
Tepat saat Rahel kembali duduk, Mommy Nina melangkahkan kakinya mendekati kumpulan para anak muda itu dengan menggandeng tangan Al. Setelah sampai, Al langsung berlari menuju ke Rahel.
Rahel tersenyum kearah Al yang sudah berada di depannya dengan tangan di belakang tubuhnya.
"Tante cantik," panggil Al.
"Iya sayang ada apa hmmm? ngomong-ngomong panggil Tante dengan sebutan Aunty aja ya, boy. Kalau Tante jatuhnya aunty tua banget," tutur Rahel.
"Baiklah, Al akan panggil aunty dengan sebutan Aunty cantik. Oh ya Al punya sesuatu untuk aunty." Rahel mengerutkan keningnya.
"Apa tuh? kasih tau aunty sekarang dong. Aunty kepo nih," tutur Rahel.
Al tersenyum kemudian ia menyodorkan tangannya yang tengah memegang setangkai bunga mawar kearah Rahel.
"Wahhh, Al, ini buat aunty?" Al menganggukkan kepalanya.
"Iya itu buat aunty cantik," jawab Al dengan malu-malu.
Rahel dengan senang hati ia menerima setangkai bunga itu.
"Terimakasih boy. Aunty sangat suka bunganya," ucap Rahel. Al yang semakin malu pun kini berlari menuju kearah kedua orangtuanya kemudian ia bersembunyi di tengah-tengah tubuh orangtuanya itu.
"Ih, Al sok romantis segala," protes Olive yang sepertinya cemburu dengan perlakuan berbeda yang ditunjukkan Al kepada dirinya dan Rahel.
"Apaan sih aunty Liv. Al kan emang romantis, tapi Al kalau mau romantis lihat-lihat dulu orangnya. Cantik apa gak? kalau gak cantik kayak aunty Liv, ngapain Al romantisin, buang-buang waktu aja," tutur Al yang memunculkan kepalanya dan menatap sengit kearah Olive yang sekarang membelalakkan matanya.
"Wanjir, Al kalau ngomong emang suka benar," timpal Rafa.
"Heh daki kuda lumping, jangan ikut campur ya lo," geram Olive.
__ADS_1
"Ih apaan sih, gue kan cuma menyampaikan pendapat yang kebetulan pendapat gue sama kayak Al toh kenyataannya emang begitu." Saat Olive ingin menimpali ucapan dari Rafa, suara Mommy Nina berhasil mencegah keributan yang kemungkinan akan segera terjadi untuk kedua kalinya itu.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Nikmati saja perayaan kehamilan kedua Ciara dengan hati yang gembira. Mommy gak mau ya, cucu kedua Mom kena mental di dalam perut Ciara saat lihat kelakuan para aunty dan Unclenya yang kerjaannya ribut mulu," tutur Mommy Nina.
Rahel yang tadi mengamati bunga yang diberikan Al pun kini menatap Mommy Nina kemudian berpindah menatap Ciara yang juga tengah menatapnya dengan cengiran kuda.
"Kamu hamil lagi Ci?" tanya Rahel memastikan.
"Hehehe iya Hel," jawab Ciara. Rahel tampak menghela nafas.
"Huh, dijaga kandungannya jangan sampai kenapa-napa," ucap Rahel yang langsung diangguki oleh Ciara.
Setelah beberapa menit mereka semua saling bercanda gurau, akhirnya Mommy Nina mengajak orang-orang disana untuk menikmati makanan yang sudah artnya siapkan. Kebetulan pada saat itu juga waktu sudah memasuki makan siang.
Mereka menempati kursi yang untungnya muat dengan jumlah orang disana. Lalu dengan bergantian mereka semua mengambil menu makanan yang mereka inginkan.
"Aunty cantik, Al mau disuapin aunty dong," ucap Al yang duduk diantara Ciara juga Rahel.
Al yang ditegur oleh Ciara pun langsung memajukan bibirnya kemudian menundukkan kepalanya.
"Udah gak papa Ci. Aku juga gak keberatan kok. Toh itung-itung buat latihan besok kalau udah punya anak sendiri," ucap Rahel sembari mengelus rambut Al.
"Tapi Hel."
