Young Mother

Young Mother
Ternyata Pertemuan Sesaat


__ADS_3

Saat sudah sampai dirumah, Ciara langsung membawa Al kedalam kamarnya tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan Olive maupun Dea.


"Ciara kenapa sih, De?" tanya Olive penasaran.


"Aku pun juga gak tau Kak. Saat Kak Ciara masuk mobil tadi raut mukanya udah beda gitu kayak orang ketakutan dan khawatir," jawab Dea sembari mendudukkan tubuhnya di sebelah Olive yang sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu.


"Nah itu. Aku rasa dia tadi ketemu sama makhluk astral kali ya jadinya kayak gitu. Tapi kan ini disiang bolong mana ada setan yang nongol," ucap Olive.


"Gak mungkin Kak. Kalau aku sih nebaknya Kak Cia tadi ketemu sama orang yang pernah membuat luka dihatinya dan pertemuan diantara mereka berdua tak disengaja," tutur Dea.


"Hmmm mungkin juga sih. Tapi gak tau lah, pusing aku. Mending nanti tanya Ciara langsung aja." Dea menganggukkan kepalanya setuju.


...*****...


Di kamar, Ciara masih betah menatap wajah damai Al sembari mengelus kepala anaknya itu dengan sayang.


"Jangan pernah tinggalin Mama ya sayang. Mama hanya punya Al didunia ini. Maaf, Mama tadi mengabaikan kamu saat nangis dan maaf atas kebohongan yang Mama lakukan tadi. Jangan tanya keberadaan Papamu lagi ya sayang. Cukup hari ini saja kamu tanya pria brengsek itu," ucap Ciara lembut bahkan air matanya kembali menetes hingga mengenai pipi Al yang membuat anak tersebut mengerjabkan matanya.


"Mama!" panggil Al. Ciara yang melihat Al telah membuka matanya kembali pun ia segera menghapus air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.


"Eh anak Mama kok udah bangun aja sih. Tidur lagi ya sayang," tutur Ciara sembari merebahkan tubuhnya disamping Al dan memiringkan tubuhnya menghadap Al yang langsung disambut pelukan oleh anaknya.


Ciara tersenyum setelah itu ia membalas pelukan dari Al sembari tangani ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung Al pelan.


Tak berselang lama, Al kembali terlelap begitu juga dengan Ciara yang sangat lelah dengan pikirannya pun akhirnya ia ikut tertidur di samping Al. Sepasang Ibu dan anak itu saat ini tengah tertidur dengan saling berpelukan.


...*****...


Sedangkan Devano kini telah kembali ke apartemen milik Rafa dengan senyum yang terus mengembang.


"Sial gue punya teman stress," gumam Rafa.


"Gue ke kamar dulu," pamit Devano.


"Iya-iya sana gih. Lo istirahat dulu biar otak lo balik lurus lagi," ucap Rafa.


Devano menghiraukan ucapan dari sahabatnya itu. Ia memilih untuk segera menuju kamar yang ia tempati.


Setelah sampai di dalam kamar, Devano merebahkan tubuhnya di kasur king size tersebut.

__ADS_1


"Aku harus lebih lama lagi tinggal disini," gumamnya. Namun baru beberapa detik mulutnya mengatup, dering telepon membuat Devano harus membuyarkan bayangannya dengan Ciara dimasa depannya nanti.


Devano memincingkan alisnya saat melihat nama orang kepercayaannya yang selalu menemani dirinya kemanapun ia tengah bertugas untuk mengurusi perusahaan keluarganya dan kini orang kepercayaannya itu ia tinggal di Amerika untuk menangani perusahaan milik keluarganya disana menggantikan dirinya untuk sementara waktu. Dengan cepat Devano menggeser ikon telepon berwarna hijau keatas.


"Ya ada apa?" tanya Devano to the point.


📞 : "Maaf bos, saya mengganggu waktu tenang bos. Tapi ini ada masalah penting mengenai perusahaan yang performanya semakin menurun," jawab Ruli.


Devano kini kembali mendudukkan tubuhnya.


📞 : "Dan terjadi kebocoran informasi mengenai proyek baru kita bos," sambung Ruli.


