Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 71


__ADS_3

Beberapa bulan setelah Rizal masuk kedalam tahanan, disitulah hidup Yura mulai tenang. Tak ada lagi orang yang setiap hari menganggu dirinya yang selalu mengancam nyawanya itu. Dan tak hanya itu, hubungan pertemanan dari Al dan Yura semakin lengket saja. Bahkan tak heran jika keduanya sering jalan-jalan berdua seperti saat ini. Ya, mereka berdua kini tengah jalan-jalan di pantai di kota tersebut dengan kedua bodyguard Al yang selalu mengikuti keduanya kemampuan mereka pergi.


"Al," panggil Yura sembari menikmati sejuknya angin pantai dengan melihat ombak didepannya itu.


"Kenapa?" tanya Al yang sekarang menatap wajah Yura dari samping.


"Al besok kan ulang tahun," ujar Yura.


"Iya. Terus?"


Yura kini mengalihkan pandangannya kearah Al berada.


"Al mau kado apa dari Yura?" tanya Yura dengan senyum manisnya.


"Jika kamu tanya aku menginginkan kado apa dari kamu, aku akan jawab kalau aku tidak butuh kado apapun dari kamu. Karena yang aku inginkan hari ini, besok dan seterusnya adalah kamu," ujar Al.


"Aku menginginkan kamu tetap berada disampingku, menjadi temanku untuk selamanya," sambung Al dengan tatapan mata yang kembali menatap pemandangan didepannya itu.


Dan perkataan dari Al tadi membuat Yura kini berdecak.


"Ck, kalau itu mah sebelum kamu minta aku juga akan melakukannya. Aku akan menjadi teman kamu untuk selamanya. Walaupun suatu saat nanti kita berpisah, kita harus tetap mengingat pertemanan kita ini. Tidak ada yang boleh melupakannya hingga kita di pertemukan lagi nanti," ujar Yura yang langsung membuat Al membelalakkan matanya dan dengan cepat ia menutup mulut Yura dengan tangannya.


"Jangan bicara omong kosong, aku tidak suka. Dan kita juga tidak akan berpisah sama sekali sampai kita besar nanti," tutur Al dengan melepaskan tangannya tadi dari mulut Yura.


"Tapi kan kita tidak tau masa depan kita itu seperti apa. Kan bisa jadi karena ada satu alasan yang mendesak, membuat kita terpaksa harus menjauh satu sama lain." Al yang benar-benar tak suka dengan kata pisah pun kini ia menatap tajam kearah Yura.


"Yura!" peringat Al.


Dan hal itu membuat Yura yang tadinya ingin kembali berbicara, ia langsung mengurungkan niatnya tadi.

__ADS_1


"Iya-iya maaf. Aku tidak akan berbicara seperti itu lagi," ucap Yura mengalah.


"Tapi buruan kasih tau Yura, Al mau kado apa?" ulang Yura yang belum puas dengan jawaban Al sebelumnya.


"Aku kan udah bilang tadi, kalau aku tidak menginginkan apapun selain kamu terus berada disampingku," ujar Al.


"Al yang benar jawabnya," rengek Yura.


"Memangnya jawabanku tadi ada yang salah? Aku menginginkanmu, udah itu saja. Tidak ada yang lainnya," tegas Al yang membuat Yura kini mengerucutkan bibirnya. Dan karena ia sebal dengan Al, ia kini berdiri dari duduknya tadi. Lalu berjalan menuju ke arah Doni dan Toni berada


"Mau kemana?" terika Al.


"Mau minta minum. Haus," jawab Yura yang masih sebal dengan Al. Bahkan anak perempuan itu sesekali menghentakkan kakinya saat dia berjalan.


Dan semua tingkah dari Yura tadi tak lepas dari pantauan Al yang justru tengah terkekeh melihatnya.


Doni dan Toni yang sedari tadi tengah bersantai sembari rebahan di bawah payung pun kini keduanya langsung mendudukkan tubuhnya saat mendengar suara Yura tadi.


"Kamu mau minum?" tanya Doni untuk memastikan. Dan pertanyaannya tadi mendapat anggukan kepala sebagai jawabannya.


"Tapi kita berdua lagi tidak punya air mineral sedikitpun," ucap Toni.


"Ck, masak Om tidak bawa air sih," tutur Yura yang semakin mengerucutkan bibirnya.


