia lakukan dengan Rahel tadi. Tapi gara-gara Al yang disuruh oleh kedua orangtuanya yang tak ada akhlak alhasil semuanya gagal.
"Arkh!" Zidan menggeram kesal kemudian ia meninggalkan kamar tersebut dengan bibir yang terus mengabsen para hewan di kebun binatang tanpa ada yang ketinggalan satu pun.
__ADS_1