
Kini jenazah Tiara sudah di kebumikan setelah dipulangkan ke rumah duka oleh beberapa orang suruhan Devano dengan alasan jika Tiara telah melakukan aksi bunuh diri karena depresi. Bahkan untuk menguatkan alasan tersebut, ditemukan beberapa senjata tajam yang mana terdapat sidik jari Tiara disana. Sedangkan sidik jari anak buah Devano yang berada di tubuh Tiara telah di hilangkan. Dan para petugas forensik juga menyatakan bahwa memang alasan yang di berikan oleh orang suruhan Devano tadi benar adanya setelah dilakukan proses otopsi.
Devano pun juga hadir dalam penghormatan terakhir Tiara sebagai formalitas belaka.
"Saya mewakili keluarga besar Rodriguez, turut berbelasungkawa atas meninggalnya putri anda," ujar Devano saat dirinya mengunjungi rumah duka.
Kedua orangtua Tiara yang masih terpukul pun hanya bisa menganggukkan kepala mereka.
"Dan apakah saya bisa bicara sebentar dengan kalian berdua sekarang juga?" tanya Devano.
Papa Tiara kini menghapus air matanya dan menatap Devano penuh tanda tanya.
"Jika bersedia saja. Jika tidak bisa lain waktu jika saya senggang," tutur Devano.
"Hmmmm baiklah. Dan silahkan duduk terlebih dahulu." Devano tersenyum kemudian ia mulai mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa di rumah tersebut.
"Jadi begini, saya dan istri saya sudah berdiskusi jika kita berdua akan menanggung biaya pendidikan anak dari Tiara. Dan ini sedikit uang duka dari kita berdua untuk menyokong kehidupan anak Tiara untuk kedepannya. Saya mohon untuk menggunakan uang tersebut dengan semestinya dan memenuhi kebutuhan Ester," ucap Devano sembari menyodorkan satu lembar cek yang bernilai 2 M. Hal itu membuat kedua orangtua Tiara melebarkan matanya tak percaya bahkan raut kesedihan di wajah keduanya sudah tak terlihat lagi, dan kini tergantikan dengan wajah penuh dengan kesenangan.
__ADS_1
Sudah Devano duga jika kedua orangtua Tiara tidak benar-benar sedang menangisi anak mereka melainkan menangisi harta waris yang tentunya akan jatuh di tangan anak semata wayang Tiara yang sudah berumur 8 tahun. Dan saat keduanya tadi melihat nominal yang diberikan oleh Devano untuk anak Tiara, senyum sumringah di wajah mereka sangat-sangatlah kentara.
"Mohon uang tersebut digunakan untuk kebutuhan Ester. Jika saya mengetahui uang itu digunakan untuk hal lainnya, saya tidak akan segan-segan menuntut kalian berdua," ujar Devano kemudian ia berdiri dari duduknya.
"Hanya itu saja yang saya sampaikan. Sekali lagi saya turut berdukacita dan saya pamit undur diri," sambungnya lalu ia melenggang pergi dari rumah duka tersebut. Tapi saat dirinya ingin masuk kedalam mobil, ia melihat Ester yang tengah bermain-main di halaman depan rumah tersebut. Sepertinya anak perempuan itu tak sedih sama sekali atas meninggalnya sang ibu. Devano menghela nafas kemudian ia memilih untuk mendekati Ester.
"Ester," panggil Devano saat dirinya sudah berada di belakang anak perempuan itu.
Ester yang sedang bermain bersama beberapa temannya pun menoleh ke arah Devano dan setelahnya ia tersenyum sopan.
"Hay Uncle. Apa kabar?" tanyanya sembari bersalaman dengan Devano. Devano tersenyum kemudian mengacak rambut Ester.
"Uncle tau. Ester benar-benar bahagia karena Ester nantinya gak akan kena marah dan siksaan dari Mama lagi karena Mama sudah meninggal jadi Ester bisa bebas dari itu semua. Dan ada hal lain yang buat Ester bahagia. Uncel mau tau gak?" tanya Ester dengan melepas pelukannya.
"Mau dong."
