
Tok tok tok!!
Ketukan pintu kamar Ciara berbunyi cukup kencang yang membuat tidur Ciara terusik. Setelah selesai memasak dengan Mama Mila tadi, dirinya memilih untuk tidur terlebih dahulu sebelum tamunya datang karena rasa kantuknya yang begitu besar.
"Cia!" teriak Mama Mila dari luar kamar.
"Iya Ma, bentar," ucap Ciara sembari melirik kearah jam dinding di dalam kamar tersebut yang sudah menunjukkan pukul 1siang. Ia membelalakkan matanya saat ingat akan Al yang harus ia jemput.
Ciara kini berlari dan membuka pintu kamar tersebut, membuat Mama Mila yang berada di balik pintu kamar tadi terkaget.
"Eh eh eh mau kemana?" tanya Mama Mila saat Ciara lari seperti orang kesetanan.
"Mau jemput Al, Ma. Al pasti udah nunggu di sekolah," jawab Ciara dengan teriakan karena dirinya sudah mulai turun dari anak tangga rumah tersebut.
"Al, sudah di rumah," ucap Mama Mila tapi tampaknya ucapannya tadi tak di dengar oleh Ciara karena sang anak masih saja berlari hingga sampai di lantai pertama. Saat dirinya melewati ruang tamu, semua orang yang berada disana menatap kearah Ciara yang sepertinya tak sadar akan sekitarnya. Hingga saat dirinya ingin membuka pintu utama rumah tersebut, teriakan Al menghentikannya.
"Mama, mau kemana?" tanya Al.
Ciara kini memutar tubuhnya kearah sumber suara dan ia bisa menghela nafas lega saat Al sudah berdiri di ruang tamu. Tapi tunggu, sepertinya Al tak sendiri ataupun hanya bersama Papa Julian saja, melainkan ada Devano dan keluarganya yang sekarang tengah menatapnya.
"Lho kok ada Devano, Mom sama Dad disini?" tutur Ciara sembari berjalan mendekati mereka.
Papa Julian yang juga ada disana kini melihat ketiga tamunya tengah menatap Ciara tanpa beralih sedikitpun, kemudian ia langsung berdiri dan menghampiri putri pertamanya itu.
"Ci, pakaian kamu kenapa begini? gak sopan nak, astaga," bisik Papa Julian sembari menghalangi tubuh Ciara agar tak di lihat tiga orang tamu itu terutama Devano.
Ciara kini menundukkan kepalanya melihat pakaian yang ia pakai sekarang, hanya memakai celana pendek jauh diatas lutut dan crop top yang memperlihatkan sebagian perut mulusnya itu. Ia tersenyum kuda kearah Papa Julian dan sesaat kemudian ia berlari kencang kearah kamarnya kembali.
Brak!!
Pintu kamar ia tertutup cukup kuat. Ia sangat menyesali tampilannya itu. Syukurnya ia tadi tak jadi keluar dengan pakaian yang selalu ia pakai saat muda dulu, itu pun hanya untuk di rumahnya saja. Tapi yang membuatnya menggerutu, menyesali itu semua karena orangtua Devano melihat hal itu. Kalau Devano mah sudah lihat luar dalam jadi tak perlu ditakutkan lagi. Tapi kalau orangtuanya, bisa-bisa ia dicoret dari daftar calon mantu nanti.
"Arkh kenapa tadi pakai baju ginian sih?" gerutu Ciara.
"Suruh siapa main nyelonong lari gitu aja. Padahal Mama tadi mau beritahu kamu buat ganti baju karena tamunya sudah datang. Perkara Al, cucu tampan itu udah pulang diantar oleh anak buah Devano tadi," timpal Mama Mila yang duduk manis di atas kasur Ciara.
"Astagfirullah, Mama ngagetin aja." Mama Mila hanya menggedikkan bahunya kemudian ia beranjak mendekati Ciara.
__ADS_1
"Nih pakai, dandan yang cantik tapi jangan sampai lebih dari 15 menit. Karena mereka sudah nunggu kamu sedari tadi. Tidur juga ngebo banget digedor-gedor gak bangun-bangun," ucap Mama Mila sembari berjalan keluar dari kamar Ciara.
"Eh Ma, bentar. Kenapa Devano dan orangtuanya kesini?" tanya Ciara kepo.
"Mereka orang penting yang Mama bicarakan tadi pagi. Jadi cepatlah bersiap jangan buat mereka lebih lama menunggu," jawab Mama Mila dan menutup pintu kamar Ciara begitu saja tanpa mengizinkan Ciara bertanya lebih dalam lagi kepadanya.
"Kok bisa Devano dan keluarganya jadi orang penting buat masalah keluarga ini. Atau jangan-jangan mereka mau nuntut Papa karena masalah minggu kemarin? Aduh amit amit jangan sampai." Ciara kini segera memakai pakaian yang diberikan oleh Mama Mila tadi lalu memoles wajahnya menggunakan bedak dan juga lipstik yang begitu natural tapi wajahnya masih terlihat begitu cantik dan lebih fresh lagi.
Ciara memandangi penampilannya yang menggunakan dress selutut, high heels yang senada dengan dress yang ia pakai, di tambah rambutnya hanya ia gerai begitu saja.
"Hmmm cukup cantik. Berasa menjadi ABG lagi yang belum punya anak hihihi," gumam Ciara diakhiri dengan kekehan kecil.
Setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju lantai satu, dimana tamu dan kedua orangtuanya sudah berkumpul di sana.
Mata Devano kini tak lepas dari Ciara mulai dari wanitanya itu menuruni anak tangga hingga bergabung di ruang tamu tersebut.
"Mom tau Cia cantik, tapi Mom takut bola mata kamu keluar karena lihat Ciara sampai segitunya. Kedip Dev kedip," bisik Mommy Nina sembari menyenggol lengan Devano.
Devano mengedip-ngedipkan matanya kemudian melemparkan senyum kearah Ciara saat tatapan mereka bertemu.
"Tak apa Ci, sudah jangan bahas itu lagi," jawab Mommy Nina yang diangguki oleh Ciara.
"Duduk di tengah sini." Ciara lagi-lagi mengangguk kearah sang Mama dan langsung mengambil tempat duduk yang diarahkan oleh Mama Mila tadi.
"Ah iya, berhubung semua yang berkepentingan sudah berkumpul. Mari kita langsung bahas tentang pertunangan nak Devano dan juga Ciara," ucap Mama Mila antusias.
Ciara yang mendengar hal itu tiba-tiba saja ia tersedak salivanya sendiri.
Uhuk uhuk uhuk!!
"Astaga, ini minum." Mama Mila menyodorkan minuman yang sudah dihidangkan di meja depannya tersebut ke Ciara yang langsung disambar dan perlahan Ciara minum.
Setelah dirasa cukup mendingan, Ciara kembali menaruh gelas di genggamannya kemudian matanya kini menatap wajah Devano, Mommy, Daddy yang berada didepannya kemudian tatapannya berakhir di wajah Papa Julian.
Ia menggigit bibir bawahnya saat Papa Julian tak menampilkan ekspresi wajah apapun, hanya diam begitu saja. Ia takut jika Papanya itu kembali murka karena yang ia tahu Papa Julian belum memberikan restu di dalam hubungan Ciara dan Devano.
Sedangkan Papa Julian yang merasa dirinya terus di tatap oleh Ciara pun nampak acuh.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? mau dilaksanakan dimana, kapan dan bagaimana konsepnya?" tanya Mama Mila lagi.
"Emmm sebelumnya saya ingin mendengar jawaban dari Ciara terlebih dahulu Tante."
"Oh ya silahkan." Devano tersenyum kemudian tatapannya terkunci kearah Ciara yang tangannya menggenggam erat gaun yang ia pakai.
"Ciara Devania Eveline apakah kamu mau menjalin hubungan rumah tangga denganku?" tanya Devano.
Ciara ingin sekali menjawab dan menerima lamaran tersebut tapi lagi-lagi ia tak langsung berani menjawabnya dan matanya kini menatap Papa Julian.
Beberapa saat tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Ciara hingga membuat Papa Julian berdecak.
"Kenapa malah lihatin Papa terus? Jawab pertanyaan itu. Kamu mau atau tidak?" bisik Papa Julian. Ciara menundukkan kepalanya, ia sepertinya tau jawaban apa yang diinginkan Papa Julian.
"Sa---saya tidak bisa---" ucapan Ciara menggantung kala suara Papa Julian terdengar.
"Tidak bisa menolak dan tak bisa menerima pertunangan dari nak Devano karena Ciara maunya segera nikah saja," tutur Papa Julian dengan ekspresi wajah yang sudah tampak berbeda dari yang tadi.
Ciara melongo mendengar penuturan dari Papa Julian tadi.
"Kalau Papa gak setuju. Ciara gak Papa kok, toh kita masih bisa sahabatan buat tumbuh kembang Al sampai dewasa nanti. Ciara gak akan maksa keputusan Papa," bisik Ciara. Ia masih takut dengan perlakuan Papa Julian kepada Devano. Takut-takut saat dirinya dan Devano sudah menikah dan hidup bahagia, Papa Julian malah berusaha memisahkan mereka.
"Kata siapa Papa gak setuju? Papa udah ikhlasin kamu bersama dengan Devano. Papa sekarang hanya ingin lihat anak pertama Papa ini hidup penuh kebahagiaan," ucap Papa Julian.
"Papa gak bohong kan? Cia gak suka kalau Papa bohong." Papa Julian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Papa gak bohong sama Ciara. Papa kasih kalian restu untuk membangun rumah tangga dan hidup selamanya dalam bahagia. Tapi jika ada sesuatu yang Devano lakukan dan menyakiti kamu, ngomong sama Papa biar Papa hih nanti." Ciara tersenyum kemudian memeluk tubuh Papa Julian.
"Terimakasih Pa." Papa Julian mengangguk sembari mengelus rambut Ciara.
Untuk beberapa saat mereka masih saling berpelukan hingga deheman Mama Mila melepaskan pelukan itu.
"Maaf sebelumnya Om, saya mau memastikan apa yang di ucapkan Om tadi memang benar adanya atau Ciara tadi ingin menolak saya. Jadi saya perlu mendengar jawaban dari mulut Ciara langsung," tutur Devano.
Papa Julian menyenggol lengan Ciara sembari tersenyum yang dibalas dengan senyum malu-malu oleh Ciara.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku menerima lamaran kamu, seizin Allah dan restu kedua orangtua kita," jawab Ciara yang membuat Devano tersenyum lebar begitu juga dengan orangtua kedua belah pihak.
__ADS_1