"Ya buat apa kita bawa air sedangkan kita saja sekarang ada di tempat yang dipenuh dengan air," ujar Toni.


"Ck maksud Yura tuh air minum lho Om. Yura juga sudah tau kalau kita sekarang berada di tempat yang dipenuhi dengan air, tapikan air pantai tidak enak kalau di minum. Om juga kalau disuruh minum tidak mau kan?" tutur Yura.


"Kata siapa? Kita sih mau-mau aja kalau di beri uang 500 juta," ucap Doni yang diangguki setuju oleh Toni.

__ADS_1


Yura yang melihat hal itu pun kini ia memutar bola matanya malas. Sedangkan Al yang baru bergabung dengan ketiga orang tadi, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah Om belikan Yura air minum sekarang. Kasihan dia kalau terus-terusan menahan rasa dahaganya. Bisa-bisa dia nanti dehidrasi lagi," ujar Al.


"Ck, kita sih mau-mau saja membelikan Yura minuman. Tapi---" ucap Toni dengan sengaja menggantung ucapannya tersebut.


"Tapi kenapa?" tanya Al dan Yura secara serempak.


"Tapi uangnya mana?" tutur Toni sembari mengulurkan tangannya tepat didepan tubuh Al.


Al yang mendadak di todong oleh Toni pun ia kini berdecak sebal.


"Katanya Young and rich man, tapi uang buat beli minuman aja tidak punya," sindir Al didepan orangnya langsung.


"Bukannya kita tidak punya. Tapi kita lagi dalam mode hemat keuangan. Tuan muda kan tau sendiri kalau kita berdua belum punya istri jadi uang ini tuh harus kita simpan untuk membahagiakan istri kita kelak. Karena perlu tuan muda tau, perempuan tuh sebenarnya lebih suka cowok yang mapan dan banyak uang daripada cowok tampan yang tidak punya uang tapi punya kesetiaan," ucap Doni penuh dengan percaya diri.


"Halah itu mah alasan Om doang," tutur Al lalu tangannya kini bergerak untuk mengambil uang yang sempat diberikan Devano kepada dirinya tadi. Dan setelah ia menemukan uang itu, ia langsung memberikannya kepada Toni yang sedari tadi masih saja menengadahkan tangannya.


"Itu uangnya. Dan Al peringatan ke kalian berdua. Jangan pernah menilai semua perempuan tuh sama rata. Karena pada dasarnya tidak semua perempuan sama seperti yang di katakan oleh Om Doni tadi. Dan Om harus hati-hati karena disini banyak perempuan, takut-takut jika ucapan Om Doni tadi didengar salah satu dari mereka, mereka nanti akan melaporkan kepada teman-temannya yang lain dan berakhir kalian berdua nanti akan habis kena pukul sama mereka," ucap Al yang langsung membuat kedua laki-laki tadi menolehkan kepalanya mereka ke kanan dan kiri mereka.


"Astaga baru sadar. Haduh jadi gimana dong. Kalau mereka tau aku tadi sempat ngomong begitu bisa habis aku nanti ditangan mereka," ucap Doni yang mulai tak tenang.


"Ish bukan cuma kamu saja yang habis tapi aku juga akan kena imbasnya. Kamu sih pakai asal bicara seperti itu tadi," tutur Toni yang langsung menyalahkan tindakan Doni tadi.


"Ck, uangnya sudah berada di tangan Om Toni tapi kalian berdua masih saja tidak bergerak untuk membelikan Yura minuman. Cepat buruan pergi sana," ujar Al dengan sebisa mungkin ia menyembunyikan tawanya.


"Tapi---" belum sempat Toni menyelesaikan ucapannya, Al sudah lebih dulu memutusnya.


"Jika kalian tidak segera pergi beli minuman, jangan salahkan aku, jika aku saat ini juga memanggil semua perempuan disini untuk memberitahu perkataan Om Doni tadi dan biar ka---" Al menggantung ucapannya saat ia melihat kedua bodyguardnya itu sudah ngacir pergi dari hadapannya dengan wajah yang sebisa mungkin mereka tutupi. Dan hal itu membuat Al dan Yura tak kuasa menahan tawanya lagi, hingga akhirnya mereka berdua kini tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua laki-laki tadi.

__ADS_1


__ADS_2