Young Mother

Young Mother
Terkabulnya Permintaan Devano


__ADS_3

4 bulan telah berlalu setelah acara kecil-kecilan di rumah Mommy Nina. Hubungan antara Ciara dan Devano sudah kembali lengket satu sama lain bahkan pada awalnya Ciara terus menolak untuk disentuh, di belai atau bahkan berdekatan dengan Devano, tapi kini semakin lama usia kandungannya semakin ia tak ingin lepas dari suaminya. Sama seperti hari ini, ia tengah merengek seperti anak kecil dengan bergelayut manja di tubuh Devano.


"Nanti aja kerjaannya ya sayang please," ucap Ciara sembari menengadahkan kepalanya menatap Devano dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


Devano menghela nafas, sudah hampir dua jam Ciara bertingkah seperti ini kepadanya.


"Sayang, aku jam 10 ada meeting lho dan ini sudah pukul 9. Satu jam lagi. Ayolah, aku pergi ke kantor cuma bentar kok. Aku janji setelah selesai meeting aku bakalan pulang," tutur Devano sembari mengelus rambut Ciara.


Ciara tetap menggelengkan kepalanya tak mau di tinggal oleh Devano.


"Ya sudah gini saja. Kamu ikut aku ke kantor mau?" Wajah Ciara kini berubah menjadi binar bahagia. Dan sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Devano.


"Kalau kamu setuju buruan ganti baju sana. Aku tunggu di bawah oke," ujar Devano. Ciara lagi-lagi hanya mengangguk kemudian ia segera melepaskan pelukannya dari tubuh Devano kemudian ia berlari menuju walk in closed di kamar tersebut. Devano kini bisa menghela nafas lega saat tubuhnya terbebas dari gelayutan manja istrinya. Bukannya ia tak mau, hanya saja kalau di gelayuti sampai 2 jam siapapun yang merasakan, akan pegal sendiri tubuhnya.


Sudah hampir 30 menit Devano menunggu Ciara berganti pakaian tapi sang empu belum juga kunjung keluar.


"Sayang sudah belum ganti bajunya? 30 menit lagi meeting di mulai," teriak Devano dari lantai pertama rumahnya.


Ciara yang mendengar teriakkan dari suaminya itu pun berdecak sebal kemudian dengan cepat kilat ia mengoleskan lipstik di bibirnya setelah itu dengan gesit ia keluar dari kamar tersebut.


Devano tersenyum saat melihat istrinya mulai turun dari tangga tapi sesaat kemudian matanya terbuka lebar saat Ciara malah berlari turun dari anak tangga yang tersisa.


"Astagfirullah. Sayang, jangan lari-lari please. Ingat kamu lagi hamil takut baby-nya keluar sebelum waktunya," teriak Devano khawatir. Istrinya ini sejak usia kandungannya memasuki bulan ketiga, tak hanya berubah jadi manja dengan Devano melainkan menjadi sering bar-bar saja. Padahal sebelum hamil anak keduanya, istrinya itu terbilang dan tergolong kedalam wanita yang anggun dan cuek. Tapi sekarang, hanya bisa bikin geleng-geleng kepala melihat tingkah.


Ciara yang di nasehati oleh Devano pun hanya nyengir kuda setelah sampai di hadapan sang empu, lalu ia kembali bergelayut manja di lengan suaminya.


"Let's go kita pergi," ucap Ciara dengan semangat 45.

__ADS_1


Devano menghela nafasnya dan mengangguk kearah Ciara.


Sebelum mereka berdua keluar, Devano berteriak kesalah satu art di rumah tersebut.


"Mbak Narsih titip rumah!" terbaik Devano hingga orang yang punya nama berlari menghampiri dirinya.


"Baik tuan," ucapnya setelah sampai di depan kedua majikannya.


Yap, sesuai janji Ciara saat dirinya hamil kembali, maka semua pekerjaan rumah harus di pegang oleh art yang di carikan oleh Devano. Dan mau tak mau Ciara akhirnya mensetujuinya.


Kini sepasang suami istri itu keluar dari rumahnya dan segera memasuki mobil yang sudah terparkir rapi di garasi rumahnya. Lalu perlahan mobil itu meninggalkan rumah tersebut.


Dengan kecepatan sedang akhirnya mobil tersebut sampai di kantor miliknya pribadi.


"Sudah sampai," ucap Devano dan detik berikutnya ia menoleh kearah Ciara setelah melepaskan seat beltnya.


Setelah itu baru ia keluar dari mobilnya kemudian ia membuka pintu mobil yang berada disebelah Ciara, lalu ia segera membawa sang istri kedalam gendongannya.