"Arkh, kok kita bisa kecolongan lagi sih. Sial," umpat Devano. Ia memijit pelipisnya. Sepertinya rasa bahagia tadi hanya sesaat dan harapan untuk tinggal di Malaysia dengan waktu yang lebih lama lagi untuk mendekatkan dirinya lagi dengan Ciara nampak hanya angan-angan saja. Untuk saat ini ia mau tak mau harus segera kembali ke Amerika untuk menangani masalah yang sedang menimpa perusahaannya.


"Saya akan segera kembali kesana. Amati setiap karyawan dan cari tau siapa orang yang telah berani membocorkan informasi mengenai perusahaan," ucap Devano final. Setelah itu ia menutup sambungan telepon tersebut.


"Arkh, kenapa masalah datang di waktu yang gak tepat sih!" teriak Devano menggema keseluruhan ruangan apartemen tersebut. Rafa yang sedang menonton televisi sembari ngemil pun harus terkaget sampai snack yang ia pegang terjatuh begitu saja.


"Astagfirullah. Itu anak kenapa sih teriak-teriak," geram Rafa. Ia kini menghampiri kamar Devano.


Dengan sebal Rafa ingin mengetuk pintu kamar Devano namun baru saja tangannya ia ayunkan, pintu didepannya lebih dulu dibuka oleh Devano hingga membuat tangan Rafa mendarat dengan keras di dahi Devano.


Devano menatap tajam kearah Rafa.


Devano tak menjawab ucapan sang sahabat. Ia malah keluar dari kamar tersebut sembari menyeret koper.


"Lho lho lho kenapa bawa koper segala? Lo mau kemana?" tanya Rafa beruntun.


"Balik," ucap Devano singkat.


"Balik? Kemana?"


"Ck banyak tanya ya lo. Ya balik ke Amerika lah emang mau balik kemana lagi hah?" sentak Devano.


"Wee santai Mas bro. Gak usah ngegas. Kan gue cuma nanya, siapa tau kan lo mau pulang ke Indonesia," tutur Rafa.


Devano berdecak. Ia meninggalkan koper tadi dan kini kakinya ia gerakkan menuju dapur untuk mengambil air minum dingin. Siapa tau jika dirinya minum-minuman dingin akan membuat otaknya juga lebih dingin lagi.


Sedangkan Rafa, ia masih saja mengikuti Devano.

__ADS_1


"Kita disini baru sehari lho Dev. Masak iya mau balik aja," ucap Rafa.


"Lo kalau masih mau disini ya udah disini aja," tutur Devano setelah meneguk air minum tadi.


"Ck kalau gue sendiri kan gak seru."


"Lagian lo kenapa sih mendadak banget baliknya?" sambung Rafa.


Devano menghela nafas berat.


"Kantor lagi ada masalah yang harus melibatkan gue disana," ucapnya lesu.


Rafa menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, kalau urusan kantor gue gak bisa paksa lo. Btw lo mau pulang sekarang juga?" tanya Rafa.


"Huh. Iya, tapi nunggu pesawat datang," jawab Devano.


"Nunggu pesawat?"


"Iya. Pesawat keluarga."


"Ow. Kalau gitu gue numpang sekalian ya," ucap Rafa.


Devano mengerutkan keningnya.


"Maksud lo?" tanya Devano tak paham.


"Gue juga rencananya mau balik," jawab Rafa.


"Lah bukannya lo belum ketemu sama pacar lo ya?"


"Ck. Kita baru aja putus tadi. Menyebalkan," ujar Rafa.


Devano yang mendengar ucapan dari Rafa pun tak bisa lagi menahan tawanya.


"Hahahaha ya ampun kasihan banget sih lo," ucap Devano dengan tawa menggelegarnya.


"Ck gue doain ya lo segera nyusul menjadi jomblo sama seperti gue sekarang," geram Rafa.

__ADS_1


Devano mengedikan bahunya dan terus tertawa. Biarlah masalahnya sedikit teralihkan sebentar dengan menertawakan nasib malang sahabatnya itu.


Rafa yang terus ditertawakan oleh Devano pun memilih untuk pergi menuju kamarnya untuk membereskan beberapa barang yang akan ia bawa kembali ke Amerika nantinya.


__ADS_2