"Udah, gak papa Cia. Kamu fokus dengan makanan kamu aja, kasihan baby di dalam perut kamu yang sudah lapar itu. Masalah Al biar aku yang urus. Sekaku-kakunya aku ngurus anak, tapi aku masih bisa kali nyuapin Al sambil makan." Ciara melirik Al sekilas, jika melihat ekspresi dari si anak tampannya itu, terlihat jika Al tengah kecewa karena larangannya.
"Ya sudah kalau kamu gak merasa direpotkan oleh Al."
"Al gak akan ngerepotin aku sama sekali," tutur Rahel.
__ADS_1
Ciara lagi-lagi melirik kearah Al yang sudah tak menunduk lagi. Kemudian ia kembali fokus dengan makanannya, karena ucapan Rahel tadi ada benarnya juga kalau baby didalam perutnya sudah meronta-ronta ingin dikasih makan.
Sedangkan Rahel kini ia dengan telaten menguapi Al dan sesekali ia juga menyuap untuk dirinya sendiri.
"Ya ampun, calon istri yang perfect," tutur Rafa secara tiba-tiba yang membuat semua orang menoleh kearahnya.
Tapi Rafa tak menghiraukan tatapan aneh para teman-temannya itu. Ia hanya fokus ke obyek didepannya yang menurutnya menyejukkan hati dengan kedua telapak tangan yang ia gunakan untuk menopang kepalanya. Bahkan makanan didepannya ia abaikan begitu saja.
"Pepet terus," tutur Vino.
"Jangan kasih kendor," sambung Kevin.
"Langsung digas aja Raf." Devano tak mau kalah, ia juga ikut menyoraki Rafa.
Sedangkan Zidan, ia sekarang berdiri dari duduknya.
"Gue ke toilet dulu," pamit Zidan kemudian ia segera beranjak keluar dari ruang makan tersebut.
"Tuh anak kenapa sih? Kek lagi bad mood gitu?" tanya Rafa yang melihat punggung Zidan semakin menjauh dari pandangannya.
"Entahlah dari kemarin emang tuh anak aneh baget," timpal Vino.
"Lagi PMS kali," tutur Kevin sekenanya saja.
Semua orang di sana dengan bersama-sama menggedikkan bahunya. Mereka juga heran kenapa Zidan akhir-akhir ini banyak bad moodnya.
Sedangkan Zidan yang berada di kamar mandi pun dengan emosi yang membara ia mengepalkan tangannya kemudian meninju tembok didepannya. Setelah itu ia mencuci muka tak lupa kepalanya juga ia basahi agar kepalanya itu cepat dingin dan tak mengeluarkan asap emosi lagi. Ia tak tau apa yang membuatnya sampai emosi seperti ini.
Setelahnya dirasa dirinya cukup tenang, Zidan keluar dari kamar mandi tersebut dan tak sengaja ia melihat Rahel yang tengah mengangkat telepon di ruang tamu yang entah telepon itu dari siapa, ia tak tau.
__ADS_1
Ia mencoba tak perduli dengan Rahel. Tapi saat suara Rahel masuk kedalam telinganya ia langsung menghentikan langkahnya.
"Ma, Rahel mohon. Jangan paksa Rahel untuk menerima perjodohan itu. Rahel belum siap menikah walaupun usia Rahel sudah cukup matang untuk berumahtangga. Tapi Rahel benar-benar belum siap Ma. Rahel belum siap dengan pahit manisnya dunia pernikahan. Rahel masih ingin bekerja cari uang untuk ekonomi kita. Rahel tau kita sekarang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Tapi bukan dengan cara menjodohkan Rahel dengan anak orang kaya agar ekonomi keluarga kita kembali lagi. Rahel masih bisa kerja walaupun di kantor milik orang yang kalian jodohkan ke Rahel. Tapi setidaknya itu hasil kerja keras Rahel bukan campur tangan siapa pun. Rahel hanya ingin menikah dengan laki-laki yang Rahel suka Ma. Rahel harap Mama mengerti keputusan Rahel ini," tutur Rahel kemudian ia menutup sambungan teleponnya. Dan saat dirinya membalikan badannya, tepat dibelakangnya terdapat Zidan yang sudah berdiri entah sejak kapan, Rahel tak tau pastinya.