Banyak karyawannya yang kebetulan di lobby kantor tersebut memberi hormat kepadanya tak lupa dengan tatapan mata yang berbeda, mulai dari kagum dengan aksi Devano tersebut, ada juga yang masih dengan terang-terangan menatap Devano dengan tatapan suka padahal didalam gendongan sang empu sudah terpampang jelas disana telah ada Ciara yang notabenenya sebagai istri bosnya itu dan ada juga yang menatap iri kearah Ciara.


Devano tak memperdulikan semua tatapan itu selagi karyawannya tak membicarakan yang tidak-tidak di belakangnya. Kalau sampai ia mendengar hal itu, tanpa pandang bulu ia akan memecat karyawan yang sudah lancang menggosipkan dirinya ataupun istrinya tercinta.


Setelah memasuki lift yang hanya khusus untuk dirinya dan menunggu beberapa saat akhirnya Devano kini berada di lantai paling atas kantor tersebut. Ia segera melangkahkan kakinya kembali menuju ruangannya.


"Bantu buka pintunya," titah Devano kepada sekertarisnya. Dan dengan cekatan sekertaris tersebut membantu Devano membukakan pintu ruangan tersebut. Perlu di ketahui sekertaris Devano kini sudah ganti setelah Ciara secara terang-terangan berkata jika dirinya tak senang melihat Lidya menjadi sekertaris Devano karena tampilan wanita itu masih saja seksi walaupun sering Devano ingatkan. Dan demi keselamatan rumah tangganya akhirnya Devano bertukar sekertaris dengan tangan kanannya yang sering menggantikan dirinya untuk mengurus kantor saat ia tinggal keluar kota untuk mengurus bisnisnya yang lain.


Kini Devano meletakkan tubuh Ciara didalam ruangan khusus yang didesain menyerupai kamar lengkap dengan kasur dan sebagainya. Bahkan beberapa baju Devano juga ada di sana.

__ADS_1


Ia menatap lekat wajah damai Ciara cukup lama. Kemudian ia mencolek pipi Ciara yang semakin hari semakin berisi.


"Gembul banget sih. Gemes," ucap Devano lirih sembari mengajukan wajahnya untuk mencium pipi Ciara beberapa kali bahkan ia sempat menggigit gemas pipi yang menyerupai bakpao tersebut. Tapi anehnya sang empu tak terusik sedikitpun oleh aktivitas Devano.


Setelah puas bermain-main dengan pipi sang istri, Devano beralih mengusap perut Ciara yang kini sudah terlihat membuncit.


"Papa kerja dulu sayang. Jangan bangunkan Mama ya sebelum Papa selesai meeting. Bisa berabe nanti kalau Mama kamu bangun dan gak ada Papa disampingnya. Bisa-bisa banjir lokal nanti. Jadi tolong kerjasamanya ya sayang," tutur Devano tepat berada di depan perut Ciara dan setelah mengatakan hal itu, ia mencium sekilas perut Ciara dan dengan segera ia keluar dari ruangan tersebut penuh dengan kehati-hatian agar tak mengganggu Ciara dalam tidurnya.


...****************...


2 jam sudah akhirnya meeting bulanan yang sering kantor tersebut adakan selesai juga.


"Meeting hari ini cukup sampai disini. Terimakasih untuk hari ini. Semoga kedepannya kantor ini semakin maju dan semakin bisa kalian andalkan. Kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing," tutur Devano mengakhiri meeting tersebut sebelum dirinya keluar lebih dulu dari pada karyawannya yang lain diikuti sekertarisnya dibelakangnya.


Baru saja Devano melangkahkan kakinya beberapa langkah keluar dari ruangan tersebut, ponselnya berbunyi nyaring dan dengan segera dirinya langsung mengangkat telepon tersebut.


"Assa----" belum selesai ia mengucapkan salam, ucapannya sudah terpotong begitu saja.


📞 : "Huwaaaaa kamu dimana hiks kenapa ninggalin aku sendirian huwaaaa," jerit histeris Ciara mampu membuat Devano menjauhkan ponselnya dari telinganya. Setelah dirasa aman, Devano baru menempelkan ponselnya kembali di telinganya.


"Aku cuma meeting sebentar sayang. Dan ini juga udah selesai. Jangan nangis lagi oke. Aku otw kesana," ucap Devano.


Tut Tut Tut


Sambungan telepon tersebut di putus sepihak oleh Ciara. Hal itu mampu membuat Devano menghela nafas sabar.


"Huh, banyak-banyak sabar ya Allah. Aku dulu minta biar dia manja sama aku dan sekarang engkau kabulkan permintaanku itu. Tapi mbok ya manjanya jangan keterlaluan seperti ini. Mau nangis jadinya tapi malu sama karyawan di kantor. Arkh sudahlah, pusing," gumam Devano yang hanya dirinya saja yang bisa mendengarkan keluh kesahnya itu. Kemudian ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan kembali sebelum Ciara semakin mengamuk kepadanya nanti.

__ADS_1


__ADS_2