"Jadi Papa nanti akan jemput Ester kesini dan akan bawa Ester meninggalkan rumah mengerikan ini. Sebenarnya sudah dari dulu Papa mau jemput Ester bahkan Ester sempat kabur dari rumah ini tapi selalu saja ketahuan sama Mama atau nenek dan berakhir Ester akan di siksa sama mereka dengan sangat keji. Dan Ester tau kenapa Ester gak dilepas begitu saja oleh orang-orang dirumah ini karena ternyata Ester digunakan sebagai alat mereka memeras harta Papa," cerita Ester yang membuat Devano tercengang.
__ADS_1
Memang yang pernah ia dengar jika Tiara dulu menikah dengan mantan suaminya hanya gara-gara hartanya saja. Bahkan sebenarnya Ester bukan lah anak kandung dari mantan suaminya itu, tapi entah laki-laki mana yang sudah pernah tidur dengan wanita itu. Tapi dengan hebatnya mantan suami Tiara menerima Ester dan menganggap Ester sebagai anaknya sendiri. Dan saat mantan suaminya tengah terpuruk karena perusahaannya terancam bangkrut dari situlah Tiara mencari laki-laki lebih kaya, termasuk dirinya pernah menjadi tumbalnya dan setelah mendapatkan laki-laki yang ia inginkan, Tiara saat itu juga menceriakan mantan suaminya. Untung saja laki-laki yang menjadi penyebab rumah tangga rusak bukan lah Devano melainkan laki-laki lain sebelum Tiara berpacaran dengannya.
Dan setelah tau jika mantan suaminya itu bisa bangkit kembali, ia menjadikan Ester sebagai umpan untuk menguras kekayaan dari mantan suaminya yang dengan bodohnya selalu percaya akan tipu muslihat orang-orang itu.
"Jadi kamu nanti bakal di jemput Papa kamu?" tanya Devano memastikan. Dan dengan ceria Ester menganggukkan kepalanya.
"Memangnya Papa kamu belum menikah lagi?"
"Belum karena Papa sebenarnya masih sayang sama Mama. Tapi ya gitu deh Mama gak pernah sayang sama Papa," jawab Ester.
Devano pun mengangguk kemudian ia membungkukkan badannya untuk mensejajarkan dirinya dengan tinggi badan Ester.
"Jika benar Ester akan tinggal sama Papa, Uncle minta kamu buat ambil hak kamu disini. Terlebih barang yang Uncle berikan ke kamu, dulu ataupun sekarang. Kalau dulu mungkin kamu tau barang-barang itu apa saja dan untuk yang sekarang barang yang Uncle berikan itu berupa cek senilai 2 M yang sekarang di pegang oleh nenek dan kakek kamu. Nanti sebelum pergi kamu harus ambil semuanya yang kamu punya disini termasuk cek tadi. Kamu paham?" Ester menganggukkan kepalanya. Mungkin dia benar-benar sudah lelah akan tekanan dan keserakahan dari keluarga ini yang membuat hatinya tertanam rasa benci.
"Good girl. Ester jangan mau di tindas lagi sama keluarga ini ya." Ester menganggukkan kepalanya. Dan sesaat setelahnya terdengar deruman mobil memasuki lingkungan rumah tersebut dan saat sang pemilik mobil itu keluar Ester semakin melebarkan senyumnya.
"Papa," panggil Ester yang dibalas lambaian tangan dan senyuman oleh laki-laki tadi.
__ADS_1
"Uncle, Ester sama Papa dulu. Uncle kalau mau pulang hati-hati ya. Bye Uncle," ucap Ester lalu ia berlari menuju Papanya yang sudah merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menyambut pelukan dari Ester.
Devano yang melihat hal itu pun tersenyum lega setidaknya anak itu sudah kembali mendapatkan kebahagiaan. Padahal ia tadi sempat merasa bersalah dengan anak itu yang ia sangka akan bersedih tapi justru ia dikejutkan dengan kebahagiaan anak perempuan itu. Sungguh benar-benar diluar nalar, akal dan pikirannya. Kedua orangtua Tiara hanya menangis sebagai drama saja sedangkan anak perempuannya tersenyum bahagia karena telah mendapatkan kebebasan tanpa siksaan lagi yang ia terima.